Dan dia ... tak bisa dijabarkan.
Dia betul-berul melakukannya. Membuat Iris lagi-lagi kehabisan napas dalam bagaimana mengelolanya.
Antara benci dan marah setengah mati. Yang di sisi lain juga merasa sangat tak mengerti untuk diri Iris Livansha sendiri
"Tidak! Pergi!" usirnya
Meki sekarang ia memejamkan mata, tak menutup indra yang lain untuk memintanya mengawasi pergerakan Kenneth yang memaksanya untuk melakukan 'hal yang tak seharusnya mereka lakukan'.
Kali ini, memang sampai parah. Terutama, keberanian-keberanian Kenneth yang tak mampu Iris lukiskan.
Dia membuat Iris semacam boneka yang harus patuh dan tunduk pada perintah tuannya.
Wajah Iris pun luruh. Dia bahkan tak bisa untuk tidak melaknat pada aksi Orion yang menggedu di kamar mandi pagi itu.
"Tidak! Jangan! Kau keterlaluan! Lepas!"
Namun, Kenneth lebih budek dari siapapun yang budek di dunia ini. Ia justru makin tak terkendali.
Oh, astaga, Kenneth ... kamu sangat menyebalkan.
Lepas usai, Iris pun langsung beranjak meski harus tertatih menuju kasur king size kamar Kenneth. Dengan kesal pula, ia temukan pelayan telah bersiaga membawa beberapa potongan baju yang pantas beserta segala hal terkait wanita pada umumnya.
"Mari, Non, saya antar ..." Seseorang dengan pakaian pelayan, perempuan paruh baya, merentangkan tangan mempersilahlan. "Non, jangan dipaksakan, kenapa harus terlalu cepat sekali?"
Dan, itu dijawab sinisan oleh Iris, "Karena setan itu sangat pantas dilaknat setengah mati!"
Ya bayangkan saja. Belum genap seminggu Iris disitu dirinya sudah mendapat banyak sekali hal menyebalkan tentang keenakjidatan si Kenneth ini.
Hal aneh pun berkali-kali ia dapatkan. Terutama di beberapa amukan yang ia lontarkan. Ugh ... tak bisa dibayangkan. Sori.
"Dasar cowok yang kurangajar! Titisan iblis! Berani-beraninya melancarkan aksi untuk memperkuat klaim bahwa aku miliknya? Siapa cowok yang bahkan tak punya hati seperti itu? Bukankah seharusnya ia mati saja?"
Kepala Pelayan Davi bingung. Dia pun menoleh ke arah pelayan-pelayan yang lain. Mereka kompak nge-freeze. Barengan pula.
Lalu, Davi pun menjawab. "Tapi, kan, Non, di sini akan jadi istrinya."
"Memang siapa yang mau?" Iris meletakkan tangan di depan dadanya, melipat. "Belum sah saja sudah berani-beraninya begitu. Dasar alien! Bagusan dia musnah dari bumi dan pergi! Aku jadi kasihan pada siapapun di masa lalu yang menyukainya."
"Tapi, Non ..." Davi pun menggantungkan kalimatnya. Ada hal yang harus ia pastukan dulu sebelum melanjutkan.
"Hm?" Iris menoleh.
Kepala Pelayan Davi mengangguk sejenak. "Baik, Non Iris, begini ..." Davi selanjutnya menipiskan bibir. "Justru Non lah awal mula kenapa Den Kenneth begitu. Non lah inti dari masalahnya. Orang masa lalu yang lupa ingatan bahwa ia berperan penting. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Non sendiri."
Hah?
Lalu, dengan kesal, Iris mendengarkan penjelasan sang kepala pelayan.
"Dulu, Tuan jatuh hati dengan seorang perempuan yang entah namanya siapa, Ibu tidak tahu. Gadis itu, sangat berarti namun sekarang tidak tahu sudah di mana ia, karena Ibu hanya tahu wajahnya, entah orangnya. Karena mungkin Tuan Den Kenneth menemukan sosoknya di Non Iris, makanya, ia jadi malah menyukai Non, mungkin begitu."
Iris menahan napas.
"Jadi aku pelampiasan?"
Kepala pelayan menggangguk.
Dia menjelaskan. Itulah mungkin yang menyebabkan Tuannya jadi sangat agresif kepada pada Iris. Saking cintanya, maybe.
"Itu dikarenakan dia terobsesi dengan bayi dan membutuhkan seorang wanita untuk kembali sisinya lagi."
"Tapi, tetap saja, Bi, itu sangat tidak sopan!"
"Tapi, bagaimana mungkin, Tuan Den Kennteh mampu menepati janjinya pada sang wanita pujaan untuk menepati apapun permintaan Non Iris, bukan?”
Astaga, itu ... sama sekali tak bisa dibantah.
Bahkan, untuk takdirnya pun ia hanya menjadi objek buangan permintaan yang harus dituruti.
Namun ...
Di tempat lain.
Kenneth dengan misterius tengah menatap dan terpekur pada wajah kenangan sang yang menjadi tujunya.
Dia mengatakan, “Bukankah ini akan sangat menarik untuk dilihat sepanjang perjalannya?”
Wajah kecut itu ... Menyapu semua definisi luar biasa yang bersandingan soal gelarnya.
Kenneth itu tak pernah begini.
Kenneth tak pernah merasa tertentang melebihi ia tertentang akan ambisinya detik itu juga.
Tapi apa memang hati sejatinya selalu sulit jika sudah menetap?
Mereka selalu pinya celah untuk baik-baik saja pada tempat persembunyian baru bernama tujuan?
Kenneth tahu apa yang harus dihadapinya jika memulai semua ini, namun, tekadnya sudah bulat.
Yamg tak kalah kuat.
Yang sama seimbangnya.
Yamg sama saja keras kepala sekaligus tak mampu dilukiskan
Sembari mengambil panah mainan yang ada di sana, Kenneth memilih untuk membuang semua hasrat dan bingungnya dengan memusingkan kepala lewat hobi yang ia miliki.
Yakni, solo main catur.
Anggap saja, sembari menanti waktu tertepat macam apa ia memperlakukan ini kepada Iris.
"Ini akan sungguhan sangat menyenangkan, siapapun akan tahu itu." Kenneth Eldo Viransyah pun mengembungkan pipi.
Dan, itu, tak akan pernah mendapatkan jawabannya.
***
"Hei, hei, stop! Stop! Jangan begini, stop!"
Itu suara Ibu-Ibu. Melebihi suara pedagang kaki lama obral panci.
Ya, bagaimana tidak?
Dia bahkan meninggikan suara saat Laksa, laki-laki yang punya hubungan uwu dengan Iris malam itu, tengah mencoba menenangkan di rooftop sebuah rumah sakit dengan menangis karena ada kenyataan yang harus diterima, yang tak bisa ia ceritakan ke gadis itu.
"Stop!"
Seperti pemadam, Ibu ini menarik tubuhnya. Ia menjatuhkan cowok ini ke tanah sampai bedebam. Sebab, dikiranya lagi mau bunuh diri.
Eh, tapi ... "Ibu ini siapa?"
"Kamu, yang siapa?!"
Oke. Inilah definisi pertanyaan dijawab ngegas.
Yang meski di mata Laksa, itu hanya bisa dicap sebagai : kekhawatiran yang tertutup. Alias, sang Ibu boleh jadi sangat mengkhawatirkannya hingga jatuh makanya dia masuk ke dapam daftar uring-uringan di kepala Ibu itu.
"Ada apa, kamu?" Tanya sang Ibu.
Lalu, menghela napas, "Kalau kamu merasa hidupmu berat, maka bukan kamu saja. Setiap orang bahkan memiliki berat versi mereka sendiri-sendiri. Pun kamu. Kalau kamu bisa mmgambil makna dari beratmu, maka kamu sudah cukup bijak dan dewasa menangani semuanya."
"Lantas ..." Laksa pun menggantengkan kalimatnya. "Kenapa Ibu mengatakan ini padaku?"
"Ya, karena Ibu mana yang mau melihat anaknya jadi ingin bunuh diri begini? Kamu kan dilahirkan untuk menjadi pembesar dari semua pelajaran manusia di hidup ini."
"Misal, bagaimana kamu ngehadepin kekacauan, kamu menemukan solusi dan jawaban sementara oranglain yang sepertimu, belum tentu. Belum lagi ... kamu bisa membagikan itu dan membuat oranglain yang benci dirinya sendiri jadi lebih bermakna?"
Kemudian, Ibu ini tampai menunduk. Wajahnya berubah pias yang kelihatannya sangat tak kuasa menahan sekua gejolak di d**a.