Valeri mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan Arkana. Baru saja dirinya menyebutkan klausa pertama perjanjian diantara mereka Arkana malah melenggang pergi entah kemana. Meninggalkan wanita itu sendirian di ruangannya.
Shitt! Umpat Valeri saat melihat jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul satu siang. Sesuai jadwalnya hari ini dia harus mengajar di sekolah musik yang telah dia dirikan sendiri sampai saat ini. Wanita itu mengubah posisi duduknya, merasa jenuh karena Arkana tidak kunjung kembali setelah menerima telepon dari seseorang yang Valeria sendiri tidak tahu siapa yang menelpon lelaki itu.
Semua ini gara-gara Arka, bisa-bisanya dia mengurung Valeri.
"Siapa wanita ini ?" tanya Valeri pada dirinya sendiri tatkala matanya melihat sebuat foto gadis cantik yang ada di meja Arka.
Ceklek, suara pintu terbuka membuat Valeri memutar kursinya santai. Huh Arkana datang dengan lekaki genit yang tadi di temui Valeri.
“Maaf membuatmu menunggu lama,” ucap Arkana membuat Valeria memutar bola matanya jengah.
Mata Valeria bersitatap dengan mata lelaki yang berdiri di samping Arkana. Lelaki itu mengedipkan matanya genit.
"Dia sepupuku, sekaligus direktur eksekutif di perusahaan induk Carollino yang ada di Jakarta. Namanya Frederick Carollino, kau bisa memanggilnya Erick," kata Arka memperkenalkan Erick pada Valeria
Valeria mengangguk dan tersenyum geli karena sudah menganggap Erick sebagai asisten dari Arkana. Ternyata lelaki itu memiliki posisi yang lebih tinggi dari Arkana. Valeria memicingkan matanya, bagaimana kalau Valeria meminta Erick saja untuk menebus tanah itu?
"Valeria Roseandra," sapa Valeri menyodorkan tangannya lebih dulu kepada Erick.
Erick merekahkan senyumnya, wanita cantuk yang tadi menunjukkan sikap dinginnya kini mengulurkan tangan untuk berkenalan dengannya. Dengan cepat Erick menjabat tangan Valeria.
Ditatapnya dengan teliti wajah Valeri, wanita ini memiliki wajah seperti anak-anak. Hidungnya mancung tapi mungil, bibirnya tipis, wanita ini termasuk wanita yang cuek dan tidak peduli dengan makeup. Biasanya wanita akan bersolek ria sebelum bertemu dengan orang-orang besar seperti mereka.
Sebuah sentakan membuat tangan Erick dan Valeri terlepas, Arka menatap jengkel sepupunya yang terkenal player ini. Bisa-bisanya Erick menatap Valeri dengan tatapan memuja.
"Jangan macam-macam Erick," bisik Arka membuat Erick mendengus.
Valeri tersenyum samar, Erick bisa digunakan untuk melancarkan misinya mungkin.
“Dan kamu, jangan berpikir Erick bisa mengambil alih tanah itu dari kekuasaanku. Kita beda arah sayang jika itu isi dari pikiranmu saat ini,” ucap Arkana menebak isi dari pikiran wanita cantik itu.
Valeria hanya mendengus kesal, dari mana Arkana tahu tentang isi pikirannya saat ini?
"Apa kontraknya sudah jadi?" tanya Valeri membuat dua lelaki itu berhenti saling tatap dengan tatapan membunuh.
Frederick menoleh ke arah Arkana yang kini mengkode dirinya untuk keluar dari ruangan. Ercik hanya mengangguk mengerti, memberikan Valeria dan Arkana membicarakan pekerjaan mereka, begitulah pemikiran lelaki itu.
Arkana menatap Valeria kesal. “Sepertinya matamu sangat jeli melihat barang yang bagus,” sindir Arkana yang tidak suka senyuman yang Valeria tunjukkan kepada Erick sepupunya.
Valeria tidak menjawab, wanita itu kembali mendaratkan bokongnya kembali ke kursi tamu dan menatap Arkana jengah.
“Aku tidak bisa berlama-lama di sini, klausa pertama aku sudah menyebutkannya. Sekarang giliranmu,” ujarValeria.
“Tunggu sebentar, tim hukum perusahaan akan kemari sebentar lagi,” ucap Arkana.
Valeria menganga, jadi lelaki itu melibatkan kuasa hukum perusahaannya untuk menangani kontrak mereka berdua?
“Aku tidak ingin rugi saat kamu tiba-tiba melarikan diri nantinya,” beo Arkana yang jelas bisa menebak isi pikiran dari Valeria.
Satu pengacara dari tim kuasa hukum perusahaan Carollino sudah tiba, lelaki itu membuka laptopnya dan siap menuliskan isi perjanjian antara keduanya.
“Silahkan lanjutkan untuk klausa keduanya,” perintah lelaki itu.
“Kedua, pihak pertama dan kedua akan tinggal satu atap selama enam bulan,” ucap Arkana membuat Valeria terbelalak.
“Apa? Tinggal satu atap? Yang benar saja,” sentak Valeria tidak terima.
“Aku merelakan tanah dengan harga fantastis, tidak mungkin aku membiarkanmu hidup bebas di luaran sana yang bisa kapan saja kabur atau bermalam dengan lelaki lain,” jelas Arkana.
Valeria terdiam dengan ucapan Arkana, baiklah klausa kedua bisa dia terima.
“Ketiga, pihak pertama tidak boleh mencampuri urusan pribadi pihak kedua dan sebaliknya. Hubungan ini akan berlangsung enam bulan ke depan.”
“Tidak, satu tahun!” ucap Arkana menolak permintaan Valeria yang meminta kontrak mereka hanya enam bulan.
“Baiklah, satu tahun. Jika salah satu pihak melanggar privasi keduanya maka kontrak ini batal,” jawab Valeria melanjutkan.
‘Sialan, wanita ini sepertinya sedia payung sebelum hujan!’ umpat Arkana membatin.
‘Aku yakin kamu akan melanggarnya dan aku bisa bebas darimu,' batin Valeria tersenyum penuh kemenangan.
“Klausa ketiga, tidak boleh ada lelaki lain dalam hidupmu selain aku.”
Valeria tesentak, wanita itu menganga di tempatnya.
“Kenapa sampai tidak ada lelaki lain? Kita hanya akan menikah secara agama dan berlangsung enam bulan lamanya. Setelah itu aku kan bebas bersama dengan siapapun,” ucap Valeria tidak terima.
“Iya atau tidak?” tanya Arkana tidak peduli dengan keluhan Valeria.
“Aku tambahi, tidak ada wanita lain juga selama kontrak ini berlangsung,” kata Valeria.
“Tulis saja,” putus Arkana mengiyakan permintaan Valeria.
Mereka membicarakan beberapa klausa hingga klausa ke sepuluh.
“Sebagai jaminan, segala aset yang kamu miliki termasuk apartemen dan sekolah musikmu akan berada dalam tanggungan. Dan ketika kontrak selesai, aku akan menyerahkan sertifikat tanah itu kepadamu,” ucap Arkana.
“Hei kenapa sampai sekolah musikku? Tidak aku tidak mau,” pekik Valeria tidak terima.
Menyerahkan dirinya kepada Arkana saja sudah menjadi keputusan yang besar kepada Valeria.
“Aku tidak mau rugi Valeria!” ucap Arkana membuat Valeria mengusap wajahnya frustasi.
Haruskah sejauh ini kontrak mereka berdua? Kenapa tidak ada hujan duit saja biar Valeria bisa memakainya untuk menebus tanah panti asuhan itu.
“Baiklah, aku setuju,” jawab Valeria menyerah.
“Kalau begitu saya bacakan lagi isi kontraknya,” ucap pengacara itu diangguki Valeria dan Arkana.
Lelaki itu membacakan semua isi kontrak yang telah dia tulis berdasarkan keinginan Arkana dan Valeria. Mereka terdiam mencerna isi klausa yang telah mereka bicarakan sebelumnya.
“Bagaimana? Ada yang perlu diubah atau ditambahkan Tuan dan Nona?”
“Tidak ada, langsung urus saja.”
Pengacara itu mengangguk dan berpamitan untuk undur diri. Arkana menatap Valeria dengan senyuman devilnya, lihat saja wanita itu kini sudah berada dalam kekuasaannya. Valeria berdiri,
“Kamu mau kemana?” tanya Arkana.
“Pergi,” jawab Valeria acuh.
“Kamu belum menandatangani kontraknya,” ucap Arkana mengingatkan.
“Aku tidak akan bisa kabur, kamu tahu rumah dan pekerjaanku. Jadi biarkan aku pergi, byee,” pamit Valeria mengambil tasnya dan melambaikan tangannya kearah Arkana.
“Pergi kemana, heiii!!!”
“Menjemput anakku!” teriak Valeria sebelum menutup pintu ruangan Arkana.
Apa? Wanita itu menjemput anaknya? Maksudnya Valeria sudah memiliki anak?