Tanda Merah

1150 Words
Paginya setelah mendapat baju baru Bella pergi ke rumah Radit dengan diantar oleh Jerry. "Aku langsung gass ya, soalnya ada konten di lapangan golf. Nanti siang kalau aku gak sempat ke kantor kamu beli aja makanan sendiri." "Aku gak punya uang," jawab Bella apa adanya. Bersamaan itu Jerry ternyata sudah membuka dompet dan memberi Bella tiga lembar uang merah. "Banyak banget Jer?" "Buat pegangan kamu, jangan sampai gak makan. Oke!" Sebenarnya Bella segan menerimanya tapi memang benar dia butuh pegangan untuk menghadapi hari ini. "Terima kasih ya?! Nanti aku ganti kalau sudah punya uang." "Sudahlah gak usah dipikirin yang penting kamu fokus aja sama tugas yang bakal dikasih sama Pak Radit nanti." "Oke, aku turun ya?!" Pamitnya bergegas menuju gerbang megah rumah Radit. Rumah yang dijaga beberapa satpam itu terlihat sepi meskipun di dalamnya ada beberapa pembantu rumah tangga yang bekerja di sana. "Pagi Pak!" sapa Bella kepada satpam yang berdiri di pinggir pintu pagar. "Pagi Non! Silahkan masuk," balas si Satpam dengan sopan seolah Bella adalah tamu penting. Di dalam dia disambut oleh salah satu pembantu yang menyampaikan pesan kepada Bella kalau dia harus membangunkan Radit begitu sampai. Tak banyak membuang waktu, Bella langsung menuju kamar Radit. Wajah polos itu masih terlelap dengan anggun di dalam selimut tebalnya. Bibir mulusnya merekah menggoda iman siapa saja yang melihatnya kecuali Bella. Perempuan itu seakan ingin menikam si lelaki sampai meregang nyawa. Ketampanan Radit tidak ada arti baginya mengingat sifat buruk lelaki itu terhadapnya. Meskipun kesal tapi dia tetap harus melaksanakan tugas. Perlahan dia mendekat, menepuk lembut lengan Radit. "Pak, bangun udah pagi." Berulang kali Bella melakukan cara yang sama, bukannya bangun Radit malah menggeliat sampai selimutnya terbuka. Mata Bella spontan membelalak melihat penampakan tubuh polos itu tak mengenakan baju, praktis d**a bidang itu terpampang nyata di hadapannya. Kali ini tangan Bella harus menyentuh kulit Radit karena dia tak memiliki pilihan lain. "Pak bangun sudah pagi," ulang Bella dengan kata yang sama sejak tadi. Lagi-lagi Radit hanya menggeliat seraya mengeluarkan suara rengekan seksi yang bakal membuat jantung berdebar. Tapi lagi-lagi Bella malah merasa kesal dengan tingkah bosnya itu akhirnya dia habis kesabaran dan membentak lelaki itu agar segera bangun. Entah karena terkejut atau memang lagi enak bermimpi, Radit malah menarik tangan Bella hingga perempuan itu jatuh kedalam pelukannya. Terang saja Bella langsung memberontak, tapi apa yang dilakukan Radit— dia malah mendaratkan ciuman brutal ke bibir Bella. Bella berusaha melepas kecupan itu namun anehnya tenaga Radit terlalu kuat untuk ukuran orang yang lagi melindur. Beberapa kali dia mencoba tetap tidak bisa melepaskan diri dari pagutan Radit, sampai akhirnya pemuda itu melepaskan bibirnya dan meluncur secepat kilat ke lehernya meninggalkan jejak merah di sana. Tak ayal Bella berteriak sambil memberontak membuat Radit melepaskannya dan menggeser tubuhnya dari atas tubuh Bella lalu kembali ke posisi semula seolah tak terjadi apa-apa. Bella bergegas beranjak dari tempat tidur menuju kaca besar yang biasa dipakai Radit untuk melihat detail tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Bella memanas ketika lehernya mendapat tanda merah kecoklatan meskipun tidak terlalu jelas namun jelas akan mengundang pertanyaan bagi yang memahami tanda tersebut. Dia menoleh ke arah Radit yang tengah terpejam dengan d**a telanjang namun bagian bawah menggunakan celana kantor rapi dengan ikat pinggang. Sejenak Bella berpikir, "Aneh banget sih! Masa dia tidur pake celana rapi? Perasaan kemarin dia gak pake celana itu deh!" Namun Bella tak peduli dengan keanehan itu, sekonyong-konyong dia meluapkan amarah dengan menarik selimut yang tertimpa tubuh Radit sambil berteriak, "Bangun Pak!!! Lihat apa yang Bapak lakukan terhadap saya!" Radit tersentak karena otomatis tubuhnya terlontar saat Bella menarik selimutnya. "Apaan sih kamu? Gak sopan banget!" teriaknya seraya menatap tajam mata Bella. "Jangan pura-pura bego Pak!" Radit langsung beranjak mendekati Bella, "Apa kamu bilang?! Saya bego?" Bella langsung terdiam seketika menyadari kelancangannya. "Anu … bukan begitu maksud saya. Tapi Bapak mencium saya sampe leher saya merah." Wajah Bella terasa merah padam karena malu. "Saya memang suka mengigau! Seharusnya kamu merasa beruntung bisa mencicipi bibir saya, sebaliknya saya bakal kehilangan selera makan berhari-hari akibat bersentuhan dengan bibir buluk kamu itu!" cerocos Radit. Bella memilih mengalah dan meminta pulang karena dia memiliki alasan yang cukup jelas. "Saya malu berjalan kemana-mana dengan kondisi leher seperti ini. Jadi saya permisi pulang Pak." Dengan cepat Radit menarik kerah baju Bella. "Siapa bilang kamu boleh pulang! Gak usah lebay deh, apa kamu gak pernah dapet yang begituan dari suami kamu, hah!" "Sa—" Entah kenapa Bella tak mau melanjutkan ucapannya. "Apa!" sentak Radit, "gak usah ke GR-an ya?! Jangan kamu pikir saya sengaja melakukan itu." Bella membeku di tempatnya berdiri lelaki egois itu benar-benar menguras kesabarannya. "Baik Pak, mau kemana kita?" "Kamu bisa menyetir?" "Saya gak punya mobil." "Ah jelas saja penulis modal nekat kayak kamu mana mungkin punya mobil." Bella hanya tersenyum lirih, "Ya kasihan sekali nasib saya." Radit mendengus kesal seraya melenggang menghampiri lemari pakaiannya yang super besar. Dia sibuk memilih kemeja yang akan dikenakan olehnya sementara Bella sibuk memperhatikannya. Ia heran kenapa Radit tidak mengganti celananya bahkan dia langsung memakai baju sebelum mandi. Kemudian dia memberanikan diri untuk bertanya, "Bapak gak mandi dulu?" "Bukan urusan kamu!" "Tapi celana itu 'kan habis Bapak pake tidur," sanggahnya mengingatkan mana tau Radit lupa. "Celana ini baru saya pakai tadi!" Tiba-tiba dia langsung terdiam, terlebih melihat mata Bella mendelik. "Saya ketiduran nungguin kamu memangnya kenapa? Ada yang aneh?" "Ah nggak kok! Cuma memberitahu takutnya Bapak lupa." Tanpa curiga Bella langsung mempercayai omongan Radit. "Mana mungkin dia pura-pura tidur dan sengaja nyium aku." Selesai mengganti baju Radit menggiring Bella ke meja makan tanpa berkata apapun. Kemudian duduk dan bertanya, "Kamu bisa masak?" "Bisa," jawabnya cepat. "Pastilah bisa karena kamu memang mak-mak yang tiap hari harus masak." Bella berdiri mematung memperhatikan Radit makan. Makanan yang terhidang di atas meja makan cukup banyak kalau untuk perut Radit sendirian. "Buset udah kayak hidangan pesta ya?!" batinnya. Untung saja dia sudah sarapan bersama Jerry tadi kalau tidak pasti cacing di perutnya akan meronta-ronta. "Kamu sudah mandi dan menggunakan baju baru bukan?" "Iya Pak!" "Duduk, jangan sampe sohib kamu itu komplain lagi karena saya gak ngasih kamu makan." "Jerry komplain sama Pak Radit?" Pikirannya mengarah ke dugaan kalau Jerry pasti menghubungi Radit sebelum mereka berangkat. "Kenapa kamu bengong? Duduk dan makan apapun yang mau kamu makan." "Terima kasih Pak! Tapi saya sudah sarapan tadi," tolak Bella. "Kamu benar-benar tidak bisa menghargai niat baik orang ya?! Saya sudah berbaik hati menyuruh pembantu saya menyiapkan semua ini!" Matanya menyorotkan binar emosi mendengar penolakan Bella. Seketika Bella terhenyak, "Jadi dia menyiapkan semua ini buat aku?" Tiba-tiba Radit berdiri setelah menghempaskan sendok dan garpu ke meja. Bella buru-buru menghalau, "Kok udahan makannya Pak, makanan di piring masih banyak." "Selera makan saya sudah hilang!" "Apa karena bibir saya?" Tanpa melihat situasi Bella malah mengungkit omongan Radit tadi. "Kamu—" Gigi rapinya gemeretak tanda jengkel dengan ucapan Bella. "Sudahlah ayo berangkat." "Tapi—" "Cepat!" Bella buru-buru bergerak cepat sebelum si lelaki pemarah itu kembali berteriak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD