THREE

1605 Words
Bismillahirrahmanirrahiim Allahumma shali’ala Muhammad wa’ala ali Muhammad Nita duduk di meja makan dengan sepiring roti dan s**u yang tinggal setengah gelas. Saat akan memakan kembali rotinya, terdengar suara bel apartemennya berbunyi. Nita kembali meletakkan roti panggangnya di piring lalu bergegas untuk membukakan pintu. “Assalamu’alaikum, Nita.” Nita terkejut bukan main mendapati tamunya. “Ibu!” Perempuan paruh baya yang menggunakan gamis dengan jilbab dan berkacamata itu mengernyit heran melihat penampilan Nita. Namun, ia tetap tersenyum hangat layaknya senyum seorang ibu pada anaknya. “Kamu, kebiasaan! Salam ibu tuh dijawab dulu, Nita,” tegur Ibu Dina. “Eh, iya. Wa’alaikumussalam. Nita kaget aja ibu ke sini gak bilang-bilang.” Nita mencium tangan ibunya dengan takzim. “Memang gak boleh kalau ibu ke sini gak bilang dulu sama kamu?” “Ya, nggak gitu, Bu. Masuk, Bu.”                                              Bu Dina dan Nita masuk ke dalam apartemen. Bu Dina meletakkan makanan yang ia bawa khusus untuk Nita. Beliau melihat s**u dan roti panggang yang belum dihabiskan Nita. “Kok kamu makan roti sama s**u? Gak masak?” tanya Bu Dina heran. “Nggak, Bu. Memang lagi pengen makan roti dan s**u aja.” Nita kembali duduk di kursi makan dan menghabiskan makanannya. Bu Dina tak ambil pusing lalu kembali melanjutkan memindahkan makanan ke dalam piring saji. Saat ingin mengambil wadah lain di salah satu lemari penyimpanan, beliau terkejut karena menemukan dus s**u kotak ibu hamil. Bu Dina terdiam sambil memandangi kotak s**u dan Nita yang sedang makan di meja bergantian. Susu hamil siapa ini? Apa punya Nita? Apa Nita hamil? Bu Dina dengan cepat menggelengkan kepalanya. Ia mengusir semua prasangka buruk di kepalanya. Mungkin ini punya teman Nita yang hamil, dia menginap lalu ketinggalan. Ya, begitu lebih masuk akal, batin Bu Dina.   “Nih, ibu bawa makanan kesukaan kamu, Nita. Nanti dimakan ya.” Bu Dina menunjukan wadah berisi makanan yang ia bawa pada Nita. Nita hanya menganggukkan kepalanya sambil mengacungkan jempolnya karena ia sedang sibuk mengunyah roti. Bu Dina duduk di hadapan Nita sambil memerhatikan putrinya dengan seksama. “Kamu, baik-baik aja, Nita?” tanya Bu Dina. Nita langsung menoleh ke arah ibunya. Matanya mengerjap. Ia tak mau ibunya sampai tahu kalau ia sedang hamil saat ini. Ibunya pasti akan merasa sangat sedih. “Nita baik-baik aja kok, Bu.” “Benar? Kamu gak bohong sama ibu, kan?” selidik Bu Dina. Walau bagaimana pun, perasaan dan firasat seorang ibu pastilah kuat. Bu Dina merasa ada yang tidak beres dengan Nita dan juga putrinya itu terlihat seperti menyembunyikan sesuatu. Nita menghabiskan susunya lalu mengelap bibirnya dengan tisu. Ia tersenyum pada ibunya, “Iya, Bu. Nita gak apa-apa, kok. Ibu jangan khawatir ya.” “Hmm, tapi kamu kayak habis nangis, Nita? Ada apa? Cerita sama ibu, Nita. Meski ibu bukan ibu kandung kamu, tapi ibu sayang dan sudah anggap kamu seperti anak kandung ibu sendiri.” Bu Dina memang bukanlah orang tua kandung Nita. Nita kecil sudah hidup di panti asuhan. Nita tidak tahu siapa orang tuanya. Ia hanya sebatang kara. Bu Dina sebagai ibu pemilik panti langsusng jatuh hati ketika melihat bayi mungil nan cantik yang tergeletak di depan panti asuhan miliknya. Sejak saat itu, Nita berada dalam pengasuhan Bu Dina. Meski tak memiliki ikatan darah, Bu Dina tetap menyayangi Nita seperti anak kandungnya sendiri. Nita tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pintar. Nita sering mendapatkan beasiswa saat sekolah hingga kuliah. Hal itu semakin membuat Bu Dina bangga padanya. Hingga, suatu hari, Nita naik jabatan di kantornya dan memilih untuk tinggal sendiri di apartemen, meninggalkan panti asuhan yang sudah lama membesarkannya. Awalnya Bu Dina menolak, tidak setuju. Beliau takut Nita jadi tak terkontrol dan terbawa pergaulan bebas khas ibu kota. Beliau hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk dengan putrinya. Tapi, Nita terus memaksa Bu Dina agar  mengizinkannya tinggal di apartemen. Selain jarak dari kantor lebih dekat ke apartemen daripada ke panti asuhan, ia juga beralasan ingin hidup mandiri. Tak tega melihat Nita yang terus memohon, maka dengan berat hati, Bu Dina mengizinkan Nita tinggal di apartemen. Bu Dina sesekali menengok Nita seperti saat ini. Ternyata firasat Bu Dina memang benar. Nita terbawa arus pergaulan bebas dengan Revan. Mereka telah berhubungan jauh di luar batas hingga mengakibatkan Nita hamil. Nita yang cantik sejak remaja memang sering didekati banyak lelaki. Nita juga sempat beberapak lai menjalin kasih saat kuliah. Tapi, hubungannya biasa saja, tidak samapai di luar batas seperti hubungannya dengan Revan. Entah apa yang membuat Nita nekat menjadi kekasih gelap dan melakukan hal gila itu dengan Revan. Bu Dina terus membujuk putrinya agar mau berbagi masalahnya. Meski bukan ibu kandung Nita, ia tentu tak mau jika anaknya menanggung beban sendirian. Nita menggenggam tangan Bu Dina. “Ibu tenang aja, Nita beneran gak apa-apa, Bu. Oh ya, gimana kabar adik-adik di panti? Maaf, Nita belum sempat nengok mereka lagi ke sana.” Nita mengalihkan pembicaraannya pada kabar adik-adiknya di panti agar Bu Dina tak terus merongrongnya. Nita tak yakin ia akan kuat untuk terus bungkam jika ibunya itu terus merongrongnya. “Alhamdulillah mereka baik. Mereka nanyain kamu terus, kalau gak sibuk, sempatkan ke panti ya. Mereka juga kangen sama kamu.” “Iya, Bu. Nita juga kangen. Nanti kalau gak sibuk, Nita pasti ke sana.” Tak lama adzan maghrib berkumandang. Bu Dina segera bangkit dari kursinya dan bersiap untuk menunaikan ibadah salat maghrib. “Ayo, kita salat berjama’ah, Nita!” ajak Bu Dina. Nita tertegun mendengar ajakan ibunya. Salat? Nita bahkan lupa kapan ia terakhir kali melaksanakan ibadah wajib bagi umat muslim itu. Karirnya yang cemerlang, pergaulannya yang hedonis dan hidup bebas dari pantauan Bu Dina membuatnya lupa untuk menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim. “Iya, Bu. Ibu wudhu duluan aja, Nita nyuci piring kotor dulu.” Nita beralasan pada ibunya. “Eh, nanti aja nyuci piringnya. Tinggalin aja dulu di bak cuci piring. Sebagai muslimah yang baik, sebaiknya begitu adzan kita langsung memenuhi panggilan Allah,” ucap Bu Nita menasihati. Jika Bu Dina sudah memberi nasihat seperti itu, Nita tak bisa berkutik lagi. “Ibu duluan wudhu di kamar kamu, ya?” “Iya, Bu.” Bu Dina meninggalkan dapur menuju kamar Nita. Beliau membuka jilbabnya lalu menuju ke kamar mandi untuk berwudhu. Saat sedang menggulung lengan bajunya, pandangannya teralih pada sebuah benda pipih panjang yang ada di dekat wastafel. Beliau mendekat dan mengambil benda itu. Matanya terbelalak ketika melihat ada dua garis merah yang terpampang di benda itu. Hamil? Nita hamil? Ah, masa Nita hamil? Bukan, ini pasti bukan punya Nita. Bu Dina masih berprasangka baik pada anaknya itu. “Ibu udah wudhunya?” tanya Nita yang baru saja memasuki kamar. Bu Dina segera ke luar dari kamar mandi sambil memegang testpack tadi di tangannya. “Ini punya siapa, Nita? Kenapa ada di kamar mandi kamu?” tanya Bu Dina serius sambil menunjukkan testpack yang dipegangnya. Mata Nita terbelalak. Bodoh. Ia lupa membuang testpack-nya yang ia gunakan sebelum pergi periksa ke dokter kandungan. “Oh, hmm ... itu, itu punya ...” “Punya siapa? Punya kamu, ya? s**u hamil di dapur juga punya kamu? Testpack ini juga? Kamu hamil, Nita?” cecar Bu Dina dengan ekspresi menahan marah. Ssungguh ia sangat kecewa dengan Nita. Nita tak bisa menjaga kepercayaannya untuk hidup sendiri dan menjaga pergaulannya.   Jika sudah begini, Nita tak bisa mengelak lagi. Semua bukti sudah ditemukan oleh ibunya. Jika tahu ibunya akan datang ke sini, tentu ia akan membuang testpack dan menyembunyikan s**u hamilnya. Nita memang lupa untuk mengantisipasi semuanya. Sekarang, ibunya sudah tahu kalau ia tengah berbadan dua. “Nita bisa jelasin, Bu.” “Oke, jelasin sama ibu habis salat maghrib.” === Mereka berdua duduk di tepi ranjang usai salat maghrib. Bu Dina beringsut mendekat pada Nita. Nita tak berani menatap perempuan paruh baya yang sudah banyak berjasa dalam hidupnya itu. Nita tahu, kejujurannya ini akan menorehkan luka untuk ibunya. “Jelasin sama ibu, Nita. Betul itu semua punya kamu? Kamu ... hamil, Nita?” Nita memberanikan diri menatap wajah ibunya sekejap, lalu kembali menunduk. “Maafin Nita, Bu. Maafin, Nita,” ucap Nita diiringi tetesan air mata. “Kenapa kamu minta maaf? Ibu kan tanya, apa benar kamu hamil?” Nita mengelap air mata di wajahnya dengan tangannya lalu mengangguk pelan. Anggukan Nita bagaikan belati yang menghujam jantung Bu Dina. Tak bisa dibayangkan perasaan Bu Dina mengetahui anak yang selama ini ia rawat, besar dan banggakan, bisa hamil di luar nikah. “A ... ap ... apa? Ja ... jadi ... benar kamu hamil?” Bu Nita beringsut menjauhi Nita. “Iya, Bu. Nita hamil.” Bu Dina terpaku. Ia diam mendengarkan tangis Nita. Jujur saja ia tak sanggup menghadapi kenyataan bahwa Nita hamil di luar nikah. Beliau telah merasa gagal menjadi seorang ibu. Beliau merasa gagal tak bisa menjaga dan mendidik Nita dengan baik hingga anaknya bisa terjerumus pada kubang dosa besar bernama zina. Ya Allah, ampuni hamba. Ampuni hamba yang tak bisa menjaga putri hamba. Nita mendekati ibunya lalu menggenggam kedua tangannya sambil mengucap maaf. “Maafin Nita, Bu. Maafin, Nita.” Bu Dina memejamkan matanya hingga air mata menetes dari pelupuk matanya. Bu Dina menepis tangan Nita yang menggenggamnya. Ia beranjak dari tepi ranjang lalu berjalan beberapa langkah menjauhi Nita. Bu Nita merasa pasokan oksigen di sekitarnya menipis hingga dadanya sesak. “Siapa Nita?” “Ya?” “Siapa yang udah menghamili kamu? Siapa!? Bilang sama ibu?” Nita kembali terisak sambil menggelengkan kepalanya. Akhirnya Bu Nita juga terisak melihat nasib Nita yang malang. Bu Dina dengan cepat mendekati Nita lalu melayangkan satu tamparan di pipi Nita. Plak! Bu Dina menampar Nita, sesuatu yang belum pernah beliau lakukan selama umur hidupnya mengasuh Nita.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD