Sekolah ricuh karena Barongsai

1043 Words
SMA Taruna Bangsa jam pelajaran kosong, serasa seperti surga dunia untuk para murid. Di sebuah kelas, terjadi kerusuhan yang tidak bisa lagi diungkap dengan kata-kata. Pelajaran geografi baru saja selesai, dan guru berikutnya tidak ada karena sekolah kembali mengadakan rapat karena tempo lalu sempat tertunda. Joshua, seperti biasa ia adalah pemicu keributan. Ia adalah dalang dari semua masalah. Saat ini dia pria dengan kapasitas IQ yang masih dipertanyakan itu sedang menutup mata, lalu berjalan menangkap teman-temannya yang entah sejak kapan sudah larut dalam permainan yang Joshua buat. Mike yang jengah mendengar suara-suara j*****m teman sekelasnya mengedarkan pandangannya, ia melihat tumpukan buku paket yang belum di kembalikan ke perpustakaan. Tidak tahu inisiatif dari mana, ia pun berniat mengembalikan buku-buku itu. “JO!” teriaknya memanggil Joshua yang masih asyik dengan permainannya. Sengaja ia berteriak, kalau hanya berbicara pelan. Suaranya pasti sudah tenggelam. Merasa terpanggil, Joshua menghentikan langkahnya, namun belum membuka mata. “APA?” Mike mendekati Joshua dan menepuk pundak sahabatnya itu, “Balikin paket, kuy!” “Kesambet apa lo? Biasanya denger kata perpus aja kesurupan lo!” “Gabut gue, ayolah.” Joshua manggut-manggut saja, kemudian ia dan Mike membagi dua buku-buku itu lalu keluar dari kelas meninggalkan teman sekelasnya yang masih melanjutkan game yang bermula dari Joshua. Sesampainya di perpustakaan, mereka ngadem sebentar. Tempat itu benar-benar sunyi, hanya beberapa saja yang mengisi. Pasti mereka adalah para Einstein dan Nikola Tesla dari kelas IPA. Mike dan Joshua lalu keluar, mereka berjalan sok keren, padahal tidak ada siapa-siapa yang memperhatikan. Mata Joshua mengarah pada sebuah pintu ruangan, sebuah ide muncul di otaknya. “Mike ikut gue,” Joshua menyeret Mike mengikuti dirinya menuju ruang laboratorium biologi. Dibukanya pintu yang tidak terkunci itu, mereka pun masuk. Barang-barang yang asing langsung tertangkap oleh indra penglihatan mereka. Joshua lalu mengambil sebuah tengkorak kepala lengkap dengan gigi-giginya, tak lupa ia mengambil sebuah kain putih yang terlipat rapi di dalam sebuah lemari kaca. Seakan mengerti dengan pemikiran Joshua, Mike langsung berdiri di belakang Joshua dengan sedikit membungkuk. Allahuakbar, mereka cosplay menjadi barongsai dengan menutupi tubuh dengan kain tersebut. Tak lupa tengkorak itu yang menjadi wajah barongsai. Dengan ketololan yang patut diacungi jempol, mereka keluar dari laboratorium dan melangkah sambil melompat-lompat. Menuruni tangga, kemudian memasuki kelas satu-persatu. Semua kelas mereka jelajahi. “Gir ra minggir tubruk!” Joshua menerobos semua siswa yang sedang nongkrong di depan kelas masing-masing. “WOI MINGGIR, BARONGSAI KELAS DUNIA MAU LEWAT!” Tawa menghiasi sekolah Taruna Bangsa, berkat dua orang ini. Tak lupa mereka kembali ke kelas mereka dengan melompat-lompat ala barongsai. “Anjir, Hahah ngapain lo berdua?!” “Si anjing b**o banget!” Mereka lalu ikut di belakang Joshua dan Mike, punggung ditutupi dengan taplak meja. Barongsai yang katanya kelas dunia itu pun menuju halaman sekolah, dengan tingkah khas anak IPS, mereka membuat satu sekolah ricuh. Dan pemicunya, masih gusti raden Joshua.   *** Baru saja Anastasha, Melissa, dan Sasha masuk kelas, suara memekakkan telinga sudah terdengar sangat nyaring. “Jamkos gaes! Guru rapat, yee!” teriak Bahar heboh. Seketika Yunus sang anak band, langsung memukul-mukul meja menggunakan pulpen layaknya memainkan sebuah drum. Gitela, Callistiya, Najila, Diandra, Indayra, dan Diyahani maju ke depan kelas menarikan tarian dance Super M yang judulnya Jopping. Bahkan Melisa dan Anastasha yang awalnya diam menikmati cirengnya, tanpa babibu ikut bergabung. Yeah mereka adalah K-popers garis keras. Sedangkan Sasha tidak tahu menahu tentang K-pop. “Cuz when we jumping and popping, we jopping!” sorak para K-popers. “Jopping!!” “Berisik, ganti lagu woyy!” sahut Reon di tengah keramaian. “Demi cintamu rela kuberpisah, meski sekian lama kita takkan bersua. Pergilah kasih, usah risaukanku yang menanti.” Yunus bernyanyi dengan percaya dirinya ke depan kelas, membuat para K-popers mendelik ke arahnya. “Ganggu kesenangan aja!” omel Anastasha, tetapi sepertinya Yunus tidak mendengar karena sibuk dengan penghayatannya menyanyikan lagu yang judulnya Satu Hati tersebut. Kelas XI MIPA 4 sudah seperti pasar. Luar biasa berisik. Dan tiba-tiba, makhluk aneh masuk ke dalam kelas mereka. Barongsai aneh tapi bisa mengundang tawa. Mulut tengkorak itu digerak-gerakkan sehingga terlihat seperti ingin mencari mangsa. Tiba-tiba handphone Anastasha bergetar, sebuah panggilan masuk. Ia menggeser tombol hijau. “Halo?!” Anastasha sedikit berteriak karena ramainya kelas. “Ke sini, rooftop!” Tut! “Apaan, sih? Rooftop? Emang rooftop kenapa? Mau roboh?” Anastasha berjalan menghentak-hentakkan kakinya menuju rooftop. Kini dia sudah berdiri di belakang Darryl. “Kak.” Darryl mendekat dan berhenti tepat di depan gadis itu, “Tasya!” “Iya?” “Sudah mencintai Darryl?” Anastasha menggeleng , ”Belum,” jawabnya polos. “Kapan mencintai Darryl?” “Kapan-kapan.” “Kok kapan-kapan?” protes Darryl. “Kan butuh waktu, Kak.” Sebuah suara mengusik keduanya, mereka pun mendekat ke pembatas rooftop dan melihat kericuhan yang terjadi di halaman sekolah. Darryl kembali menatap Anastasha, “Berapa lama?” “Nggak tahu.” “Ck, udah berusaha buat cinta sama Darryl?” “Ehm, belum.” Jawaban Anastasha membuat Darryl tambah kesal. “Tadi malam, kan, udah janji!” “Tasya bingung harus mulai dari mana untuk mencintai Kakak.” “Mulai sekarang panggilnya Darryl aja. Nggak usah pake embel-embel kakak,” saran Darryl. “Tap-” “Dilarang protes!” “Tapi ka-” “Satu kali protes, satu kali ciuman!” Sudahlah, Anastasha kalah telak kalau ancamannya sudah begini. “Iya, Kak, nanti Tasya coba.” “Sekarang, dong!” “Iya, astaga … bawel banget, heran.” Darryl tersenyum tipis, ia kemudian memeluk gadis di hadapannya itu. Seorang Darryl bermanja pada seorang perempuan, sungguh ini patut diagendakan. “Pulang sekolah mau ke mana?” tanya Darryl, ia masih posisi memeluk gadis di hadapannya itu. Anastasha menggelengkan kepala.” Gak ke mana-mana, langsung pulang.” “Ikut gue, ya.” “Ke mana?” “Ikut aja.” Anastasha menganggukkan kepalanya menurut. Suara ricuh tiba-tiba saja terdengar, Anastasha dan Darryl spontan menengok ke bawah. Terlihat kain putih yang bergerak-gerak dengan tengkorak yang menjadi kepalanya, barongsai abal-abal itu membuat sekolah menjadi runyam. Darryl berdecak sinis saat sekilas melihat siapa di balik kain itu. “Sinting …!” gumam Darryl. Sedang Anastasha tertawa geli melihat aksi Joshua dan juga Mike. Darryl menatap aneh Anastasha, bisa-bisanya gadis itu tertawa, Darryl tidak melihat adanya kelucuan sama sekali.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD