Tapi, kamu suka ngajak ribut orang."
Tatapan Serin beralih padanya. "Heh, Tuan Sok Berkuasa! Ngaca! Siapa di sini yang memulai ring pertubiran kalau bukan orang yang tiba-tiba menelusup ke kamar perempuan yang tidur!"
"Dan, yang ganti baju," responnya.
HEEEEHHHH?
"MESUMMMMMMM!!!!"
Semua bantal pun dilempar ke arahnya. Membuat Segara terpukur mundur dan segera angkat kaki dalam kamar tersebut.
Yang membuat pertanyaan adalah ... siapa sebenarnya pemilik rumah ini?
Kenapa lantas justru Tuannya yang mengalah pada tamunya?
Au, ah, pusing.
***
Acara bar-bar pagi-pagi itu ditata oleh Bibi Siti dan Pak Joko untuk memisahkan mereka.
Mereka segera datang mengetahui adanya keributan yang tak seharusnya didengar.
"Entah sudah sejak kapan pertengkaran bocah seperti ini kembali di villa ini," ucap Bi Siti membuka pembicaraan. Sekarang, mereka semua berada di meja makan.
Saat itu, semua mata menuju pada Serin yang amat cantik mengenakan dress warna biru laut yang tampak feminim dan cantik. Hasil lapor dari butik Leonid.
Ya, Leonid memang memiliki selera fashion yang New York abis.
Dia kekinian perihal keindahan.
Waktu itu juga sebenarnya amat canggung. Karena yang ada di meja makan tersebut hanya Serin, Leonid, Bi Siti, Ardhan. Senggara dan Rakhan entah kemana.
"Ah ... mereka itu selalu menghabiskan waktu ke ruang rekaman. Dua orang itu merupakan yang paling bertalenta di sini, Non Serin."
"Eh? Nggak perlu panggil, Non, Bi. Serin saja ..."
"Tapi, Non seumuran dengan para Tuan Muda Mahkota. Maka sudah sepatutnya Bibi memanggil Non Sherin dengan sebutan 'Non'."
Tuan Muda Mahkota?
Seperti kerajaan saja.
Tapi, sepanjang berjalan di seluruh koridor villa ini. Memang, beberapa foto yang terpajang. Ada gambar foto keluarga. Foto seorang laki-laki dengan banyak bingkai di mana di setiap potret bersanding dengan perempuan yang berbeda.
Lalu, ketika masih kecil, mereka foto bersama ala-ala style Victoria.
Sungguh sebuah The Real Sultan yang ada di Indonesia. Raja dari segala Raja urusan dunia perusahaan. Keluarga mereka.
"Mereka memang tidak pernah akur dan selalu tak bisa bersama. Sekalipun bisa, itupun hanya Den Leonid, karena dia memang easy going dan mudah pada setiap oramg. Mengentengkan banyak hal yang meski, ya ... penjahat wanita."
Mata Sherin berbinar. "Apa ia sering ke club?"
"Bagaimana kejadiannya, Iris? Mengapa Ibu sampai pingsan di rumah sakit ini?" tanya Bram yang saat itu baru sampai di rumah sakit. Laksmi berusaha bersikap wajar, wajah
Bram dan Berta menunjukkan kekhawatiran yang amat sangat.
"Aku juga kurang tahu, saat aku keluar ruangan Ibu sudah
pingsan, mungkin saja Ibu kelelahan mempersiapkan pernikahan
kita, Bram, ditambah memaksakan diri menemui aku," sahut
Laksmi.
"Parahkah kondisi Ibu, Laksmi?" tanya Bram khawatir.
"Benturan karena jatuh itu yang memperparah kondisi Ibu,
Bram. Tenanglah, kami akan merawat Ibu sebaik mungkin."
sahut Laksmi berusaha menenangkan dirinya karena dia sangat
mengetahui jika calon ibu mertuanya pasti shock melihat dirinya
dan Steve yang sedang menikmati siang yang panas berdua. Sejak
awal dia sudah menolak tapi keinginan Steve tak pernah dapat ia
tolak ditambah lagi Steve yang saat itu merasa akan segera
kehilangan Laksmi menje lang pernikahannya dengan Bram,
membuat Laksmi tak bisa menolak saat Steve mengucap kata-
kata cinta berulang dan memaksanya melakukan hal yang selalu
membuatnya ketagihan. Kegilaan Steve untuk hal yang satu itu
selalu berhasil membawa Laksmi ke langit kenikmatan.
Mereka, dirinya dan Steve sebenarnya mendengar jika ada
seseorang yang jatuh di luar pintu tapi rasanya sayang bagi Steve
dan Laksmi menghentikan aktivitas panasnya karena belum
mencapai puncak, hingga setelah selesai semua aktivitas itu
barulah mereka tahu jika calon mertua Laksmi yang jatuh dan
pingsan, segera Laksmi menyuruh Steve menyingkir, dan
menghubungi beberapa perawat dan dokter untuk melakukan
tindakan secepatnya bagi ibunda Bram, Laksmi hanya mencari
cara agar wanita tua yang tengah terbaring di ICU itu tidak segera
bangun sampai ia menikah dengan Bram.
"Bagaimana pun kondisi Ibu, lusa kalian tetap menikah,
justru jika tak dilaksanakan ini akan semakin menambah sedih
Ibu saat dia terbangun nanti." Berta menatap wajah Laksmi dan
Bram bergantian.
"Iya, Kak Berta, hanya kalau boleh, biar kami, aku dan
Bram tinggal di apartemen milikku dulu, aku nggak enak sama
istri Bram, bagaimana pun tinggal di tempat yang sama dengan
dua istri tetap akan menimbulkan hal yang bikin tak nyaman di
kedua belah pihak," ujar Laksmi mencari dalih agar ia tetap bisa
leluasa bertemu Steve.
***
"Wanita itu telah pergi, Laksmi, akhirnya ia sadar jika tak
pantas untuk Bram dan tak ada tempat baginya di rumah kami,"
sahut Berta sambil melirik Bram.
"Aku akan membujuknya agar ia tak minta berpisah dariku,
aku mencintainya, hanya dia wanita yang aku cintai," ujar Bram
pelan, Berta terlihat kesal.
"Apa yang kau lihat dari wanita itu? Lihat Laksmi,dia lebih
cocok berdiri di sampingmu," sahut Berta dengan kesal.
"Cinta tak bisa diukur dengan hal seperti itu, Kak, yang
jelas dia wanita yang menjaga kehormatannya dan tak mudah
mengumbar dirinya pada laki-laki lain, dia hanya mengenal aku,
tidak ada laki-laki lain dalam hidupnya."
Kata-kata Bram membuat Berta dan Laksmi terdiam.
Laksmi sebenarnya merasa jika Bram seolah curiga dan tahu
siapa Steve tapi diam saja, sedang Berta juga merasa jika Bram
menyindir Laksmi, yang Berta bingungkan dia belum bisa
membuktikan jika Steve mempunyai hubungan lebih dengan
Laksmi.
"Tak usah membahas dia lagi, cukup konsentrasi pada acara
lusa, ingat ini akan jadi pernikahan termewah di kota ini."
***
"Mengapa harus tinggal di sini, Meli?" tanya Ratna dengan
Suara lirih.
"Lebih enak di sini untuk pemulihan kesehatan Ibu, di sini
lebih tenang suasananya, masih perkampungan, kalau di rumah
Bapak di sana kan pinggir jalan, rame, di sini tetangga seperti
saudara, rumah warisan nenek untuk Ibu masih bagus dan terawat
karena aku menyuruh orang untuk membersihkannya dengan
rutin"
"Iya tapi kan jadi jauh kalau ingin ke mana-mana," sahut
Ratna lagi.
"Nggak usah semua dipikir Ibu, kita di sini akan hidup
tenang, Meti juga suka di sini karena akses ke kampus Meti jadi
dekat, kalo ke kantorku jauh gak pa-pa, kan ada mobil," sahut
Meli sambil berusaha tersenyum pada ibunya yang menatapnya
dengan tatapan khawatir.
"Suamimu kok sama sekali tak ke sini?" tanya Ratna lagi,
Meli hanya menghela napas berulang, ia bingung harus memulai
dari mana.
"Tak usah kau ceritakan, Ibu tahu jika rumah tanggamu tak
mudah, aku juga kaget saat mengetahui jika Nak Bram anak
Gayatri, wanita yang sepanjang hidupnya seolah membenciku,
aku tak melakukan apapun pada rumah tangga mereka. Jika
suaminya masih menyimpan cinta padaku, itu bukan salah Ibu,
dulu kami sempat dekat, tapi keadaan ekonomi yang jauuuh
berbeda menyadarkan Ibu bahwa kami takkan mungkin bersama,
dan benar, dia dijodohkan dengan wanita yang sepadan dan lbu
ikhlas. Alhamdulillah Ibu bertemu laki-laki sabar, Bapak kalian
yang menjadi suami Ibu."
"Seandainya aku serealistis Ibu, pasti aku tak akan sesakit
ini, aku menuruti kata hati dan cinta yang akhirnya membawa
kesakitan," Meli mulai meneteskan air mata. Ratna meraih tangan
anaknya mengelusnya perlahan sambil tersenyum lembut.
"Jangan disesali, anggap ini bagian takdir yang akan
mengantarmu pada jalan yang lebih indah, dan akhirnya apa yang
terjadi pada rumah tanggamu?" tanya Ratna hati-hati.
"Lusa, Mas Bram akan menikah dengan wanita pilihan
ibunya." Jawaban Meli membuat Ratna ternganga, ia tak
menyangka Meli akan semerana itu dalam perjalanan hidupnya,
wanita itu benar-benar membalaskan sakit hatinya pada Meli.
"Lalu kalian?"
"Kami akan bercerai, Bu, lebih tepatnya aku yang memaksa
bercerai, Mas Bram nggak mau, tapi kan nggak akan mungkin
ada jalan penuh ketenangan jika dalam rumah tangga ada dua
istri, mungkin orang lain ada yang bisa tapi aku tidak bisa, Ibu,
aku yang memilih pergi."
Ratna menggeleng pelan, ia hanya berpikir bahwa Gayatri
telah berhasil menghancurkan hidup anaknya, Ratna yakin bahwa
Gayatri saat ini tengah menikmati kemenangannya, sementara
anaknya akan menanggung luka selamanya.
"Lalu, Bram menerima kau meminta cerai?" tanya Ratna
lagi