Cemburunya seorang Darryl

1262 Words
Paginya, Anastasha sudah bersiap ke sekolah. Terlihat Mitha, mama Anastasha sedang menyiapkan sarapan di meja makan. Biasanya Mama dibantu Bi Ira, tetapi Bi Ira masih berada di kampungnya. Anastasha menghampiri mamanya, “Pagi, Ma!” “Pagi, Nak!” “Papa sama Kakak mana, Ma?” “Masih di kamar, Mama bangunin susah banget.” “Mereka, kan, kebo. He he!" ujar Anastasha terkekeh. “Kamu ini.” “Pagi, Ma. Pagi, Bocil!” sapa Ardian. “Pagi, Kak.” “Ih Kakak, kenapa Tasya dipanggil bocil terus, sih? Kan, kesel!” kesal Anastasha pada kakaknya. “Kan emang masih bocil,” ledek Ardian santai sambil meminum s**u kesukaannya. “Dasar kebo!” balas Anastasha. “Sudah-sudah, mending Tasya panggil Papa dulu, ya, di kamar!” “Iya, Ma.” Anastasha berjalan sambil menggoyangkan badannya bak anak kecil, menuju kamar papa dan mamanya. Tok! Tok! “Papa, kenapa lama?!” teriak Anastasha dari luar kamar. “Sebentar!” Pintu kamar pun terbuka, memperlihatkan wajah tampan papanya, Adhitama Mahendra di usianya yang sudah menginjak empatpuluh lima tahun. “Papa kenapa lama?” tanya Anastasha lagi. “Tadi ada Lala, ngeliatin Papa udah kayak mau nerkam aja.” “Bilang aja Papa takut.” “Bukan takut Sayang, kecoaknya aja yang mukanya seram.” Papa Adhitama membela diri. “Ada-ada aja Papa, mah. Udah, ah, ayo cepetan, ditungguin Mama sama Kakak, tuh.” “Iya, ya udah, ayo!” Adhitama merangkul anak gadisnya menuju meja makan.   *** “Kak, kapan lulusnya, sih?” tanya Anastasha pada Ardian, mereka sedang perjalanan menuju sekolah Tasya. “Bentar lagi Sayang, kenapa, sih?” tanya balik Ardian. Ardian sudah tiga tahun lebih di Jakarta, sebelum keluarganya pindah ke kota ini untuk menempuh pendidikan di bangku kuliahnya. “Tasya nggak ada yang ngajak main tau, bosen di rumah terus,” keluh Anastasha mengembungkan kedua pipinya, membuat Ardian gemas. “Ya udah, besok kita jalan-jalan. Oke?” “Beneran?” girang Anastasha. “Iya, beneran.” “Makasih, Sayangkuu!” Anastasha memeluk kakaknya yang sedang mengemudi dengan erat. “Sama-sama.” “Kak, berhenti di sini aja!” pinta Anastasha. “Kenapa?” “Gak pa-pa, berhenti disini aja.” “Iya, iya.” Mobil yang ditumpangi Anastasha dan Ardian kemudian berhenti di depan pagar SMA Taruna Bangsa, tidak jauh dari gerbang masuk. Anastasha keluar dari mobil, disusul Ardian. “Sekolah yang bener, ya, Sayang, biar pinter kayak Kakak.” “Idih, sombong!” ledek Anastasha. “Biarin, yang penting Kakak pintar!” ujar Ardian bangga. “Iya-iya, Kakakku yang songong!” Anastasha memeluk kakaknya. Ardian membalas pelukan Anastasha lalu mencium kening dan pipi adiknya. “Semangat!” Ardian melepas pelukan kemudian menyemangati Anastasha. “Siap, Komandan!”   *** Di sisi lain, Darryl mengemudi dengan ugal-ugalan sehingga banyak pengendara yang mengumpat padanya. Tetapi kelihatannya Darryl tidak peduli. Saat tiba di gerbang sekolah, lagi-lagi hatinya memanas. Tak jauh di depan sana, Darryl melihat Anastasha sedang berpelukan dengan seorang pria. Bahkan pria itu berani mencium kening dan pipi gadis itu. Darryl mengepalkan tangannya yang masih berada di setir motornya, menahan amarah yang sedang bergejolak di dadanya. Anastasha membuatnya sangat marah. Darryl mengemudikan motornya menuju parkiran sekolah. Dan berjalan ke arah kelas Anastasha, XI MIPA 4. Setidaknya ia sudah tahu di mana kelas gadis itu. Darryl menyandarkan tubuhnya di tembok sebelah pintu masuk kelas. Para siswi yang berlalu lalang terlihat berhenti sejenak, sekadar untuk mengagumi betapa indahnya makhluk Tuhan satu ini. Anastasha berjalan dengan riang menuju kelasnya. Saat tepat akan masuk ke kelas, tangannya ditarik oleh seseorang. Dia tidak sadar jika Darryl ada di situ. Anastasha kaget dan Darryl menyeret gadis itu menuju rooftop. “Kak, sakit ...,” lirih Anastasha, genggaman Darryl sangat kuat di lengannya. Darryl tidak peduli, amarahnya belum surut juga. Darryl menghentak kasar Anastasha ke tembok, saat sudah berada di rooftop. “Siapa lagi laki-laki itu Anastasha?!" marah Darryl. “Kakak bicara apa?” “Laki-laki tadi siapa, hah?!?” Emosi Darryl memuncak, Anastasha tak kunjung memberi jawaban siapa laki-laki tadi. “Itu pacar lo?” Tak ada jawaban dari Anastasha, membuat pria itu benar-benar murka. “Jawab Tasya! Dia siapa?!” teriak Darryl membuat Anastasha kaget. Mata Anastasha berkaca-kaca, sungguh, ini pertama kalinya dia dimarahi seperti ini. Papa, mama dan kakaknya sekalipun tidak pernah memarahinya. Anastasha menunduk, bahu gadis itu bergetar. Ia menangis. Emosi Darryl sedikit turun melihat gadis di depannya ketakutan. Darryl sebenarnya tidak ada niat membuat Anastasha takut, dia hanya menginginkan sebuah jawaban. Hati batu Darryl tergerak untuk memeluk gadis itu. “Hei, kenapa nangis?” Intonasi suara Darryl melunak, tak membentak seperti tadi. Tangis Anastasha tambah pecah, entah kenapa dia sangat emosional sekarang. “Tasya, maaf, gue cuma mau jawaban. Jangan takut Anastasha ....” “Anastasha!” panggil Darryl, tetapi diabaikan oleh gadis di pelukannya yang masih betah menangis. Darryl mengeratkan pelukannya pada Anastasha, menyandarkan kepala gadis itu di dadanya. “Udah, ya, maafin gue. Udahan nangisnya,” ucap Darryl pelan. “Jangan kasar lagi, hiks ....” Anastasha masih sesenggukan di d**a Darryl. “Iya, Sayang,” iseng pria itu. Anastasha menenggelamkan wajahnya di d**a Darryl, malu katanya. Darryl tersenyum melihat tingkah malu-malu Anastasha. *** Joshua menatap bapak tukang bangunan yang sedang merenovasi gerbang sekolahnya, terlihat mereka dibasahi keringat. “Pak, yang semangat, ya!” “Siap!” Dari hati Joshua yang paling dalam, muncul niat baik. Dengan segenap jiwa ia membantu bapak tukang mencampur adukkan semen dan pasir. “Jangan, Nak. Nanti seragamnya kotor!” tegur pak tukang. “Gak papa, Pak. Saya ikhlas lahir batin. Saya memang suka membantu, guru-guru semua mengakui itu.” Perkataan Joshua memang benar, ia diakui oleh semua guru. Bukan karena sikap budi pekertinya, tetapi sifat dajjalnya yang mendarah daging. “Bukan pamer loh, Pak. Cuma ngasih tahu aja.” lanjut Joshua. Bapak itu tersenyum, remaja memang begitu. Tak pamer katanya, tapi lagaknya sok iye. Setelah selesai membantu, tiba-tiba ada sebuah ide yang muncul di otak cemerlangnya. Senyum songong tercipta di bibir Joshua, ia mengambil sebuah troli semen yang ada di dekat tumpukan pasir. “Pak, trolinya saya bantu bersihin ya!” Pak tukang mengacungkan jempol, “Siap, makasih, Nak.” Joshua mengangguk sopan, sopan sekali, sehingga banyak orang yang akan tertipu dengan sikap palsunya itu. Dengan senyum psikopatnya ia membawa troli itu menuju pipa air, setelah bersih bukannya membawa kembali ke tempatnya, Joshua malah menggiring troli itu ke tengah-tengah lapangan. “Woy rakyat Taruna, yang mau ikut joget sungguh kumerasa resah bareng gue, sini turun!” teriak Joshua pada kaum milenial Taruna Bangsa. Mereka berbondong-bondong menuju lapangan, melihat Joshua yang asik joget sendiri di bawah sana. Apalagi musiknya yang keras serasa mengajak untuk menggoyangkan badan. Iyap, Joshua memasang sound yang entah didapat dari mana. “Cel, dorong gue, gih.” pinta Joshua saat melihat Marcel lewat di depannya. Marcel tanpa protes menurut saja, ia mendorong Joshua ke sana kemari mengelilingi para siswa-siswi. “Entah apa yang merasukimu ... hingga kau tega mengkhianatiku, yang tulus mencintaimu.” Joshua bersenandung mengikuti irama. Saking bersemangatnya Marcel mendorong Joshua, ia tak sadar jika ada batu krikil, sehingga troli oleng dan Joshua jatuh terjerembab di semen basah. Banyak tingkah, sih! Bapak tukang bangunan yang awalnya ikut goyang, sekarang tertawa. Ia kini percaya jika siswa yang ada di depannya ini memang diakui guru-guru, diakui kebandelannya. “JOSHUA ASTAGFIRULLAHALAZIM!” Kepsek datang beserta beberapa guru-guru. Mereka awalnya rapat, tapi mendengar keributan, rapat langsung dibubarkan. Keramaian langsung buyar, menyisakan Joshua yang saat ini sudah berada di tengah-tengah lapangan dengan wajah dan seragam dipenuhi semen. Bahkan Marcel sekarang sudah tak terlihat. “MAU SEPATU SAYA YANG TERBANG, ATAU KAMU YANG KE SINI?!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD