"Kami akan bercerai, Bu, lebih tepatnya aku yang memaksa
bercerai, Mas Bram nggak mau, tapi kan nggak akan mungkin
ada jalan penuh ketenangan jika dalam rumah tangga ada dua
istri, mungkin orang lain ada yang bisa tapi aku tidak bisa, Ibu,
aku yang memilih pergi."
Ratna menggeleng pelan, ia hanya berpikir bahwa Gayatri
telah berhasil menghancurkan hidup anaknya, Ratna yakin bahwa
Gayatri saat ini tengah menikmati kemenangannya, sementara
anaknya akan menanggung luka selamanya.
"Sori, ya. Gue jadi ngerepotin lo. Padahal, gue udah
bilang Noah untuk nggak minta bantuan lo. Lagian, ada
Audrey yang bisa anter gue ke apartemen."
"Santai aja, Le. Gue nggak ngerasa direpotin, kok."
Sudut bibir Lea terangkat. "Thanks."
Ratna mengerutkan keningnya tak mengeti maksud dari
kalimat yang diucapkan Meli.
"Maksudmu?"
"Aku pernah secara tak sengaja melihat calon istrinya
bersama laki-laki tinggi gagah di sebuah apartemen, mereka
terlihat mesra, aku pura-pura gak lihat, Ibu. Siang hari waktu itu
aku ikut temanku, si Mirna ke apartemen pacarnya sebentar
ngambil barang dia yang tertinggal, kalo lihat gelagatnya kayak
ada yang gak beres, aku bilang itu ke Mas Bram bukan
bermaksud menghalangi dia menikahi calon istrinya yang cantik
Kata-kata Meli membuat Ratna mengelus lengan Meli
pelan sambil tersenyum lembut, ia tahu anaknya masih mencintai
Bram tapi keputusan untuk pergi adalah yang paling benar meski
kadang ada rasa tak rela, tak rela jika Bram berbagi, tak rela jika
Bram disakiti, hal lumrah karena Bram dan Meli mempunyai
hubungan yang lama sebelum mereka menikah, mirisnya Bram
dan Meli melewati masa pacaran lama namun tak bisa
mempertahankan pernikahan yang akhirnya ambruk dalam
sekejap.
"Kau masih peduli pada suamimu, Anakku?"
***
"Sejak hari ini tidak lagi, Ibu. Seminggu lagi akan aku urus
semuanya, akan aku telepon Mas Bram agar pengacaranya segera
mengurus dan menyelesaikan perceraian kami, dia punya
pengacara handal yang aku pikir tanpa aku harus hadir di
persidangan akan segera selesai. Aku memberi tahu Mas Bram
info itu, Ibu, agar dia tahu siapa calon istrinya dan tak mau saja
dibodohi, kan mengenaskan sekali nasib Mas Bram jika harus
mengakui bayi orang lain sebagai anaknya, lagi pula jika memang
mau menikah lagi akan lebih baik jika dia menikah dengan
wanita baik-baik."
Lalu suamimu percaya pada informasi yang kamu
katakan?"
Mendadak, ponsel Audrey berdering. Cewek itu meng-
aduk-aduk isi tasnya yang besar dan segera menempel
kan benda itu ke telinganya, setelah mengatakan, "Tunggu
sebentar," pada Lea.
"Ya, Ren?"
Seketika itu juga ekspresi Audrey berubah terkejut,
bercampur antusias yang menggebu-gebu. Bagaimana
tidak, Rendi mengabarkan bahwa istrinya masuk rumah
sakit. Sudah mengalami kontraksi. Itu berarti anaknya
kemungkinan besar akan lahir malam itu juga. Tandanya,
Rendi pun akan segera menjadi seorang Ayah. Ini
momen besar pertamanya yang rasanya bisa dijadikan
pengalaman bersejarah. Dan, untuk menanti momen-
momen itu, dia juga membutuhkan sahabatnya untuk
menemaninya.
"Le?" Audrey menatap Lea bingung bercampur cemas.
"Rendi minta gue ke sana, nemenin dia. Nggak apa kalo
lo gue tinggal?" tanyanya setelah hubungan telepon itu
berakhir dengan sebuah pesan titip salam untuk Lea.
"Santai aja, Drey. Lo temenin aja Rendi. Gue juga pe-
ngen bisa nemenin dia..." Lea menggantungkan kalimatnya.
Audrey menatap Lea tak rela. Kemudian, pandangan-
nya beralih pada Nathan yang berdiri di seberangnya,
dalam diam. "Tolong anterin Lea, ya," pintanya dengan
sedikit sungkan.
"Sure."
[19/11 14.45] Xiao Lu: Audrey tidak langsung beranjak. Dia masih sangsi,
menebak-nebak apakah masih ada alternatif lain yang
bisa dia lalkukan supaya tak harus meninggalkan Lea. "Ya
udah, Le. Lo pulang sama Nathan, tapi nanti kalo gue bisa
ke apartemen lo, gue dateng. Gue temenin lo," katanya
khawatir
"Nggak usah, Drey. Lo langsung pulang, aja."
"Let see. Gue duluan, ya." Audrey menyampirkan tas di
pundaknya. "Call me when you get home."
"Pulang sekarang, Le?" tanya Nathan setelah Audrey
menghilang-kagok karena hanya ada mereka berdua saja.
"lya."
Dengan gesit, Nathan segera bergerak ke sisi Lea yang
satu lagi, membantu Lea menuruni ranjang dengan hati
hati. Pandangan mata mereka sempat bertemu dari jarak
dekat, membuat Lea menyadari sepasang mata teduh dan
tenang itu, seperti pernah dilihatnya sebelum ini.
"Lo keliatan familier, Nath," kata Lea pelan ketika
keduanya beriringan menuju mobil Noah di parkiran.
Tadi, Nathan menawarkan supaya Lea menunggunyadi
lobi saja dan Nathan akan membawa mobilnya ke sana,
tapi Lea menolak mentah-mentah usul itu. Lea tidak suka
memperlakukan cowok asing itu seperti sopir.
Nathan tersenyum. "Apanya yang keliatan familier?"
"Bukan apa-apa, sih. Mungkin cuma perasan gue,
doang." Lea malah salah tingkah sendiri.
"Well, mungkin."
56
Lea mengangkat kedua alisnya, terkejut mendengar
jawaban singkat itu. Mungkin? Apa maksudnya mereka
memang pernah bertemu sebelum ini sehingga ketika me-
lihat Nathan, Lea merasa seperti de-javu? Lea menunggu
Nathan bicara lagi. Barangkali, akan ada lanjutan dari kata