Seperti biasa, Darryl akan pulang malam. Bedanya sekarang masih jam tujuh, tidak terlalu malam seperti kemarin-kemarin. Pria itu lagi-lagi hanya menemukan kekosongan di rumahnya, semua terasa hampa, tak ada yang menarik.
Darryl berjalan santai menaiki tangga menuju kamarnya. Lihatlah pria ini, terlihat lelah dan begitu menyedihkan. Sungguh, Darryl hanya membutuhkan sandaran.
Ia melempar tasnya ke sembarang arah, lalu berbaring di atas kasur empuknya menatap langit-langit kamar. Darryl butuh seseorang untuk berbagi cerita, tentang kerasnya dunia untuknya. Tetapi siapa? Adakah? Sangat menyedihkan!
Darryl meraba saku celananya mencari benda tipis di sana, kemudian mencari nomor kontak Anastasha, yang tadi sempat dia copas secara paksa dari handphone gadis itu.
Anastashanya Darryl, nama kontak gadis itu. Darryl tersenyum sendiri melihat layar ponselnya. Sepertinya dia sudah gila!
Entah apa yang merasuki Darryl, pria itu menekan tombol panggil.
“Halo?” Terdengar sahutan dari seberang sana.
“Halo?”
“Ck, siapa sih. Kalau iseng jangan ke nomer Tasya juga, dong!” Omel gadis itu.
“Halo?”
“Halo?!”
“Tasya matiin, ya!” Lalu sambungan pun terputus.
Darryl sepertinya masih ingin mendengar suara Anastasha, dia kembali menekan tombol panggil. Berdering, tetapi tak kunjung diangkat sampai panggilan itu berhenti. Darryl mencoba menelepon lagi.
3 detik, 4 detik, 5 detik, gadis itu malah mematikan panggilannya.
Darryl menelepon lagi, sepertinya pria ini sedang rindu.
“Halo? kalau enggak penting nggak usah telepon Tasya, ya! Ganggu tidur Tasya aja!” omel Anastasha marah-marah.
“Anastasha ...,” lirih Darryl, suaranya tercekat.
“Siapa?”
“Tasya ...,” panggil Darryl lagi, suaranya sangat rendah.
“Kak? Itu Kak Darryl?”
“Iya.”
“Suara Kakak kenapa? Kok pelan banget? Sakit?” Terselip nada kekhawatiran di sana.
“Nggak pa-pa, gue nggak pa-pa.”
“Tapi suaranya?”
“Ke sini bisa?”
"Ke mana?” Anastasha terdengar bingung.
“Ke rumah gue.”
“Hah? Ngapain?”
“Tasyaaa ....” Darryl terdengar memelas.
“Tapi Tasya nggak tahu rumah Kakak.”
“Gue jemput, sekalian ketemu Mama.”
“Iya.” Anastasha terdengar ragu, detik selanjutnya gadis itu mematikan panggilannya.
***
“Kak?” panggil Anastasha pada Darryl yang sedang membelakanginya.
Mata Darryl terlihat lelah, sangat lelah. Dan Anastasha melihat itu. Ke mana perginya aura menyeramkan pria di hadapannya ini?
Darryl mendekat pada Anastasha, pria itu menjatuhkan kepalanya di bahu Anastasha. Memeluk erat gadis di depannya. Nyaman, sangat nyaman, Darryl merasa lebih tenang setelah memeluk Anastasha.
“K-Kak!” Anastasha terkejut akan tindakan tiba-tiba Darryl.
“Hm,” gumam Darryl pelan.
“Kenapa?”
“Nggak pa-pa, mama lo di mana?”
“Mama ada di dalam.”
“Gue mau ketemu.”
“Ya udah, ayo masuk!”
“Hm.”
“Kak lepasin dulu, katanya mau ketemu mama.”
“Sebentar, sebentar lagi.” Darryl malah mencari posisi ternyamannya.
“Kak ....”
“Iya,” ujar Darryl sedikit kesal, Anastasha telah mengganggu kenyamanannya.
Anastasha berjalan memasuki rumahnya diikuti Darryl dan menemui Mama Mitha yang sedang menonton sinetron.
“Maa!”
“Ma, Kak Darryl mau ketemu. Kangen katanya,” cakap Anastasha loss.
“Menantu Mama kangen?” tanya Mama Mitha yang ditujukan pada Darryl.
“Iya, Darryl kangen.”
Mitha melihat memang ada sinar kerinduan di mata Darryl, entah merindukan siapa. Mitha yakin rindu itu juga ditujukan pada orang lain, orang tuanya mungkin?
Mitha berdiri dari duduknya lalu memeluk calon menantunya, dan disambut hangat oleh Darryl. Begini ternyata rasanya dipeluk seorang mama, nyaman dan terasa aman, Darryl lama tak merasakan itu. Bahkan sudah sangat lama, sehingga dia lupa bagaimana rasanya.
Mitha mengelus punggung Darryl, mencoba memberikan kenyamanan yang lebih untuk pria yang sudah beranjak dewasa itu.
Lama merasakan pelukan Mitha, mama Anastasha, Darryl kemudian melepas pelukannya. “Makasih, Mama,” gumam Darryl, kesedihan dan rasa puas sangat kentara dari wajahnya.
“Iya, sama-sama.”
“Ma, boleh Darryl membawa Anastasha ke rumah Darryl?”
Anastasha terkejut dengan pertanyaan Darryl, gadis itu menatap mamanya mengode, agar ia tidak usah diizinkan ikut ke rumah Darryl.
“Di rumah ada siapa aja?” tanya Mitha mengabaikan tatapan memohon anaknya.
“Bi Minah, di rumah cuma ada Bi Minah.”
“Iya boleh, tapi Tasya jangan dimacem-macemin, ya!” pinta Mitha dan mengizinkan Darryl membawa Anastasha.
Wajah Anastasha mendadak lesu, mamanya memang tidak bisa diajak kompromi.
“Iya, Ma.”
***
“Pegangan, Tasya!” teriak Darryl agar Anastasha bisa mendengar suaranya.
“Apa?!”
Jalan raya sangat bising.
“Pegangan! Gue mau ngebut!”
“Pelan-pelan Kak, Tasya takuuut!”
“Kakak, jangan ngebut. Takutt!!”
Tasya terus-terusan memperingati Darryl, agar tidak mengebut. Tetapi Darryl tetaplah Darryl, tidak mau tahu apa pun.
Saat sudah sampai di pekarangan rumahnya, Darryl membuka helm dan turun dari motor. Alangkah terkejutnya ia melihat Anastasha menangis.
“Kenapa?”
Anastasha masih terus menangis dan menunduk. Darryl kemudian membuka helm gadis itu, menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajah cantik Anastasha. Darryl mengusap air mata gadisnya.
“Udah, gue minta maaf. Nggak usah nangis!” Kata Darryl yang terdengar kelewat santai.
Darryl kelabakan, bingung harus berbuat apa untuk meredakan tangis Anastasha karena gadis itu malah deras menangisnya.
“Hei, udah nangisnya. Sayang, udah, ya. Darryl minta maaf,” bujuk Darryl, mencoba menenangkan Anastasha.
Darryl memeluk Anastasha, membuat tangis Anastasha sedikit reda.
“Masuk ya, di luar dingin.”
***
Di ruang tengah, Darryl terlihat tertidur dengan nyenyak di pangkuan Anastasha. Ia tidak tahu kenapa pria yang ada di pangkuannya itu terlihat sangat lelah. Kening Darryl berkerut seperti banyak pikiran, padahal sedang tertidur.
Darryl membuka matanya, membuat Anastasha kaget. Ternyata pria itu belum tidur, ia menggenggam jemari gadis itu.
“Tasya ...,” lirih Darryl.
"Lakuin lagi, ini nyaman." Darryl membawa tangan Anastasha menuju keningnya lagi.
“Tasya, Tasya tahu? Darryl juga berdarah saat Darryl jatuh, Darryl manusia biasa Tasya. Tapi kenapa Mama sama Papa nggak peduli? Kenapa Papa enggak mau nolong saat Darryl jatuh? Kenapa Mama nggak mau ngobatin luka Darryl? Kenapa? Jawab Tasya, kenapa?” Darryl frustrasi. Ia menatap mata Tasya dan mengeluarkan unek-uneknya.
Anastasha bingung harus berkata apa.
“Katakan Tasya, apa Darryl sangat tidak berharga? Apa Darryl menyusahkan karena sering membuat resah Ibu BK dan guru-guru?” tutur Darryl dengan terus menggenggam tangan Anastasha.
“Tasyaa ... Darryl cuma mau mereka memperhatikan Darryl. Sekadar marah saja tidak apa-apa.”
“Tasya ... Darryl mau Mama meluk Darryl, mencium kening Darryl. Darryl mau Papa selalu nanya bagaimana sekolah Darryl. Apa Darryl enggak pantas buat dapat perhatian mereka? Tasya jawab, jangan diem aja!”
Darryl memejamkan matanya, menahan gejolak emosi yang siap meledak kapan saja jika berbicara tentang orang tuanya.
“Kak ....”
Anastasha mengelus kening lelaki yang sedang frustrasi itu, untuk meredam emosi Darryl.
“Tasya, apa Darryl tidak pantas untuk dicintai?”
“Kak, jangan bicara begitu. Orang tua Kakak pasti sangat mencintai Kakak.”
“Enggak Tasya! Mereka bahkan lupa kalau mereka punya anak!”
“Kalau gitu, Tasya yang akan mencintai Kakak.”
Terkejut? Anastasha saja terkejut dengan apa yang barusan ia katakan. Darryl yang memejamkan matanya, langsung membuka mata karena ucapan Anastasha.
“Tasyaa ....”
“Iya?”
“Tolong cintai Darryl, Darryl mohon ....”