BAB 4
Sebulan kemudian,
“Kak, ke mall yuk, ada yang perlu di beli nih tapi gak enak jalan sendiri.” Gani merajuk, seperti anak kecil saja minta diantar.
Alma cuek saja gak nanggepin, karena lagi bantu chef bikin pastel pesanan.
“Biar sekalian makan dan jalan-jalan ini kan jumat sore, besok aku libur kuliah ini standby di café ini.” Gani ga mau nyerah.
“Iya café biasanya kan rame jumat malam kamu sendiri saja napa.” Alma males sebenernya.
“Beneran nih gak mau nganter.” Gani mendelik, yang sebenarnya dia ingin mengurangi kesedihan kakaknya, yang setelah putus jadi lebih pendiam dan murung. Walaupun tidak tau apa sebenernya yang terjadi antara Alma dan Jearau, tapi yakin kesalahan ada dipihak Jea. Karena kakaknya sangat kecil melakukan kesalahan fatal.
Alma jelas setia santun sangat menjaga harga dirinya. Jearau saja berjuang nya sampai 6 bulan untuk diterima Alma. Sebenernya Gani penasaran kesalahan apa sampai diambang pernikahannya bisa putus.
Setelah putus pun lost contact dengan mantan kekasihnya.
Setelah Alma dandan rapih, Alma berjalan ke depan dimana Gani menunggu. Mereka berdua berangkat ke mall.
Cukup lama keliling,
“Ganiiii…..,” Teriakan kencang dari jarak beberapa meter di belakang,
Gani menoleh, "Gama… kamu disini juga ?”
“Kamu pasti nyari bahan tugas yaa?”
Gani mengangguk.
“Ayo kita sama-sama, kak Yuval temenin Kak Alma yaa. Nongkrong saja tuh di sana,” tunjuk Gama ke sudut sana ada coffee shop.
“Kalian kenapa gak janjian berdua sih, maksa kakak ikut malah ditinggal.” Alma mendelik ke adiknya.
“Mana aku tau Gama nyari juga.” Gani gak mau kalah.
“Hayu ahhh Gan, mereka sudah ada temennya ini.” Gama menarik tangan Gani beranjak dari dua kakak yang pada kagok.
“Adik kita tuh apa-apaan sih, malah ninggalin kita berdua. Mereka anggap kita pengangguran kali yaa” Alma kesal sama kedua anak itu. Seenaknya saja ninggal-ninggalin.
“Gak apa-apa juga kali, biar kita bisa ngobrol, kebetulan aku kan gak punya temen main juga,
kemana-mana sama Gama. Ga dapet-dapet cewek karena di kira dia pacarku”
“Tahun-tahun kemarin aku gak pernah liat Gama, liatnya belum setahun ini.” Alma merasa mengenal sahabat-sahabatnya Gani, karena dia berusaha mendekatkan pada mereka ingin tahu tipe teman-temannya Gani.
“Keliatannya baru-baru mereka sering satu grup tugas kelompok dulu kalau aku nganter-nganter ga pernah liat Gani.”
“Iya mungkin dulu-dulu gak pernah sekelompok.”
Mereka berbincang bincamg sambil jalan menuju coffee shop yang ditunjuk Gama. Setelah duduk, Yuval berinisiatif untuk pesan.
“Kamu pesan minum dan camilan apa ?” Yuval menawarkan diri.
“Freshly Brewed Coffee dan Trio Mixed Roll.” Alma mencari tempat duduk ga ikut antri pesan.
= = = = =
Gama dan Gani cekikikan melihat kakak mereka memasuki coffee shop, mereka sengaja ingin mendekatkan kakaknya, siapa tau jodoh.
“Gan kak Yuval cerita, waktu kita datang di cafemu, pacarnya Kak Alma mohon maaf, jadi gak menikah. Berarti kesalahan nya fatal.”
“Aku juga yakin kesalahannya fatal tapi kak Alma ga mau cerita.”
“Kakakku juga sudah lama jomlo, dia disakiti cewek sedemikian rupa, setelah sebelum kabur dari perusahaan korupsi menggelapkan uang, trus selingkuh dengan laki-laki lain. Jadi dia trauma menghadapi cewek.”
“Semoga saja berjodoh kakakmu dengan kak Alma, kasihan dia murung terus.”
“Gue dendam bangetlah sama tuh cewek.”
“Iya harus banyak kita pertemukan mereka. Siapa tau ada rasa suka. Kakaku ganteng looh secara gw adiknya juga cantik.” Gama cekikikan.
“Liat saja kak Alma cantik gitu, taruhan deh pasti kakakmu akan naksir sama kak Alma.
Mereka keliling-keliling gak jelas karena niatnya emang hanya untuk mempertemukan kakak mereka.
“Lain kali lu mending ke Café gue lah biar leluasa gak harus keliling2 gini !” Gani bersungut.
“Iya..iya… nanti kita nyari momen nya piknik wisata gitu.” Sahut Alma.
= = = = =
“Alma, kedua orangtuamu dimana ?” Yusal membuka obrolan,
“Sudah meninggal ketika pesawat yang ditumpanginya meledak di perairan Laut China Selatan. adikbkami ga punya kuburan mereka.”
“Saya turut berduka. Ya saya ingat berita nya, ternyata ada kedua orangtuamu yaa.”
Alma mengangguk.
“Orangtuaku juga sudah meninggal, kecelakaan di jalan tol, mereka meninggal ditempat.”
“Berarti kita yatim piatu.” Alma memperlihatkan raut sedih.
“Semoga orangtua kita disana bahagia tenang melihat kita tidak terpuruk.” Yuval sedikit menghibur.
“Aamiin…” keduanya mengamini berbarengan.
“Beruntung dulu orangtuaku mendidik sangat keras untuk mandiri, tidak memanjakan kami.
Mereka punya firasat kali yaa mau meninggalkan cepat.”
“Aku malah sebaliknya. Orangtua memanjakan kami, terbiasa senang-senang. Tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan orangtua pergi secepat itu. Hanya saya sudah selesai kuliah, perusahaan papa hampir bangkrut oleh mantan pacar saya.”
“Ternyata kita punya nasib yang sama yaa.” Alma melanjutkan, “Saya jadi keras juga mendidik Gani, kasihan sebenarnya. Bersyukur dia mengerti tujuan saya. Sekarang dia jadi mandiri.
Mengelola café sebenarnya sudah saya lepas. Lagi memikirkan mau buka cabang di kota lain, tapi masih gak tega kalau menyuruh dia jauh dari saya. Nunggu dia punya pasangan dulu.”
“Yang harus punya pasangan itu kamu kali bukan dia.”
“Saat ini masih rada takut, kemarin sudah siap segalanya harus berpisah. Maksud ku kalau aku tinggal buka cabang di tempat lain aku dan adikku akan jarang bertemu kalau dia punya pacar setidak nya ada yang menemani sehari-hari atau dikala jenuh ada yang nemenin.”
Yuval mengangguk-angguk. Sungguh kagum pada Alma, betapa dia mandiri bisa membimbing adiknya jadi orang yang mandiri, sedangkan dia masih memanjakan adiknya, karena alasan kasihan ditinggal orangtuanya.
“Duh berarti saya salah yaa mendidik Gama, dia masih manja sama saya.”
“Mungkin karena kamu laki-laki sedangkan adikmu perempuan, sedangkan Gani kan laki-laki yang harus tanggung jawab dalam hidupnya. Harus menghidupi keluarga nantinya. Untuk perempuan ga segitunya kali aku pun.”
“Pandanganku, terutama orang tua terhadap anak. Apa sih artinya sayang ? sekali lagi ini hanya pandanganku yaa, sayang orangtua itu bukan dengan memanjakannya tapi dengan memberi bekal sebaik-baiknya kepada anak untuk mendiri secepatnya. Itupun aku berfikir begitu karena melihat orangtua.” Alma menghela nafas teringat kepada orangtuanya dulu dia merasa kesal kalau sudah disuruh begini begitu ikut segala macam kegiatan, baru terasa manfaatnya sekarang sangat besar.
“Cara berfikir kamu luar biasa Alma, beruntung Gani mempunyai kakak sepertimu. Saya akan mencoba mendidik Gama untuk mandiri, terima kasih telah membuka cara pandang masalah definisi sayang.” Yuval makin mengagumi Alma.
“Kamu sudah mandiri, cantik dan cerdas, bodoh banget yuh cowok ninggalin kamu”
“Biasa saja kali Val,” Alma terkekeh malu juga di puji sama laki-laki tampan.
“Boleh sewaktu-waktu aku main ke café mu.”
“Boleh saja apalagi kalau mau membantu.”
“Oke-oke nanti aku bantu nyuci piring.”
“Ga usah nyuci piring jadi pramu sajiku saja, pasti café ku akan naik omzetnya punya pramu saji ganteng.” Alma tertawa terbahak-bahak, diikuti Yuval. Sampai pengunjung sekitar melirik.
Akhirnya suasana cair gak kaku, ngobrol kesana-sini. Mereka mulai akrab, menceritaka segala masalah di kerjaan nya sudah saling terbuka kegiatan mereka.
Alma merasa ada yang menghibur dikala masih sedih, Yuval merasa jadi bangkit semangat hidupnya setelah ditinggal pacarnya. Waktunya sangat tepat petemanan ini untuk Alma setidaknya bisa mengalihkan fikirannya ketika ngobrol santai gini
***TBC