**Bab 008 Billy Kutcher**
Akhirnya, hari yang selama ini dikhawatirkan oleh keluarga Rowt tiba. Hari yang datang lebih cepat dari perkiraan, seminggu lebih awal dari waktu yang mereka kira.
Baru tiga hari yang lalu, mereka masih membicarakan masalah ini dengan penuh cemas. Namun tiba-tiba, rombongan utusan itu muncul di depan rumah mereka, seakan-akan hari ini adalah titik balik dari segala kekhawatiran. Ini membuat Rowt dan keluarganya semakin yakin bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di balik lamaran ini, sesuatu yang tidak mereka pahami. Hanya saja, Rowt tidak bisa membayangkan apa yang bisa didapatkan dari keluarga mereka dengan melibatkan diri dalam permainan ini. Mereka adalah keluarga bangsawan miskin dengan gelar yang sudah mulai luntur. Seperti yang selalu mereka katakan, sangat tidak masuk akal jika dilihat dari segala aspek.
Rombongan utusan yang membawa calon mempelai wanita tiba dengan sebuah kereta kuda yang dikelilingi oleh beberapa ksatria berkuda. Mereka datang pagi itu juga, menambah kecemasan yang sudah mendera keluarga Rowt. Seorang pria dengan setelan paling rapi dan berkelas di antara seluruh rombongan turun dari kuda, dan tanpa basa-basi, segera memberi salam kepada Rowt dan Ash.
"Selamat pagi, Baron Galina," sapa kepala rombongan itu dengan sikap yang terlalu percaya diri. "Aku Billy Kutcher, utusan dari Tuanku Grand Duke Griffith... Kami datang untuk membawa putrimu ke Alpen sekarang juga."
Sapaannya terdengar formal, tetapi setiap kata yang terucap seperti pedang yang menyayat, tajam dan penuh penghakiman. Tatapan Billy, penuh keangkuhan, melintas dari wajah mereka seolah-olah mereka hanyalah debu yang tak layak dihargai. Aura kesombongannya begitu jelas, hampir seperti ia tengah menilai mereka sebagai makhluk yang jauh lebih rendah darinya. Ash, yang sudah sejak awal merasa cemas dan tidak nyaman dengan sikap Billy, menatapnya dengan sorot mata yang tajam dan penuh amarah yang sulit ditekan. Hawa dingin mulai memenuhi ruang ini, semakin menebal seiring dengan ketegangan yang semakin memuncak. Setiap kata Billy terasa seperti serangan halus yang merendahkan mereka semua, meski status Rowtag sebagai seorang bangsawan tak bisa disangkal.
Ash merasa sesuatu yang tidak nyaman menggeliat di dalam dirinya. Perasaan tidak suka yang tak bisa lagi ia tahan semakin tumbuh. Sikap Billy yang terang-terangan merendahkan ayahnya, seorang baron, sangat terasa menyinggung. Ia tahu persis bahwa ia bukan hanya menghadapi seorang pria yang sombong, tetapi seseorang yang dengan sengaja berusaha menjatuhkan martabat keluarganya. Suasana di ruangan itu kini terasa semakin mencekam, seakan seluruh dunia sedang menunggu ledakan yang bisa terjadi kapan saja.
Rowt, yang sejak awal merasakan ketidakberesan dalam sikap Billy, kini semakin yakin bahwa ada rencana lebih besar yang sedang dimainkan. Namun, ia masih belum bisa meraba apa yang sebenarnya tengah dipersiapkan oleh utusan Grand Duke Griffith ini. Semua perasaan waspada ini menambah beratnya beban yang ia rasakan.
Keluarga Rowt menahan diri, berusaha tetap tenang meski perasaan terhina mulai mencuat. Mereka masih berusaha mempertahankan sopan santun dan mempersilakan Billy untuk masuk ke rumah mereka, meski dengan ragu-ragu. Namun, rasa tak nyaman sudah terasa menggelayuti setiap sudut rumah.
"Tuan Kutcher, sepertinya ada kesalahpahaman di sini," ujar Rowt dengan nada yang sangat hati-hati, berusaha menjaga ketenangannya meski hatinya bergolak.
"Apa maksudmu, Baron Galina?" tanya Billy Kutcher, suaranya menggema dengan nada yang bahkan lebih tidak menyenangkan. Nada merendahkan yang sama sekali tidak bisa diterima oleh keluarga Rowtag terasa begitu jelas, seperti sembilu yang menembus ketenangan mereka.
Rowt tidak seperti Ash yang mengenyang bangku pendidikan sebuah akademi. Sebelum mendapat gelar sebagai Baron, dia hanya seorang rakyat jelata dengan profesi utamanya adalah seorang pemburu. Rowt tidak begitu memahami tentang etika hierarki kesopanan para kaum elit dengan orang yang berkedudukan lebih rendah.
''Tuan, kenapa Anda tiba-tiba datang membawa iringan untuk menjemput putri kami?'' tanya Rowt yang masih berusaha menjaga kesopanannya.
''Tentu saja kami mengikuti perintah Grand Duke Griffith, dia hanya melakukannya sesuai dengan jawaban suratmu yang menyetujui lamaran Tuanku Grand Duke Griffith,'' jawab utusan itu lagi-lagi dengan nada yang tidak bersahabat.
''Maafkan saya tuan, tapi saya rasa ada kesalahpahaman di sini yang harus kita luruskan!'' jawab Rowt masih berusaha menjaga tata kramanya saat menghadapi Billy.
''Baron, kesalahpahaman yang mana?'' tanya Billy tanpa menunggu Rowt mengatupkan mulutnya, ''Tidak mungkin jika Grand Duke membuat kesalahan!'' tambah Billy menambahkan tanggapannya dan seperti sebelumnya, selalu saja dengan gelagat yang menjengkelkan, ''Grand Duke sudah melakukan hal yang benar, sesuai dengan jawaban dari suratmu...''
''Ya tapi, surat itu bukan...''
''Kalau begitu sudah jelas,'' sahut Billy menyambar ucapan Rowt yang belum selesai, ''Maka ini adalah tanggapan dari suratmu.''
Baik Ash atau pun Ay jadi semakin berang dengan kelakuan Billy sebagai kepala utusan. Dia sama sekali tidak menghormati Rowtag.
Semiskin apa pun Rowt sekarang, dalam hierarki norma masyarakat yang berlaku, Rowtag tetaplah seorang Baron. Bangsawan yang di angkat langsung oleh Raja, sedangkan dia hanya seorang pelayan tanpa gelar apa pun.
''Tapi Tuan,'' ujar Rowtag yang masih berusaha menyanggah ucapan Billy, ''Kurasa kita harus membicarakannya, sampai saat ini kami merasa jika ada kesa...''
Sekali lagi, Rowt tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena ke tidak sopanan dari pemimpin rombongan yang sejak awal sudah menunjukkan arogansinya hanya karena dia adalah orang yang di percayai oleh seorang bangsawan tinggi. Dan, yang lebih membuat keluarga Rowt kesal, Billy seolah sengaja menunjukkan kekuasaannya dan memandang rendah keluarga Rowt yang diketahui sudah tidak punya kekuasaan.
''Baron Galina, kami datang dari tempat yang sangat jauh...'' sahut Billy kembali menyela ucapan Rowt, tapi langsung di potong oleh Ash.
''Tuan Kutcher!'' seru Ash dengan tegas memanggilnya, ''Sudah cukup dengan sikapmu!'' seru Ash lagi, dengan jelas menunjukkan kalau dia memberi peringatan keras, ''Ayahku tetap seorang Baron di sini, jaga bicaramu, kau harus lebih menghormatinya!'' seru Ash melanjutkan, sebagai seorang yang berpendidikan Ash masih berusaha menjaga kalimatnya.
''Ehem... '' Billy membersihkan tenggorokannya setelah terperanjat karena di hardik Ash, ''Baiklah, maafkan saya Baron Galina. Saya masih baru dalam hal ini, saya harap Anda mau mengerti,'' ujar Billy menjawab dan segera memperbaiki sikap tapi jelas terlihat kalau dia tidak tulus, ''Maafkan kelancangan saya Tuan Baron, tapi saya yakin kalian semua juga sudah mengetahuinya, dengan kalian bersikap begini, sama artinya kalian tidak menghormati keputusan yang sudah di ambil oleh Yang mulia Grand Duke Griffith. Kalian telah bersikap tidak hormat pada bangsawan tingkat tinggi, ini adalah sebuah penghinaan... Mengembalikan utusan yang datang, setelah kalian menjawab lamaran yang di kirim Tuanku Grand Duke...''
Billy mulai memperbaiki tata kalimatnya meski masih banyak kesalahan di sana-sini tapi bagi Rowt dan keluarganya, untuk saat ini, itu sudah cukup dari pada tidak sama sekali setelah sebelumnya Billy berulang kali memotong ucapan Rowt tanpa berpikir. nyaris di setiap kalimatnya Billy terkesan dengan sengaja menekan keluarga Rowt dengan membawa nama Gard duke Griffith.
''Tapi Tuan, aku tetap tidak bisa melakukan hal ini!'' seru Rowt tegas menjawabnya.
''Baron, Anda sadar, jika begini Anda memancing kemarahan Tuanku Grand Duke?!'' seru Billy dengan keangkuhannya hanya karena dia menjadi utusan dari bangsawan tinggi.
Billy hanya seorang pelayan, tapi dengan beraninya dia terus menunjukkan superioritasnya pada keluarga Rowt. Dia memiliki keberanian hanya karena dia adalah utusan seorang Grand Duke.
Ash berusaha menahan amarah yang sudah siap meledak. Setiap kata yang diucapkan Billy seolah semakin mengikis kesabarannya. Begitu pula Ay, meskipun usianya masih muda, ia mampu menahan dirinya dengan sangat baik, sebuah kemampuan yang tak dimiliki kebanyakan orang seusianya.
Rowtag dan Ash terdiam, menyadari betul kedudukan mereka yang rendah. Mereka hanyalah bangsawan yang diangkat oleh Raja, namun keberadaan mereka hampir tak berarti di hadapan bangsawan tingkat tinggi seperti Grand Duke Griffith—yang bahkan Raja sekalipun tidak akan berani menentangnya. Realitas itu begitu jelas, namun tak bisa dihindari.
"Tuan, bersabarlah. Aku akan membereskan barang-barangku. Segera setelah itu, aku akan pergi denganmu," sahut Atthy, suaranya terdengar tegas namun penuh dengan perasaan terpaksa. Ia memberikan salam dengan sopan sebelum beranjak menuju kamarnya, langkahnya cepat namun penuh dengan beban yang tak terucapkan.
Rowtag dan Ash meminta Billy untuk duduk, memberikan tanda bahwa pertemuan ini harus segera diselesaikan. Billy duduk dengan sikap yang tetap penuh keangkuhan, seolah menganggap segalanya sudah berada di bawah kendalinya. Sementara itu, Rowtag dan Ash segera menyusul Atthy, berusaha untuk berbicara dengannya sebelum keputusan ini benar-benar diambil.
---
"Atthy!" seru Ash dengan wajah cemas, suaranya bergetar menahan emosi.
"Ayah..." jawab Atthy, dengan suara yang tenang namun ada kepedihan yang tersembunyi di baliknya.
"Atthy, jangan lakukan ini, nak! Kita akan berusaha mencari jalan keluar!" seru Rowtag, mencoba menahan Atthy yang tampak sudah mantap dengan keputusannya.
"Kek," panggil Atthy lembut, berusaha meredakan kekhawatiran ayah dan kakeknya. "Benar apa yang dikatakannya. Utusan sudah terlanjur tiba, dan dengan kedudukan kita yang seperti ini... kita tidak punya kemampuan untuk menolaknya." Matanya menatap Rowtag dengan penuh pengertian, mencoba menyampaikan bahwa ini adalah kenyataan yang tidak bisa mereka hindari lagi.
"Tapi Atthy..." sahut Ash, dengan suara penuh keputusasaan. "Melihat semuanya sekarang, aku semakin yakin kita tidak bisa membiarkanmu pergi dengan pria seperti itu. Ada yang tidak beres dengan lamaran ini, ini tidak benar, Atthy!" Matanya penuh kerisauan, menatap putrinya seolah ingin mencegahnya dari kesalahan yang tak bisa diperbaiki.
"Ayah, aku mengerti..." jawab Atthy, lebih percaya diri daripada sebelumnya. "Tapi kita sudah tidak bisa menghindarinya lagi. Lebih mudah jika kita menghadapinya langsung sekarang." Ucapannya tegas, meskipun ada sedikit keraguan yang terpantul di matanya, ia mencoba untuk tetap kuat.
"Tapi Atthy... Kau akan sendirian menghadapinya!" sahut kakeknya dengan wajah penuh kekhawatiran, suara kesedihan begitu jelas terdengar. "Ah, tidak!" seru Rowtag tiba-tiba, matanya berbinar penuh semangat, "Aku akan ikut pergi denganmu!"
"Kakek...!" panggil Atthy dengan nada gemas, matanya sedikit berkaca. "Tidak dengan keadaan kakek seperti ini!" Ia khawatir kondisi Rowtag yang masih lemah bisa membuatnya semakin parah.
Atthy mengingatkan Rowtag karena beberapa hari yang lalu kaki Rowtag tertimpa kereta kuda saat sedang memperbaiki rodanya. Proses penyembuhan pun berjalan lambat karena usianya yang sudah lanjut.
"Ayah, ayah yang akan pergi bersamamu!" sahut Ash, langsung berusaha menggantikan posisi kakek.
"Ayah... Ay, harus masuk ke pelatihan militer minggu depan. Jika ayah pergi bersamaku, hanya akan ada tiga orang di rumah... Kakek sedang sakit, bagaimana dengan Gaff dan Dimi?" Atthy menatap Ash dengan serius, khawatir ada yang terabaikan di rumah.
"Tapi Atthy..." sahut Rowtag dan Ash bersamaan, suara mereka penuh kekhawatiran.
"Ayah, kakek, kalian yang membesarkan dan mendidikku... Tidak seperti gadis bangsawan lainnya, aku tidak dibesarkan dengan kemewahan, melainkan dengan kemandirian. Aku akan menghadapinya. Aku pasti bisa... Ayah, kakek, percayalah padaku." Atthy mencoba meyakinkan mereka dengan senyum penuh harapan, meskipun hatinya juga dipenuhi kecemasan. "Jika situasi di rumah sudah memungkinkan, salah satu dari kalian bisa menyusulku. Tapi, mungkin juga tidak perlu... Aku hanya akan di kediaman Grand Duke sebentar, mungkin satu atau dua hari. Setelah menolak lamaran itu, aku akan segera pulang... kembali ke rumah... mungkin hanya satu bulan... atau kurang."
"Atthy, maafkan aku... Aku bahkan tidak bisa menemanimu," ujar Ash, ekspresi kecewa tergambar jelas di wajahnya. Ia menyesali ketidakmampuannya untuk melindungi putrinya.
"Ayah, kakek, kalian selalu menjagaku, sejak aku masih dalam kandungan ibu... Jangan begini!" Atthy berbicara dengan lembut, berusaha menenangkan mereka. "Kita hidup miskin dan kekurangan selama ini, tapi kita tidak pernah kehilangan harga diri dan kehormatan yang kita miliki. Kakek, kakek memang sudah tua, tapi di mataku, kakek adalah pemburu hebat yang gagah berani. Atthy yang kalian lihat sekarang adalah hasil didikan kalian berdua. Atthaleyah Galina tidak lemah. Aku pasti bisa melakukannya. Percayalah... Aku harus pergi, Ayah, Kakek, untuk keluarga kita."
---