5. Kamu Menang Tuan Carollino!

1211 Words
"Bagaimana jika tanah itu ditukar dengan tubuhmu?" jawab Arka membuat Valeri terbebelalak. Satu kalimat yang sukses membuat Valeri tercengang, bahkan tanpa sadar mulutnya menganga. Bagaimana mungkin laki-laki di hadapannya bisa memberinya penawaran segila itu? Tanah diganti dengan tubuhnya? Oh baiklah, mungkin laki-laki di depannya ini maniak sek. Maniak sek ? Herrrr membayangkannya saja membuat Valeria merinding disko. Oh astaga, menatap mata lelaki itu membuat bulu kuduk Valeria berdiri. Dia tidak akan jatuh keperangkap lelaki gila itu. "Tuan Arkana Carollino yang terhormat, apakah anda salah minum obat?" tanya Valeri menatap sinis Arka. Arka berdeham, membenarkan posisi duduknya menjadi tegap kembali. Lelaki itu menggosok dagunya, menimang apa yang harus dia dapatkan dengan melepaskan tanah itu. Bukankah itu jumlah yang impas? Tanah itu berada di pusat keramaian, jika Arkana membangun sesuatu di sana bisa dipastikan usahanya akan sukses besar. ".enurutku itu impas nona Valeri, kau mendapatkan apa yang kau mau. Dan aku mendapat apa yang ku mau," jelas Arka menatap intens Valeria yang kini termangu mendengar ucapan Arkana. Valeri mendengus, apakah dipikiran orang kaya akan seperti Arka? Apakah ayah dan daddynya juga akan seperti ini jika berada dalam posisi yang sama dengan Arkana? "Anda belum tau siapa saya, jadi tolong tarik kembali ucapan anda tuan," desis Valeria mulai tidak terima. Bukan karena harga dirinya, bukan juga karena merasa marga keluarganya kini dilecehkan. Hanya saja dia sangat marah sebagai seorang wanita yang diperlakukan sangat tidak layak. "Memangnya siapa dirimu nona, seorang wanita yang pasti akan bertekuk lutut di kakiku," jawab Arka terkekeh. Valeri menggeram, jika saja ini negaranya. Dia akan mengeluarkan jurus beladiri yang mommy Sisil dan kakak-kakaknya ajarkan. Valeria hanya tidak ingin terlibat masalah hukum di negara orang. "Anda takkan pernah mendapatkan apa yang anda inginkan, tapi saya ... saya akan mendapatkan apa yang saya inginkan! Camkan ini baik-baik tuan Carollino," ucap Valeria terdengar penuh peringatan. Tanpa berpamitan, Valeria meninggalkan Arka yang masih tercengang dengan ucapan Valeri. Baru kali ini ada wanita yang berani dengannya, apalagi berani menolak pesonanya. Siapa yang tidak mengakui pesona miliader muda ini, apapun bisa dia dapatkan dengan sekali kedip. Wajah rupawan, begitu juga harta melimpah. Di luar sana banyak wanita yang rela mengantre untuk mendapatkan perhatian lelaki itu. Sayangnya, Valeri bukan salah satu dari sekian banyak wanita yang mengelu-elukan dirinya. "Lihat saja, kau akan jadi milikku," desis Arka tersenyum miring menatap pintu apartemennya yang kini tertutup. * Di apartemen sederhana milik Valeria, wanita itu melempar barang-barangnya dengan marah. Baru kali ini ada lelaki yang berbicara lancang di depannya. Lelaki itu sepertinya harus diberikan pelajaran agar tahu bagaimana cara memilah kata ketika berbicara dengan seorang wanita. "Kau belum tahu siapa aku tuan Carrolino!!" geram Valeria menghentakkan kakinya kesal. Wanita itu menjatuhkan tubuhnya di ranjang singlenya, "Aaaaarkhhhhh tiga puluh miliarrrr," teriak Valeria frustasi membayangkan nilai tanah yang sangat fantastis itu. Rambutnya kini acak-acakan tak karuan, bahkan gaun formalnya sudah lecek. Wanita itu meraih tasnya, mengeluarkan ponsel serbaguna dari sana. "Hallo, tolong bawakan data kekayaan atas milik Valeria Roseandra Corlyn segeraaaaa!!" teriak Valeria menelpon seseorang di seberang sana, akuntan pribadinya. "Ba-baik nona," jawab Andre tergagap. "Pastikan, tidak ada sepeserpun yang terlewatkan. Ku tunggu di apartemenku Andre, sekarang juga!" ucap Valeri menutup teleponnya dengan frustasi. Dia sangat marah, frustasi dan juga bingung. Tiga puluh milyar bukan uang sedikit untuk hidupnya saat ini. Dia bahkan sudah tidak lagi gila belanja merk-merk mahal. Valeria harus mencari akal untuk bisa membeli tanah panti asuhan itu kembali dari tangan Perusahaan Carollino. "Astaga Valeri, apa yang kau lakukan?" tanya Sandra yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Valeria tanpa permisi. Sandra sangat terkejut mendapati kamar wanita itu sangat berantakan. Selama bersama Valeria, Sandra hafal benar bahwa Valeri tipe wanita yang mengutamakan kerapian dan juga kebersihan. Valeria mengadahkan kepalanya menatap Sandra. "Sandra, aku bisa gila," ucap Valeri ambigu membuat Sandra bingung. Wanita berambut hitam legam seperti rambut milik Valeria itu mendekat ke sisi ranjang. Sandra menatap Valeria, ingin tahu apa yang telah terjadi pada wanita itu. "Apa yang membuatmu uring-uringan?" "Lelaki itu, lelaki gila itu meminta tiga puluh milyar!" jelas Valeri membuat kening Sandra menyerngit. Lelaki siapa yang Valeria maksudkan? "Siapa yang kau maksud? Lelaki mana yang kini kamu bicarakan?" "Tentu saja Arkana Carollino, pemilik tanah panti itu. Dia meminta tiga puluh milyar sebagai ganti rugi. Bukankah itu gilaa??" teriak Valeri frustasi. "Ti-tiga puluh milyar? Aku bahkan tak pernah membayangkan uang sebanyak itu," gagap Sandra. Valeri mengusap wajahnya dengan kasar. Suara bel apartemennya membuat Valeria beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju pintu apartemennya. Andre berdiri di sana dengan pakaian yanh sangat ramai. "Kamu sudah membawanya?" tanya Valeria menatap lelaki itu. Andre terkesiap, dia menatap Valeri tak percaya. Matanya sampai melebar, wanita yang selalu terlihat cantik dan elegan kini sangat mengerikan dengan rambut dan pakaian yang berantakan. "Andre?" panggil Sandra membuat Andre menoleh. Dia tersenyum manis kearah Sandra, dan itu membuat Valeria melenguh kesal. "Back to topic Andre, ayo masuk," ajak Valeria diangguki Andre. Sandra mengambil tiga botol minuman bersoda dari kulkas milik Valeria. Sedangkan Andre mengeluarkan map berisi kekayaan Valeria. "Bagaimana?" tanya Valeri. "Begini nona Valeri, bisakah aku tahu kenapa anda meminta data jumlah kekayaan anda?" tanya Andre yang tiba-tiba merasa bingung dengan wanita itu. "Aku butuh uang tiga puluh milyar Andre! Apakah ada uang sebesar itu dari kekayaanku?" seloroh Valeri. Andre mengecek datanya, dia meneliti satu persatu pengeluaran dan pemasukan. "Dua bulan yang lalu, anda menyumbang lima miliar untuk rumah sakit di pelosok kota yang ada di Indonesia. Kemudian anda mengeluarkan dua miliar untuk pembangunan sekolah di sana. Untuk rekening pribadi Anda hanya tersisa delapan belas miliar Nona," Mata Valeria terbelalak, jadi uangnya hanya tinggal itu saja? "Delapan belas miliar? " tanya Valeria terbelalak. "Huumm, tapi untuk rekening Anda ada tabungan yang bisa Anda cairkan," jelas Andre. "Katakan, apa itu?" "Kredit dari Corlyn Company dan Keynand Group yang masuk ke rekening Anda sampai saat ini sejumlah tiga puluh lima miliar. Anda bisa menarik uang itu jika Anda memang butuh," ucap Andre menjelaskan. Valeri tidak kaget dengan nominal fantastis yang masuk ke rekeningnya. Valeria tahu jika keluarganya selalu mengirimi uang yang tak sedikit untuk Valeri. Tapi dia telah bersumpah takkan menggunakan uang itu sepeserpun. Valeria ingin membuktikan kepada keluarganya jika dirinya bisa hidup sesuai dengan apa yang dia mau. "Bagaimana jika aku menjual saham yang aku miliki di salah satu perusahan entertaint Andre?" "Mereka hanya menghargai saham itu paling besar enam miliar Nona, Anda tahu sendiri wabah harga saham sedang anjlok-anjloknya," jawab Andre. Valeri menghela napasnya, Sandra yang hanya mendengar perbincangan kedua orang itu berdecak kagum. Anak pengusaha besar hidup dengan sederhana, menjadi penolong bagi yang membutuhkan tanpa peduli hidupnya sendiri. "Anda bisa memakai uang yang masuk ke rekening Anda, Nona," usul Andre diangguki Sandra. Valeria mengusap wajahnya frustasi, "Kalian takkan mengerti, mereka akan mengira aku membuang-buang uang untuk kebiasaan burukku," lirih Valeria mendesah. "Valeria, kau bisa meminta Rio suntingan dana," usul Sandra. "Ibu Rio baru saja dioperasi, dan itu menghabiskan banyak biaya Sandra. Aku tau, clubnya sedang dalam masalah dengan pengusaha lokal," ucap Valeria. Mereka bertiga hanya menghela napas, tak tahu apa yang harus mereka lakukan. 'Itu kenanganku dengan suamiku,' isak Bu Han. Valeri memijit kepalanya yang terasa berdenyut. Kenapa Valeria memiliki hati yang sangat lembut hingga terus saja memikirkan kehidupan orang lain jika kehidupannya sendiri berada dalam ambang kehancuran. 'Baiklah, kamu menang tuan Carollino ' batin Valeri menyerah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD