HF [20]

762 Words
"Kami akan bercerai, Bu, lebih tepatnya aku yang memaksa bercerai, Mas Bram nggak mau, tapi kan nggak akan mungkin ada jalan penuh ketenangan jika dalam rumah tangga ada dua istri, mungkin orang lain ada yang bisa tapi aku tidak bisa, Ibu, aku yang memilih pergi." Ratna menggeleng pelan, ia hanya berpikir bahwa Gayatri telah berhasil menghancurkan hidup anaknya, Ratna yakin bahwa Gayatri saat ini tengah menikmati kemenangannya, sementara anaknya akan menanggung luka selamanya. "Sori, ya. Gue jadi ngerepotin lo. Padahal, gue udah bilang Noah untuk nggak minta bantuan lo. Lagian, ada Audrey yang bisa anter gue ke apartemen." "Santai aja, Le. Gue nggak ngerasa direpotin, kok." Sudut bibir Lea terangkat. "Thanks." Ratna mengerutkan keningnya tak mengeti maksud dari kalimat yang diucapkan Meli. "Maksudmu?" "Aku pernah secara tak sengaja melihat calon istrinya bersama laki-laki tinggi gagah di sebuah apartemen, mereka terlihat mesra, aku pura-pura gak lihat, Ibu. Siang hari waktu itu aku ikut temanku, si Mirna ke apartemen pacarnya sebentar ngambil barang dia yang tertinggal, kalo lihat gelagatnya kayak ada yang gak beres, aku bilang itu ke Mas Bram bukan bermaksud menghalangi dia menikahi calon istrinya yang cantik Kata-kata Meli membuat Ratna mengelus lengan Meli pelan sambil tersenyum lembut, ia tahu anaknya masih mencintai Bram tapi keputusan untuk pergi adalah yang paling benar meski kadang ada rasa tak rela, tak rela jika Bram berbagi, tak rela jika Bram disakiti, hal lumrah karena Bram dan Meli mempunyai hubungan yang lama sebelum mereka menikah, mirisnya Bram dan Meli melewati masa pacaran lama namun tak bisa mempertahankan pernikahan yang akhirnya ambruk dalam sekejap. "Kau masih peduli pada suamimu, Anakku?" *** "Sejak hari ini tidak lagi, Ibu. Seminggu lagi akan aku urus semuanya, akan aku telepon Mas Bram agar pengacaranya segera mengurus dan menyelesaikan perceraian kami, dia punya pengacara handal yang aku pikir tanpa aku harus hadir di persidangan akan segera selesai. Aku memberi tahu Mas Bram info itu, Ibu, agar dia tahu siapa calon istrinya dan tak mau saja dibodohi, kan mengenaskan sekali nasib Mas Bram jika harus mengakui bayi orang lain sebagai anaknya, lagi pula jika memang mau menikah lagi akan lebih baik jika dia menikah dengan wanita baik-baik." Lalu suamimu percaya pada informasi yang kamu katakan?" Mendadak, ponsel Audrey berdering. Cewek itu meng- aduk-aduk isi tasnya yang besar dan segera menempel kan benda itu ke telinganya, setelah mengatakan, "Tunggu sebentar," pada Lea. "Ya, Ren?" Seketika itu juga ekspresi Audrey berubah terkejut, bercampur antusias yang menggebu-gebu. Bagaimana tidak, Rendi mengabarkan bahwa istrinya masuk rumah sakit. Sudah mengalami kontraksi. Itu berarti anaknya kemungkinan besar akan lahir malam itu juga. Tandanya, Rendi pun akan segera menjadi seorang Ayah. Ini momen besar pertamanya yang rasanya bisa dijadikan pengalaman bersejarah. Dan, untuk menanti momen- momen itu, dia juga membutuhkan sahabatnya untuk menemaninya. "Le?" Audrey menatap Lea bingung bercampur cemas. "Rendi minta gue ke sana, nemenin dia. Nggak apa kalo lo gue tinggal?" tanyanya setelah hubungan telepon itu berakhir dengan sebuah pesan titip salam untuk Lea. "Santai aja, Drey. Lo temenin aja Rendi. Gue juga pe- ngen bisa nemenin dia..." Lea menggantungkan kalimatnya. Audrey menatap Lea tak rela. Kemudian, pandangan- nya beralih pada Nathan yang berdiri di seberangnya, dalam diam. "Tolong anterin Lea, ya," pintanya dengan sedikit sungkan. "Sure." [19/11 14.45] Xiao Lu: Audrey tidak langsung beranjak. Dia masih sangsi, menebak-nebak apakah masih ada alternatif lain yang bisa dia lalkukan supaya tak harus meninggalkan Lea. "Ya udah, Le. Lo pulang sama Nathan, tapi nanti kalo gue bisa ke apartemen lo, gue dateng. Gue temenin lo," katanya khawatir "Nggak usah, Drey. Lo langsung pulang, aja." "Let see. Gue duluan, ya." Audrey menyampirkan tas di pundaknya. "Call me when you get home." "Pulang sekarang, Le?" tanya Nathan setelah Audrey menghilang-kagok karena hanya ada mereka berdua saja. "lya." Dengan gesit, Nathan segera bergerak ke sisi Lea yang satu lagi, membantu Lea menuruni ranjang dengan hati hati. Pandangan mata mereka sempat bertemu dari jarak dekat, membuat Lea menyadari sepasang mata teduh dan tenang itu, seperti pernah dilihatnya sebelum ini. "Lo keliatan familier, Nath," kata Lea pelan ketika keduanya beriringan menuju mobil Noah di parkiran. Tadi, Nathan menawarkan supaya Lea menunggunyadi lobi saja dan Nathan akan membawa mobilnya ke sana, tapi Lea menolak mentah-mentah usul itu. Lea tidak suka memperlakukan cowok asing itu seperti sopir. Nathan tersenyum. "Apanya yang keliatan familier?" "Bukan apa-apa, sih. Mungkin cuma perasan gue, doang." Lea malah salah tingkah sendiri. "Well, mungkin." 56 Lea mengangkat kedua alisnya, terkejut mendengar jawaban singkat itu. Mungkin? Apa maksudnya mereka memang pernah bertemu sebelum ini sehingga ketika me- lihat Nathan, Lea merasa seperti de-javu? Lea menunggu Nathan bicara lagi. Barangkali, akan ada lanjutan dari kata
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD