HF [21]

664 Words
"Gue tanya sekali lagi, kenapa kalian nyelakain temen gue?" Dia menarik kasar kerah seorang cowok yang limbung akibat kalah gasak darinya. Karena cowok itu masih tetap bungkam, ia meninggikan suaranya beberapa oktaf dengan ancaman, "Jawab atau gue patahin tangan lo lagi!" "B-Black Dragon," jawabnya lirih. Wajahnya yang sangar jadi pucat pasi seperti ia baru bilang kata-kata sakral. Dia tahu ia akan dihukum lebih berat daripada ini, tapi apa daya jika "Kami.. h-hanya dihadapkan langsung dengan si iblis. menjalankan sebuah t-tes supaya menjadi anggota inti." "Udah gue duga," katanya pelan setelah melepas cengkramannya. la menghela napas sambil mengacak rambutnya dengan asal. Mendengar nama itu' sudah membuatnya muak. la tak habis pikir, kenapa geng itu tak pernah lelah untuk terus mencari gara-gara? "Bos! Ada polisi datang!" Seruan seorang lelaki membuatnya tersadar dari pikirannya. Dari suaranya, ia tahu suara itu adalah salah satu anak buahnya yang ikut menyerbu markas di bangunan gedung ditinggal setengah jadi ini. Yang sekarang diketahui sebagai salah satu tempat bersembunyi bawahan salah satu geng terlicik dan terbahaya. la berdecak kesal dan kembali memusatkan perhatiannya pada cowok yang mengaku sebagai ketua kelompok kecil tempat ini. "Lo beruntung kali ini," cecarnya dan melayangkan tendangan terakhir pada perut si bos besar yang menggerutu kesakitan. "Sh*t." Baru saja dia menaiki motor kesayangannya, ia menyadari kondisi sekarang ini sungguh mencekam. la lihat beberapa polisi mengepung tempat ini dan bersiap dengan Wheniwasdreamingg | 1 senjata masing-masing untuk melumpuhkannya beserta kelompok musuhnya. Tanpa rasa takut sedikitpun, ia memberi aba-aba dengan menggunakan jarinya pada para anak buahnya dan setelah melihat anggukan mereka, mereka kompak menyalakan mesin motor masing-masing. Sang panglima bos menarik gas sembari menggerakkan motornya secara berputar sehingga membuat asap tebal menggembul tempat ini. Dan kompak ia berserta kelompoknya melaju melewati para polisi yang konsentrasinya terganggu dengan lihai. Sang bos menyeringai puas saat ia lihat ke belakang, para polisi tak lagi berusaha mengejar mereka. Mungkin kehilangan jejak karena tak bisa menyaingi kecepatan mereka atau sedang sibuk meringkus si kelompok sialan yang sudah ditaklukkan. Namanya Alexandra Pramsyah. 22 tahun. Orang-orang di Alex jadi terobsesi dengan amanya berantem yang bikin barik barik di tubuhnya memompa, sekaligus bikin adrenalinnya meningkat. Walaupun badannya bisa dibillang kurus untuk ukuran seorang cowok dan kelihatan lemah, dia adalah juara MMA dan sekaligus ketua geng terkemuka. Karena keadaannya yang keras sejak ia kecil, Alex jadi termakan dunia ini. Terkadang saat di masa kelamnya, ia suka merendahkan kehidupannya ini sehingga dia lupa siapa dirinya dan hal terpenting baginya. la tak sadar sering merusak dirinya sendiri layaknya seperti istilah " have nothing to lose". Pada akhirnya, semua ini harus berakhir sejak satu panggilan telepon. Two Masks In Love | 2 "Sialan tuh Black Dragon! Maunya apa sih mereka itu?!" tandas Azka dengan menggebu-gebu setelah meneguk segelas alkohol yang baru ia pesan. Cowok ini adalah salah satu komandan geng Alex. Sehabis bertarung membuat tenaga Alex sedikit terkuras, jadi ia putuskan untuk mampir dahulu ke club favoritnya bersama kedua sahabatnya. Tempat ini lebih baik daripada pulang ke rumahnya atau biasa dia sebut "hel" dunia. "Mana tahu," sahut Vigo, ia juga komandan sekaligus penasihat geng. Tampak hanya dia seorang yang tak ikut minum. "Gimana rencana lo selanjutnya?" tanyanya pada Alex. Di saat Alex akan membalas, perkataannya terpotong oleh nada dering ponselnya. Dengan berdecak ia mengeluarkan ponselnya dari kantong jaketnya. la mengerutkan kening saat melihat layar tersebut dengan tulisan "Devil". Karenanya, Alex tak pedulikan panggilan tersebut. la menuangkan kembali botol whiskey ke dalam gelasnya hingga penuh dan meminumnya habis dalam sekali tegukan. "Ayah lo?" tebak Virgo sembari menaikkan satu alisnya. Alex hanya mengedik, tak tahu jika "Devil" pantas ia panggil dengan sebutan ayah. "Kenapa lo gak angkat? Lo udah seminggu gak pulang. mungkin aja dia khawatir," tambahnya. Alex tak mengindahkan ucapan Vigo yang sungguh gak masuk akal, ia cuma tertawa getir. Vigo membalasnya dengan seringaian kecil. Dari semua orang di sekitarnya, hanya Vigo yang tahu segalanya tentang keadaan hancur keluarganya. "Masih beruntung lo punya ayah," sindir Azka. Alex mengernyit menatap Azka, tapi ekspresinya berubah datar saat mengingat Azka tak punya ayah karena ditinggal pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD