Pandangan Bella menyapu seantero ruangan yang bernuansa elegan serasi dengan penampilan para penghuninya, mereka terlihat eksklusif dan anggun. Aliran darahnya terasa tersendat melihat suasana kantor berkelas gudangnya wanita-wanita cantik tersebut. Seketika jiwa minder nya meronta bahkan ia merasa sofa empuk yang didudukinya sekarang, akan dikotori oleh celana jeans-nya yang belum dicuci padahal sudah tiga kali dipakai.
"Aku salah masuk kantor gak ya?" gumamnya dalam hati. Dia berusaha menghibur diri dengan menganggap Radit adalah tukang bersih-bersih atau minimal karyawan biasa di sana.
Setelah menunggu hampir satu jam pandangannya teralihkan pada sosok pria yang memandangnya dengan tatapan marah, sangat terlihat dari sorot matanya meskipun menggunakan masker. Sontak hal itu membuat Bella salah tingkah, dia semakin yakin bahwa dia salah masuk kantor. Berulang kali ia menelpon Radit tapi w******p lelaki itu tidak aktif.
“Kemana sih dia?” Bella segera keluar dari kantor tersebut.
Sampai tiga jam lamanya Bella berusaha menghubungi Radit tapi chat-nya centang satu. Akhirnya Bella pulang membawa rasa sedih yang teramat sangat. Disaat itu pula ia baru menyadari bahwa Radit hanya mempermainkannya.
“Seharusnya aku sadar dari awal kalau orang yang gak berkompeten kayak aku gak mungkin bisa mendapat peluang semudah itu.”
Panasnya udara siang saat ini semakin membuatnya merasa tak nyaman. Kemeja yang sudah ditimpa pewangi setrikaan berkali-kali itu menyebarkan aroma lembab parfum bercampur apeknya keringat.
“Bunda kok lama banget sih jemputnya?” tanya Anis anak ketiga Bella yang duduk di kelas lima SD.
Bella tersenyum kecut, bibirnya yang kering dan pecah-pecah semakin terlihat buruk. “Bunda habis melamar kerja tapi gagal. Maaf ya?!” ucapnya seraya menuntun Anis.
“Gapapa Bunda, semangat ya?!”
Bella hanya mengangguk.
Setelah tiga hari sejak kejadian itu Bella sudah tidak lagi berharap mendapat penjelasan dari Radit, “Memaafkan adalah jalan terbaik untuk memperbaiki suasana hati setelah dipermainkan.” Begitulah yang terlintas dalam hatinya.
Hari ini dia memutuskan untuk menjemput Anis lebih cepat, karena di rumah sedang ada tamu yang tak diharapkan olehnya. Tiba-tiba seorang lelaki tampan berpenampilan stylish berdiri tepat di depannya. Tatapannya tajam membidik sengit kepada Bella seperti ada dendam kesumat yang dia pendam.
“Ikut saya!” Tanpa basa-basi pria yang menggunakan masker itu menarik tangan Bella.
“Maaf, anda siapa Pak? Kenapa menarik tangan saya seperti ini?”
“Orang yang sudah kamu tipu mentah-mentah!”
Bukan tanpa alasan jika Bella merasa itu adalah sebuah fitnah, pasalnya dia tak pernah terlibat kegiatan apapun yang melenceng apalagi untuk hal yang berbau penipuan. Menelisik betapa berkelasnya penampilan lelaki tersebut mana mungkin Bella pernah terkoneksi dengannya.
“Kayaknya Bapak salah orang, deh!”
Langkahnya terhenti tepat di samping sedan mewah berwarna hitam mengkilat. “Isabella seorang penulis amatir yang menipu para penggemarnya dengan wajah palsu!”
Belum sempat Bella menjawab pria itu sudah mendorongnya masuk ke kursi sopir. Tentu saja dia bukan hendak menyuruh Bella menyetir melainkan sengaja memasukkannya dari sana supaya dia tidak memiliki celah untuk kabur. Pria itu menyuruhnya bergeser ke bangku sebelah tanpa melepas cengkraman tangannya.
“Saya mau dibawa kemana?” tanyanya berharap mendapat jawaban pasti atas keheranannya terhadap pria itu.
“Membawamu untuk mempertanggungjawabkan perbuatan.”
“Saya tidak mengerti apa yang Bapak maksud!”
Lelaki itu seperti enggan menggubris ucapan Bella, dia terus memacu mobilnya melaju memasuki sebuah perumahan elit yang terlihat sepi. Jelas saja berbeda dari perumahan yang biasa ia ditemui karena perumahan itu tempatnya kaum-kaum elite yang mencintai ketenangan. Lelaki itu menarik tangan Bella dengan kasar membuatnya mengaduh.
“Lepaskan saya Pak! Anak saya sebentar lagi pulang.”
Sepertinya percuma saja Bella berteriak dan memohon nyatanya lelaki itu tak menggubrisnya, sampai di depan pintu sebuah kamar lantai dua. Spontan pikirannya langsung tertuju pada peristiwa pemerkosaan dan pembunuhan yang biasa disiarkan di televisi.
Tubuhnya didorong paksa untuk masuk tapi dia berusaha sekuat tenaga melepaskan cengkraman pria tersebut.
“Saya tidak bernafsu untuk memperkosa kamu, jadi diam dan ikuti kemauan saya!”
Mau tak mau Bella mengikuti arahan kasar pria tersebut meskipun takut dia akhirnya membiarkan tubuhnya diseret ke ruangan yang ternyata ruangan kerja si penculik. Bukan main terkejutnya dia ketika melihat foto berukuran dua meter terpampang nyata di hadapannya. Bukan karena ukurannya yang membuat dia terkejut melainkan orang yang ada di foto itu adalah dirinya bersama seorang pemuda yang merupakan karakter dalam novelnya.
“Siapa kamu?” tanya Bella mulai risau.
Lelaki itu membuka maskernya, lagi-lagi Bella terkejut setengah mati. Pasalnya wajah lelaki itu sangat mirip dengan karakter novel yang diciptakan melalui aplikasi video AI. Bukan hanya mirip tapi benar-benar tak ada celah untuk membedakan lelaki itu dengan karakter ciptaannya tersebut. Tak hentinya Bella berdecak sampai tak menyimak apa yang di raungkan oleh pria itu.
“Mulai sekarang kamu menjadi tawanan saya!” ujarnya setelah berhasil mengatasi kekesalan.
Bella menggaruk lehernya seperti leher itu benar-benar gatal padahal tidak. “Saya benar-benar gak tau kalau kalau ada wajah semirip ini dengan sosok karakter yang saya edit. saya mengedit wajah karakter itu bahkan menggunakan tiga wajah model luar negeri. Bagaimana bisa wajah itu mirip sekali dengan anda, Pak?”
“Gak usah ngeles deh! saya adalah orang terkenal siapapun pasti tahu, tapi seharusnya kamu izin dulu kalau mau menggunakan wajah saya! Apalagi untuk penulis kelas teri sepertimu cuma mempermalukan saja!” omel lelaki itu, “asal kamu tau ya, bayaran endorse saya untuk berapa menit itu berkisar satu juta dan kamu menggunakan wajah saya berhari-hari. bayangkan berapa juta royalti yang terhutang dan itu harus kamu lunasi. Kalau tidak, saya bakal tuntut kamu atas penyalahgunaan hak cipta dan privasi.”
“Siapa kamu sebenarnya, kalaupun artis masa iya saya gak tau!”
Mendengar pertanyaannya lelaki itu kembali meraung, “Gak usah ngeles lagi! Keliatan banget kamu mau menghindar dari tanggung jawab! Mulai detik ini saya meminta pertanggungjawaban atas kerugian yang kamu sebabkan!”
“Oke saya bakal menghapus postingan promosi itu, maaf sudah membuat anda tidak nyaman.”
“Hah, tidak semudah itu. Kau harus bertanggung jawab atas apa yang sudah berjalan. Mulai detik ini kamu harus menjadi pelayan saya. Kemanapun saya pergi kamu harus ikut.”
Tentu saja Bella memprotes titah pria tersebut, bagaimana nasib anak-anaknya itu yang dia pikirkan. “Saya memiliki tanggung jawab yang lebih besar ketimbang melayani kegilaan anda, Pak!”
“Itu konsekuensi atas kelancangan kamu!”
“Terserah Bapak mau ngapain, kalau mau menuntut saya silahkan. Toh, itu memang murni editan,” sahutnya santai seraya berbalik ingin keluar dari ruangan itu.
Melihat dari sikap santai Bella, lelaki itu berpikir bahwa Bella bisa membuktikan faktanya sekalipun di tuntut. Akhirnya ia mengatakan bahwa Bella telah merusak mimpi dan harapan besarnya terhadap karakter wanita yang dia buat. Waktu itu di sebuah postingan Bella mengaku bahwa itu adalah wajahnya, bahkan saat lelaki itu memakai akun kloningan menyamar sebagai penerbit Bella mengaku bahwa dirinya masih single. Semakin besar harapannya untuk bertemu sang penulis dan berencana untuk menautkan hatinya kepada Bella.
Bella langsung menebak, “Kamu Radit?”
Suasana seketika berubah sunyi.