“Sebentar …” Kenneth menginterupsi.
Kini, ia melepaskan perempuan yang keterlaluan cantiknya, berkat dandan, fashion, dan segala hal yang terkait keanggunan wanita di dalamnya. Meski, ya, gesture perempuan itu amat sangat kecentilan dari perempuan biasanya. Yang mana, semakin dilepaskan, ia justru semakin meminta hal lebih yang bisa keduanya lakukan.
“Apa … kamu baru saja menyebutku berengsek?”
DEG.
Namun, gadis itu hanya menoleh saja, singkat, “Apa kamu ngerasa gitu?”
"Owhhh ..." Mata gadis nakal itu mengarah juga ke arah Iris. "Dia berani sekali, Kenneth."
Namun, mendengarnya, Kenneth justru mengangkat tangannya dan meminta agar gadis yang tadi ia letakkan dalam situasi ritual agar segera enyah dari sisinya.
“Tapi, mengapa?”
“Dia wanitaku.”
Tentu, gadis itu terperangah.
Yang justru membuat Iris tak tahan untuk enggak berkomentar, "Mungkin kamu juga harus ngaca apa bedanya sebuah obsesi yang notabenenya sebuah konsep tanpa syarat penuh keterhilangan kendali, bisa melakukan apa saja meski tahu terpaksa dengan motivasi yang penting nanti semuanya akan terwujud. Dengan sebuah jatuh cinta juga yang menghadirkan bahagia, ketenangan, pula keikhlasan."
Tentu saja. Sebutan wanita milik Kenneth tidak akan pernah sama sekali meletakkan gadis itu kepada bangga.
Kenneth menggebrak meja. "Aku nyaman, kamu tahu? Sejak awal, aku nyaman atas semua yang terkait tentang kita. Dan, kenyamanan ini membunuhku sekaligus jackpot untukku. Saat aku mengetahui bahwa hidup orang yang hampir mengonsumsi semua nuansa putih yang terkandung di dalam diriku, harus memiliki jalan cerita menyedihkan seperti sekarang."
Dia bahkan kini berdecih. “Kamu memiliki ibu tiri yang selalu mengorupsi harta Ayah kandungmu, membuatnya stroke dalam title penjahat yang sebenarnya tertuduh, lalu menghutangkan semua keinginan putrinya yang tak pernah habis-habis dan tak ada finish untuk dituruti itu, padaku.”
“Lantas …” Cengkraman Kenneth pada kepala kursi kayu mengerat. Dia berusaha menahan semua amarahnya dalam satu tarikan napas. “Apa aku harus merelakan kamu menjadi gadis pemuas politikus korupsi yang sebenarnya tengah merugi berkat saudara tirimu yang perempuan itu, Yery, menipunya habis-habisan atas nama saham tas brandit? Bukanlah lebih baik, Ibumu saja yang menjualkan dirimu untukku? Yang kebetulan sekali, aku bahkan menginginkanku.”
“Lepas!”
Sungguh, Iris muak sekali kepada b******n yang hanya memanfaatkan kemalangan oranglain demi keuntungan.
“Hei, ayolah … kita bahkan punya banyak waktu untuk mengoreksi bukan?”
Perkataan itu penuh penekanan.
“Anggap saja statusku terhadapmu adalah savior yang lebih mencintai dunia friendbed atau friendsleep untuk membayar jasa atas kamu yang ingin bayar hutang baik secara uang, maupun secara budi.”
Dia kini meneguk winenya dengan penuh ekspresi menikmati yang sebenarnya memiliki style tampan sekali. Sayang saja, Kenneth berengsek. Dan, tidak tercantum sedikitpun dalam kamus Iris, untuknya sekedar mengangumi, wajah manis laki-laki kompeten yang beda dua tahun saja, darinya tersebut.
“Karena, mungkin, ya, tanpaku, kamu maka harus mau nggak mau terus terjebak pada hal yang menyakitimu. Aku nggak bisa ngebayangin kalau malam selanjutnya, mungkin Ibu tirimu yang licik itu, akan memanipulasi keadaan saat kita bersama, menculikmu, lalu menjadikan kamu harus melayani orang-orang yang ia hutangi?”
Lalu, mata Kenneth menyipit prihatin. “Owwhhh, bersamaku saja kamu bahkan tidak bisa apa-apa. Apalagi bersama mereka. Kamu hanya akan membuat orang-orang bodoh itu merugi karena kamu bahkan belum detraining urusan melayani. Jadi, biar aku saja yang mengajarimu semuanya.
“Kamu gila!”
“No, I’m just a philantrophy!” Nyengirnya. “Seorang investor malaikat yang mengetahui jika ada gadis yang berpotensi jadi kenikmatan bersama, namun, ia hanya perlu diasuh sebentar saja menjadi …” Mata mereka berdua bersitatap karena Kenneth tadi memainkan rambutnya dan mengendus leher gadis itu yang menenangkan. “ … gadis pemuas sampai aku merasa kamu sudah siap untuk dilepaskan.”
Oh, Tuhan …
Ini sama saja dengan istilah, tak jadi menjadi mangsa buaya, kini, malah, ia harus menjadi mangsa utama sang harimau.
Di mana, kesialan yang seharusnya selesai dan berubah ke arah yang lebih baik, justru, meletakkan Iris pada satu kesialan lain yang membuatnya sungguh tak kuasa lagi.
“Baik kalau begitu, Ken.”
Iris mendongak. Paham maklum gadis itu sudah berhenti di titik di mana ia hanya mampu selesai saja. Tak terbayangkan jika akhirnya ia akan dilemparkan lagi pada laki-laki hidung belang usai ia harus melakukann uji coba skill melayang pada laki-laki menyebalkan yang sepertinya lebih berbakat jadi agency pekerjaan hitam. Akan jauh lebih baik, jika gadis itu … selesai saja.
Yang tanpa aba-aba, Iris pun melompat dari balkon tempat di mana ruang makan itu berada, yang selanjutnya terjun ke kolam renang, dari ketinggian yang tak terbayangkan.
Maklum, kini, mereka ada di lantai tiga.
Gadis itu, telah menekatkan diri, untuk mati saja disbanding harus hidup seperti sekarang ini yang ia pun bahkan tak bisa mendapat kendali.
‘Malaikat, cabut nyawaku saja …’ mohonnya.
Yang namun, respon Kenneth pada saat itu hanyalah … menvideonya.
Dia baru menerkatkan diri yakni terjun menyusul gadis itu dan menggotongnya, yang selanjutnya, ia harus menyelematkan nyawanya, sekitar 10 menit setelahnya.
Meski, ia tahu, seorang Iris, sama sekali, tak bisa berenang.
***
"Itulah yang membuatmu sangat psikopat, kamu tak tahu?" Dentingan piring terdengar. Perkataan ini disebut tepat saat Kenneth baru saja bangun tidur. Dan, seperti biasa, di rumah tersebut, pasti disajikan makanan yang dengan mudahnya akan datang sendiri. "Kamu membuat perempuan yang bahkan tak mengenalmu lagi, menguncinya dan menjadikan dia sebagai wanita resmi yang mengemban tugas wajib membahagiakanmu. Cinta macam apa seperti itu, JAWAB!"
Iris menekankan lagi, "Cinta macam apa yang menekankan ke dirinya sendiri tanpa memikirkan perasan ornglain? Ini semua hanya bukti nyata kalau kamu sangat tidak berguna!"
"Kenapa? Kamu akan menarikku lagi untuk melayani napsu busukmu? Kamu akan mengatakan bahwa ini memanjakanku? Kamu akan bilang kalau ini yang terbaik untukku, hem? Tidakkah kamu sadar, Kenneth bahwa kamu sangat ... monster, tolong hentikan."
PLAK.
Oke. Itu tamparan yang sangat keras.
Gemanya bahkan terdengar melonglong. Bahkan sebelum Kenneth mengatakan sepatah katapun.
Namun, kini, laki-laki itu hanya tersenyum dengan begitu santainya.
“Lagipula. Siapa yang saat dewasa bahagia dengan titlenya sebagai manusia, hmm, My Friendsleep?” Laki-laki itu pun tidur dalam kenangan pemberontakan Iris yang selalu menggebu kepadanya. Gadis ini … sungguh, semakin lama, semakin menarik saja.