Burung Bakar

1411 Words
Hari ini benar-benar melelahkan bagi Bella. Bagaimana tidak, dia harus menunggu Radit selama tiga jam di lobi hotel. Tanpa rasa bersalah ia menemui Bella dalam keadaan kusut berstempel tanda merah di lehernya. "Sial banget sih hari ini, dari pagi cuma makan kebab doang. Mana Jerry gak nongol-nongol lagi, apa dia gak tau aku kelaparan? Huft!" Langkahnya berayun gontai menyusuri tepian jalan karena diturunkan Radit di persimpangan jalan menuju rumahnya. Alasan Radit karena dia harus mengantar Cherry pulang. Sesampainya di rumah dia harus puas berteriak karena tidak ada satupun penghuni rumah itu yang membukakan pintu. "Bener-bener sial banget hari ini, aish!" Bella duduk termenung di teras sempit berlantai keramik jadul yang sudah tampal-tempel karena kondisinya yang sudah pecah-pecah. Hampir satu jam dia berteriak tak juga ada yang bersedia membukakan pintu, mungkin para penghuni rumah sudah pada tidur. Maklum saja waktu sudah beranjak di angka sebelas lewat tiga menit mustahil anak-anaknya belum tidur. Sementara Kakak iparnya sudah bisa ditebak oleh Bella kemana rimbanya. Di tengah kepasrahannya Jerry menelpon, "Kamu dimana?" Dengan suara lesu dia menjawab, "Rumah." "Oh syukurlah aku pikir masih di kantor." "Syukur jidatmu! Aku gak bisa masuk, semua orang sudah pada tidur! Dan aku lapar!" Jerry merasa heran kenapa Bella bisa kelaparan padahal dia seharian berjalan bersama Big Bos. "Kamu belum makan?" "Gak dikasih makan sama si Influencer sinting itu!" "Dari pagi?" "Iya!" sahut Bella menyentak. Jerry berdecak kesal, "Ini kamu masih di luar?" "Iyalah! Orang gak ada yang bukain pintu, aku capek!" bentaknya kepada Jerry, padahal bukan salah Jerry kalau dia kelelahan dan kelaparan. "Oke aku jemput kamu sekarang, share lokasi kamu." "Iya," sahutnya bergegas membagikan lokasinya ke w******p Jerry. Demi mempersingkat waktu Bella berjalan menuju persimpangan agar Jerry lebih mudah menemukannya. Selang 30 menit Jerry datang dengan senyum mengejek dari dalam mobil. "Senyum kamu itu bikin aku kesal!" Jerry langsung tertawa terbahak-bahak. "Wajah kamu itu bikin aku pengen kasihan tapi lucu!" "Tertawa lah sampai puas!" sentak Bella membuka pintu mobil tanpa basa-basi. Jerry menggeleng geli melihat tingkahnya itu. Raut masam wajah Bella tertutupi oleh wajah lelah yang tak dapat disembunyikannya. "Mau makan apa Nyonya?" goda Jerry terkekeh, nampaknya dia belum bisa menghentikan rasa gelinya melihat nasib sahabatnya itu. "Apa aja deh terserah, kamu 'kan tau aku pemakan segalanya." "Oke, kita makan burung bakar ya. Aku ada tempat langganan yang enak banget." Tiba-tiba Bella tertawa lepas, entah apa yang menurutnya lucu sampai dia lupa sedang sewot dengan pemuda itu. "Kenapa sih kok ketawa?" tanya Jerry heran. Sejenak Bella terdiam, "Ah gapapa ... Hem!" Meskipun sudah berhenti tertawa tapi raut wajahnya masih menampakkan mimik lucu. Tiba-tiba mata Jerry menyipit melirik padanya, "Karena burung bakar?" Tak ayal Bella kembali terpingkal, susah payah dia menetralkan perasaan gelinya malah ditegaskan oleh Jerry. Meskipun merasa heran dimana letak kelucuannya, nyatanya pemuda itu juga ikut tertawa. "Oke stop … nanti aku gak konsen nyetir," pinta Jerry masih setengah terkekeh. "Iya," sahut Bella langsung terdiam. Jerry mulai bertanya ketika keadaan sudah hening, "Besok kamu ngikutin Pak Radit lagi?" Bella menghela, "Iya lah! Mau bagaimana lagi?" "Apa kamu gak bisa kompromi gitu? Misal dihapus kek postingannya, di akun Instagramku sudah gak ada postingannya. Aku takut dia bakal komentar yang aneh-aneh." "Aku sudah bilang mau menghapus postingannya tapi dia tetep kekeh gak mau damai. Dia minta royalti karena sudah menggunakan dia sebagai model." "Gila aja! Kalau kamu biarin bakal sengsara ngikutin dia mulu!" "Ah entahlah! Tadi aja aku nungguin dia cek-in di hotel, tiga jam! Bayangin aja mana perut lapar," keluh Bella. "Kamu nungguin dia di hotel?" tanya Jerry hampir berteriak. "Iya, pas keluar rambutnya udah kusut, lehernya sudah bercap merah." "Gak aneh kalau itu sih, dia memang suka ngajak model-model itu cek-in, gak ada satupun model yang gak pernah tidur sama dia." Bella langsung melotot, "Serius?" "Iyalah! Sebab itu kamu mesti hati-hati," himbau Jerry. Bella mendadak terkekeh, "Mana mungkin dia nafsu ngeliat aku … kamu gak liat bentukan aku kayak gimana?" "Kamu tetap perempuan kalau kepepet mungkin dihajar juga sama dia!" "Ngaco kamu!" sergah Bella, "kalau bentukan aku glowing kayak editan yang aku buat sih mungkin iya! Lah ini, boro-boro mulus— kinclong aja nggak!" "Tapi kamu cantik," cetus Jerry dengan senyum tipis tersungging. Bella langsung terdiam, senyum miris tergambar di wajahnya yang lelah. Setelah lumayan lama berjalan akhirnya Jerry menghentikan mobilnya di depan Food Truck unik berwarna coklat. Aroma gurih menyergap indera penciuman Bella membuat rasa lapar itu kian merajalela. Setelah memesan menu yang mereka pilih, keduanya memilih meja yang kosong. "Aku sering makan di sini sendirian," ujar Jerry. "Memangnya kamu gak punya pacar?" "Punya, tapi dia gak sadar kalau aku menganggap dia pacar." Jerry tersenyum tipis menatap Bella dari samping. Dengan acuh tak acuh Bella menjawab, "Kasian banget!" Matanya sibuk memperhatikan si penjual burung bakar mengolah pesanan mereka. "Lama ya? Aku sudah lapar berat!" Jerry menggeleng seraya menyentak tawa kecil. "Kenapa gak beli makan sendiri tadi?" "Aku gak punya uang, gimana mau makan?" Gemeretak gigi rapinya terdengar jelas, sepertinya dia sangat kesal dengan sikap Radit. "Kamu sama sekali gak nyimpan uang di rumah?" "Mana ada, Kak Mila cuma ngasih buat belanja lima puluh ribu itupun aku sisip-sisip buat jajan anak-anak." "Bella-Bella … pantas kamu pengen banget bisa kerja dari rumah." Bella hanya mengangguk pelan. Betapa miris kehidupan Bella bergelut dengan kesibukan rumah dan mengurus anak. Tak heran jika dia tak mampu melonggarkan pikiran untuk belajar menulis dengan benar. Dari mengurus anak, mengantar sekolah hingga segala t***k-bengek pekerjaan rumah dia yang mengurus. Padahal jika dia mau memprotes para penghuni lainnya bisa saja, tapi dia merasa percuma saja karena para penghuni lainnya tidak peduli tentang kesulitannya. Di tengah aktivitas makan ponsel Bella berbunyi, notifikasi w******p masuk: Gak usah pulang sekalian! Kalau kamu pulang aku bakal teriakin maling biar heboh satu gang ini. Bella bergidik ngeri membaca pesan tersebut pasalnya kakak iparnya tidak pernah main-main soal ancaman. "Hah, masa aku harus tidur di jalan?!" gumamnya pelan. "Hah! Ngapain tidur di jalan?" tanya Jerry mendengar gumamnya. "Entah Jer! Sial banget sih aku hari ini," desahnya frustasi. "Kakak kamu marah ya?!" "Pastilah! Dari pagi aku ngilang sampai tengah malam gini," sahutnya sedikit menyentak. "Ya udah, kamu tidur di rumah aku aja." "Memangnya keluargamu gak marah?" "Aku tinggal sendirian di kosan, ya itu cuma ada satu tempat tidur tapi cukup luas kok buat berdua." "Ah oke, tenang aja aku gak grasak-grusuk kok kalau tidur." Jerry terkekeh mendengarnya. "Kamu gak takut gitu aku apa-apain?" "Memangnya kamu mau ngapain?" "Ya … cewek sama cowok dalam satu kamar gitu?!" "Aku tau kamu gak bakal nafsu liat aku jadi santai aja." Jerry terpingkal mendengar selorohan Bella, bagaimana mungkin dia bisa setenang itu akan tidur satu kamar bersama seorang lelaki. "Kamu bener-bener manusia tersantuy sejagat raya." "Bukan santuy tapi sadar diri, lelaki bego mana yang bakal tergoda dengan perempuan kucel plush kurus kering kayak aku. Kamu pasti mikir seribu kali, apalagi aku emak-emak beranak empat. Gak ada sisi menariknya sama sekali, yakan?!" Jerry hanya berdehem mengusap tengkuknya, mungkin ada makna dibalik sikapnya itu hanya saja Bella bukan orang yang mudah peka dengan gelagat yang ditunjukkan orang lain kepadanya. Sikapnya yang cuek serta sifatnya yang acuh tak acuh membuat kesan sembrono itu terlihat semakin sempurna untuk image dirinya. Sangat berbeda jauh dengan karakter novel yang dia buat, dimana si cewek adalah sosok yang sempurna dan amat dicintai oleh si karakter cowok. Malam semakin larut, Jerry bergegas mengajak Bella beranjak untuk pulang ke kosannya. "Ntar aku bayar dulu," ucapnya sambil beranjak. Bella merasa sangat bersyukur bisa bertemu Jerry disaat musibah yang sedang menimpanya menenggelamkan kepercayaan dirinya. Baru dua hari dia bertemu Radit tapi lelaki itu sudah berhasil menjatuhkan mentalnya. Radit benar-benar menumpahkan kekesalannya tanpa ampun, tanpa kompromi dan termasuk sangat tega. Tahanan penjara saja diberi makan sementara dia sama sekali tak mendapatkannya padahal masalah ini tak sepenuhnya salah dirinya. Untuk pertama Kalinya Bella berada dalam kamar seorang lelaki asing meskipun sudah lama mengenalnya di dunia maya. Dia merasa tidak memiliki pilihan lain, yang ada dalam pikirannya saat ini yang penting bisa tidur karena besok dia harus kembali bergelut dengan aktivitas si Influencer tega tersebut. "Kamu mau mandi?" tanya Jerry menuntaskan lamunan Bella. "Sudah malam begini mandi?" Jerry tertawa, "Ya mana tau kamu gerah." "Kamar ini full AC iya kali gerah!" Sungut Bella, "BTW besok aku pake baju apa ya?!" "Besok kamu dijemput dia?" "Nggak aku pergi sendiri," jawab Bella. "Besok kita ke butik temen aku aja, Deket kok dari sini." Bella mengerutkan dahi, "Memangnya sudah buka pagi buta?" "Gampang tinggal gedor aja." Bella menjawab, "Oh okelah!" Sudah enggan rasanya Bella mengobrol karena matanya sudah sulit tersinkron dengan isi kepalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD