Valeria memberanikan untuk menekan tombol bel pada dinding pintu apartemen mewah itu, tak berapa lama pintu itu terbuka. Menampilkan sesosok laki-laki yang membuat Valeria terkejut.
"Kamuu?" pekik mereka bersamaan.
Arka tidak menyangka didatangi wanita yang beberapa hari ini ada di pikirannya karena rasa bersalah. Begitu juga Valeri, dia sangat terkejut melihat laki-laki songong ini berada di dalam apartemen pemilik tanah panti asuhan.
Valeria memicingkan matanya,
"Ada urusan apa kamu kemari?" tanya Arka menutupi keterkejutannya.
Valeria meremas tangannya, dia begitu gugup. Bu Han mengatakan jika yang akan Valeria temui adalah pimpinan perusahaan yang mengambil alih tanah panti asuhan. Bukankah itu artinya orang yang akan Valeria temui merupakan orang penting?
"Aku ... ingin mencari pemilik lahan panti asuhan Mom and Dad," jawab Valeria terbata.
Arka menaikkan satu alisnya mendengar jawaban Valeria. Arkana berpikir keras, untuk apa wanita itu datang mencarinya dan membicarakan panti asuhan yang sebenarnya akan segera dia gusur.
"Sebaiknya kamu masuk ke dalam," suruh Arka diangguki Valeri.
Valeri mengekori Arka, dia seperti anak kucing yang membuntuti kemanapun induknya pergi. Arka berhenti, lelaki itu menunjuk kursi di ruang tamu apartemennya.
"Duduklah," ucap Arka membuat Valeri sedikit tersentak kaget.
Valeri menatap sekeliling ruang tamu apartemen itu. Apartemennya menjadi salah satu apartemen termewah dan termahal di Tokyo. Belum lagi kini lelaki itu berada di lantai paling atas.
'Dia benar-benar kaya' batin Valeri dalam hati.
Arkana duduk di depan Valeria, lelaki itu menyilangkan kakinya dan memicingkan matanya kearah Valeria.
"Untuk apa kamu mencariku?" tanya Arkana.
Valeri melongo, percaya diri sekali lelaki itu. Siapa juga yang mencarinya!
"Maaf pak, saya mencari pemilik tanah, pimpinan. Bukan asistennya!" jawab Valeri polos dengan nadanya menggebu-menggebu.
Mendengar jawaban Valeria, Arka terbahak-bahak membuat wanita itu mengerutkan keningnya. Jadi Valeria berpikir jika Arka asisten pimpinan?
Sedangkan Valeria menyipitkan matanya, menganggap Arka terkena gangguan jiwa.
'Bagaimana mungkin pemilik lahan yang kaya raya itu memilih asisten seperti dia,' batin Valeria.
Lalu Valeri mengingat pertemuan pertamanya dengan Arka, ketika Arka mengatai dirinya seenak jidat lelaki itu.
"Apa aku terlihat seperti seorang asisten?" tanya Arka dengan kekehannya.
Valeri mendengus, seorang asisten saja lagaknya seperti bos, huuh.
"Mungkin," jawab Valeri menghendikkan bahunya. Valeria berbohong, wanita itu begitu mengagumi ketampanan Arkana dan juga kaki jenjang lelaki itu.
Valeria tidak yakin jika Arka adalah asisten pimpinan perusahaan.
Tiba-tiba saja Arka mendekat kearah Valeria dan memilih duduk di samping wanita itu. Valeria menggeser tubuhnya hingga ke tepi sofa. Arka memegang wajah Valeria,
"Lihat aku, apa asisten setampan ini?" tanya Arka menatap tepat manik wajah Valeri.
'Oh God, kamu mencipatakan wanita ini dengan manik wajah coklat terang yang sangat indah,' batin Arkana menjerit.
'Matanya setajam elang, kontras dengan alisnya yang tebal,' batin Valeri mengamati wajah lelaki itu
Valeri menoleh, memutuskan kontak matanya dengan Arka. Dia tidak ingin terhipnotis dengan laki-laki seperti Arka.
"Sir, uncle, atau tuan siapalah kamu. Jangan kurang ajar dengan saya, pertemuan kita yang pertama memang buruk. Tapi jangan menambah pandangan buruk saya pada Anda!" ucap Valeri sinis.
"Aku tahu, aku meminta maaf untuk pertemuan kita yang pertama," ucap Arka dengan tulus.
Valeri menimang-nimang permintaan maaf Arka, hingga akhirnya dia mengangguk menyetujuinya.
"Eits, tapi ada syaratnya," ucap Valeri memandang Arka dengan senyum menghiasi bibir tipisnya.
"Syarat?" tanya Arkana.
"Hm, tolong pertemukan aku dengan bosmu," jawab Valeri.
Arkana menghela napasnya panjang, lelaki itu mengusap wajahnya dengan kasar. Apakah wajahnya tidak punya aura seorang pimpinan?
"Astaga, kau tidak percaya aku pemiliknya?" ucap Arka tidak menyangka wanita cantik di depannya begitu keras kepala.
Valeri menatap Arka intens,
"Apa buktinya ?" seloroh Valeri melipat tangannya ke depan d**a.
Arka menggelengkan kepalanya takjub, baru kali ini dia bertemu wanita yang begitu keras kepala dan mengatai dirinya seorang asisten. Siapapun pasti akan tunduk di depannya ketika mereka bertemu, tapi lihatlah wanita itu menatapnya seperti mereka telah berteman lama.
"Ayo aku buktikan," ucap Valeria menaikkan alisnya.
Arka menarik Valeri menuju ruang keluarga, di sana ada foto keluarganya yang dibingkai figura berukuran 20R.
"Lihat, itu aku, daddy, dan mommyku," jawab Arka menunjuk pigura besar di depannya.
Mata Valeri terbelalak, matanya terbuka lebar dengan tangan menutup mulutnya agar tidak ada lalat yang masuk ke dalam. Aishh lupakan masalah lalat. Valeria menoleh kearah Arkana.
"Ja-jadi?" gagap Valeri menunjuk foto itu dengan Arka bergantian.
Arka terkekeh dengan ekspresi yang ditunjukkan Valeria itu menjadi tontonan yang menarik bagi Arka.
"Jadi Nona..?" tanya Arka menggantungkan nama Valeria berharap wanita itu mengucapkan namanya sendiri. Padahal dia tahu bahwa nama wanita cantik itu Valeria.
"Valeria Roseandra," jawab Valeri tanpa menggunakan marga keluarganya.
"Oke nona Roseandra, apa yang mau kau katakan?" di luar negeri, mereka memanggil nama belakang untuk panggilan seseorang.
Valeria mengangguk. "Tolong jangan gusur panti asuhan itu," pinta Valeri menatap Arka dengan pandangan memohon, hanya ekting berharap Arka akan berbaik hati.
"Sebelumnya kamu harus tau nona Roseandra, itu tanah sudah menjadi milik perusahaan. Dan itu akan kami buka cabang perusahaan kami," jelas Arkana melihat ekspresi wajah Valeria saat ini.
Valeri menarik Arka duduk di sofa ruang keluarga.
'Sebenarnya siapa yang punya apartemen ini? Kenapa dia malah berlaku seperti tuan rumahnya' batin Arka ketika Valeri berlaku seakan ini apartemennya.
"Kumohon, ada banyak kenangan di sana. Anak-anak juga, pikirkan kehidupan mereka," ucap Valeri memohon pada Arka.
"Mengertilah Nona Roseandra."
"Tuan?"
"Arkana Carrolino," jawab Arkana.
"Tuan muda Carrolino, kau tidak tahu berapa banyak kenangan di sana. Jika anda menggusurnya bagaimana kehidupan anak-anak di sana? Mereka akan kehilangan atap untuk mereka singgahi Tuan," jelas Valeria, menarik tangan Arkana dan menggenggamnya.
Arkana menatap tangannya, astaga kenapa jantungnya berdetak tidak karuan seperti ini.
"Aku tahu, tapi kamu menawarkan sebuah solusi pindah ke panti asuhan kami. Bukankah panti asuhan keluarga kami lebih layak?" tanya Arkana.
"Layak tidak menjamin kebahagiaan, ada banyak kenangan di sana," jawab Valeri membayangkan kehidupannya, kelayakan yang keluarganya janjikan tidak menjamin dia bahagia.
Arkana mendesah panjang. "Kenapa kau bersikeras mempertahankan panti asuhan itu, apa kanu bersalah dari sana?"
"Apa?" tanya Valeri.
"Kau berasal dari sana?" ulang Arkana.
Sepertinya Arka mulai jatuh dalam perangkapnya. Valeria memasang wajah sendunya,
"Hah? Oh iya tuan muda aku dari sana," jawab Valeria.
Arka mengangguk, dia akan bermain dengan wanita unik di depannya kini.
"Tuan muda Carrolino, emm bagaimana jika saya membeli tanah itu?" tanya Valeria berhati-hati.
Lelaki itu menatap Valeria dan tertawa. "Hahaha, kau ... kau mau membelinya?" tanya Arka ditengah-tengah tawanya.
Valeria mengangguk, "Ya, katakan saja. Berapa harganya ?" sergah Valeri serius dengan ucapannya.
Arka menatap kesungguhan dari mata Valeria. Wanita itu benar-benar gila!
"Tiga puluh miliar," jawab Arkana membuat mata Valeria melebar sempurna.
"Apaaa?" pekik Valeri membuat ruangan itu berdengung.
"Ya, jika kamu tidak mampu aku punya penawaran yang bagus untukmu."
Valeria mengangguk bersemangat. "Penawaran ? Katakan aku akan memenuhinya "
"Bagaimana jika tanah itu ditukar dengan tubuhmu?" jawab Arka membuat Valeri terbebelalak.
Selain kurang ajar, ternyata laki-laki di depannya sudah tidak waras lagi. Apa lelaki itu memiliki kelainan kejiwaan hingga meminta Valeria menukar tubuhnya dengan tanah panti asuhan itu? Benar-benar gila lelaki itu!