HF [7]

1009 Words
Gepokan uang dari karton diberi Ibu itu dengan cepat. Sekiklat petir. Yang kemudian dibalikkan oleh Laksa, “Saya sudah lulus, Bu!” Dia marah, yang kemudian, dia menekankan kalimat dengan mengatakan, “Saya bahkan nggak ada niatan untuk mati! Asal Ibu tahu itu.” Dan, Ibu itu pun mengerjap. “Anak itu … kasihan sekali, dia sangat keras kepala. Hidup pasti bakal mengujinya dengan berat.” Hingga, sang Ibu pun, hanya bisa mendengus saja. *** Lepas tiga hari dari kejadian waktu itu, Iris pun tetap melanjutkan rutinitas sebagaimana biasanya. Gwen juga Harvey dengan kerjaannya. Iris Livansha pun dengan kerjaannya. Ya, meski di tengah-tengah itu, ada saja permintaan perkumpulan keluarga yang mau tak mau, harus mau Iris ikuti. Bersama entah juga kenapa Kenneth tiba-tiba memintanya. Contohnya hari ini ... "Aduh ... apaan, sih, kamu?" Iris sekarang ditarik-tarik oleh Kenneth Eldo Veransyah. Dari tangga diseret ke lantai satu untuk menermui satu hal yang tak pernah ke dalam daftar 'mau' milik Iris Livansha. Namun sayang, tak ada makhluk yang sulit ditolak kecuali Kenneth si keras kepala yang egois sangat. Apalagi, Kenneth ini mengenakan adat ala tentara yang menganut juang. "Kamu harus mau! Demi semuanya!" Preeeett ... Kenneth sangat kertelaluan! Ini sungguh beda jauh dari slogan 'Atas Nama Demi Bangsa dan Negara.'. Atas kandidat siapa ini yang harus sejahterakan? Orang-orang biadab yang berani-beraninya menjual Iris? Begitu, Kenneth? "Ihhh ..." Iris masih memegang panel pintu. Seriusan, ya! Mungkin kalau kalian lihat penampilanku, Iris sudah seperti alien ikut ajang karnaval kostum busana bumi. Percayalah, sudah make up Iris Livansha melebihi tingkerbell, Iris pakai baju yang teramat feminim yang santun dan anggun padahal aku sudah berniat mau jadi Reog Ponorogo agar mereka semua membatalkan hal sinting seperti ini. Dan, jangan lupakan, betapa bahayanya memakai flat shoes made in NY yang ada di sepatuhuku. "Tuan Muda Kenneth! Aku mau ganti sandal jepit aja atau nggak sepatu boots! Sudah kubilang, astaga! Pertemuan kali ini aku mau kesurupan!" Itu kalau Kenneth punya kuasa ala Mamanya Malin Kundang, Iris sudah dikutuk jadi koi yang sebesar ikan cupang. Karena semua gebuk dari Kenneth mendarat dan membuat Iris makin mengecil. "Dasar simpanan durhaka!" Paling begitu saja kata Kenneth, dan tentu, Iris mengerucutkan bibir. "Ya, abisnya ..." Iris merengek. "Apa aku perlu sok jadi setuju begini saat apa yang memang aku nggak mau harus betul-betul kuturuti?" Kenneth kini mulai menumpahkan uap. Terlihat dari mimik wajahnya. "Ini demi kebaikan keluarga kita!" "Tapi, ya ampun..." Iris tak henti untuk menggenggam tangannya, membujuk dan mengerahkan segala sisa sok berbakti palsu miliknya agar Kenneth luluh. "Tidak!" Namun, Kenneth masih saja bertindak tegas. "Dengar, Iris, aku sudah capek mengejarmu sampai ke taman belakang, kabur lagi ke lantai dua naik tangga tingkat, turun lagi ke lantai satu lewat tangga depan kamar, naik lagi dan menyusup k loteng jemuran, terus, malah main lumpur di teras depan biar nggak usah ketemuan!" Yah, ketahuan ... Iris pun jadi memerah. Nalu karena aib Iris diumbar begitu saja. "Ya, tapi, jangan disebutin gitu, dong, Den ..." Mulai kupakai julukan bahasa Inggris. Bisa Kenneth terjemahkan sebagai ... ada maunya. "Nggak!" Kenneth masih tetap bersikeras. "Kalau kamu nggak mau juga! Aku nikahin kamu sekarang juga sama kambing!" "Huwaattt?" Iris lantas berdiri. "No! I don't want it!" Iris pun segera kabur ke ruang keluarga menemui para tamu yang sudah hadir di sana. "Dia, sungguhan menguras tenagaku." Mendadak, rasanya, Kenneth pening serempak. *** "Ih ... cantik, ya," kata perempuan paruh baya memuji Iris Livansha. Meski wajahnya sedikit keriput, tak menutup jiwa muda kepo sang penjilat yang sebenarnya tadi sudah Iris temukan apa saja yang dia bicarakan tentang dirinya dan Tuan Kenneth Eldo Veransyah sang setan menyebalkan itu tadi. Fyi. Iris kini sudah berada di lantai dasar. Ruang tamu megah dan mewah seketika disulap seolah menjelma menjadi ... lantai dansa yang berisi tamu uandangan. Perlu kalian tahu, inilah hari bersejarah untuk Iris juga Kenneth, meski yang menghayati jelas dia, tentu saja, yakni, hari tunangan gila sepihak yang diputuskan oleh lelaki gila itu, dengan Kenneth. "Iya, Om, Tante, makasih, ya." ItuKenneth. Ia tampak sibuk melayalani satu per satu satu tamu yang hadir dan meminta untuk berfoto dengannya. Beberapa dari mereka kelihatan sekali bahwa itu rekan bisnis. "Iya, syukurlah. Untung saja proyek di Palembang sudah berjalan baik. Tinggal kita pindahkan saja ke Surabaya." Iris celingukan. Aishh ... Sungguh tak Iris temukan satu pun komplotan setan rahasia yang bisa membawaku pergi dari sini. Kayaknya Kenneth Eldo Veransyah ini memang sengaja, deh, tak mengundang Gwen maupun Harvey yang jelas-jelas teman ghibah Iris bahkan yang berjasa meletakkan Iris padanya, yakni, Sang Tante atau Sang Mama, yang biasa menemani Iris pergi ke beberapa tempat epik dan unik pun ... tak ada di sini. Isi orang-orang ini betul-betul hanya penjilat saja. Iris makin menarik napas. Hingga pada akhirnya ... "Ehhh, apaan, nih? Lepas! Apaan, nih?" Itu Kenneth. Pemaksa sekali, bukan. Dia menarik Iris ke lapangan belakang rumah miliknya sekarang dengan seenak jidat yang bahkan nggak ada kursi taman atau bangku duduk. Memang di design untuk mengajari Iris bercocok tanam dan lebih paham pertanian sih sebenarnya. "Apaan, sih? Copot!" Itu peringatan yang sangat keras dari Iris. Amat lantang malah. Kenneth si Tuan Muda Setan itu yang tadinya tampak terburu-buru itu pun, menatap Iris. Ada sorot mata tak menyukai yang dalam. "Cih ..." Dia mendecih. What? Hellow ...? Bukankah seharusnya Iris lah yang begini, ya? "Cih?" Iris Livansha membalasnya. Iris bahkan lantas membuang muka. "Aneh." "Kamu yang harusnya tahu diri hari ini. Kenapa kamu baru datang setelah para tamu sudah 80℅ pergi? Kita bahkan melewatkan segmen tunangan karena kamu membuat Kepala Pelayan Bu Davi sendiri dan para pembantu mu botak setengah mati mencarimu?!" Iris kebawa emosi. Intonasi gadis itu pun tinggi. "Ya, karena aku nggak pernah mau tunangan denganmu! Apalagi dengan apa? Perjodohan konyol itu? Atas nama bayaran atau training? Astaga, apa kamu bercanda? Siapa pula di era manusiawi seperti ini harus ada monster yang berlagak malaikat menyomblangin orang lain?" Eh, dia malah meracau ... "Aku jadi kehilangan momen untuk membuatnya jatuh lagi padaku. Dan, itu, semuanya karena kamu!" Dih? Kok malah nyalahin? Dan juga, tunggu dulu, siapa? Apakah ada investor yang akan ia manfaatkan cintanya agar ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD