HF [10]

1247 Words
Tapi, kamu suka ngajak ribut orang." Tatapan Serin beralih padanya. "Heh, Tuan Sok Berkuasa! Ngaca! Siapa di sini yang memulai ring pertubiran kalau bukan orang yang tiba-tiba menelusup ke kamar perempuan yang tidur!" "Dan, yang ganti baju," responnya. HEEEEHHHH? "MESUMMMMMMM!!!!" Semua bantal pun dilempar ke arahnya. Membuat Segara terpukur mundur dan segera angkat kaki dalam kamar tersebut. Yang membuat pertanyaan adalah ... siapa sebenarnya pemilik rumah ini? Kenapa lantas justru Tuannya yang mengalah pada tamunya? Au, ah, pusing. *** Acara bar-bar pagi-pagi itu ditata oleh Bibi Siti dan Pak Joko untuk memisahkan mereka. Mereka segera datang mengetahui adanya keributan yang tak seharusnya didengar. "Entah sudah sejak kapan pertengkaran bocah seperti ini kembali di villa ini," ucap Bi Siti membuka pembicaraan. Sekarang, mereka semua berada di meja makan. Saat itu, semua mata menuju pada Serin yang amat cantik mengenakan dress warna biru laut yang tampak feminim dan cantik. Hasil lapor dari butik Leonid. Ya, Leonid memang memiliki selera fashion yang New York abis. Dia kekinian perihal keindahan. Waktu itu juga sebenarnya amat canggung. Karena yang ada di meja makan tersebut hanya Serin, Leonid, Bi Siti, Ardhan. Senggara dan Rakhan entah kemana. "Ah ... mereka itu selalu menghabiskan waktu ke ruang rekaman. Dua orang itu merupakan yang paling bertalenta di sini, Non Serin." "Eh? Nggak perlu panggil, Non, Bi. Serin saja ..." "Tapi, Non seumuran dengan para Tuan Muda Mahkota. Maka sudah sepatutnya Bibi memanggil Non Sherin dengan sebutan 'Non'." Tuan Muda Mahkota? Seperti kerajaan saja. Tapi, sepanjang berjalan di seluruh koridor villa ini. Memang, beberapa foto yang terpajang. Ada gambar foto keluarga. Foto seorang laki-laki dengan banyak bingkai di mana di setiap potret bersanding dengan perempuan yang berbeda. Lalu, ketika masih kecil, mereka foto bersama ala-ala style Victoria. Sungguh sebuah The Real Sultan yang ada di Indonesia. Raja dari segala Raja urusan dunia perusahaan. Keluarga mereka. "Mereka memang tidak pernah akur dan selalu tak bisa bersama. Sekalipun bisa, itupun hanya Den Leonid, karena dia memang easy going dan mudah pada setiap oramg. Mengentengkan banyak hal yang meski, ya ... penjahat wanita." Mata Sherin berbinar. "Apa ia sering ke club?" "Bagaimana kejadiannya, Iris? Mengapa Ibu sampai pingsan di rumah sakit ini?" tanya Bram yang saat itu baru sampai di rumah sakit. Laksmi berusaha bersikap wajar, wajah Bram dan Berta menunjukkan kekhawatiran yang amat sangat. "Aku juga kurang tahu, saat aku keluar ruangan Ibu sudah pingsan, mungkin saja Ibu kelelahan mempersiapkan pernikahan kita, Bram, ditambah memaksakan diri menemui aku," sahut Laksmi. "Parahkah kondisi Ibu, Laksmi?" tanya Bram khawatir. "Benturan karena jatuh itu yang memperparah kondisi Ibu, Bram. Tenanglah, kami akan merawat Ibu sebaik mungkin." sahut Laksmi berusaha menenangkan dirinya karena dia sangat mengetahui jika calon ibu mertuanya pasti shock melihat dirinya dan Steve yang sedang menikmati siang yang panas berdua. Sejak awal dia sudah menolak tapi keinginan Steve tak pernah dapat ia tolak ditambah lagi Steve yang saat itu merasa akan segera kehilangan Laksmi menje lang pernikahannya dengan Bram, membuat Laksmi tak bisa menolak saat Steve mengucap kata- kata cinta berulang dan memaksanya melakukan hal yang selalu membuatnya ketagihan. Kegilaan Steve untuk hal yang satu itu selalu berhasil membawa Laksmi ke langit kenikmatan. Mereka, dirinya dan Steve sebenarnya mendengar jika ada seseorang yang jatuh di luar pintu tapi rasanya sayang bagi Steve dan Laksmi menghentikan aktivitas panasnya karena belum mencapai puncak, hingga setelah selesai semua aktivitas itu barulah mereka tahu jika calon mertua Laksmi yang jatuh dan pingsan, segera Laksmi menyuruh Steve menyingkir, dan menghubungi beberapa perawat dan dokter untuk melakukan tindakan secepatnya bagi ibunda Bram, Laksmi hanya mencari cara agar wanita tua yang tengah terbaring di ICU itu tidak segera bangun sampai ia menikah dengan Bram. "Bagaimana pun kondisi Ibu, lusa kalian tetap menikah, justru jika tak dilaksanakan ini akan semakin menambah sedih Ibu saat dia terbangun nanti." Berta menatap wajah Laksmi dan Bram bergantian. "Iya, Kak Berta, hanya kalau boleh, biar kami, aku dan Bram tinggal di apartemen milikku dulu, aku nggak enak sama istri Bram, bagaimana pun tinggal di tempat yang sama dengan dua istri tetap akan menimbulkan hal yang bikin tak nyaman di kedua belah pihak," ujar Laksmi mencari dalih agar ia tetap bisa leluasa bertemu Steve. *** "Wanita itu telah pergi, Laksmi, akhirnya ia sadar jika tak pantas untuk Bram dan tak ada tempat baginya di rumah kami," sahut Berta sambil melirik Bram. "Aku akan membujuknya agar ia tak minta berpisah dariku, aku mencintainya, hanya dia wanita yang aku cintai," ujar Bram pelan, Berta terlihat kesal. "Apa yang kau lihat dari wanita itu? Lihat Laksmi,dia lebih cocok berdiri di sampingmu," sahut Berta dengan kesal. "Cinta tak bisa diukur dengan hal seperti itu, Kak, yang jelas dia wanita yang menjaga kehormatannya dan tak mudah mengumbar dirinya pada laki-laki lain, dia hanya mengenal aku, tidak ada laki-laki lain dalam hidupnya." Kata-kata Bram membuat Berta dan Laksmi terdiam. Laksmi sebenarnya merasa jika Bram seolah curiga dan tahu siapa Steve tapi diam saja, sedang Berta juga merasa jika Bram menyindir Laksmi, yang Berta bingungkan dia belum bisa membuktikan jika Steve mempunyai hubungan lebih dengan Laksmi. "Tak usah membahas dia lagi, cukup konsentrasi pada acara lusa, ingat ini akan jadi pernikahan termewah di kota ini." *** "Mengapa harus tinggal di sini, Meli?" tanya Ratna dengan Suara lirih. "Lebih enak di sini untuk pemulihan kesehatan Ibu, di sini lebih tenang suasananya, masih perkampungan, kalau di rumah Bapak di sana kan pinggir jalan, rame, di sini tetangga seperti saudara, rumah warisan nenek untuk Ibu masih bagus dan terawat karena aku menyuruh orang untuk membersihkannya dengan rutin" "Iya tapi kan jadi jauh kalau ingin ke mana-mana," sahut Ratna lagi. "Nggak usah semua dipikir Ibu, kita di sini akan hidup tenang, Meti juga suka di sini karena akses ke kampus Meti jadi dekat, kalo ke kantorku jauh gak pa-pa, kan ada mobil," sahut Meli sambil berusaha tersenyum pada ibunya yang menatapnya dengan tatapan khawatir. "Suamimu kok sama sekali tak ke sini?" tanya Ratna lagi, Meli hanya menghela napas berulang, ia bingung harus memulai dari mana. "Tak usah kau ceritakan, Ibu tahu jika rumah tanggamu tak mudah, aku juga kaget saat mengetahui jika Nak Bram anak Gayatri, wanita yang sepanjang hidupnya seolah membenciku, aku tak melakukan apapun pada rumah tangga mereka. Jika suaminya masih menyimpan cinta padaku, itu bukan salah Ibu, dulu kami sempat dekat, tapi keadaan ekonomi yang jauuuh berbeda menyadarkan Ibu bahwa kami takkan mungkin bersama, dan benar, dia dijodohkan dengan wanita yang sepadan dan lbu ikhlas. Alhamdulillah Ibu bertemu laki-laki sabar, Bapak kalian yang menjadi suami Ibu." "Seandainya aku serealistis Ibu, pasti aku tak akan sesakit ini, aku menuruti kata hati dan cinta yang akhirnya membawa kesakitan," Meli mulai meneteskan air mata. Ratna meraih tangan anaknya mengelusnya perlahan sambil tersenyum lembut. "Jangan disesali, anggap ini bagian takdir yang akan mengantarmu pada jalan yang lebih indah, dan akhirnya apa yang terjadi pada rumah tanggamu?" tanya Ratna hati-hati. "Lusa, Mas Bram akan menikah dengan wanita pilihan ibunya." Jawaban Meli membuat Ratna ternganga, ia tak menyangka Meli akan semerana itu dalam perjalanan hidupnya, wanita itu benar-benar membalaskan sakit hatinya pada Meli. "Lalu kalian?" "Kami akan bercerai, Bu, lebih tepatnya aku yang memaksa bercerai, Mas Bram nggak mau, tapi kan nggak akan mungkin ada jalan penuh ketenangan jika dalam rumah tangga ada dua istri, mungkin orang lain ada yang bisa tapi aku tidak bisa, Ibu, aku yang memilih pergi." Ratna menggeleng pelan, ia hanya berpikir bahwa Gayatri telah berhasil menghancurkan hidup anaknya, Ratna yakin bahwa Gayatri saat ini tengah menikmati kemenangannya, sementara anaknya akan menanggung luka selamanya. "Lalu, Bram menerima kau meminta cerai?" tanya Ratna lagi
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD