Part 2 | She's My Angel Too

2281 Words
Jeslyn menghembuskan napasnya panjang sekali lagi, lalu merobek gaun pengantinnya yang menjuntai hingga dua meter, ia merobeknya hingga sebatas lutut, lalu berlari menuju mobilnya untuk menuju rumah sakit, ingin memastikan keadaan Rhea yang harus terluka karena kegilaan ayahnya. "Kau bisa memanggilku Mommy, sayang. Hal apa yang paling kau sukai?" "Bolehkah? Mommy?" "Ya, mulai sekarang aku adalah Mommy-mu, bagaimana? Apa kau menyukainya?" "Ya Mommy, aku sangat menyukainya." "Bagus, Mommy juga menyukai panggilan itu. Ah, dan kau belum menjawab pertanyaan Mommy tadi, hal apa yang kau sukai?" "Ehm, bunga. Aku sangat suka bunga." "Mereka cantik sepertimu. Bagaimana jika kau mendirikan florist? Mommy akan meminjamkan modal padamu," "Sebuah florist, ehm aku tidak yakin, tapi aku ingin mencobanya, berapa bunga yang harus kubayar?" "Satu euro, kau bisa mengembalikan pokoknya ditambah satu euro, bagaimana? Kau bisa mencicilnya," "Baiklah, satu euro." "Minggu depan kita bertemu lagi di sini, dan saat itu kau sudah harus tau apa yang akan kau lakukan dan bagaimana caramu mengelola florist-mu. Paham?" "Paham Mommy, aku akan belajar dengan sungguh-sungguh dan belajar juga tentang strategi pemasaran yang baik." Jeslyn kembali mengusap air mata yang membasahi wajahnya saat mengingat bagaimana pertemuannya dengan Rhea, wanita itu adalah bidadari hidupnya, penyelamatnya di saat ia putus asa dengan hidupnya. Saat itu dirinya baru saja menyelesaikan ujian kompetensi untuk mendapat Abitur ijazah, prasyarat untuk mendaftar kuliah, hanya saja keadaan keluarganya semakin kacau, bukan hanya Grace dan Lauren yang membencinya, Peter juga tiba-tiba berubah, selalu menatapnya dengan kilat kemarahan, dan tidak segan untuk memukulnya, sejak saat itu ia sangat takut untuk pulang ke rumah, karena pulang ke rumah sama saja ia mendapat pukulan. Lalu dengan semua kekacauan itu, Jeslyn sering menyendiri di sebuah taman yang sedikit jauh dari rumah, taman itu memang selalu terlihat sepi dan sedikit tidak terawat, ia selalu mencurahkan isi hatinya dan menangis semuanya di sana, dan di sana juga pertama kali ia melihat Rhea, melihat bagaimana tatapan meneduhkan dan menenangkan Rhea saat menatapnya membuatnya begitu nyaman, merasa terlindungi dan memiliki teman, hingga dalam waktu dekat ia begitu menyayangi Rhea, wanita itu sering mengajaknya ke kafenya, juga membiarkannya bekerja di sana dan tinggal di apartement wanita itu di lantai dua kafenya, walau esoknya Jeslyn akan mendapat amukan dari Peter karena tidak pulang, namun itu lebih baik baginya, bisa tidur dengan nyenyak di kamar Rhea dalam waktu beberapa hari sebelum akhirnya kembali ke rumah. Sejak awal Rhea begitu baik padanya, menatapnya penuh kasih yang membuatnya kembali merasa disayangi dan diinginkan, wanita itu selalu memberikannya semangat, hingga pada akhirnya Rhea menawarkan sebuah kesepakatan, untuk membuatnya keluar dari zona menyedihkan hidupnya, membantunya untuk menjadi wanita mandiri seperti Rhea, tanpa ragu Rhea meminjamkan uangnya yang tidak sedikit untuk membuatkan florist untuknya, lalu wanita itu membantunya mencari universitas di samping membantunya belajar tentang mengelola usahanya. Dan bersama Rhea, Jeslyn benar-benar bisa bangkit dari keterpurukannya, wanita itu memberikannya kehidupan baru, membuatnya menjadi wanita mandiri, dan menyayanginya layaknya seorang ibu, kasih sayang yang tidak pernah ia dapatkan sejak lahir, semua itu benar-benar membuatnya bahagia dan sangat mencintai Rhea, dia akan melakukan apapun untuk Rhea sekali pun ia harus mengorbankan hidupnya. Jeslyn tidak tau mengapa Tuhan membuat jalan hidupnya seperti ini, ia mencintai Kern sejak lama, dan ia selalu bercerita pada Rhea jika dia mencintai pria itu, dan ternyata pria yang selalu ia ceritakan adalah anak dari wanita itu, Rhea selalu tersenyum menanggapinya, selalu menyemangati Jeslyn untuk mengejar cinta Kern, namun Jeslyn tau diri, dia tidak akan bisa mengejar Kern, ia tau bagaimana permusuhan keluarga Aldene dan Wallice dalam bisnis, dan dia tidak ingin Kern terluka karena cintanya. Jadi dia lebih memilih mencintai Kern diam-diam. Saat mengetahui jika Rhea adalah istri dari seorang Arche Aldene, Jeslyn benar-benar terkejut juga takut, bukan karena berpikir jika Rhea sengaja mendekatinya untuk memanfaatkannya, ia tau jika Rhea membantunya dengan tulus, yang ia takutkan adalah ayahnya yang akan melukai Rhea karena telah membantunya, ia waktu itu meminta Rhea untuk berhenti menemuinya, hanya saja Rhea menjelaskan dengan tenang, meyakinkan Jeslyn jika mereka akan baik-baik saja, tidak ada yang akan terluka, baik Jeslyn maupun keluarga Aldene. "Mommy, maafkan aku, ini semua kesalahanku," Jeslyn terisak-isak dengan d**a yang terasa semakin sesak, kejadian tadi malam berputar di otaknya, saat Peter menemuinya, menunjukkan video Rhea yang disiksa oleh pria tua itu. Dan syarat yang diajukan Peter benar-benar membuatnya ketakutan. "Jadi selama ini dia adalah malaikat hidupmu? Ah, bagus sekali. Ayo kita buat hal ini menjadi mudah dan saling menguntungkan untuk kita Jeslyn sayang," "Aku akan membebaskan Mommy-mu ini dan kau menikah dengan Kern Aldene, bagaimana?" ucapan Peter membuat Jeslyn membulatkan matanya dan menelan ludahnya susah payah. "Ada satu misi lagi yang harus kau selesaikan setelah menikah dengan pria itu, dan kau tidak boleh gagal jika ingin melihat penyelamatmu baik-baik saja. Cari tau tentang semua kekayaan Kern Aldene dan buat kekayaan itu menjadi milikku, aku mendengar jika pria itu memiliki sebuah pulau terindah dengan harga fantastis, cari tau hal itu dan buat pulau itu menjadi milikku. Selain itu Kern memiliki harta tersembunyi dengan jumlah sangat sangat besar, kau harus membuat itu menjadi milikku juga. Bagaimana Jeslyn? Kupikir kau tidak memiliki pilihan, besok kau harus menikah dengan pria itu. Ah, bukankah kau mencintainya? Tentu ini menjadi keuntungan kedua untukmu selain kau bisa menyelamatkan wanita b******k itu." "Kau berjanji akan melepaskan Mommy Rhea? Aku, aku akan melakukannya jika kau berjanji mau melepaskannya." "Anak pintar. Tentu aku akan menepati janjiku, tepat saat kau mengucap janji sakral itu aku akan membebaskan Mommy tercintamu itu." Jeslyn memarkirkan mobilnya begitu tiba di rumah sakit, ia lalu berlari menuju bagian informasi, mencari di mana Rhea berada, dalam hati ia terus berdoa untuk keselamatan wanita itu, padahal tiga hari yang lalu dirinya dan Rhea masih bercanda bahkan membuat cake bersama di kafe wanita itu, kini ia justru harus merasakan kesakitan melihat Rhea yang terluka karenanya. Andai dulu dia memilih pergi dan tidak lagi menyusahkan wanita itu, andai dia tidak bertemu dengan Rhea sejak awal, mungkin kini Rhea baik-baik saja, menikmati hidupnya bersama keluarga bahagianya, seharusnya sejak awal dia tidak bersinggungan dengan seorang Aldene, karena saat mereka bersinggungan maka hanya akan ada luka di sana, dan kini dirinya justru menceburkan diri ke dalam luka itu dengan menjadi istri seorang Kern Aldene. Jeslyn mengatur napasnya saat melihat tiga orang di depannya tengah mondar mandir di depan ruang ICU, dan langkah kakinya yang terdengar membuat ketiganya langsung menoleh dengan tatapan yang berbeda-beda. Kern yang melihat Jeslyn langsung menghampiri wanita itu dan mencengkram erat lengan Jeslyn hingga membuat wanita itu meringis sakit. "Wanita b******k!! Berani kau melakukan ini pada Mommy-ku?! Berani kau menyentuhnya bahkan membuatnya celaka seperti ini. Kau benar-benar salah mencari musuh, Jeslyn Wallice." Kern menggeram dengan tatapan nyalang, tatapan itu benar-benar melumpuhkan Jeslyn yang hanya bisa berdiri kaku dengan jantung berdetak kencang, beruntung seorang dokter keluar, membuat Kern langsung melepaskan cengkramannya dan tergesa menuju dokter tersebut. "Bagaimana Dok?" tanya Arche membuat Kern menahan napasnya, benar-benar takut dengan keadaan ibunya juga wanita yang ia cintai. "Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan salah satunya, wanita muda itu. Sedangkan yang satunya mengalami koma." Tepat setelah mengatakan hal itu Kern menonjok dinding di depannya dengan raut frustasi, Jeslyn yang masih berdiri di tempatnya hanya bisa menatapnya takut-takut. Kekasih pria itu, calon istri pria itu meninggal dan Rhea koma. 'Ya Tuhan,' Jeslyn hanya bisa menjerit dalam hati dan menangis dalam diam, malaikat penyelamatnya kini terbaring tidak berdaya karena ulah ayahnya, kini tidak ada lagi tempatnya bersandar dan mengadu, hal itu membuatnya takut, hal yang akan ia hadapi ke depannya penuh dengan hal menyakitkan, dan dia tidak memiliki siapa pun untuk menjadi sandaran. Jeslyn hanya bisa menunggu di sana, tidak berani masuk karena tidak ada yang mempersilahkan, Kern langsung menerobos masuk untuk melihat mantan calon istrinya, begitu juga dengan Keyla dan Arche yang langsung masuk untuk melihat keadaan Rhea, dan tidak ada yang bisa ia lakukan, mungkin dia tidak akan pernah mendapat ijin dari Arche Aldene untuk menjenguk Rhea. Pria yang kini menjadi ayah mertuanya. Tarikan yang begitu kuat membuat Jeslyn langsung mendongak dan sekali lagi ia melihat tatapan nyalang Kern yang siap membunuhnya kapan saja. Kern menariknya kuat membuat Jeslyn sekali lagi meringis, pria itu membawanya ke tangga darurat, lalu menghempaskan tubuhnya ke dinding, membuat Jeslyn sekali lagi merasakan kekasaran Kern yang kini berimbas pada punggungnya. Kern mendekat padanya, mencekiknya kuat membuatnya terbatuk-batuk dan memukul lengan pria itu. "Kau sudah berani membuat kedua malaikat hidupku menderita. Kau sudah membunuh orang yang kucintai. Kau tau Jeslyn, aku tidak akan pernah melepaskanmu, aku tidak akan membiarkanmu bebas setelah ini, aku akan membuat penderitaanmu hingga akhir. Aku akan menghancurkan setiap detik hidupmu. Itu adalah balasan untuk semua yang kau lakukan hari ini. Hari ini kau menghancurkan hidupku, maka hidupmu akan hancur di tanganmu. Untuk saat ini hingga kau mati. Ingat baik-baik itu, Jeslyn Wallice. Kau mencari musuh yang salah. Aku. Akan. Memastikan. Kau. Hancur. Dan. Tidak. Akan. Membuat. Kematianmu. Dengan. Mudah." Tepat setelah mengatakan hal itu Kern kembali menghempaskan tubuh Jeslyn lalu meninggalkan Jeslyn yang langsung luruh ke lantai dengan terbatuk-batuk akibat cekikan Kern. Di lantai yang dingin dan ruangan sunyi itu Jeslyn kembali terisak dengan perasaan sesak yang semakin menjadi-jadi, hatinya juga terlampau sakit mendengar bagaimana kabar Rhea, lalu melihat bagaimana ancaman mematikan Kern tadi juga membuatnya terluka, rasanya kebahagiaan sangat jauh dari hidupnya, sama seperti cinta Kern untuknya, sebelum berusaha pun ia sudah kalah karena Kern terlalu jauh, terlalu sulit untuk ia gapai. Dia seperti pungguk yang merindukan rembulan. "Dia juga malaikat hidupku Kern. Aku juga terluka dan merasakan apa yang kau rasakan, bahkan setelah semua yang kulakukan ini, aku tetap tidak bisa membuat Mommy baik-baik saja. Aku gagal Kern, aku gagal dan kini aku harus menanggung resiko yang lebih menakutkan, juga menyakitkan, tanpa ada Mommy di sisiku." Jeslyn menggumam sendu dengan air mata yang berlinang semakin banyak membasahi wajah cantiknya, hari ini benar-benar hari yang berat untuknya, dan mungkin dirinya harus mempersiapkan diri untuk hari-hari yang lebih berat ke depannya, bersiap menerima segala perlakuan Kern untuk menghancurkannya. *** "Kern," panggilan itu membuat Kern menghentikan langkahnya, ia melihat Arche yang terlihat lelah juga terluka, tentu hal ini sangat berat untuk Arche, Kern sangat tau sebesar apa cinta Daddy-nya itu untuk Mommy-nya, bahkan saat Rhea mengeluh sakit kepala Arche akan langsung membawanya ke rumah sakit. Melihat bagaimana kehangatan juga cinta keduanya membuat Kern sangat ingin memiliki kehidupan pernikahan seperti kedua orang tuanya. Mereka saling mengerti, saling memahami dan selalu saling mencintai, penuh kehangatan juga canda yang membuat hubungan keduanya selalu harmonis. Dan Kern telah memimpikan hal itu bersama Audrey, namun semuanya kandas karena seorang Jeslyn Wallice. "Ya Daddy?" "Jangan mengatakan ini pada Brian dan Briana, mereka akan sangat terluka dan Daddy tidak ingin itu terjadi," ujar Arche membuat Kern mengangguk, dia juga sudah memiliki niat untuk mengatakan hal yang sama pada Arche, beruntung Arche memiliki pemikiran yang sama sepertinya. Brian dan Briana adalah adik kembarnya, dan Kern tau apa yang akan terjadi pada kedua adiknya yang kini tengah menempuh pendidikan di New York itu jika mengetahui keadaan Rhea yang sebenarnya. "Bagaimana ini bisa terjadi Daddy? Bagaimana bisa Audrey bersama Mommy? Dan bagaimana bisa Mommy tidak datang di hari pernikahanku?" Ucapan Kern membuat Arche hanya bisa tersenyum sendu. Ia menepuk pundak Kern dan menghembuskan napasnya panjang. "Semua salah Daddy, Daddy yang membuat Mommy celaka, untuk saat ini Daddy tidak bisa mengatakannya sayang," karena Daddy tidak ingin membuatmu semakin terluka. Arche menambahkan dalam hati, menatap lekat pada Kern yang terlihat sama frustasi seperti dirinya. "Jika Daddy tidak bisa memberi tahuku, maka aku yang akan mencari tau sendiri." Kern lalu berlalu pergi meninggalkan Arche, namun Arche menahan lengan anaknya itu. "Jangan menyakiti istrimu, jangan membencinya terlalu dalam, dia istrimu sekarang, dan sudah seharusnya kau menjaganya." "Dia bukan seseorang yang harus kujaga, tapi kuhancurkan Daddy," "Kern," panggil Arche penuh peringatan, dia menatap Kern dengan sejuta rasa, takut jika hal yang dulu ia lakukan pada Rhea akan terulang pada Jeslyn, dan Arche tidak ingin Kern merasakan penyesalan terburuk itu. "Aku sudah mengikuti perintahmu untuk menikah dengannya. Dan ini adalah hidupku Daddy, kehidupan pernikahanku, dan Daddy tidak memiliki hak untuk ikut campur lagi." Setelah mengatakan itu Kern meninggalkan Arche yang hanya bisa menghela napasnya panjang. Begitu keluar dari tangga darurat, di koridor rumah sakit Jeslyn bertemu dengan Arche, membuat wanita itu hanya bisa menelan ludahnya susah payah, berhadapan dengan musuh besar ayahnya, saat tatapannya bertemu dengan Arche, Jeslyn hanya bisa mematung apalagi melihat pria itu yang menghampirinya. "Puzzle ini belum akan tersusun sebelum istriku bangun Jeslyn, atau aku bisa menyusunnya sendiri dengan mencari tau semuanya. Kejadian hari ini, dia yang berani melukai istriku, aku akan menghancurkannya hingga mati." Ucapan dingin Arche membuat Jeslyn menatap dengan takut ke arah pria itu yang kini menatapnya lekat dengan tatapan yang sulit diartikan. 'Arche, biarkan Jeslyn Wallice menikah dengan Kern, aku yakin dia yang terbaik untuk anak kita. Kau percaya padaku kan Arche, ini yang terbaik untuk Kern dan kau mau membantuku kan?' 'Apa alasannya? Atas dasar apa kau mengatakan jika putri seorang Wallice yang terbaik untuk putra seorang Aldene, sayang? Kau tau kan, bagaimana licik dan kejamnya seorang Wallice?' 'Tidak Arche, Jeslyn berbeda, dia adalah seseorang yang tepat untuk Kern, kau percaya padaku kan? Aku akan mengatakannya setelah mereka resmi menjadi suami istri.' 'Baiklah, aku selalu percaya dengan pilihanmu, karena kau selalu mengerti apa yang kami butuhkan, terima kasih telah menemaniku selama ini Mommy, aku sangat bersyukur memilikimu.' 'Aku juga mencintaimu, Daddy,' Permintaan Rhea itu membuat Arche menatap dalam pada Jeslyn, mencari sesuatu yang mungkin bisa menjadi jawaban kenapa Rhea mengatakan hal tidak berdasar itu, namun tidak ada yang bisa Arche temukan, masih terlalu banyak teka-teki yang harus ia pecahkan. "Dan jika ini ada hubungannya denganmu, aku tidak akan pernah melepaskanmu Jeslyn, seseorang yang melukai wanitaku, aku tidak akan pernah melepaskannya. Dia malaikatku, nyawaku, dan hidupku." Tepat setelah mengatakan hal itu Arche meninggalkan Jeslyn yang masih pada posisinya, mematung di tempatnya dengan tubuh panas dingin mendengar suara Arche yang mampu melumpuhkan persendiannya.                 "Dia juga malaikatku," gumam Jeslyn dengan pedih, mengusap air mata yang kembali membasahi wajahnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD