Rasa lelah ketika tidak melakukan apapun itu terasa lebih melelahkan. Bagaimana tidak, pikiran Bella terus tertuju ke anak-anaknya yang ia tinggalkan tanpa memberitahu mereka.
“Kejam banget sih dia, padahal aku juga gak ngapa-ngapain di sini mana makin siang semakin bau nih baju. Tau gitu tadi pake baju yang di lemari aja. Huft ….” Bella bergumam sendiri sembari memperhatikan mereka yang tengah sibuk mengatur proses syuting. “Lapar! Jam segini belum diajakin sarapan, sudah mau masuk jam makan siang bisa kumat asam lambung kalau begini caranya.”
Tak terasa mata Bella terpejam, tubuhnya bersandar dengan nyaman di bangku santai tanpa menghiraukan orang yang berlalu-lalang di depannya. Mungkin sampai satu jam dia tertidur pulas dengan mulut sedikit menganga andai dia titisan Sri Devi pastilah terlihat sangat seksi.
Sepasang mata memandang dengan senyum simpul yang menawan, “Bisa-bisanya dia ketiduran di sini,” gumamnya lalu memasukkan makanan ke dalam mulut Bella.
Perempuan itu terbatuk-batuk menerima rasa gurih di ujung lidahnya. Ketika berhasil membuka mata ia mendengar suara tawa yang tak asing lagi baginya—Jerry tengah tergelak melihat reaksi bingungnya.
“Kamu ngagetin aja sih Jer!” protes Bella setengah merengek.
Jerry masih belum menghentikan tawanya tampak sekali kebahagiaan yang dia rasakan bisa bertemu dengan Bella hari ini. Dia memberikan kebab yang baru saja dibelinya karena dia tau Bella ingin sekali bisa makan itu tapi terkadang mau membeli selalu memikirkan anak-anaknya.
“Makasih ya?!” ucapnya terharu.
Jerry menaikan alisnya sambil tersenyum, “Sama-sama … akhirnya aku bisa beliin kamu kebab secara nyata,” ujarnya sedikit terkekeh.
Bella menggaruk pelipisnya malu-malu. Betapa nikmatnya bisa menikmati makanan favorite bersama orang spesial yang selama ini hanya bisa bersua di dunia maya. Rasa terharu yang dalam seperti menguasai sanubari keduanya.
Tiba-tiba Jerry bertanya, “Oh iya … kok kamu bisa ada di sini sih? Sama Pak Radit lagi.”
Bella menghela pasrah dia benar-benar merasa frustasi. “Kamu tau ‘kan karakter cowok yang aku ciptakan untuk novel?”
Jerry menoleh sejenak kemudian mengangguk sambil menggigit makanannya.
Bella melanjutkan kembali ucapannya, “Dia bilang kalau aku menyabotase wajahnya dan dia minta pertanggungjawaban aku. Gila aja kalau mesti bayar royalti dia perjam satu juta mau nuyul sampai tujuh turunan juga gak bakal terbayar. Sebab itu aku disuruh jadi asisten— ah tepatnya jadi budaknya mengikuti jadwal dia kesana-kemari, terus gimana nasib anak-anak coba?!”
Jerry menggeleng-geleng mendengar keluhan sahabatnya itu. “Lagian aku juga sudah bilang sama kamu kalau tokoh novel kamu itu mirip sama bosku tapi kamu masih ngeyel!”
“Kapan kamu bilang kayak gitu?” Bella mencoba mengingat-ingat.
“Sudah lama banget Bell, pasti kamu sudah lupa.”
Lagi-lagi Bella menggaruk pelipis. “Masa sih?”
“Aku rasa dia sering liat postinganku di IG mangkanya dia jadi kepo ke akun sss-mu.”
Kali ini Bella ganti menggaruk kepala. “Kok aku gak tau kalau kamu posting editanku?”
Jerry menjitak kepala Bella, “Ya iya lah orang kamu gak punya IG tahunya cuma main f*******: aja gimana bisa tau!”
“Iya juga ya,” sahutnya lemas, “jadi aku harus gimana? Gak—”
Tiba-tiba Radit menyela dari belakang mereka, “Gak gimana-gimana, kamu harus ikuti aturan saya!”
Bella mendadak tersedak otomatis Jerry langsung mengusap bahunya dan menyodorkan air mineral kemasan ke mulutnya. Entah kenapa Radit merasa tidak senang melihat sikap Jerry kepada Bella, cemburu? Mana mungkin. Tipe cewek Radit jelas di atas rata-rata, kecantikan dan tubuh yang proposional menjadi kriteria utamanya. Meskipun Bella tergolong memiliki tubuh semampai jelas penampilan dan wajahnya sama sekali tak masuk hitungan Radit.
“Tapi Pak, apa ini gak terlalu berlebihan karena setahu saya dia membuat karakter itu dengan mencampur beberapa wajah untuk dimasukkan ke aplikasi video AI.” Jerry mencoba membela Bella meskipun dia tau itu tidak akan berguna sama sekali.
“Apa kamu asistennya?”
Jerry langsung menggeleng, “Tapi dia punya anak-anak yang harus diurus Pak, bagaimana sama nasib anak-anak kalau dia terus mengikuti Bapak kesana-kemari?!”
“Kalau kamu nanya gimana nasib anak-anaknya terus bagaimana sama nasib nama baik saya yang sudah dicemarkan sama dia?”
Jerry masih berusaha menyanggah, “Saya rasa Bella gak bermaksud mencemarkan nama baik Bapak, bukankah itu hanya editan biasa?”
“Editan itu terlalu hot untuk dikatakan biasa dan juga adegan gila yang dia tulis cukup menarik untuk diusut sebagai perbuatan tidak menyenangkan serta mengganggu privasi orang lain!”
Jerry melirik Bella yang hanya bisa tertegun mendengar ungkapan Radit bahkan ia melupakan poin penting itu. Jerry menggerutu tanpa suara kepada Bella supaya dia tau bahwa kondisi sekarang tidak memungkinkan untuknya selamat dari tawanan Bos pemarah itu.
Radit menyeringai melihat tingkah keduanya, ia merasa telah memenangkan perdebatan ini. Memang jika ditelisik dari sudut pandang manapun Bella tetap salah namun jika dilihat dari sudut pandang lainnya bukankah Radit hanya memanfaatkan situasi untuk mengkrangkeng Bella sebagai pemuas dendam karena tak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Bella yang diharapkan memiliki penampilan sesuai dengan editan video itu malah berbanding terbalik bahkan amat jauh dari sekedar ekspektasi belaka.
“Sudah paham bukan? Jadi wajar kalau saya memberi dia hukuman tapi bukankah hukuman ini terlalu ringan dibanding tuntutan yang saya utarakan tadi?”
Jerry tak lagi mampu membela sahabatnya itu karena selain pemarah Radit juga sangat sulit diajak kompromi. Wataknya yang keras serta suka sewenang-wenang membuat para anak-anak yang berada dibawah naungannya tak berani menentang apapun keputusannya. Radit adalah seorang pemilik agensi hiburan bertangan dingin meskipun hanya sebatas Influencer dan artis sosial media namun semua yang berada dibawah naungannya selalu sukses begitu juga untuk para model yang biasa dipakai untuk brand-brand yang berkualitas. Obsesinya untuk menjadi seorang Influencer berkelas seperti Jerry terkadang membuatnya iri dengan pemuda itu sehingga apapun yang dilakukan oleh Jerry dia selalu berusaha melampauinya.
***
Bella hanya bisa berdiam diri saat Radit membawanya ke kantor, sepanjang perjalanan sampai tiba di sana dia terus memikirkan keempat anaknya.
“Kamu tunggu di Pantry aja saya gak mau ruangan saya terkontaminasi sama aroma tubuh kamu!”
Meskipun kesal dengan perkataan Radit, nyatanya dia merasa lega karena bisa terbebas untuk sejenak dari kekangan lelaki egois itu.
“Bell!” panggil Puput melongok dari balik pintu.
“Iya Kak!”
“Makan yuk! Aku lapar,” ajak Puput.
Sebenarnya Bella sangat senang menerima ajakan Puput tapi dia tak mungkin bisa ikut karena tidak mengantongi uang sepeserpun. Dengan berat hati ia menolak, “Aku gak bisa ikut Kak takutnya Pak Radit nyariin nanti.”
“Hem … ya udah deh lain kali aja ya?!” Puput pergi meninggalkan Bella yang kembali termenung sendirian.
Saking lamanya dia termenung sampai ketiduran di meja entah berapa lama. Kepalanya terasa berputar saat Radit dengan kasar mengetuk meja membuatnya tersentak bangun.
“Ayo jalan!” ajak Radit tanpa basa-basi.
“Kemana Pak?”
“Ikut saja.”
Di dalam mobil sudah menunggu seorang gadis cantik dengan wajah mulus bak porselen tengah menunggu seraya memainkan ponsel mahal. Duduk di depan dengan baju minim jelas saja kaki serta bagian d**a mulus itu terpampang nyata di hadapan Radit yang akan menyetir. Sepanjang perjalanan yang entah mau kemana, Bella disuguhkan pemandangan menjijikan dua orang berbeda jenis tengah bermesraan membuat perutnya terasa mual. Sampai mobil itu memasuki kawasan hotel berbintang, Bella baru bisa bernafas lega.
“Kamu tunggu saja di lobi,” titah Radit sedikit keras.
“Baik Pak!” jawab Bella pelan.
Entah apa yang dilakukan Radit dan perempuan itu di sana Bella tak peduli yang ada di pikirannya saat ini hanya ingin segera pulang. Seharian mengikuti Radit pasti anak-anaknya kocar-kacir meskipun ada yang bisa diandalkan di rumah itu tapi tidak pernah mau tau tentang urusan rumah. Bella selalu dijadikan keset kaki oleh mereka padahal seharusnya bukan kewajibannya untuk mengurus ini dan itu. Demi mengemban tanggung jawab— Bella melepaskan segala kebebasannya, meninggalkan gemerlap dunia yang pernah ia lakoni.
“Semua itu hanya masa lalu, setidaknya aku dulu pernah dikelilingi pria tampan yang mengharapkan balasan cinta dariku.” Tak sadar air matanya menetes membayangkan dirinya masih seperti dulu tentu saja perempuan tadi tidak akan di toleh oleh Radit. Bella mendadak tertawa kecil di tengah rintihan hatinya, “Kamu harus kuat Bella! Kamu pasti bisa!”