Universe Iris kontan saja berubah semenjak kejadian itu.
Pertama, dua harus terbiasa dengan title sebagai wanitanya Kenneth. Karena dia adalah gadis yang tak lain dan tak bukan adalah yang mau nggak mau bersamanya.
Dua. Dia tidak boleh protes dengan aktifitas malam keduanya yang super panas melebihi apapun.
Iris emosi.
Tapi, ia sungguhan tak bisa berbuat apapun karena bahkan kuasa di rumah itu hanya tahu bagaimana caranya 'tunduk dan patuh' pada Kenneth. Tanpa sedikit pun, mau untuk menerime keberadaannya.
Iris nggak ngerti mengapa ia lantas terjebak di situasi pelik semacam ini.
Apa coba dosanya?
"Laksaa?"
Itu panggilan dari Iris.
Dia yang pagi itu jenuh karena harus mendapat predikat sempurna dari semua orang yang menjadi pelayan di rumah itu, mulai dari modelling, menyanyi, menyapu, beres-beres, hingga segala hal terkait lainnya, Iris akhirnya melakukan pemberontakan.
Tentu dengan diam-diam dia meminta ID Line Laksa untuk ia ajak curhat.
Barangkali Laksa punya cara terbaiknya untuk bisa melepaskan Iris dari neraka paling jahannam itu.
Ya, harus.
"Ya, Iris? Astaga, ini sungguhan kamu?"
Dari suara, nampak sekali kalau Laksa khawatir dengannya.
Seulas senyum pun tersampir dari wajah Iris.
"Iya, Lak." Dia tiba-tiba menitikkan air matanya. "Kamu bagaimana?"
"Aku baik, Ris." Nadanya lembut menjawab. "Tapi, ini jadi jauh lebih baik begitu mendengar suara kamu."
DEG.
Demi apapun, hati Iris tersayat.
Mata Iris memejam lama yang menandakan bahwa ada hal yang nggak bisa Iris bohongi terutama perasaannya sendiri.
Gadis itu telah hilang seminggu lamanya.
Ditambah dia harus melakukan adegan ekstrim sebuah kecelakaan agar Kenneth tak lagi mendambanya.
Iris stress.
Iris tidak suka harus dikurung semacam ini.
Makanya, ia, meluruhkan semuanya dengan pemberontakkan yang nggak ada henti-henti.
Itu semua, dikarenakan, Kenneth biadab sialan itu, terlalu menginginkannya.
"Iya, Lak," jawab Iris. "Aku minta maaf, ya."
"It's okay, Ris ..." Seperti biasa, Laksa akan tetap teduh. "Bagaimana kamu? Baik-baik saja."
Dalam hati, ingin sekali Iris mengatakan bahwa ia tidak baik-baik saja. Sama sekali. Namun, kerinduannya lebih besar dari itu.
Makanya, mendengar suara lelaki itu lebih lama, jauh lebih menenangkan di banding harus membongkar permasalahannya yang sudah cukup membuat Iris tertekan.
"Aku ... baik, Laksa."
"Oh, syukurlaaahh ..."
Lalu, pembicaraan akhirnya berbuntut panjang.
Laksa bercerita jika ia akhir-akhir ini disibukkan dengan keinginannya untuk menjadikan malam di mana Iris dan Laksa bersama harus menjadi momen teristimewa.
"Iya, aku minta designer cincin kenamaan kota buat merancang khusus cincin pertunangan kita, Ris."
Iris menutup mulutnya dengan tangan.
Tak menyangka.
"Aku sebenarnya tidak mau bilang ini ke kamu, karena pada dasarnya, ini adalah kejutan buatmu. Bukan surprise, dong, kalau aku bilang ke kamu duluan?"
"Iy, iya..." Iris terbata.
Demi apapun, tercekat tenggorokannya.
"Tapi, karena aku tak mendengar kabarmu satu pun, aku jadi bertekad, pokoknya, setelah aku mendapatkan kabarmu, aku akan memberitahu semuanya. Aku akan memberikanmu apapun yang kamu mau, Ris. Whatever you say. Aku ... dari sejak awal kita akhirnya memutuskan pacaran, aku ... telah mendambakan suatu hari bisa mempersembahkan keseriusanku ke kamu, Ris."
"Ta ... Tapi, apa kamu merasa ... itu nggak berlebihan, Lak?" Iris pun sadar kalau pertanyaannya sangat aneh. "Ma, maksudku, aku tentu sangat bahagia mendapatkannya, jelasss, tapi, Laksa, aku pikir, akan lebih baik kalau ... kamu tidak perlu membuang energimu terlalu banyak seperti ini."
Laksa terdengar tertawa.
"Aku bahkan ... bukan sesuatu yang mahal yang bisa kamu banggakan, Lak."
"Iris, dengar ..." Laksa mengambil bagian. "Mau mahal tidak mahalnya kamu, kamu tetap wanita satu-satunya yang kupuja seumur hidupku. Sepanjang sisa waktuku masih ada, maka, poros rotasiku menggantungkan semua hal yang mampu mengistimewakanmu, ya, sampai semuanya selesai, tentu."
"Laksaaa ..." Iris jadi merasa semakin berat. Dia mulai mengeluh. Mengapa coba di saat seperti itu, hidupnya justru menjadi seperti ini?
"Enggak apa, Iris. Nanti kalau kamu ada waktu, kita obrolin lagi, ya. Kamu nggak perlu khawatirin aku, aku nggak papa. Pikirin diri kamu sendiri aja," sebutnya. Lalu, tertawa. "Mungkin kalau kamu ada di depan aku, rambut kamu bakal aku acak-acak."
"Laksaaa ihhh ..."
Dan, Laksa kembali tertawa.
"Ya, sudah, dan, oh, yaaa ..."
"Apa?"
"Kamu jangan kirim lagi pesan kalau kamu bosan denganku, ya, Iris. Aku ... sungguhan tidak mengerti kenapa kamu tiba-tiba ingin memutuskan semuanya? Apalagi dengan alasan kamu membenciku. Apa itu benar adanya, Ris?"
DEG.
Iris teringat hari itu.
Hari di mana Kenneth merampas ponselnya dan mengirimkan pesan yang tidak-tidak pada Laksa.
Hingga, sebisa mungkin pun, Iris menjelaskan.
"Ah, tidak, Laksa ..." Iris memasang kekehan paling ramah sedunia. "Kamu nggak perlu khawatir. Itu hanya, euhm, ahhh, yaaa ... aku hanya sedang datang bulan saja."
"Datang bulan?" Dahi Laksa mengernyit.
"Iya, datang bulan," tegas Iris. "Biasa lah, kita, kan, tidak mungkin akur terus. Pasti ada satu sisi di mana kamu dan aku lantas duduk bersama kenangan buruk kita. Saat kita masih ke kanak-kanakkan. Karena kontrol emosiku nggak baik, jadi aku pecahin ke kamu."
"Oh, begitu ..."
"Iya, Laksa." Iris senang. Karena Laksa tak curiga dengannya.
Padahal kebiasan sebenarnya Iris jika sedang datang bulan, ia akan semakin manja dengan lelaki itu.
Bukan justru melemparkan kesalahan konyol dan minta putus.
Itu ... aneh sekali, tentu.
"Tapi, Iris ..."
"Iya."
"Perasaan kamu datang bulan terakhir dua hari lalu sebelum seminggu ini kamu nggak ada."
DEG.
Iris menelan ludah.
Dia menepuk dahi.
Lupa jika bahwasannya Laksa lah yang selalu care dengan kesehatannya.
Maklum, Laksa berasal dari keluarga dokter.
Jadi, dia tahu banget urusan mengelola kesehatan yang baik dan benar.
"Ahh, masa, sih, Lak?" Iris mencoba untuk membuat Laksa tak akurat. "Eh, ngomong-ngomong kamu masih makan rujak Mang Huan?"
Seperti biasa, jika di situasi semacam itu, Iris akan membalikkan topik ke arah yang lain.
Tentu agar fokus lawan bicara terbelah.
"Oh, massihh ..."
'Syukurlah,' batin Iris bersyukur dalam diri.
"Kamu, kan, tahu date pertama kita malah makan rujak."
Bagus laaah.
Nostalgia memang selalu menjadi hal seru buat dibahas saat banyak terjadi hal-hal error.
"Iya, Lak ..." Iris jadi nyambung. "Aku juga kangen banget sama buah kedongdongnya. Kamu kebetulan selain rujak makan apa, Lak?"
Dia tampak berpikir sebentar.
"Sisanya rawon, Ris, yang aku memang lagi bucin. Hehe." Tawanya vitamin sekali. "Oh, iya, ini aku antarkan ke kamu, ya? Kebetulan banget aku lagi ngantri beli rujak dan rawon, kamu di rumah, kan? Aku tanya sama Gwen kamu katanya lagi gak join kumpulan dia."
DEG.
'MATI IRIS!' gusarnya.