HF [12]

1729 Words
Bagus. Kamu belum buka, kan?" "Belum, bos. Perekamannya secara otomatis dan ekslusif. Selama perekaman berlangsumg. Tidak ada yang mengecek di kontrol. Saya kemari tadi untuk mencopot semua alat rekam." Kenneth mengangguk. "Bagus." Dia kemudian mengangkat satu flashdisk tersebut usai meminum cola. "Ini akan jadi tontonan paling menyenangkan untukku dan pemainnya langsung." Sang tukang tersenyum. "Tapi, Bos, apa ini tidak terlalu berlebihan? Maksudku, Bos. Setiap wanita menyukai keprivatan saat mereka memberitahukan hal istimewa terutama urusan tubuh mereka. Tidakkah ini melanggar batas kesukaan mereka yang cenderung tak suka diumbar?" "Bagaimana kejadiannya, Iris? Mengapa Ibu sampai pingsan di rumah sakit ini?" tanya Bram yang saat itu baru sampai di rumah sakit. Laksmi berusaha bersikap wajar, wajah Bram dan Berta menunjukkan kekhawatiran yang amat sangat. "Aku juga kurang tahu, saat aku keluar ruangan Ibu sudah pingsan, mungkin saja Ibu kelelahan mempersiapkan pernikahan kita, Bram, ditambah memaksakan diri menemui aku," sahut Laksmi. "Parahkah kondisi Ibu, Laksmi?" tanya Bram khawatir. "Benturan karena jatuh itu yang memperparah kondisi Ibu, Bram. Tenanglah, kami akan merawat Ibu sebaik mungkin." sahut Laksmi berusaha menenangkan dirinya karena dia sangat mengetahui jika calon ibu mertuanya pasti shock melihat dirinya dan Steve yang sedang menikmati siang yang panas berdua. Sejak awal dia sudah menolak tapi keinginan Steve tak pernah dapat ia tolak ditambah lagi Steve yang saat itu merasa akan segera kehilangan Laksmi menje lang pernikahannya dengan Bram, membuat Laksmi tak bisa menolak saat Steve mengucap kata- kata cinta berulang dan memaksanya melakukan hal yang selalu membuatnya ketagihan. Kegilaan Steve untuk hal yang satu itu selalu berhasil membawa Laksmi ke langit kenikmatan. Mereka, dirinya dan Steve sebenarnya mendengar jika ada seseorang yang jatuh di luar pintu tapi rasanya sayang bagi Steve dan Laksmi menghentikan aktivitas panasnya karena belum mencapai puncak, hingga setelah selesai semua aktivitas itu barulah mereka tahu jika calon mertua Laksmi yang jatuh dan pingsan, segera Laksmi menyuruh Steve menyingkir, dan menghubungi beberapa perawat dan dokter untuk melakukan tindakan secepatnya bagi ibunda Bram, Laksmi hanya mencari cara agar wanita tua yang tengah terbaring di ICU itu tidak segera bangun sampai ia menikah dengan Bram. "Bagaimana pun kondisi Ibu, lusa kalian tetap menikah, justru jika tak dilaksanakan ini akan semakin menambah sedih Ibu saat dia terbangun nanti." Berta menatap wajah Laksmi dan Bram bergantian. "Iya, Kak Berta, hanya kalau boleh, biar kami, aku dan Bram tinggal di apartemen milikku dulu, aku nggak enak sama istri Bram, bagaimana pun tinggal di tempat yang sama dengan dua istri tetap akan menimbulkan hal yang bikin tak nyaman di kedua belah pihak," ujar Laksmi mencari dalih agar ia tetap bisa leluasa bertemu Steve. *** "Wanita itu telah pergi, Laksmi, akhirnya ia sadar jika tak pantas untuk Bram dan tak ada tempat baginya di rumah kami," sahut Berta sambil melirik Bram. "Aku akan membujuknya agar ia tak minta berpisah dariku, aku mencintainya, hanya dia wanita yang aku cintai," ujar Bram pelan, Berta terlihat kesal. "Apa yang kau lihat dari wanita itu? Lihat Laksmi,dia lebih cocok berdiri di sampingmu," sahut Berta dengan kesal. "Cinta tak bisa diukur dengan hal seperti itu, Kak, yang jelas dia wanita yang menjaga kehormatannya dan tak mudah mengumbar dirinya pada laki-laki lain, dia hanya mengenal aku, tidak ada laki-laki lain dalam hidupnya." Kata-kata Bram membuat Berta dan Laksmi terdiam. Laksmi sebenarnya merasa jika Bram seolah curiga dan tahu siapa Steve tapi diam saja, sedang Berta juga merasa jika Bram menyindir Laksmi, yang Berta bingungkan dia belum bisa membuktikan jika Steve mempunyai hubungan lebih dengan Laksmi. "Tak usah membahas dia lagi, cukup konsentrasi pada acara lusa, ingat ini akan jadi pernikahan termewah di kota ini." *** "Mengapa harus tinggal di sini, Meli?" tanya Ratna dengan Suara lirih. "Lebih enak di sini untuk pemulihan kesehatan Ibu, di sini lebih tenang suasananya, masih perkampungan, kalau di rumah Bapak di sana kan pinggir jalan, rame, di sini tetangga seperti saudara, rumah warisan nenek untuk Ibu masih bagus dan terawat karena aku menyuruh orang untuk membersihkannya dengan rutin" "Iya tapi kan jadi jauh kalau ingin ke mana-mana," sahut Ratna lagi. "Nggak usah semua dipikir Ibu, kita di sini akan hidup tenang, Meti juga suka di sini karena akses ke kampus Meti jadi dekat, kalo ke kantorku jauh gak pa-pa, kan ada mobil," sahut Meli sambil berusaha tersenyum pada ibunya yang menatapnya dengan tatapan khawatir. "Suamimu kok sama sekali tak ke sini?" tanya Ratna lagi, Meli hanya menghela napas berulang, ia bingung harus memulai dari mana. "Tak usah kau ceritakan, Ibu tahu jika rumah tanggamu tak mudah, aku juga kaget saat mengetahui jika Nak Bram anak Gayatri, wanita yang sepanjang hidupnya seolah membenciku, aku tak melakukan apapun pada rumah tangga mereka. Jika suaminya masih menyimpan cinta padaku, itu bukan salah Ibu, dulu kami sempat dekat, tapi keadaan ekonomi yang jauuuh berbeda menyadarkan Ibu bahwa kami takkan mungkin bersama, dan benar, dia dijodohkan dengan wanita yang sepadan dan lbu ikhlas. Alhamdulillah Ibu bertemu laki-laki sabar, Bapak kalian yang menjadi suami Ibu." "Seandainya aku serealistis Ibu, pasti aku tak akan sesakit ini, aku menuruti kata hati dan cinta yang akhirnya membawa kesakitan," Meli mulai meneteskan air mata. Ratna meraih tangan anaknya mengelusnya perlahan sambil tersenyum lembut. "Jangan disesali, anggap ini bagian takdir yang akan mengantarmu pada jalan yang lebih indah, dan akhirnya apa yang terjadi pada rumah tanggamu?" tanya Ratna hati-hati. "Lusa, Mas Bram akan menikah dengan wanita pilihan ibunya." Jawaban Meli membuat Ratna ternganga, ia tak menyangka Meli akan semerana itu dalam perjalanan hidupnya, wanita itu benar-benar membalaskan sakit hatinya pada Meli. "Lalu kalian?" "Kami akan bercerai, Bu, lebih tepatnya aku yang memaksa bercerai, Mas Bram nggak mau, tapi kan nggak akan mungkin ada jalan penuh ketenangan jika dalam rumah tangga ada dua istri, mungkin orang lain ada yang bisa tapi aku tidak bisa, Ibu, aku yang memilih pergi." Ratna menggeleng pelan, ia hanya berpikir bahwa Gayatri telah berhasil menghancurkan hidup anaknya, Ratna yakin bahwa Gayatri saat ini tengah menikmati kemenangannya, sementara anaknya akan menanggung luka selamanya. "Lalu, Bram menerima kau meminta cerai?" tanya Ratna lagi. "Dia harus mau, Ibu, dan aku yakin dia akan mau, ia tak akan bisa adil pada kami jika aku bertahan di sana, belum lagi cemooh dari Ibu dan Kakaknya, jadi benar "kan, Ibu, jika aku memilih pergi?" Ratna mengangguk, ia bisa memprediksi apa yang akan terjadi jika Meli memaksakan diri ada diantara Bram dan istri barunya, kesakitan demi kesakitan akan terus dialami oleh Meli sepanjang hidupnya. Pilihan berpisah adalah keputusan yang paling benar. Jika hanya mengatasnamakan cinta maka cinta buta tak tahu tempat serta dera dan lara hati akan selamanya dialami oleh Meli, sementara dalam pikiran Ratna, Gayatri akan semakin jadi membalaskan semua kesakitan yang dialami agar Meli juga merasakan hal yang sama. Ratna tak tahu bahwa di tempat lain Gayatri sedang bertarung dengan maut entah bisa sadar kembali atau memejamkan mata selamanya. Dua hari kemudian ... "Kau tak kerja, Meli?" tanya Ratna, berjalan pelan menuju ruang tamu, mendekati Meli yang terlihat melamun dan kaget saat dirinya mendekat. "Aku cuti, Ibu. Ingin mengistirahatkan pikiran, ingin gak diganggu siapapun," sahut Meli dan Ratna tersenyum, duduk dengan hati-hati dibantu Meli. "Bukan karena hari ini suamimu akan menikah? Hingga kau perlu menenangkan diri? Pergilah ke mana dengan adikmu, nggak pa-pa Ibu di sini sendiri, toh Ibu tak akan ke mana-mana selama kalian tinggalkan," ujar Ratna lagi. "Nggak, Ibu, males. Tadi Mas Bram nelepon lagi akhirnya aku angkat teleponnya, dia minta maaf dan tanya aku ada di mana, aku bilang lebih baik konsen pada pernikahannya dan satu hal yang aku pinta, egois memang kayaknya tapi ini untuk kebaikan Mas Bram saja dan biar jelas anak siapa nanti yang dikandung istrinya, aku minta dia jangan berhubungan intim dulu sama istrinya." Ratna mengerutkan keningnya tak mengeti maksud dari kalimat yang diucapkan Meli. "Maksudmu?" "Aku pernah secara tak sengaja melihat calon istrinya bersama laki-laki tinggi gagah di sebuah apartemen, mereka terlihat mesra, aku pura-pura gak lihat, Ibu. Siang hari waktu itu aku ikut temanku, si Mirna ke apartemen pacarnya sebentar ngambil barang dia yang tertinggal, kalo lihat gelagatnya kayak ada yang gak beres, aku bilang itu ke Mas Bram bukan bermaksud menghalangi dia menikahi calon istrinya yang cantik Kata-kata Meli membuat Ratna mengelus lengan Meli pelan sambil tersenyum lembut, ia tahu anaknya masih mencintai Bram tapi keputusan untuk pergi adalah yang paling benar meski kadang ada rasa tak rela, tak rela jika Bram berbagi, tak rela jika Bram disakiti, hal lumrah karena Bram dan Meli mempunyai hubungan yang lama sebelum mereka menikah, mirisnya Bram dan Meli melewati masa pacaran lama namun tak bisa mempertahankan pernikahan yang akhirnya ambruk dalam sekejap. "Kau masih peduli pada suamimu, Anakku?" *** "Sejak hari ini tidak lagi, Ibu. Seminggu lagi akan aku urus semuanya, akan aku telepon Mas Bram agar pengacaranya segera mengurus dan menyelesaikan perceraian kami, dia punya pengacara handal yang aku pikir tanpa aku harus hadir di persidangan akan segera selesai. Aku memberi tahu Mas Bram info itu, Ibu, agar dia tahu siapa calon istrinya dan tak mau saja dibodohi, kan mengenaskan sekali nasib Mas Bram jika harus mengakui bayi orang lain sebagai anaknya, lagi pula jika memang mau menikah lagi akan lebih baik jika dia menikah dengan wanita baik-baik." Lalu suamimu percaya pada informasi yang kamu katakan?" "Dia diam agak lama dan bilang mungkin aku salah lihat, tak mungkin calon istrinya kayak gitu, Mas Bram bilang gitu,Ibu. Yah, semua terserah Mas Bram, aku hanya kasihan, dia dan keluarganya sangat ingin ada bayi segera hadir di rumah megah itu, tapi jika ternyata laki-laki lain kan?” Kenneth mengangguk lama. "Memang benar. Perempuan ini pun, iya. Tapi ... untuk membuatnya PD bahwa dirinya memang sejak dulu indah dan tidak minderan, saya terpaksa pakai cara ini.” ‘Tentu yang selain itu juga agar Iris memberinya servis lebih,’ batin Kenneth seraya tersenyum dengan simpulnya. "Terlebih, setiap pasangan, kan, harus mereview setiap aktivitas malam mereka sebelum kita berdua agar sama-sama jadi pro." Anak buah itu pun mengacungkan jempol. "Bos memang hebat." Kenneth mengangkat bahu. "Sudah biasa." "Semoga langgeng, ya, Bos. Saya doakan." Tapi, Kenneth tak menjawab. Dia cuma tersenyum karena dia sudah tahu jawaban dari pengharapan itu. 'Aku dan Iris nggak akan cuma langgeng, asal kamu tahu. Tapi, sangat forever. Dia dengan semua kartu mati yang aku genggam termasuk yang kali ini. Aakan aku pun dengan segala kerelaanku yang apapun demi dia. Intinya satu ... Iris hanya ditakdirkan menjadi milikku.' Bergaya moonwalk untuk freestylenya jalan, Kenneth kini kembali masuk ke dalam. Fyi. Tadi, dia di teras. Biasa, ngadain minum kopi pagi hari ala cowok sama oranglain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD