Bagus. Kamu belum buka, kan?"
"Belum, bos. Perekamannya secara otomatis dan ekslusif. Selama perekaman berlangsumg. Tidak ada yang mengecek di kontrol. Saya kemari tadi untuk mencopot semua alat rekam."
Kenneth mengangguk. "Bagus." Dia kemudian mengangkat satu flashdisk tersebut usai meminum cola. "Ini akan jadi tontonan paling menyenangkan untukku dan pemainnya langsung."
Sang tukang tersenyum. "Tapi, Bos, apa ini tidak terlalu berlebihan? Maksudku, Bos. Setiap wanita menyukai keprivatan saat mereka memberitahukan hal istimewa terutama urusan tubuh mereka. Tidakkah ini melanggar batas kesukaan mereka yang cenderung tak suka diumbar?"
"Bagaimana kejadiannya, Iris? Mengapa Ibu sampai pingsan di rumah sakit ini?" tanya Bram yang saat itu baru sampai di rumah sakit. Laksmi berusaha bersikap wajar, wajah
Bram dan Berta menunjukkan kekhawatiran yang amat sangat.
"Aku juga kurang tahu, saat aku keluar ruangan Ibu sudah
pingsan, mungkin saja Ibu kelelahan mempersiapkan pernikahan
kita, Bram, ditambah memaksakan diri menemui aku," sahut
Laksmi.
"Parahkah kondisi Ibu, Laksmi?" tanya Bram khawatir.
"Benturan karena jatuh itu yang memperparah kondisi Ibu,
Bram. Tenanglah, kami akan merawat Ibu sebaik mungkin."
sahut Laksmi berusaha menenangkan dirinya karena dia sangat
mengetahui jika calon ibu mertuanya pasti shock melihat dirinya
dan Steve yang sedang menikmati siang yang panas berdua. Sejak
awal dia sudah menolak tapi keinginan Steve tak pernah dapat ia
tolak ditambah lagi Steve yang saat itu merasa akan segera
kehilangan Laksmi menje lang pernikahannya dengan Bram,
membuat Laksmi tak bisa menolak saat Steve mengucap kata-
kata cinta berulang dan memaksanya melakukan hal yang selalu
membuatnya ketagihan. Kegilaan Steve untuk hal yang satu itu
selalu berhasil membawa Laksmi ke langit kenikmatan.
Mereka, dirinya dan Steve sebenarnya mendengar jika ada
seseorang yang jatuh di luar pintu tapi rasanya sayang bagi Steve
dan Laksmi menghentikan aktivitas panasnya karena belum
mencapai puncak, hingga setelah selesai semua aktivitas itu
barulah mereka tahu jika calon mertua Laksmi yang jatuh dan
pingsan, segera Laksmi menyuruh Steve menyingkir, dan
menghubungi beberapa perawat dan dokter untuk melakukan
tindakan secepatnya bagi ibunda Bram, Laksmi hanya mencari
cara agar wanita tua yang tengah terbaring di ICU itu tidak segera
bangun sampai ia menikah dengan Bram.
"Bagaimana pun kondisi Ibu, lusa kalian tetap menikah,
justru jika tak dilaksanakan ini akan semakin menambah sedih
Ibu saat dia terbangun nanti." Berta menatap wajah Laksmi dan
Bram bergantian.
"Iya, Kak Berta, hanya kalau boleh, biar kami, aku dan
Bram tinggal di apartemen milikku dulu, aku nggak enak sama
istri Bram, bagaimana pun tinggal di tempat yang sama dengan
dua istri tetap akan menimbulkan hal yang bikin tak nyaman di
kedua belah pihak," ujar Laksmi mencari dalih agar ia tetap bisa
leluasa bertemu Steve.
***
"Wanita itu telah pergi, Laksmi, akhirnya ia sadar jika tak
pantas untuk Bram dan tak ada tempat baginya di rumah kami,"
sahut Berta sambil melirik Bram.
"Aku akan membujuknya agar ia tak minta berpisah dariku,
aku mencintainya, hanya dia wanita yang aku cintai," ujar Bram
pelan, Berta terlihat kesal.
"Apa yang kau lihat dari wanita itu? Lihat Laksmi,dia lebih
cocok berdiri di sampingmu," sahut Berta dengan kesal.
"Cinta tak bisa diukur dengan hal seperti itu, Kak, yang
jelas dia wanita yang menjaga kehormatannya dan tak mudah
mengumbar dirinya pada laki-laki lain, dia hanya mengenal aku,
tidak ada laki-laki lain dalam hidupnya."
Kata-kata Bram membuat Berta dan Laksmi terdiam.
Laksmi sebenarnya merasa jika Bram seolah curiga dan tahu
siapa Steve tapi diam saja, sedang Berta juga merasa jika Bram
menyindir Laksmi, yang Berta bingungkan dia belum bisa
membuktikan jika Steve mempunyai hubungan lebih dengan
Laksmi.
"Tak usah membahas dia lagi, cukup konsentrasi pada acara
lusa, ingat ini akan jadi pernikahan termewah di kota ini."
***
"Mengapa harus tinggal di sini, Meli?" tanya Ratna dengan
Suara lirih.
"Lebih enak di sini untuk pemulihan kesehatan Ibu, di sini
lebih tenang suasananya, masih perkampungan, kalau di rumah
Bapak di sana kan pinggir jalan, rame, di sini tetangga seperti
saudara, rumah warisan nenek untuk Ibu masih bagus dan terawat
karena aku menyuruh orang untuk membersihkannya dengan
rutin"
"Iya tapi kan jadi jauh kalau ingin ke mana-mana," sahut
Ratna lagi.
"Nggak usah semua dipikir Ibu, kita di sini akan hidup
tenang, Meti juga suka di sini karena akses ke kampus Meti jadi
dekat, kalo ke kantorku jauh gak pa-pa, kan ada mobil," sahut
Meli sambil berusaha tersenyum pada ibunya yang menatapnya
dengan tatapan khawatir.
"Suamimu kok sama sekali tak ke sini?" tanya Ratna lagi,
Meli hanya menghela napas berulang, ia bingung harus memulai
dari mana.
"Tak usah kau ceritakan, Ibu tahu jika rumah tanggamu tak
mudah, aku juga kaget saat mengetahui jika Nak Bram anak
Gayatri, wanita yang sepanjang hidupnya seolah membenciku,
aku tak melakukan apapun pada rumah tangga mereka. Jika
suaminya masih menyimpan cinta padaku, itu bukan salah Ibu,
dulu kami sempat dekat, tapi keadaan ekonomi yang jauuuh
berbeda menyadarkan Ibu bahwa kami takkan mungkin bersama,
dan benar, dia dijodohkan dengan wanita yang sepadan dan lbu
ikhlas. Alhamdulillah Ibu bertemu laki-laki sabar, Bapak kalian
yang menjadi suami Ibu."
"Seandainya aku serealistis Ibu, pasti aku tak akan sesakit
ini, aku menuruti kata hati dan cinta yang akhirnya membawa
kesakitan," Meli mulai meneteskan air mata. Ratna meraih tangan
anaknya mengelusnya perlahan sambil tersenyum lembut.
"Jangan disesali, anggap ini bagian takdir yang akan
mengantarmu pada jalan yang lebih indah, dan akhirnya apa yang
terjadi pada rumah tanggamu?" tanya Ratna hati-hati.
"Lusa, Mas Bram akan menikah dengan wanita pilihan
ibunya." Jawaban Meli membuat Ratna ternganga, ia tak
menyangka Meli akan semerana itu dalam perjalanan hidupnya,
wanita itu benar-benar membalaskan sakit hatinya pada Meli.
"Lalu kalian?"
"Kami akan bercerai, Bu, lebih tepatnya aku yang memaksa
bercerai, Mas Bram nggak mau, tapi kan nggak akan mungkin
ada jalan penuh ketenangan jika dalam rumah tangga ada dua
istri, mungkin orang lain ada yang bisa tapi aku tidak bisa, Ibu,
aku yang memilih pergi."
Ratna menggeleng pelan, ia hanya berpikir bahwa Gayatri
telah berhasil menghancurkan hidup anaknya, Ratna yakin bahwa
Gayatri saat ini tengah menikmati kemenangannya, sementara
anaknya akan menanggung luka selamanya.
"Lalu, Bram menerima kau meminta cerai?" tanya Ratna
lagi.
"Dia harus mau, Ibu, dan aku yakin dia akan mau, ia tak
akan bisa adil pada kami jika aku bertahan di sana, belum lagi
cemooh dari Ibu dan Kakaknya, jadi benar "kan, Ibu, jika aku
memilih pergi?"
Ratna mengangguk, ia bisa memprediksi apa yang akan
terjadi jika Meli memaksakan diri ada diantara Bram dan istri
barunya, kesakitan demi kesakitan akan terus dialami oleh Meli
sepanjang hidupnya. Pilihan berpisah adalah keputusan yang
paling benar. Jika hanya mengatasnamakan cinta maka cinta buta
tak tahu tempat serta dera dan lara hati akan selamanya dialami
oleh Meli, sementara dalam pikiran Ratna, Gayatri akan semakin
jadi membalaskan semua kesakitan yang dialami agar Meli juga
merasakan hal yang sama. Ratna tak tahu bahwa di tempat lain
Gayatri sedang bertarung dengan maut entah bisa sadar kembali
atau memejamkan mata selamanya.
Dua hari kemudian ...
"Kau tak kerja, Meli?" tanya Ratna, berjalan pelan menuju
ruang tamu, mendekati Meli yang terlihat melamun dan kaget
saat dirinya mendekat.
"Aku cuti, Ibu. Ingin mengistirahatkan pikiran, ingin gak
diganggu siapapun," sahut Meli dan Ratna tersenyum, duduk
dengan hati-hati dibantu Meli.
"Bukan karena hari ini suamimu akan menikah? Hingga
kau perlu menenangkan diri? Pergilah ke mana dengan adikmu,
nggak pa-pa Ibu di sini sendiri, toh Ibu tak akan ke mana-mana
selama kalian tinggalkan," ujar Ratna lagi.
"Nggak, Ibu, males. Tadi Mas Bram nelepon lagi akhirnya
aku angkat teleponnya, dia minta maaf dan tanya aku ada di
mana, aku bilang lebih baik konsen pada pernikahannya dan satu
hal yang aku pinta, egois memang kayaknya tapi ini untuk
kebaikan Mas Bram saja dan biar jelas anak siapa nanti yang
dikandung istrinya, aku minta dia jangan berhubungan intim dulu
sama istrinya."
Ratna mengerutkan keningnya tak mengeti maksud dari
kalimat yang diucapkan Meli.
"Maksudmu?"
"Aku pernah secara tak sengaja melihat calon istrinya
bersama laki-laki tinggi gagah di sebuah apartemen, mereka
terlihat mesra, aku pura-pura gak lihat, Ibu. Siang hari waktu itu
aku ikut temanku, si Mirna ke apartemen pacarnya sebentar
ngambil barang dia yang tertinggal, kalo lihat gelagatnya kayak
ada yang gak beres, aku bilang itu ke Mas Bram bukan
bermaksud menghalangi dia menikahi calon istrinya yang cantik
Kata-kata Meli membuat Ratna mengelus lengan Meli
pelan sambil tersenyum lembut, ia tahu anaknya masih mencintai
Bram tapi keputusan untuk pergi adalah yang paling benar meski
kadang ada rasa tak rela, tak rela jika Bram berbagi, tak rela jika
Bram disakiti, hal lumrah karena Bram dan Meli mempunyai
hubungan yang lama sebelum mereka menikah, mirisnya Bram
dan Meli melewati masa pacaran lama namun tak bisa
mempertahankan pernikahan yang akhirnya ambruk dalam
sekejap.
"Kau masih peduli pada suamimu, Anakku?"
***
"Sejak hari ini tidak lagi, Ibu. Seminggu lagi akan aku urus
semuanya, akan aku telepon Mas Bram agar pengacaranya segera
mengurus dan menyelesaikan perceraian kami, dia punya
pengacara handal yang aku pikir tanpa aku harus hadir di
persidangan akan segera selesai. Aku memberi tahu Mas Bram
info itu, Ibu, agar dia tahu siapa calon istrinya dan tak mau saja
dibodohi, kan mengenaskan sekali nasib Mas Bram jika harus
mengakui bayi orang lain sebagai anaknya, lagi pula jika memang
mau menikah lagi akan lebih baik jika dia menikah dengan
wanita baik-baik."
Lalu suamimu percaya pada informasi yang kamu
katakan?"
"Dia diam agak lama dan bilang mungkin aku salah lihat,
tak mungkin calon istrinya kayak gitu, Mas Bram bilang gitu,Ibu.
Yah, semua terserah Mas Bram, aku hanya kasihan, dia dan
keluarganya sangat ingin ada bayi segera hadir di rumah megah
itu, tapi jika ternyata
laki-laki lain kan?”
Kenneth mengangguk lama. "Memang benar. Perempuan ini pun, iya. Tapi ... untuk membuatnya PD bahwa dirinya memang sejak dulu indah dan tidak minderan, saya terpaksa pakai cara ini.”
‘Tentu yang selain itu juga agar Iris memberinya servis lebih,’ batin Kenneth seraya tersenyum dengan simpulnya.
"Terlebih, setiap pasangan, kan, harus mereview setiap aktivitas malam mereka sebelum kita berdua agar sama-sama jadi pro."
Anak buah itu pun mengacungkan jempol. "Bos memang hebat."
Kenneth mengangkat bahu. "Sudah biasa."
"Semoga langgeng, ya, Bos. Saya doakan."
Tapi, Kenneth tak menjawab. Dia cuma tersenyum karena dia sudah tahu jawaban dari pengharapan itu.
'Aku dan Iris nggak akan cuma langgeng, asal kamu tahu. Tapi, sangat forever. Dia dengan semua kartu mati yang aku genggam termasuk yang kali ini. Aakan aku pun dengan segala kerelaanku yang apapun demi dia. Intinya satu ... Iris hanya ditakdirkan menjadi milikku.'
Bergaya moonwalk untuk freestylenya jalan, Kenneth kini kembali masuk ke dalam.
Fyi. Tadi, dia di teras.
Biasa, ngadain minum kopi pagi hari ala cowok sama oranglain.