"Kenapa kamu mengatakan semua itu? Bukannya kamu bilang malu keliaran dengan leher merah begitu?" sergap Radit ketika Cherry sudah keluar dari ruangannya.
Bella menjawab dengan santai, "Kirain kalau ngomong kayak gitu bakalan di pecat." Kakinya melangkah kembali ke sofa untuk melanjutkan aktivitasnya.
"Memangnya kamu bekerja sama saya? Kamu itu tahanan mengerti! Jadi kalau kamu bertingkah hukumanmu bakal semakin berat, camkan itu!"
"Iya-iya Pak saya camkan!" sahut Bella acuh tak acuh.
Sebetulnya Radit masih ingin beradu mulut sama Bella tapi melihat sikapnya itu membuatnya enggan melanjutkan. Radit duduk sambil menggerakkan kursinya kesana-kemari memikirkan sesuatu yang mungkin akan merubah kehidupan penulis amatir tersebut.
Dia bertanya, "Kamu masih melanjutkan novel itu?"
Bella menjawab dengan sindiran pedas, "Saya belum bisa melanjutkan selagi belum merevisi karakter utama lelakinya."
Seketika Radit memutar haluan kursinya mengarah ke Bella, "Merevisi apa?" tanyanya untuk memastikan jawaban Bella tadi.
"Tokoh … saya harus mengganti tokoh utama cowok untuk bahan promosi. Saya tidak mau mengambil resiko lagi akhirnya saya memilih Jerry untuk menggantikan karakter cowoknya."
Entah kenapa terselip rasa kecewa dalam hati Radit seolah ia tidak rela posisinya digantikan oleh Jerry. Pemuda itu memang selalu membayangi aktivitasnya dalam lingkup sosial media. Ya, meskipun tak dapat dipungkiri Jerry adalah salah satu anak didiknya yang berhasil mendulang penghasilan melimpah dari jagat sosial media. "Oh baguslah!" sahutnya pelan kemudian kembali memutar kursinya membelakangi Bella.
"Pastinya karena Jerry tidak mungkin tega menuntut penulis kere kayak saya."
Spontan Radit berang dan langsung beranjak untuk menghardik Bella tapi apesnya dia malah terjungkal karena kakinya tersandung diantara roda kursi. Bella terkikik melihat tingkah lelaki itu tak sedikitpun ia berniat membantu Radit atau sekedar bertanya. Dia berpura-pura tidak melihat kejadian itu.
"Sukurin, emang enak?!" Cemooh Bella dalam hati.
Untuk menghilangkan malu Radit akhirnya mengajak Bella makan siang, berharap aksi heroiknya mentraktir perempuan itu makan bisa mengembalikan kharismanya yang sempat ternistakan. Sebuah lesehan di pinggir kota menjadi pilihan Radit karena mereka juga harus menjalani proses syuting di dekat lokasi tersebut.
"Serius nih Bapak mau traktir saya? Kalau nggak juga gapapa soalnya saya juga dikasih uang tadi sama Jerry. Saya bisa bayar sendiri."
"Bangga banget ya kamu dikasih cowok duit? Pake dipamer-pamerin segala."
Dahi Bella mengerut heran kemudian dia mengeluarkan uang tersebut seraya mengibas-ibaskan di depan wajah Radit. "Ini baru pamer namanya Pak! Saya cuma nanya kenapa Bapak marah?"
Radit langsung mencibir dengan gaya khas artis sosial media yang sedang viral, "Kamu nanyeak? Iya? Kamu bertanya-tanya?" Bibirnya mengeriting mencibir Bella.
"Dih!" Raut wajahnya tak kalah menggelikan dari mimik Radit.
Alih-alih ingin mengembalikan kharismanya malah terlihat semakin konyol di depan Bella. Bahkan ia melupakan kata-katanya pagi tadi kalau nafsu makannya akan hilang selama berhari-hari setelah mencium bibir Bella tadi. Tapi nyatanya dia makan seperti orang kerasukan karena bawaan kesal yang tak tersalurkan.
"Kayaknya bibir saya ampuh buat vitamin penambah selera makan." Bella sengaja menyindir Radit agar lelaki itu semakin kesal dan menyudahi masa tahanan ini dengan cepat. "Lihat aja aku bakal bikin kamu gak betah dekat-dekat sama aku." batinnya.
"Terserah kamu mau ngomong apa!" ucap Radit cuek.
Setelah selesai makan mereka pergi ke lokasi syuting dimana Puput dan Jerry sudah standby di sana. Kali ini sebuah pusat pemancingan keluarga paling populer yang menjadi client mereka untuk mempromosikan penawaran terbaru tempat itu. Bukan main senangnya Bella melihat wajah Jerry sore ini. Dengan penuh semangat dia menghampiri Jerry yang tengah sibuk membaca skrip.
"Wah rame job ya?" goda Bella dengan senyum berbinar cerah.
Jerry terkekeh melihat tingkah Bella. "Capek Bel tapi senang karena ini memang hobiku."
"Itu dia, kita pasti bakal merasa senang menjalani pekerjaan yang sesuai hobi." Bella tertunduk mengingat naskahnya yang harus terbengkalai karena meladeni kegilaan Radit.
"Kenapa jadi murung?" tanya Jerry seraya mengangkat dagu Bella.
"Aku bingung nanti malam pulang ke rumah bakal diusir lagi gak ya?!"
"Sudah tenang aja kamu bebas tinggal di kosan aku. Masalah baju nanti pulang syuting kita beli ya."
Antara senang dan sedih Bella gamang harus beraksi seperti apa. Terlalu banyak uang Jerry yang sudah dia telan padahal mereka tak memiliki hubungan khusus selain persahabatan yang berawal dari sosial media. "Aku malu ngerepotin kamu terus, hutang yang lalu-lalu aja belum dibayar."
"Gampanglah, nanti kalau kamu sudah berhasil baru deh mikirin hutang."
Tanpa mereka sadari Radit tengah sibuk mencibir kemanisan momen itu dengan melakukan hal yang Bella lakukan saat mencibir Cherry. Dari kejauhan Puput hanya bisa terkekeh melihat tingkahnya. Selama ini Radit terkenal dengan sikap arogan dan sombong, selalu menonjolkan diri sendiri agar orang tahu betapa hebatnya dia. Meskipun tanpa ditonjolkan pun orang pastinya tau kepiawaiannya dalam menghandle apapun selalu sukses.
"Cepat hafalkan itu gak usah banyak ngobrol! Saya gak mau menghabiskan terlalu banyak waktu yang gak berguna." Radit mengoceh untuk memisahkan Bella dan Jerry dari momen sweet tersebut.
Jerry memahami maksud bosnya itu jadi dia menyuruh Bella untuk duduk di salah satu pondok tak jauh dari sana. Bella melenggang menuju pondok yang ditunjuk Jerry dengan diikuti Radit. Di sana Bella mulai mengotak-atik aplikasi mengeditnya hanya untuk membunuh waktu. Tiba-tiba pandangan Radit teralihkan pada folder yang menyimpan beberapa gambar sebagai bahan mentahan untuk Bella mengedit.
"Kamu dapat dari mana foto itu?"
"Pintress," sahutnya cuek.
Radit tertawa tipis kemudian merogoh saku celananya untuk mengeluarkan ponsel dan menunjukan folder kamera pada galeri ponselnya. "Itu foto saya." Radit menunjukan bukti nyata bahwa gambar asli yang Bella pakai untuk editan video AI-nya adalah memang foto Radit.
Mata Bella membelalak sempurna dengan mulut menganga. "Kok bisa foto Bapak ada di pintress? Bapak beneran artis?"
"Seharusnya saya yang nanya kenapa dari sekian banyak foto pria tampan di sana kamu memilih foto saya."
"Ya karena memang saya menyukai foto ini."
"Kenapa?"
"Ya karena dia tampan dan sesuai dengan tipe yang aku cari."
Radit mendadak terdiam, kejujuran Bella membuatnya kehabisan kata-kata untuk menyela. Bukan sekali dua kali dia mendapat pujian karena ketampanannya namun entah kenapa kali ini terasa berbeda begitu keluar dari mulut Bella.
"Maaf saya tidak tahu kalau ini foto Bapak, saya pikir artis luar negeri." sesal Bella tertunduk.
"Sudahlah gapapa pakai saja sesukamu, anggap saja kau membayar dengan cara menjadi tawananku."
Bella merasa bingung dengan sikap lunak Radit, padahal dia berencana untuk mengganti tokohnya dengan wajah Jerry. Sebetulnya dia ingin menolak kesediaan Radit memperbolehkannya menggunakan karakter yang lama cuma dia berpikir masa tahanannya akan bertambah. Jadi dia memutuskan untuk tetap mengganti tanpa memberitahu Radit nantinya.
"Tentang novelmu, maaf saya gak jadi menyodorkan ke penerbit karena teman saya khusus mencetak buku dewasa berbau vulgar. Jadi saya berpikir cerita kamu gak masuk dalam kategori itu meskipun di beberapa babnya banyak mengandung adegan dewasa."
Sungguh cara bicara Radit membuat Bella salah tingkah, pasalnya selama tiga hari ini dia terbiasa dengan cara bicara Radit yang kasar kepadanya. Untuk tetap di jalur aman, Bella memilih tak menanggapi kelembutan hatinya itu. Dia takut salah kaprah dan terlanjur baper.
Kemudian Radit kembali berkata, "Kecuali kamu mau membuat cerita baru dengan kategori yang sesuai dengan penerbit itu."
Bella langsung menjawab, "Saya mau!"
Radit terkesiap mendengarnya, "Kamu mau membuat cerita vulgar dewasa?"
Bella mengangguk dengan mantap, "Selama digaji saya mau!"
Radit sempat bergidik membayangkan adegan sensual yang akan ditulis Bella nanti. Tentu saja adegan itu tidak akan menggunakan kalimat kiasan untuk menyamarkan adegan, semua harus tertulis secara frontal tanpa menggunakan kata ganti untuk menunjang suasana. "Oke silahkan kamu buat contoh naskah yang akan diajukan nanti kalau teman saya menyukainya dia bakal suruh kamu menulis beberapa cerpen untuk dicetak menjadi buku atau di posting di website khusus miliknya."
"Tapi beneran digaji 'kan?" tanya Bella memastikan.
"Iya," jawab Radit datar.