Dering telepon apartemen membuat tiga orang yang berada di ruang tamu tersentak. Valeria berjalan menuju telepon, dengan malas dia mengangkatnya.
"Hallo?" sapa Valeria kepada si penelepon yang benar-benar tidak tahu situasinya saat ini.
"Bagaimana sayang? Kamu sudah mendapatkan uangmu ?" Tanya seseorang di sana dengan nada mengejek.
Sialan! Dari mana lelaki itu mendapatkan nomornya?
"Kamu!!! Ngapain nelpon-nelpon segala? Kok bisa tahu nomor telepon apartemenku? Kamu pengun-,"
"Stop stop! Kamu berisik sekali sayang. Sepertinya akan menyenangkan jika kita jadi partner di ranjang, hemm."
Hah partner di ranjang? Sepertinya lelaki itu butuh tinjuan di kepalanya agar segera bangun dari kenyataan.
"Dasar maniak s*x, aku pastikan kamu tak akan mendapatkan apa yang kamu mau!" Teriak Valeria menutup teleponnya dengan kasar.
Sandra dan Andre saling tatap melihat Valeri uring-uringan saat mendapat telepon,
"Dari siapa Vale?" Tanya Sandra penasaran saat mendengar Valeria berteriak.
"Siapa lagi, tentu saja dari lelaki berengsek itu," jawab Valeri, masih ketara jelas kemarahan di wajahnya.
Valeri mendudukkan pantatnya di single sofa, mengusap dengan kasar wajahnya.
"Andre, bisakah kau mencari jalan keluarnya ?" Tanya Valeri
Andre menghendikkan bahu, tanda bahwa dia tidak tahu jalan keluar lainnya. Jika memang Valeria mau wanita itu bisa mengambil uang yang keluarganya selalu kirimkan setiap bulannya.
"Oh bunuh saja aku," desah Valeri untuk kesekian kalinya.
Bagaimanapun juga, Valeri ada dalam dilema yang sangat rumit. Mempertahankan panti asuhan itu, ataukah mempertahankan harga dirinya? Belum lagi jika keluarganya tahu jika dia terjebak dengan lelaki berengsek yang ingin menggunakan tubuhnya untuk tanah panti asuhan itu.
Apakah itu artinya Valeria akan melakukan hubungan s****l dengan Arkana?
Huh, membayangkan Arkana silih berganti wanita saja membuat Valeri muak. Apalagi dia menjadi salah satunya. Apakah Arkana memiliki seorang istri dan anak? Jangan-jangan dirinya akan dijadikan simpanan oleh lelaki itu!
"Kita jual saja apartemen ini," ucap Valeri membuat Sandra dan Andre menatapnya tak percaya.
"Kau gila!" Umpat Sandra
"Kakak, apa kakak tidak waras?" Tanya Andre.
Untuk kali ini, Andre melupakan sikap formalnya sebagai akuntan pribadi Valeri. Andre seorang yatim piatu yang telah dibiayai Valeri sekolah hingga menjadi seperti sekarang. Bagi Andre, Valeri adalah kakaknya.
"Bisa tidak, kalian memberi solusi tanpa menghinaku?" Tanya Valeri sambil memijit keningnya yang terasa berdenyut.
Tingg!
Valeri mengambil ponsel yang tergeletak di meja, wanita itu memicingkan matanya menatap nomor baru yang mengirimkan pesan kepadanya.
Dua hari dari sekarang atau tidak sama sekali sayang ;)
Ini nomor lelaki itu? Astaga, dari mana lelaki itu tahu nomor telepon apartemen dan nomor ponselnya? Apakah lelaki itu benar-benar menjadi penguntit sejatinya?
"Arkanaaa, ku pastikan kau akan menyesalinyaa, arghhhhhh," pekik Valeri kesetanan.
"Apa yang dia katakan?" Tanya Andre cemas.
"Hah? Ti..tidak, dia hanya memintaku membayar dua hari lagi," jawab Valeri gelagapan.
Bisa hancur semuanya jika ada yang tahu lelaki gila itu meminta tubuhnya sebagai jaminan. Mungkin saja keluarga Valeria akan menyeretnya pulang tanpa menunggu persetujuan darinya.
"Aku lelah, aku akan tidur," ucap Valeri meninggalkan Sandra dan Andre yang masih penasaran.
Seperginya Valeri,
"Sebagai sahabat, aku merasa sangat buruk" lirih Sandra merasa tidak bisa membantu wanita itu sama sekali.
"Dia malaikat, aku bahkan belum bisa membalas kebaikannya. Semoga Tuhan melindunginya," jawab Andre mendoakan Valeria dengan tulus.
*
Seperti hari biasanya, Arkana selalu berangkat ke kantor dengan tepat waktu. Hari ini dia terlihat sangat tampan dengan setelan kemeja berwarna putih.
"Selamat pagi Kimmy," sapa Arka pada foto sosok wanita cantik yang berada di atas mejanya.
Kimmy, yah dialah wanita yang hingga detik ini tidak akan mampu Arka lupakan.
"Kau tahu, namanya Valeria Roseandra. Sangat cantik bukan? Dia wanita yang keras kepala. Tapi akan kupastikan dia akan bertekuk lutut di bawah kungkunganku. Semoga kau merestuiku Kimmy," ucap Arka sambil mengelus foto Kimmy. Setelahnya, Arka sudah berkutat dengan pekerjaannya.
Menit sudah berganti menit, jam sudah berganti jam. Hari pun sudah berganti, hari ini adalah hari terakhir waktu yang diberikan Arkana untuk Valeria.
Valeria, saat ini dengan kaca mata hitamnya. Dia berjalan memasuki kantor berlantai 29 itu dengan angkuh, aura intimidasi sangat kental saat wanita itu berjalan melewati semua pegawai kantor Arkana.
"Ada yang bisa saya bantu nona?" Tanya resepsionis kepada Valeria.
"Saya ingin bertemu Arkana Carollino, bilang saja saya Valeria Roseandra," jawab Valeri.
Resepsionis itu tersenyum, ternyata benar apa yang dikatakan sekretaris Arkana bahwa nanti akan ada wanita cantik yang datang untuk menemui bos mereka dan wanita itu bernama Valeria Roseandra.
"Anda sudah ditunggu di ruangan beliau, lantai dua puluh sembilan,” jawab resepsionis itu membuat Valeri menyipitkan matanya. Dia sudah ditunggu lelaki itu? Valeria hanya menghendikkan bahunya acuh, siapa juga yang mau peduli dengan orang gila macam Arkana.
"Thank you," ucap Valeri berjalan menuju lift khusus menuju lantai 29.
Tuk , tuk ,tuk , suara high heels Valeri menggema dipenjuru lantai 29. Ada lelaki yang menghampirinya.
"Kamu nona Roseandra?" Tanya lelaki seumuran Arka itu.
Valeri hanya menjawabnya dengan anggukan malas, lelaki itu terkekeh membuat Valeri menatapnya aneh.
"Sepertinya akan ada cerita menarik," ucap lelaki itu.
"Dimana ruangan Tuan Arkana Carollino?" Tanya Valeri tegas, membuat lelaki dihadapannya merinding.
"Lurus saja, senang bertemu denganmu nona," ucap lelaki itu mengerling nakal kearah Valeri.
Valeria melepaskan kaca matanya, menatap lelaki itu.
“Kamu asisten pribadi lelaki itu?” tanya Valeria.
“Memangnya wajahku seperti itu? Tanya lelaki itu tersenyum geli.
Tanpa mau berlama-lama bersama lelaki yang sama gilanya dengan Arka, Valeri berjalan dengan cepat menuju ruangan Arka.
"Masuk," ucap Arka dari dalam saat melihat Valeri hendak mengetuk pintu.
Valeri mendengus, dia membuka pintu kaca itu dengan sebal. Dia sangat malas berurusan dengan makhluk jadi-jadian yang kini menatapnya dengan senyuman mirip seringaian bagi Valeri.
"Kau datang juga," ucap Arkana.
"Ter..pak..sa!" Ucap Valeri menekan setiap suku katanya.
Arka terbahak, melihat wajah kesal Valeri adalah hiburan tersendiri baginya. Tadi pagi, Arkana mengirimkan sebuah foto kepada Valeria dimana alat-alat berat sudah berada di depan panti asuhan itu dan siap menghancurkannya kapan saja. Melihat itu, Valeria dengan cepat datang ke kantor menemui Arkana.
"Tidak usah bertele-tele, aku ingin membicarakan tawaranmu," ucap Valeri to the point, "Aku menerimanya," jawab Valeri menatap Arka tepat di manik matanya.
Arka sedikit tersentak dengan apa yang dia dengar, namun itu tidak lama. Berikutnya, Arka mengangguk dan tersenyum penuh kemenangan.
"Aku tahu kamu akan menerimanya,"
"Jangan senang dulu, aku hanya ingin kita membuat kontrak. Aku takkan sudi selamanya hidup dekat-dekat denganmu.” Ucap Valeria membuat Arkana menatapnya.
“Baiklah, sekretarisku akan mengurus kontraknya. Sebutkan isi klausanya,” jawab Arkana pada akhirnya.
Valeria mengulum senyumnya, "Baiklah itu point pertama tidak ada hubungan badan apapun antara kita,” ucap Valeria.
“Apa? Tapi aku menginginkan tubuhmu bukan untuk pajangan saja nona Roseandra,” sentak Arkana kesal.
“Kamu bisa menyentuhku, asalkan kita menikah secara agama.” Jawab Valeria membuat mata Arkana mendelik menatapnya tidak percaya.
Valeria yakin, lelaki gila seperti Arkana tidak akan berani menikahinya. Lelaki itu hanya ingin hidup bersenang-senang dengan para wanita yang dia inginkan, tapi itu bukan Valeria!