Stela, Bela, dan Rosa.

1488 Words
Stela, Bela, dan Rosa. **Bab 009 Stela, Bela, dan Rosa.** --- Ash dan Rowt akhirnya pasrah, tidak mampu lagi menahan keputusan Atthy yang sudah mantap. Atthy bukanlah tipe gadis lemah gemulai yang bisa bersikap manja. Ia sudah menerima pendidikan yang cukup dari Laura, ibunya, sebelum kepergian Laura yang terlalu cepat, dan juga dari Ash, ayahnya, selama ini. Atthy tumbuh sebagai gadis yang dibesarkan dalam kehidupan rakyat jelata, jauh dari kemewahan. Namun, pengetahuan yang dimiliki Atthy melebihi banyak gadis remaja bangsawan seusianya. Sebagai seorang wanita bangsawan, Atthy memiliki kualitas yang tidak dapat dipandang sebelah mata, dan Ash sangat memahaminya. Bahkan, dalam setiap pandangan Ash terhadap Atthy, ada rasa bersalah yang mendalam, terutama ketika ia mengingat bagaimana Laura, istrinya, dengan sabar melatih dan mendidik Atthy untuk menjadi seorang Lady yang terhormat. Laura percaya bahwa suatu saat, Atthy akan menjalani hidup yang lebih baik seperti yang seharusnya dijalani seorang bangsawan pada umumnya. Jika Ash dapat menikmati hidup sebagai seorang bangsawan, itu berkat anugerah yang diberikan oleh Raja kepada ayahnya yang berasal dari rakyat jelata. Namun, bagi Laura, situasinya berbeda. Laura sejak awal memang dilahirkan dari keturunan bangsawan yang sudah lama terhormat. Keluarga besar Laura menentang pernikahannya dengan Ash, meskipun Ash hanya anak seorang bangsawan rendah bergelar Baron tanpa wilayah yang bisa dipertahankan. Meski keluarganya tidak kaya raya, mereka terbiasa hidup dengan pola pikir bangsawan yang memiliki standar tinggi dalam menentukan pernikahan anak perempuan mereka. Sebagian besar pernikahan kaum bangsawan adalah pernikahan yang lebih mengutamakan keuntungan politik, baik untuk memperluas kekuasaan atau mempertahankan garis keturunan ningrat. Dan bagi keluarga Laura, pernikahan dengan Ash tidak memberikan keuntungan materi atau kekuasaan sama sekali, apalagi dengan keadaan Rowt yang sudah jatuh miskin dan tersingkir dari wilayah utama Nauruan. --- "Tuan, aku sudah siap. Kita bisa pergi sekarang!" seru Atthy dengan tegas, suaranya terkesan terburu-buru, memanggil Billy. "Baik... Baron, terima kasih atas kerja samanya," ujar Billy dengan nada datar, bahkan tidak membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat pada Rowt. "Ayah, kakek, Ay... Kalian harus hidup dengan baik. Aku menaruh harapan tinggi pada kalian," ujar Atthy, sorot matanya tajam namun terkesan terburu-buru, seolah waktunya sudah habis. "Gaff, jangan nakal. Perhatikan selalu kondisi tubuhmu! Untuk sementara, aku tidak akan ada untuk mengingatkan kalian. Dewasalah, jadilah anak yang manis, jangan membuat susah keluargamu. Harus hidup sehat dan bahagia!" seru Atthy, memberikan wejangan pada dua adik kembarnya dengan wajah penuh perasaan, namun ada kesedihan yang tersembunyi. "Dimi, jaga adikmu. Kau harus bisa menjadi pria yang bisa dibanggakan. Mengerti?" Atthy menepuk kepala Dimi dengan lembut, namun tatapannya begitu serius. Matanya berkaca-kaca, dan meskipun ia berusaha keras menahannya, beberapa butir air mata mulai berjuang untuk jatuh. "Aku pergi... Jaga diri kalian. Kalian harus hidup dengan baik, tetap sehat dan bahagia, sebagaimana kita selalu hidup seperti ini..." ujar Atthy, suaranya sedikit serak, namun ada kesan terburu-buru yang sangat terasa. Air mata mulai menggenang di matanya, meskipun ia berusaha menahannya dengan sekuat tenaga. Perpisahan itu sangat mendadak, dan kedukaan yang mendalam seakan tak sempat tertuang dalam kata-kata. Atthy hanya bisa mengucapkan beberapa kalimat sederhana, seolah waktunya tidak memberi kesempatan untuk lebih banyak bicara. Mereka pun tak mampu mengucapkan apa pun lagi, hanya bisa menitikkan air mata sambil memeluk Atthy, dalam keheningan yang memaksa. --- Setelah tiga hari perjalanan dari Anga di Caihina, rombongan yang membawa Atthy akhirnya tiba di pusat kota Nauruan. Mereka segera memasuki sebuah penginapan lusuh yang terkesan tidak terawat. Prajurit yang mengiringi rombongan juga beristirahat di kamar-kamar penginapan yang telah disediakan. ''Nona, kita akan menunggu utusan dari Alpen di sini!'' seru Billy dengan nada yang tegas. ''Bukankah kalian utusan dari Alpen?!'' seru Atthy dengan wajah bingung, bertanya dengan nada menyelidik. ''Nona, aku hanya ditugaskan untuk menjemputmu!'' jawab Billy dengan acuh, hampir seperti memalingkan wajahnya. ''Aku punya tugas lain di Nauruan, itu sebabnya akan ada utusan lain dari Tuanku Grand Duke yang akan membawamu ke Alpen... Ku harap nona bisa dengan tenang menunggu, tolong jangan menambah pekerjaan untukku!'' Seru Billy dengan intonasi yang tidak bersahabat, senyum palsu terpasang di wajahnya. ''Apa ini?!'' pekik Atthy pelan, suaranya hampir tenggelam. ''Ini aneh...'' gumamnya dalam hati, perasaan tidak nyaman mulai tumbuh. Ketika Billy meninggalkan Atthy di kamar yang disediakan untuknya, Atthy hanya bisa terdiam. ''Ada apa dengannya? Sangat tidak sopan... Apa dia yakin sekali jika majikannya tidak akan menerima aku sebagai istrinya? Itu menguntungkan untukku... Tapi, setidaknya... jika majikannya bersedia menjadikanku istrinya, bukankah pegawai biasa seperti dia seharusnya lebih waspada padaku...?'' Atthy menghela napas. ''Dan lagi, apa ini?! Seorang Grand Duke yang berkekuasaan besar menggunakan penginapan seperti ini untuk calon mempelainya?! Apa dia benar-benar bangsawan dengan titel Grand Duke? Membiarkan calon istrinya tidur di tempat seperti ini?! Meskipun mungkin dia membenciku, tapi setidaknya dia bisa menjaga martabatnya sebagai seorang bangsawan... Ini tidak masuk akal!'' Atthy mulai merasa semakin curiga. Perasaan tidak nyaman tumbuh di dadanya. Mengapa mereka harus menunggu utusan lain? Apa lagi di penginapan murahan seperti ini?! Walaupun dia hanya seorang bangsawan miskin, Atthy merasa tidak pantas diperlakukan seperti ini, terlebih oleh pegawai biasa yang seharusnya tahu batasannya. Suara kasar Billy benar-benar menyakitkan hatinya. Lagipula, dia adalah calon istri dari Tuan yang dilayani, bukan seseorang yang harus diperlakukan seperti ini. Namun, Atthy tahu dia harus bersabar. Untuk saat ini, dia harus diam dan mengikuti instruksi. Meskipun begitu, hatinya tidak bisa begitu saja tenang. Dia harus mempelajari situasinya lebih dalam sebelum mengambil langkah selanjutnya. --- Dua hari telah berlalu sejak Atthy terjebak di sebuah penginapan murah yang penuh ketidaknyamanan. Rasa janggal dan ketidakpastian semakin membekas di hatinya. Namun, hari ini, keadaan berubah. Atthy dibawa ke sebuah rumah mewah dan megah yang terletak di pusat kota Nauruan. Rumah itu terlihat seperti istana, dengan furnitur yang sangat mewah dan berkilau. Di sana, Atthy didandani dengan pakaian yang sangat glamor dan mencolok, dihiasi dengan aksesori dan perhiasan yang berat, yang membuatnya merasa seolah-olah ia dipaksa menjadi seseorang yang sama sekali bukan dirinya. ''Haruskah aku memakai semua ini?!'' tanya Atthy dengan suara rendah, ketidaknyamanan terpancar jelas di wajahnya. Pakaian itu jelas mahal dan mewah, namun sangat berlebihan bagi Atthy. Terlalu mencolok, seperti ingin menunjukkan sesuatu yang lebih daripada sekedar keindahan. Perhiasan yang menggantung di lehernya terasa berat, seakan menjadi simbol dari sesuatu yang tidak diinginkan. ''Iya, nona, ini harus, karena semua ini hadiah dari Tuanku Grand Duke untuk Anda,'' jawab Stela, pelayan senior yang memimpin di antara tiga orang yang datang untuk melayaninya. ''Lalu kalian, siapa?'' tanya Atthy dengan kening berkerut, merasa aneh dengan kehadiran mereka bertiga. Awalnya, Atthy mengira mereka hanya akan membantu mendandani dan mempercantiknya. Namun, anehnya, setelah semua selesai, mereka tidak pergi. Mereka justru tetap berada di dekat Atthy, bahkan mengikuti ke mana pun ia pergi. ''Mulai hari ini kami akan melayani Anda, nona, kami adalah pelayan Anda sekarang,'' jawab Stela, suaranya datar, tanpa ekspresi tulus. ''Aku tidak membutuhkannya!'' seru Atthy dengan tegas, suaranya sedikit meninggi. Sikap mereka hampir identik dengan Billy, tidak tulus dan terasa dipaksakan. Bahkan, mereka jauh lebih aneh dan mencurigakan. Sikap seperti ini sangat berbeda dengan pelayan yang seharusnya terlatih dalam etika dan tata krama bangsawan. Para pelayan seharusnya tahu betul bagaimana bersikap, mengenalkan diri sejak awal, dan menghormati batasan yang ada. Namun, sikap mereka justru menambah kecurigaan Atthy. ''Maaf, nona, tapi itu harus. Sebagai seorang bangsawan, tidak pantas jika Anda tidak didampingi pelayan,'' ujar Stela dengan nada yang sedikit mengancam. Atthy menyadari kebenaran kata-kata pelayan itu. Memang, sebagai bangsawan, ia tidak bisa sembarangan menolak, meski hatinya tidak nyaman. Sejak kecil, ia telah menerima pelajaran etika dari ibunya dan pendidikan dari ayahnya. Meskipun ia dibesarkan dengan keras seperti rakyat jelata, Atthy tidak buta tentang bagaimana seharusnya bersikap sebagai seorang bangsawan. Hanya saja, ia belum terbiasa dengan segala kemewahan ini. ''Kalau begitu... kenapa harus tiga? Satu sudah cukup...'' jawab Atthy dengan nada yang agak menantang. ''Maafkan kami, nona, tapi kami hanya mengikuti perintah,'' jawab Stela tegas, tanpa sedikit pun tampak penyesalan. ''Baiklah,'' jawab Atthy pasrah, meskipun hatinya merasa semakin terjebak. Atthy tahu betul bahwa jika mereka sama seperti Billy, para pelayan ini tidak akan ragu untuk mengancamnya secara halus dengan menggunakan nama Grand Duke. ''Terima kasih, jika begitu kami akan mulai mendandani Anda,'' ujar Rosa, salah satu pelayan yang lebih muda dengan senyum yang terasa paksa. Beberapa jam kemudian, Atthy pun selesai dengan penampilannya. Gaun mewah dan perhiasan yang menempel di tubuhnya hampir membuatnya kehilangan hampir semua kenyamanan. Meskipun ia memiliki kulit gelap yang menawan dan rambut merah menyala yang cantik, penampilannya terasa tidak cocok dengan gaun dan aksesori yang membebani tubuhnya. Bola matanya yang hijau dan tajam berbinar penuh tekad, namun justru semakin mencolok dengan segala kemewahan yang dipaksakan kepadanya. Secara fisik, menurut pandangan umum, Atthy mungkin tidak dianggap cantik. Namun, ia jauh dari kata buruk rupa. Justru, Atthy memiliki daya tarik yang unik—wajah polosnya memberi kesan manis dan segar, sementara rambut merah menyala dan mata hijau yang tajam menambah kesan karismatik yang tidak dimiliki banyak wanita. Atthy mungkin tidak seksi, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang membuat orang terpikat. Semua yang ada pada dirinya terasa sangat pas, menambah tegas penampilannya yang sudah lantang dan memancarkan semangat seorang wanita pemberani. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD