"Gue tanya sekali lagi, kenapa kalian nyelakain temen gue?" Dia
menarik kasar kerah seorang cowok yang limbung akibat kalah
gasak darinya.
Karena cowok itu masih tetap bungkam, ia meninggikan
suaranya beberapa oktaf dengan ancaman, "Jawab atau gue
patahin tangan lo lagi!"
"B-Black Dragon," jawabnya lirih. Wajahnya yang sangar
jadi pucat pasi seperti ia baru bilang kata-kata sakral. Dia tahu ia
akan dihukum lebih berat daripada ini, tapi apa daya jika
"Kami.. h-hanya
dihadapkan langsung dengan si iblis.
menjalankan sebuah t-tes supaya menjadi anggota inti."
"Udah gue duga," katanya pelan setelah melepas
cengkramannya. la menghela napas sambil mengacak
rambutnya dengan asal. Mendengar nama itu' sudah
membuatnya muak. la tak habis pikir, kenapa geng itu tak
pernah lelah untuk terus mencari gara-gara?
"Bos! Ada polisi datang!" Seruan seorang lelaki
membuatnya tersadar dari pikirannya. Dari suaranya, ia tahu
suara itu adalah salah satu anak buahnya yang ikut menyerbu
markas di bangunan gedung ditinggal setengah jadi ini. Yang
sekarang diketahui sebagai salah satu tempat bersembunyi
bawahan salah satu geng terlicik dan terbahaya.
la berdecak kesal dan kembali memusatkan perhatiannya
pada cowok yang mengaku sebagai ketua kelompok kecil
tempat ini. "Lo beruntung kali ini," cecarnya dan melayangkan
tendangan terakhir pada perut si bos besar yang menggerutu
kesakitan.
"Sh*t." Baru saja dia menaiki motor kesayangannya, ia
menyadari kondisi sekarang ini sungguh mencekam. la lihat
beberapa polisi mengepung tempat ini dan bersiap dengan
Wheniwasdreamingg | 1
senjata masing-masing untuk melumpuhkannya beserta
kelompok musuhnya.
Tanpa rasa takut sedikitpun, ia memberi aba-aba dengan
menggunakan jarinya pada para anak buahnya dan setelah
melihat anggukan mereka, mereka kompak menyalakan mesin
motor masing-masing.
Sang panglima bos menarik gas sembari menggerakkan
motornya secara berputar sehingga membuat asap tebal
menggembul tempat ini. Dan kompak ia berserta kelompoknya
melaju melewati para polisi yang konsentrasinya terganggu
dengan lihai.
Sang bos menyeringai puas saat ia lihat ke belakang, para
polisi tak lagi berusaha mengejar mereka. Mungkin kehilangan
jejak karena tak bisa menyaingi kecepatan mereka atau sedang
sibuk meringkus si kelompok sialan yang sudah ditaklukkan.
Namanya Alexandra Pramsyah. 22 tahun. Orang-orang di Alex jadi terobsesi dengan
amanya berantem yang bikin barik
barik di tubuhnya memompa, sekaligus bikin adrenalinnya
meningkat. Walaupun badannya bisa dibillang kurus untuk
ukuran seorang cowok dan kelihatan lemah, dia adalah juara
MMA dan sekaligus ketua geng terkemuka.
Karena keadaannya yang keras sejak ia kecil, Alex jadi
termakan dunia ini. Terkadang saat di masa kelamnya, ia suka
merendahkan kehidupannya ini sehingga dia lupa siapa dirinya
dan hal terpenting baginya. la tak sadar sering merusak dirinya
sendiri layaknya seperti istilah " have nothing to lose".
Pada akhirnya, semua ini harus berakhir sejak satu
panggilan telepon.
Two Masks In Love | 2
"Sialan tuh Black Dragon! Maunya apa sih mereka itu?!"
tandas Azka dengan menggebu-gebu setelah meneguk segelas
alkohol yang baru ia pesan. Cowok ini adalah salah satu
komandan geng Alex.
Sehabis bertarung membuat tenaga Alex sedikit terkuras,
jadi ia putuskan untuk mampir dahulu ke club favoritnya
bersama kedua sahabatnya. Tempat ini lebih baik daripada
pulang ke rumahnya atau biasa dia sebut "hel" dunia.
"Mana tahu," sahut Vigo, ia juga komandan sekaligus
penasihat geng. Tampak hanya dia seorang yang tak ikut minum.
"Gimana rencana lo selanjutnya?" tanyanya pada Alex.
Di saat Alex akan membalas, perkataannya terpotong oleh
nada dering ponselnya.
Dengan berdecak ia mengeluarkan ponselnya dari kantong
jaketnya. la mengerutkan kening saat melihat layar tersebut
dengan tulisan "Devil". Karenanya, Alex tak pedulikan panggilan
tersebut.
la menuangkan kembali botol whiskey ke dalam gelasnya
hingga penuh dan meminumnya habis dalam sekali tegukan.
"Ayah lo?" tebak Virgo sembari menaikkan satu alisnya.
Alex hanya mengedik, tak tahu jika "Devil" pantas ia panggil
dengan sebutan ayah.
"Kenapa lo gak angkat? Lo udah seminggu gak pulang.
mungkin aja dia khawatir," tambahnya.
Alex tak mengindahkan ucapan Vigo yang sungguh gak
masuk akal, ia cuma tertawa getir. Vigo membalasnya dengan
seringaian kecil. Dari semua orang di sekitarnya, hanya Vigo
yang tahu segalanya tentang keadaan hancur keluarganya.
"Masih beruntung lo punya ayah," sindir Azka.
Alex mengernyit menatap Azka, tapi ekspresinya berubah
datar saat mengingat Azka tak punya ayah karena ditinggal pergi.