HF [11]

1055 Words
Rasa sakitnya ... tak bisa diungkapkan. Adelin merasakannya. Antara marah dan kesal setengah mati. Yang di sisi lain juga merasa amat nyeri di beberapa bagian tubuh. "Awww ..." lenguhnya. Masih bisa ia ingat betapa cowok bernama Orion tersebut memaksanya untuk menciumnya. Tidak sampai parah memang. Tapi, cengkramannya di tangan. Memakai beberapa tali dan memaksanya, itulah yang membuatnya serasa remuk dan redam. Wajahnya pias. Dia terus menggebu untuk melaknat. Namun, itu harus luntur begitu di kamar yang sangat mewah tersebut terdapat beberapa pelayan tengah menyiapkan hal-hal aneh. Adelin langsung bangkit menghampiri mereka. Lompat begitu saja dari ranjang queen sizenya. "Ya, ampun, Non ..." Seseorangcengan pakaian prlayan, perempuan paruh baya, tampak uring-uringan. Tangannya merentang meminta menghentikan. "Berhenti, Non, kenapa cepat sekali?" Kaa itu pun berhenti usai Adelin berada di depannya. Bu Rei, biasa dipanggil dengan nama begitu, tercengang. "Ada apa, sih, Non?" "Mana cowok yang kurangajar denganku itu? Mana cowok yang berani-berani mengeklaim aku miliknya? Siapa cowok yang bahkan membawaku ke tempat hina seperti ini?" Bu Rei semakin bingung. Dia pun menoleh ke arah pelayan-pelayan yang lain. Mereka kompak nge-freeze. Barengan pula. Lalu, Bu Rei menjawab. "Begini, Non pasti masih bingung dengan kenapa Non ada di sini." "Nah ..." Adelin meletakkan tangan di pinggangnya. "Itu dia." Lalu, Adelin menunduk untuk melabuhkan kekesalannya ke tingkat sangat ... low. "Dia bahkan dengan sangat tidak sopan seenak jidatnya membawaku kemari. Mending membawakunya dengan tata krama dan perlakuan adil yang tak mengganggu dan menyakiti. Tapi, nyata?" Adelin menatap bibi dramatis. Mata gadis itu berkilat marah. "Ah, sudahlah, tidak etis juga membicarakan kelaknatan makhluk itu. Biar aku saja yang mnghajarnya!" Semua pelayan di situ shock. 'Apa benar wanita inilah orangnya? Kenapan mentalnya bertabiat preman? Bringas dan mudah kesal?' Pelayan di sana pun saling bersitatap. Kebingunan. Ini terlalu ajaib untuk dicerna. Dan, Bu Rei memutuskan untuk maju menjelaskan. Agar kesalahpahaman ini tak berlarut-larut. "Begini, Non ...?" Bu Rei menggantungkan kalimatnya. Ada hal yang harus ia pastukan dulu sebelum melanjutkan. Tanpa perlu diberitahukan dua kali, Adelin menjawab, "Adelin." Bu Rei mengangguk sejenak. "Baik, Non Adelin, begini ..." Bu Rei menipiskan bibir. "Ibu tahu, Non, sedikit shock dengan perlakuan Tuan Orion—" "Oh, jadi namanya Orion." Adelin langsung memotong. "Awas saja makhluk menyebalkan itu! Kucincang dia!" "Eh, Non, tenang dulu!" kata pelayan lain, memegangi tangan Adelin. "Sabar, Non, tenang." Tapi, Adelin justru mengangkat lengan baju tidurnya lagi dengan lebih tinggi. "Sudah!" Adelin berbalik. Dia memberi tanda 'jangan' dengan cap lima jari. "Bu Rei, terimakasih atas informasinya, saya sekarang cukup tahu. Saya sama sekali tidak perduli pada motif yang dijalankan Orion-Orion rasi bintang itu! Huffftt ... yang jelas, dia harus tahu diri telah berhadapan dengan siapa!" Pelayan tersebut lagi-lagi tercekat. Bingung. 'Memang ... berhadapan dengan siapa? Selain hanya calon istri di atas surat wasiat?' Lalu, dengan kesal, Adelin melangkah keluar. Dia mirip sekali dengan tentara nasional yang hanya saja versi upgrade galaknya dan Adelin jenisnya wanita. Tapi, jangan ditanya perihal aura, Adelin ini ... lebih garong dari yang dikira. Kucing hamil saja ... kalah. "Non ... Non ... berhenti, Non ..." Semua pelayan menghambur keluar. Bagaimanapun, mereka harus menghentikan Adelin dari nekadnya membuat masalah dengan Bos mereka. Karena, Bos mereka adalah jenis Bos yang sama sekali tak bisa dianggap remeh. Dia Bos yang hanya berpihak satu sisi. Kalau tidak, ya, maka, tidak. Tidak ada pilihan ketiga dan itulah mutlaknya. Orion terlalu mengakar pada setiap keputusan. Mahkota tentang dirinya adalah telak. Dan, itu ... sama sekali tak bisa dibantah. Bahkan, Adelin cucungut ini sekalipun. Namun ... Di lain tempat, sama waktu. Orion tengah tersenyum manis melihat apa tang ditayangkan laptopnya. Dia memakai heandset mengeklik mousenya. Dia ... kelihatannya sangat terhibur. Dalam hati mengatakan, 'Sudah lama sekali aku tidak menyeret seseorang ke pertempuran. Apalagi lawanku kali ini sangat menarik. Dia manis tapi punya nyali yang besar. Oh, howw ... apa aku perlu memberinya hukuman yang spesial juga untuk tingkahnya yang istimewa ini?' Senyum itu ... mungkin tampak aneh bagi penjaga CCTV yang mendadak berada di ruang pribadi Pak Orion. Daritadi, selama ia berdiri, ia sungguh tak mengerti kenapa Pak Orion lantas jadi mudah sumringah begini. Hanya karena ... perempuan warisan? Atau jangan-jangan, Orion ini pemegang rekor laki-laki terbahagia saat dijodohkan? Entahlah, dia pun tidak tahu. Yang jelas ... "Kamu beritahu Bu Rei dan anak buahnya. Tidak perlu menghalangi gadia itu. Biar dia saja yang datang padaku dan aku akan melayaninya dengan senang hati. Karena, bagaimanapun, akulah yang bertanggung jawab untuk menyeretnya kemari." Tidak ada jawaban lain, melainkan, "Baik, Pak, laksanakan." "Ya sudah, keluar sana." "Iya, Pak. Permisi." Sembari mengetukh-ngetuk meja kayu jatinya, Orion kembali melengkungkan senyum tipis, mengatakan, 'Gadis ini ... menarik.' Baik. Setelah ini ... mungkin tidak akan terduga. *** "Hoi! Makhluk jahannam! Keluar lo!" Itu suara adelin. Melebihi gedoran pintunya, sih, sebenarnya. Ya, bagaimana tidak? Dia menggedornya dengan dua tangan yang sama besar kekuatannya. Itu belum termasuk dengan suara keras dan lantang yang mengajak ribut di depan pintu tersebut. "Bukain! Woi! Bukain!" Itu seperti orang demo. Memang. Tapi, bedanya, demo kali ini pakai teriakan, bukan aksi anarkis. Yang setelah sepersekian lama, akhirnya dibuka. Oh, iya, jangan tanya para pengawal yang berjaga. Mereka memang dari awal, sebelum kejadian anarkis ini terjadi, mereka diperintahkan Sang Tuan untuk diam saja. Kondusif atau tidak biar itu jadi urusannya. Setelahnya ... menyembulah wajah tampan Orion yang tampak biasa saja. Yang meski di mata Adelin, itu hanya bisa dicap sebagai : alibi. Alias, untuk menutupi betapa setannya diri dia. Huh! "Ada apa, bidadari kecil?" Adelin mencibir, "Bidadari kecil apanya?" Dia lalu melakukan ekspresi dan pose paling tengil. "Heh! Di buku sejarag bahkan buku dongeng manapun, bidadari kecil nggak ada yang mau sama raksasa nyebelin nggak ada akhlak kayak kamu!" "Bahkan sampe kamu nggak sadar ..." Adelin mengamati dari ujung kaki sampai rambut. "Kalau kamu lebih 'biadab' dari semua orang yang ada dari dunia ini!" "Kamu hiperbola sekali," kata Orion. Dia terkekeh. Itu ekspresi paling malu yang sok merendah. Adelin makin sinis, "Makhluk rendahan aneh! Disarkas malah tersanjung! Pantesan otaknya geser!" "Why not?" Orion menaikkan alis. "Aku menjadi satu dari sepersekian nama yang merasuk dalam kepalamu ..." Lalu, dia menunduk, menyejajarkan wajah ke Adelin. "Bukankah seharusnya aku harus bangga?" "Dasar sinting!" Dia mengangkat bahu. "Aku nggak perduli." Lalu, memasukkan tangannya ke piyama tidur yang memang belum ia lepas. "Kamu mencaci maki, di mataku itu hanya kode keras untuk meminta yang lebih daripada sekedar yang kita praktekkan di mobil." Dia mengeluarkan smirk. 'Gila!'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD