Di kantor, Bella terus menarik kerah kemejanya ke atas agar bisa menutupi tanda merah yang baru disematkan oleh Radit. "Berabe kalau sampai orang sini tau," gumamnya.
Sedang sibuk-sibuknya berjibaku dengan kerah baju tiba-tiba Puput datang, "Dar!" kejutnya membuat Bella terhenyak.
"Ngagetin aja sih Kak ... ya ampun!" teriak Bella spontan.
"Kamu lagi melamun ya?! Masa gitu aja kaget?" Puput menyodorkan kopi kemasan kaleng padanya.
"Hahaha," tawanya melepas kecanggungan. "Setiap saat aku harus siap siaga jadi terlalu fokus Kak."
"Ya ampun Bella! Kamu itu asisten Pak Radit bukan asisten Presiden … ngapain kudu siaga penuh?"
Bella tertawa kecil sebelum menjawab, "Mungkin lebih mudah mengawal Presiden karena segala sesuatu terencana dengan baik."
Puput hanya menggeleng, meskipun dia tak pernah tau latar belakang kenapa Bella bisa menjadi asisten bosnya itu. Selama ini Radit memang tak pernah memiliki asisten ataupun sekretaris, dia lebih suka mengatur sendiri pekerjaannya.
"Seger!" ujar Bella, "Makasih ya Kak?!"
Puput tersenyum lebar, "Sama-sama."
"Hari ini gak ada jadwal ya Kak?"
"Ada sih tapi sore, biasalah syuting buat iklan produk."
"Hem," Bella hanya mengangguk. Pandangannya lurus ke arah luar memandangi padatnya lalu lintas di pagi menjelang siang ini.
"Eh iya, Minggu depan aku ulang tahun datang ya?" tutur Puput mengundang Bella.
"Aku diundang?"
"Ya iyalah! 'Kan aku udah bilang nyuruh datang, gimana sih kamu?!"
"Hehe Maaf Kak lagi gak konsen," jawabnya polos.
Selama ini Puput tak pernah bertemu dengan orang setulus Bella. Caranya memandang, tutur katanya yang kaku serta senyumnya yang natural membuat Puput senang bisa kedatangan orang baru yang membuatnya lebih semangat datang ke kantor. Selama ini kantor itu bak mesin pembuat permen, dimana yang manis-manis bertebaran namun jika terlalu sering memakannya bisa-bisa gigi menjadi bolong. Sama halnya dengan apa yang dirasakan Puput selama bekerja di sana, para model itu cantik jika untuk ukuran orang-orang yang menyukai kepalsuan.
"Jam berapa dan dimana tempatnya Kak?" tanya Bella membelah lamunan Puput.
"Di Phoenix club, mulai jam sepuluh malam."
"Busyet malam amat! Aku gak bisa kayaknya."
Puput langsung berkomentar, "Anak mami ya kamu? Masa gak bisa keluar malam."
Bella berpikir kemarin saja dia sudah dilarang pulang apalagi sampai pergi ke club malam. "Kalau ketemu Kak Mila gimana?" gumamnya pelan.
"Siapa?" Puput langsung menyela.
"Ah nggak … lihat nanti ya Kak?"
"Oke," sahutnya, "tapi kamu harus datang, soalnya aku gak punya temen buat nemenin potong kue."
"Memangnya Kakak gak punya pacar?"
Puput langsung tertawa kemudian menjawab, "Aku janda anak satu gak punya waktu buat pacaran! Fokus ngidupin anak ajalah Bel!"
Dalam hati Bella menyimpan kekaguman kepada Puput namun ia jadi berpikir kalau Puput juga pernah tidur sama bosnya itu.
"Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu? Risih ya karena aku janda?"
Bella buru-buru menampik, "Nggak kok! Kagum malah Kakak lebih mementingkan anak. Aku juga punya anak empat kok!"
Puput terkejut setengah mati mendengar pengakuan Bella, pasalnya dia merasa Bella belum terlalu matang untung ukuran wanita beranak empat. "Awet muda kamu ya?!"
Bella menjawab setelah menelan kopi rasa karamel pemberian Puput tadi. "Apanya yang awet muda? Pada bilang kayak nenek-nenek!"
"Apa kamu kesulitan ekonomi?"
"Yah begitulah Kak, dua anakku bapaknya sudah meninggal yang dua lagi pergi entah kemana dan aku menganggap mereka sudah mati!"
"Tunggu! Kok mereka? Memangnya bapaknya ada berapa?"
"Tiga, anak pertama dan kedua bapaknya meninggal, yang ketiga gak tau kemana tapi suka ngasih aku uang buat anaknya. Yang keempat bener-bener gak tau dimana rimbanya."
Puput semakin terkejut mendengarnya. "Busyet dan kamu masih mau cari bapak lain untuk anak-anakmu?"
"Ah nggaklah lagian aku takut menikah. Aku gak mau kelak anak-anakku mengalami nasib yang sama."
Ada yang janggal dengan ucapan Bella namun Puput kurang memahami dimana letak ganjilnya. Sekilas nampak biasa saja ungkapan itu tapi bila dia memahami lebih jauh terasa ada yang aneh. "Maksud kamu? Bukannya nasib mereka sudah malang?"
Hembusan pasrah nafas Bella terdengar penuh tekanan. "Mangkanya itu aku gak mau nikah!"
"Yakin? Ya mana tau nanti dapat lelaki yang baik."
"Gak berharap sama sekali," sahut Bella datar.
Kelebat Radit tiba-tiba muncul melewati mereka melenggang ke arah mesin foto kopi.
"Tumben dia gak nyuruh aku," gumam Bella.
"Radit itu aslinya mandiri banget malah dia malas terlibat terlalu intens sama orang lain kecuali untuk urusan Bobo bareng. Tapi sebatas itu saja terus gak berlanjut, entah kapan berakhirnya kebiasaan buruknya itu."
"Kakak dekat ya sama dia?"
"Gak juga, cuma dia memang gak berani membantah kalau aku sudah marah. Sebab itu model-model disini gak suka sama aku. Mereka menganggapku saingan yang akan merebut hati Radit."
"Karena mereka menganggap Kakak saingan berat?"
"Ya begitulah, pesaing itu— saat kita lemah mereka bakal mengolok-olok kekurangan kita bahkan mengucilkan kita dari kelompok. Tapi begitu kita sudah bisa melampaui mereka maka mereka akan menganggap kita saingan bahkan musuh. Kemajuan apapun yang kau raih tidak akan membuatmu diterima dalam komunitas karena kau dianggap sebagai ancaman atau objek kompetisi."
Bella terkesan dengan uraian Puput sebagai penulis amatir kata-kata semacam itu menjadi motivasi tersendiri baginya. Saat dia berlari kesana-kemari mencari pencerahan tidak ada satupun yang mau berbagi ilmu dengannya. Mereka mengolok ketidakmampuan Bella dalam menemukan mentor karena dianggap kurang kompeten. Bahkan mereka berkomentar dengan nada sumbang, menganggap diri paling pintar lantaran sudah berhasil mendulang popularitas.
"Aku merasakan itu, padahal aku pribadi gak pernah menganggap siapapun sebagai saingan. Aku tulus memberikan apresiasi apapun tanpa mengharap imbalan. Tapi mereka selalu menganggap aku hanya manusia yang bisa dimanfaatkan saja. Semua seperti itu, di lingkup dunia sosial media maupun dunia nyata."
Puput mengerutkan dahi, "Kamu Miss Sosmed?"
Bella Yang tadinya mellow mendadak jadi terpingkal, "Bukanlah Kak, tapi aku bisa mengedit. Banyak teman minta editin foto salah satunya Jerry, dia sering membeli hasil karyaku."
"Oh ya? Wah hebat kamu, gak nyangka aku. Maulah di editin nanti aku bayar."
Mata Bella langsung berbinar, "Serius Kak?" Bella langsung mengeluarkan ponsel yang tergolong cukup mahal untuk emak-emak yang memiliki keterbatasan ekonomi seperti dirinya.
"Wuih keren HP kamu," komentar Puput terpana.
Bella tersipu, "Iya dibelikan Jerry … dia juga belikan aku laptop buat nulis."
Puput langsung terkesima mendengar pengakuannya. Bagaimana mungkin Jerry yang mengaku tak pernah bertemu Bella bisa membelikan barang-barang yang tergolong mewah untuk ukuran perempuan berstatus janda anak empat tersebut. "Jerry penyuka janda ternyata," goda Puput tertawa terbahak-bahak.
Bella ikut terpingkal mendengar celotehan perempuan cantik itu. Satu-satunya perempuan yang tak meliriknya sebelah mata saat berpapasan, langsung ramah di kali pertama mereka bertemu. Dan yang paling membuat Bella terkesan adalah kesederhanaan Puput yang terlihat sangat berkelas tanpa perlu berpenampilan glamor seperti yang lainnya.
"Kenapa kamu tertawa seperti itu?" tanya Radit tiba-tiba muncul sambil memegang beberapa lembar kertas.
Bella langsung menoleh, "Ah maaf Pak, kami cuma ngobrol aja."
"Enak ya bisa ngobrol! Masuk ke ruangan saya sekarang!"
Tanpa membantah Bella mengikuti langkah Radit setelah melempar mimik wajah konyol kepada Puput. Tak ayal Puput terkekeh melihat tingkah kocaknya itu.
"Robek semua kertas itu dan masukkan ke tong sampah!" perintah Radit seraya menunjuk tumpukkan kertas diatas meja.
"Baik Pak!" Bella duduk lesehan menghindari kemarahan Radit yang akan membuatnya sakit hati bila duduk di sofa. Ia sudah bisa menebak Radit tidak akan suka sofanya terkontaminasi dengan jejak celana jeans Bella.
"Kenapa kamu duduk di lantai? Apa fungsinya sofa itu!"
"Hadeh salah lagi," gumam Bella mengeluh.
"Apa kamu bilang?" bentak Radit mendengar gerutuan Bella.
"Ah nggak Pak, maaf!" ucap Bella beranjak ke sofa dan mulai menjalani perintah.
Radit duduk dengan tenang di meja kebesarannya tak lama Cherry datang dan langsung menghampiri Radit. Dia menggoda pemuda itu dengan rengekan manja diikuti oleh Gimmick Bella menirukan rengekan itu tanpa bersuara. Diam-diam Radit memperhatikan tingkahnya itu, ia merasa geli namun pura-pura tak melihat.
"Aku free malam ini kalau kamu mau ngajak seneng-seneng," rengek Cherry. Saat ini dia menjajaki tahta tertinggi untuk wanita yang kerap tidur bareng Radit.
"Aku banyak kerjaan dirumah sorry lain kali aja," tolaknya setelah lelah mendengar kata-kata godaan Cherry.
"Kerjaan apa sih? Memangnya di rumah kamu gak punya pembantu apa?"
Seketika Bella mematung, "Loh memangnya dia gak pernah diajak ke rumah Pak Radit apa? Kasihan kalah sama aku yang sekelas kotoran kebo ini!" Entah kenapa Bella mendadak tertawa terbahak-bahak setelah bergumam dalam hati.
Mereka mendadak terdiam, kompak memandang heran ke arah Bella membuat perempuan itu menyadari tingkah kocaknya yang tak disengaja itu akan mengundang kemarahan Radit. Dia buru-buru meminta maaf agar Radit tidak salah paham dan berkilah kalau ia tengah memikirkan scene lucu untuk novelnya.
"Scene lucu?" Cherry mengerutkan dahi.
"Iya karena saya lagi memikirkan adegan untuk bab baru yang mau aku update nanti."
"Kamu penulis?" tanya Cherry sedikit mengejek.
Bella menjawab dengan nada remeh, "Ya begitulah, baru mau merintis jadi gak terkenal dan gak bagus-bagus amat ceritanya jadi tak perlu membaca."
Cherry tertawa sambil memicingkan mata, "Ya iyalah! Kalau terkenal juga gak mungkin kamu jadi kacungnya Radit 'Kan?"
Bella membalas ejekan itu dengan santai, "Ya setidaknya saya tidak perlu merengek untuk berada dalam jarak dekat setiap saat sama dia!"
Kali ini tawa Cherry seperti dah kehilangan power, dia tertawa hanya untuk menutupi kekesalan karena merasa sudah diremehkan oleh perempuan yang kelasnya jauh berada di bawahnya. "Jadi kacung bangga ya?!"
"Gak bangga juga sih apalagi saya harus buru-buru datang ke rumah Pak Radit pagi-pagi buat bangunin dia. Kamarnya yang super besar dengan tempat tidur mewah bikin saya capek berjalan dari pintu ke tempat tidur. Belum lagi kebiasaan buruknya itu mengigau sambil mencipok orang!"
Mata Radit melotot mendengar ucapan Bella. Dia tak menyangka Bella bisa seberani itu mengungkapkan kejadian tadi pagi.
Kali ini Cherry tak dapat lagi tertawa sebaliknya dia dirasuki perasaan cemburu. "Gak sopan banget sih dia berkata yang bukan-bukan di depan bosnya!" Cherry merengek kepada Radit berharap Radit akan memarahinya.
Melihat Radit tak bergeming Bella malah semakin gencar memanasi Cherry. Dia berfikir ini kesempatan untuk menerima pemecatan. Bella beranjak mendekati Cherry dengan cuek dia menunjukkan tanda merah di lehernya yang sejak tadi berusaha ia tutupi. "Ini buktinya ... kalau gak percaya tanya aja sama Pak Radit."
Cherry mendelik nafasnya tersengal menahan marah. Dia menarik rambut panjang Bella yang berantakan seperti tidak pernah disisir. Tak ayal keributan pun terjadi, pekik riuh suara kedua perempuan itu membuat Radit emosi.
"Diam …!" raung Radit seketika membuat keduanya terdiam. "Ingat gak ada ikatan perasaan diantara kita, Cherry! Hanya sebatas ranjang kau mengerti?!"
Mendengar ungkapan lantang itu Bella membelalak, harapannya untuk dipecat sepertinya akan sia-sia. "Matilah aku! Roman-romannya nasibku selanjutnya bakal lebih parah ini!" ringisnya dalam hati ketika melayangkan pandangan mengikuti arah langkah Cherry menuju pintu untuk keluar dari ruangan itu.