Mata tajam itu menatap bengis kepada Bella, “Lalu kamu pikir siapa? Saya satu-satunya orang yang berhasil terjebak dalam tipuan kamu.”
“Apa Bapak pikir cuma anda korban di sini? Saya menunggu anda sampai tiga jam, bela-belain gak jemput anak malah gak ada khabar.”
“Itu karena penampakan asli kamu menyedihkan! Ibarat beli baju online gak sesuai gambar dan minus kualitas!”
“Jelas-jelas itu editan AI kenapa anda menganggap serius? Seharusnya kalau mau yang real pict liat langsung baru bungkus!”
“Oh jadi kamu mau bilang kalau saya ini bodoh?”
“Saya tidak bilang anda bodoh tapi terlalu gegabah berekspektasi untuk sebuah editan!”
Radit memang tidak begitu paham jika editan semacam itu bisa merubah yang jelek menjadi cantik mengingat wajah si lelaki sangat mirip dengannya. Dia berfikir kalau Bella mengikuti akun sosial medianya dan mengambil fotonya untuk dijadikan seorang tokoh dalam novelnya. “Aku gak mau tau pokoknya kamu harus bertanggung jawab!” Radit masih kekeh meminta pertanggungjawaban Bella.
“Saya harus bertanggung jawab dengan cara apa? Operasi plastik sesuai dengan editan yang saya buat?”
“Kamu harus jadi pelayan saya mengikuti semua jadwal dan satu lagi kamu gak boleh libur.”
“Situ artis?”
Mendengar pertanyaan Bella— Radit berfikir sejenak, seolah gadis itu memang tidak mengetahui siapa dirinya. “Saya seorang Influencer dengan pengikut jutaan tentu kamu akan lebih mudah mengetahuinya.”
Bella berfikir semakin keras bahkan dia tidak mengerti apa itu Influencer.
“Besok kamu datang ke sini pagi-pagi untuk ikut saya ke Ancol jangan sampai telat.”
“Tapi—”
“Jangan membantah!” teriak Radit menekan Bella.
“Saya tidak akan datang!”
“Kalau begitu saya yang akan menjemput kamu!”
Ancaman itu dianggap angin lalu saja oleh Bella dengan mantap dia menjawab, “Terserah! Lagian anda juga gak tau ‘kan dimana rumah saya?”
“Kita lihat saja besok!”
Dengan senyum sepele Bella meninggalkan rumah besar itu. “Gila itu rumah apa istana? Pembantunya aja sebanyak itu belum lagi satpamnya. Apa Influencer memang setajir itu?” Sepanjang perjalanan dia terus memikirkan ancaman Radit. “Hahaha … mana mungkin dia bakal datang ke rumah!”
Prediksi Bella benar-benar meleset, pagi itu sekitar pukul setengah tujuh Radit sudah berada di depan rumahnya. Tentu saja Bella terkejut bukan kepalang melihat kedatangannya itu, sekonyong-konyong berlari menghampiri Radit sebelum seisi rumah tahu.
“Anda benar-benar keterlaluan Pak! Bagaimana kalau seisi rumah tau bapak datang ke sini?”
“Itu bukan urusan saya, cepat ganti baju dan ikut saya!”
Mau tak mau Bella mengikuti perintah Radit dia tidak mau menimbulkan keributan dalam rumah itu. Dia mengenakan baju seadanya yang tergantung di belakang pintu kamarnya lalu bergegas keluar.
Di dalam mobil Radit terus mendengus menangkap aroma yang tak sedap menusuk hidungnya. “Apa kamu mencuci baju dengan kotoran kerbau?”
Bella mengerutkan dahi, “Maksud Bapak?”
“Bau banget sih baju kamu?”
Bella sedikit terkekeh mendengar komentar Radit, “Karena saya gak sempat mencari baju di lemari jadi saya pakai yang sudah tergantung tiga hari di belakang pintu.”
“What? Jorok banget sih?”
“Maaf … lagian saya memang gak punya banyak baju jadi ya pake bajunya irit-irit.”
“Minimal dicuci gitu kek!”
“Kadang sabun juga gak ada,” kilah Bella cuek.
“Alasan aja kamu!”
“Beginilah kalau mengurus empat anak—”
Radit langsung memotong, “Diam lah! Saya tidak mau mendengar cerita tentang anak-anakmu!”
Tak terasa mereka sudah sampai di tempat tujuan, Bella mengikuti langkah Radit menuju sebuah restoran mewah yang selama ini tak pernah ia lihat.
“Bagaimana persiapannya?” tanyanya kepada salah satu wanita yang tengah memegang sebuah kertas.
“Sudah hampir selesai Pak!”
“Mana Jeremy?”
“Dia lagi di kamar mandi Pak!” jawab perempuan itu sambil melirik ke arah Bella. Tatapan anehnya membuat Bella tak nyaman, masih terngiang ucapan Radit yang mengatakan kalau bajunya bau kotoran kerbau. “Dia siapa Pak?” tanya perempuan itu kepada Radit.
“Pelayan saya,” jawabnya ketus.
Perempuan itu mengangguk kemudian mengulurkan tangan, “Saya Puput Asisten penyelenggara yang mengurus semua keperluan syuting.”
Bella merasa terkejut saat wanita berambut sebahu dengan lesung pipi itu tersenyum padanya, “Sa-saya Bella,” jawabnya terbata-bata.
“Senang bertemu kamu Bella …,” sambut Puput ramah.
“Terima kasih,” jawabnya tersipu tak menyangka ternyata perempuan itu sangat ramah.
Bella selalu mengikuti Radit kesana-kemari berjalan di belakang Puput.
“Berapa menit lagi mulai kenapa Jeremy belum juga nongol?” teriak Radit.
“Kayaknya dia lagi diare Pak!” jawab Puput cepat sebelum Radit kembali berteriak.
Bella semakin tidak nyaman berada di tengah para milenial muda itu dengan sikap Radit yang seperti itu. Penampilannya yang benar-benar kacau hari ini belum lagi aroma nafas yang kurang sedap karena tadi tidak sempat menggosok gigi membuatnya merasa semakin terlihat buruk.
“Aduh Jemy kemana sih?” Puput terus merengek gelisah.
“Jemi itu siapa Kak?” tanya Bella melepas kecanggungan.
“Dia MC yang mau mewawancarai pemilik Restoran ini,” jawab Puput sambil celingak-celinguk.
“Oh gitu …,” Bella mengangguk-angguk.
“Dia Influencer andalan Pak Radit semua konten yang dia bawakan gak pernah gagal mendulang prestasi. Selalu kami mendapatkan bonus dari setiap client yang menggunakan jasa promosinya dengan cara unik yang di cetuskan oleh Pak Radit.”
“Influencer?”
“Iya … dia ganteng dan juga ramah tak heran banyak model-model di agensi yang kepincut sama dia. Tapi sayangnya dia gak suka cewek,” tutur Puput sedikit berbisik kepada Bella membuatnya sedikit mundur karena minder dengan aroma tubuh Puput yang wangi.
Bella masih sibuk memperhatikan Radit mengatur pencahayaan dan juga beberapa persiapan untuk syuting tak lama terlihat dia mengobrol dengan pemilik restoran tersebut. “Bosan!” gumamnya.
Tak berapa lama seorang pemuda tampan menghampiri Puput untuk mengambil skripnya, “Sorry perutku mules banget kayaknya lontong yang aku makan tadi terlalu pedas.”
“Lagian kamu sih sudah tau gak boleh makan pedas masih aja bandel.”
Bella memandangi pemuda itu sambil mesem-mesem sesekali dia menggaruk rambutnya yang acak-acakan seraya menunduk. Tak lama Pemuda bernama beken Jeremy itu menghampirinya, kepalanya menunduk untuk melihat dengan jelas wajah Bella. Tak ayal Bella terkejut dan hampir terjatuh, beruntung Jeremy berhasil meraih tubuhnya.
“Bella?!” cetusnya dengan tatapan tegas.
Bukan main terkejutnya Bella mendengar pemuda itu menyebut namanya. Dari tadi dia mencoba menghindari temu pandang dengan pemuda itu tapi malah didatangi. “Aku gak nyangka bisa bertemu kamu di sini,” ujar Bella tersipu.
“Aku juga kaget, kamu lagi ngapain di sini?”
Puput langsung menyerobot, “Kalian saling kenal?”
“Dia sahabat aku,” jawab pemuda itu tanpa malu-malu mengakui bahwa perempuan kumal itu sahabatnya.
“Serius?’
“Iya— bentar lagi bakal jadi calon Ibu dari anak-anakku,” cengirnya dengan senyum menggoda menatap Bella.
Ekspresi Puput berubah abstrak. Selama mengenalnya, pemuda itu tidak pernah sekalipun terlihat menggoda seorang wanita. “Kalian teman sekolah ya?” tanya Puput penasaran.
“Bukan … kami kenal di Facebook.”
“Tapi sering ketemuan?” telisik Puput penasaran.
“Percayalah kami baru kali ini bertemu,” sahutnya terkekeh.
Ya, dialah Jerry— pemuda yang selalu membantu Bella kalau dia sedang mengalami kesulitan keuangan atau sekedar memberi dukungan untuknya. Selama ini Jerry kerap video call bareng Bella sehingga pemuda itu selalu berharap bisa bertemu langsung dengannya. Tak usah bertanya lagi bagaimana perasaan Jerry saat ini yang jelas dia sangat terharu dan bahagia bisa berjumpa dengan sahabat online-nya tersebut.
“Kita mulai sekarang!” Tiba-tiba aba-aba lantang Radit membuyarkan mereka.
“Kamu masih di sini ‘kan?” tanya Jerry memegang bahu Bella, “Aku syuting dulu ya?! Please jangan kemana-mana.”
Sambil tersenyum Bella mengangguk dengan penuh semangat, ia juga tak menyangka akhirnya bisa bertemu dengan Jerry. Sekian lama mereka hanya terkoneksi melalui sosial media akhirnya bisa bertemu tanpa sengaja. Itulah satu-satunya hal menyenangkan di balik kesalnya dia menerima perlakuan dari Radit.
Senyumnya masih tersungging sembari memperhatikan kepiawaian Jerry dalam membawakan sesi bincang-bincang dengan pengusaha muda pemilik restoran di kawasan tempat wisata tersohor di Ibu Kota tersebut.
“Kamu mengenal Jemy?” tanya Radit dengan mata mendelik tajam.
“Iya … dia sahabat online saya.”
“Kalian sering bertemu?”
Bella menggeleng, “Gak pernah!”
Radit mendesah, “Ya … tak apa juga karena dia memang menganggap kamu sahabat berbeda dengan saya yang berangan setiap malam membayangkan si Isabella yang cantik, berambut indah dengan mata menggoda. Dia pasti mengetahui kamu cuma mak-mak yang menanggung beban empat anak yang merepotkan!”
Tiba-tiba Bella langsung membentak Radit, “Anak itu titipan Pak, tidak sepantasnya Bapak berkata seperti itu! Saya ikhlas mengurus mereka karena mereka juga penyemangat untuk hidup saya yang b*****t ini!”
Radit tertegun mendengar ocehan Bella, terlebih Jerry tiba-tiba menge-cut proses syuting demi menghampiri mereka.
“Ada apa ini?” tanya Jerry tanpa segan.
“Siapa suruh kamu menghentikan syuting?” bentak Radit seketika.
“Saya mendengar Bella marah-marah mangkanya datang ke sini.”
Radit merasa kesal dengan sikap Jerry menyuruhnya kembali syuting dan berkata, “Jangan ikut campur dengan urusan saya dan dia. Urusan kami gak ada sangkut pautnya dengan persahabatan konyol kalian!”
Bella memanah Radit dengan mata menyala, “Selain egois dia juga sinting berat ternyata,” gumam Bella dalam hati.