Iya, sayang?

1084 Words
Kamis pagi, di sebuah warung kopi yang letaknya di belakang Sekolah SMA Taruna Bangsa. Ada tiga anak manusia yang sedang bersantai ria. “Ryl, gue lihat akhir-akhir ini lo deket sama cewek. Kenapa nggak cerita sama kita?” tanya Marcel setelah menyeruput kopinya. Darryl mengedikkan bahu santai sambil menyesap rokoknya, seolah tak peduli dengan pertanyaan Marcel. “Parah lo!” seru Mike. “Udah jadian?” lanjut lelaki berparas campuran Eropa itu. “Belum!” “Kenapa?” tanya Joshua yang baru saja tiba. Tadi ada kendala kecil, sehingga terlambat berkumpul. Sekadar informasi, sekarang mereka berempat sedang menjalankan aktivitas wajib mereka setiap hari Kamis jam pelajaran terakhir, membolos. Pasalnya, itu adalah jam pelajaran Pak Guntur, guru Sejarah yang kerjanya hanya mendongengkan masa lalu. Seperti kata Joshua, Ngapain masa lalu diungkit-ungkit? Move on, dong! “Heh! Gue tanya sama lo, kenapa belum jadian?” tanya Joshua lagi karena Darryl tak kunjung menjawab. “Dia belum cinta sama gue. “APA?!” kaget Joshua, Mike dan Marcel. Hey, siapa yang tidak akan jatuh cinta pada Darryl? Melihatnya sedetik saja sudah bikin klepek-klepek. Lantas, kenapa cewek itu tidak? Kenapa ketampanan Darryl tidak mempan untuk menaklukkan hatinya? Mustahil! “Nggak usah bercanda lo, lo pikir gue percaya?” Marcel sama sekali tak percaya pada jawaban Darryl. “Siapa yang enggak cinta sama lo, heh? Bukannya gue muji lo, ya. Nggak usah kepedean, gue lebih badas dari lo! Tapi gue yakin, anak SD umur tujuh tahun aja tahu kalau lo ganteng. Nggak waras tuh cewek kalau sampek enggak hanyut dalam pesona lo!” bantah Joshua panjang lebar. “Penasaran gue sama itu cewek,” celetuk Marcel. “Nggak usah macem-macem lo, dia punya gue!" ancam Darryl tak suka. “Woah, sejak kapan Darryl seposesif ini?!” heboh Mike. “Siapa tadi namanya? Nama ceweknya?” tanya Marcel jahil. “Tasya!” ungkap Joshua sengaja. “Mati lo kalau berani deketin dia!” sengit Darryl tak suka gadisnya disebut-sebut. “Marcel, kan, cuma mau ngetes ketampanan aja, bisa enggak naklukin hatinya Tasya. Kan ketampanan Darryl nggak mempan.” Setelah mengucapkan kata keramat itu, bungkus rokok Darryl kini sudah berpindah membentur dahi Marcel. “Mati beneran lo kalau berani deketin cewek gue!” ancam Darryl ke sekian kalinya. “HEH, KALIAN SUDAH TIGA KALI BERTURUT-TURUT, YA, TIDAK IKUT PELAJARAN BAPAK. MAU BAPAK MERAHIN NILAI KALIAN SEMUA, HAH?!” teriak Pak Guntur yang sejak tadi memang mencari keberadaan keempat muridnya itu. *** Darryl, Joshua, Mike, dan Marcel kini berada di ruang BK. Mereka sudah berusaha melarikan diri dari Pak Guntur, tetapi siapa sangka Pak Guntur ternyata mengajak dua pasukannya yang terkenal garang. Pak Jun dan Pak Aswir, dua satpam SMA Taruna Bangsa yang ditakuti para murid bengal, kecuali Darryl tentunya. “Jadi, kenapa kalian selalu bolos di pelajaran Sejarah?” tanya Bu Khusnul, guru BK. “Bosen, Bu!” jawab Mike. “Kenapa?” “Bahasannya itu-itu aja, dari saya SD sampek sekarang, masih aja ada pertanyaan, 'Apa penyebab terjadinya Bandung Lautan Api?'. Kan bosen Bu, sekali-kali bikin pertanyaan yang lain kek, 'Kapan saya dapat pacar?' misalnya!” jawab Mike. “Dasar kamu! Kalau kamu Marcel, apa yang bikin kamu ikut-ikutan bolos?” “Ngantuk Bu, Pak Guntur kalau menjelaskan kayak orang mendongeng. Makanya saya bolos, mending cari hal yang bermanfaat, kan, daripada tidur di kelas?" ungkap Marcel membanggakan dirinya. Bu Khusnul geleng-geleng kepala mendengar penuturan muridnya. “Joshua?” “Pak Guntur baperan, Bu!” jawab Joshua. “Lah, kok bisa?” bingung Bu Khusnul. “Masa nyeritain masa lalu terus, move on, dong!” Sudahlah, Bu Khusnul tidak kuat lagi menginterogasi mereka. Harus kuat bathin dan mental! *** Sudah setengah jam lebih Anastasha menunggu kakaknya. Sekolah sudah mulai sepi, tetapi kakak jeniusnya itu tak kunjung datang. Ponsel pintar Tasya berdenting, memunculkan notifikasi chat.   Kakak Sayang Dek, maaf Kakak nggak bisa jemput. Kakak ada kelas tambahan, nebeng sama temen aja ya dulu. Maafin Kakak, ya, Sayang, I love you.   “Kenapa nggak bilang dari tadi, sih? Mana Sasha sama Melissa udah pulang dari tadi lagi. Terus Tasya pulangnya gimana? Bikin bete aja!” “Nggak dijemput?” tanya Darryl tiba-tiba ada di belakang Anastasha, membuat gadis berparas cantik itu kaget. “Kak, ngagetin aja, sih!” Tanpa banyak kata, Darryl menarik lengan gadis itu menuju tempat di mana motornya diparkirkan. Darryl dan ketiga sahabatnya memang baru saja keluar dari ruang BK. Dan tak sengaja Darryl melihat sosok gadis yang akhir-akhir ini membuatnya nyaman jika berada dekat dengannya. “Yuhu, ini cewek lo itu Ryl? Cantik juga ternyata,” cakap Marcel sambil mengedipkan sebelah matanya genit pada Anastasha. “Awas, mata lo bintilan!” peringat Darryl pada Marcel, lalu memeluk pinggang Anastasha posesif. “Kak, lepas!” ujar Anastasha galak, tetapi hanya bagai angin lalu di telinga Darryl. “Ciaaaa, mepet terus Ryl. Jangan kasih kendor!” seru Mike sambil memakai helm fullface-nya. “Gaspol, Ryl!” teriak Joshua memasuki mobilnya yang terparkir agak jauh. Kini semua memandang ke arah Darryl dan Anastasha, ada hubungan apa Darryl dengan cewek di sebelahnya? Lihat saja, tidak lama lagi nama Anastasha akan menjadi trending topik di sini. Sedangkan Darryl acuh tak acuh pada sekitarnya, ia dengan santainya mencium pipi gadis di sampingnya dan membuat suasana SMA Taruna Bansa sore itu heboh. “Kenapa pipi Tasya dicium?!” geram Anastasha. “Tasya lupa? Darryl udah bilang, jangan panggil kakak lagi. Satu kali melanggar, satu kali cium!” jelas Darryl tersenyum evil pada Anastasha. Dan yeah, Anastasha lupa akan hal itu. *** “Kok berhenti?” bingung Anastasha karena harusnya rumahnya masih lurus. Bukan di warteg penjual sate di mana Darryl memberhentikan motornya sekarang ini. “Mau makan,” jawab Darryl singkat. “Tapi Tasya nggak lapar.” “Lah, emang siapa yang nawarin Tasya makan? kan Darryl yang mau.” Anastasha berdecak mendengarnya, laki-laki ini memang sungguh luar biasa. Mereka berdua duduk lesehan, setelah memesan dua porsi makanan untuk mereka. Pada akhirnya Anastasha tetap ikut makan juga. “Kak, eh, em, Tasya bingung mau manggil apa.” “Panggil Darryl aja nggak pa-pa.” “Tapi, kan, nggak sopan.” “Ya udah, panggil sayang aja kalau gitu.” “Nggak mau!” “Kenapa nggak mau?” “Kan, Tasya belum sayang.” “Ya udah, Darryl aja.” “Iya, Darryl.” Hati Darryl menghangat mendengar Anastasha menyebut namanya tanpa embel-embel kakak. “Lagi, panggil sekali lagi!” “Darryl!” “Iya, Sayang?" Blush! Anastasha menutup wajahnya dengan telapak tangan, membuat Darryl mengeluarkan suara tawa kecil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD