5. Rencana Pernikahan

1243 Words
"Intinya. Kamu harus menerima pernikahanmu ini. Kau tak hanya dapat rumah. Kau juga akan dapat uang dariku sebagai mahar untuk pernikahan kalian. Bukankah selama ini kau ingin punya rumah sendiri?" Sang ayah mencoba bernegosiasi. Memang benar Beni ingin memiliki rumah sendiri. Tinggal sendiri. Menentukan hidupnya sendiri. Bukankah ini kesempatan bagus baginya. Toh tidak masalah juga jika ia tinggal dengan seorang wanita. Yang terpenting adalah, ia akan bebas dari rumahnya. "Gimana? Apakah kau mau menerima tawaran dariku? Keputusannya bisa kau pikirkan malam ini. Karena besok sore setelah isya', kita akan langsung melamar gadis itu untukmu." Beni menatap tak percaya dengan rencana pernikahannya yang terkesan tiba-tiba. Bahkan sehari setelah hari itu ia akan melamar gadis yang bahkan belum ia kenal. "Tenang saja, Beni. Gadis yang akan jadi istrimu ini anaknya penurut. Kau hanya perlu memberikan nafkah batin dan nafkah lahir padanya. Nggak susah, kan?" Sang ibu ikut angkat bicara. "Akan aku pikirkan dulu," ujar Beni sembari berdiri dan mengambil helm serta jaketnya. "Ingat! Jika kau menolak, kau akan tahu konsekuensinya." Sang ayah kembali memberikan peringatan. "Hm." Pemuda itu pun pergi meninggalkan kedua orang tuanya. Berjalan menaiki tangga dan mengunci pintu kamar. Ia letakkan helm dan jaketnya di sembarang tempat. Kemudian ia rebahkan tubuhnya yang sudah lelah dengan harinya. Beni menatap langit-langit kamarnya. Ia sadar jika ia tak mau kehilangan motor kesayangannya yang sudah menemaninya selama sepuluh tahun. Motor itu merupakan hadiah dari mendiang kakeknya. Tak mau jika motor itu dijual oleh sang ayah. Namun, berat rasanya jika harus menerima pernikahan itu tanpa tahu siapa calon istrinya. 'Hahhh. Bere.ngsek! Kenapa hidupku selalu seperti ini?' Beni kembali menghantam tembok di sampingnya. 'Tapi tunggu. Jika aku menerima tawaran Papah, dan jika perempuan yang menjadi istriku melakukan kesalahan, aku bisa menceraikannya. Mengembalikannya ke orang tuanya. Lalu rumah akan menjadi milikku dan motorku tetap ada bersamaku,' pikirnya. "Ya. Benar. Dengan begitu aku akan benar-benar bebas dari tuntutan Papah sama Mamah," gumamnya sembari menyeringai. Pagi pun tiba. Beni sudah membuat keputusan tentang tawaran dari sang ayah. Pemuda itu kemudian menemui sang ayah untuk menyampaikan keputusannya. "Pah, Mah. Aku mau menerima tawaran kalian," ujarnya di sela-sela sarapan. "Benarkah?" tanya sang ibu seolah tak percaya. "Bagus itu. Keputusan yang sangat bagus untukmu," puji sang ayah puas. "Tapi calon istriku seperti apa?" tanya Beni penasaran. "Dia cantik, rajin, sholihah." Sang ibu memberikan jawaban. Wanita itu sebelumnya memang pernah bertemu dengan ibu dari gadis pilihan itu. Meski hanya satu atau dua kali. "Oh." "Kalau begitu kau harus bersiap untuk nanti malam. Setelah isya' kita langsung ke rumahnya. Kau juga harus mengecat ulang rambutmu itu! Kau harus berpenampilan sopan agar mereka tak kecewa padamu," tegas sang ayah. "Baik, Pah," balas Beni menurut. Siang itu pun Beni membeli cat rambut sementara. Membeli cat rambut berwarna hitam untuk menutupi rambutnya yang pirang. Anting-anting pada kedua daun telinganya pun ia lepas sementara. Hari itu ia sama sekali tak berkumpul bersama teman satu gengnya. Memilih untuk menurut agar tujuannya ikut tercapai. Di tempat lain, Bilqis dengan sang ibu sedang mempersiapkan masakan untuk menyambut tamu istimewa malam itu. Fariz terus-menerus meminta sang ibu untuk membatalkan pernikahan sang kakak. Namun, Bilqis kembali menenangkan adik laki-lakinya agar tak terlalu cemas. Hingga waktu yang dinanti kedua orang tua Bilqis pun tiba. Malam itu mereka meminta putri sulungnya untuk sedikit berdandan agar terlihat cantik di hadapan calon suaminya. Bilqis mengenakan gamis berwarna krem dan kerudung merah muda. Tak ada make up. Hanya polesan bedak bayi tipis pada wajah cantiknya. "Duh. Anak perawannya Ibuk memang cantik banget. Semoga calon suamimu terpesona padamu, Nduk," puji Minarti pada putrinya. Bilqis hanya tersenyum di hadapan sang ibu. Meski sebenarnya ia merasa takut dengan calon suaminya. "Assalamu'alaikum," seru seseorang dari luar rumah. "Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh," balas semua penghuni rumah. "Ya udah. Fariz, kamu ajak Annisa ke dalam, ya?" pinta Minarti pada anak laki-lakinya. "Nggih, Buk." "Kamu tunggu sebentar. Nanti kamu keluar sambil bawain minuman, ya!" ucap Minarti dan dibalas anggukan oleh Bilqis. Minarti pun membetulkan jilbab yang ia pakai, lalu ikut menemui calon besannya. "Bu Lina. MasyaAllah. Sudah lama ndak ketemu," ucap Minarti pada tamu wanitanya. "Iya, Bu Narti. Alhamdulillah sebentar lagi kita akan jadi besan, ya?" balas Lina. "Iya, Bu. Ini ya calon mantu saya?" tanya Minarti menatap seorang pemuda tampan dengan setelan kemeja kotak-kotak. Pemuda itu hanya tersenyum dan mengangguk padanya. "Ya sudah. Mari masuk Pak Bagas, Bu Lina, dan Nak Beni!" ajak Komarudin pada ketiga tamunya. Beni dan kedua orang tuanya pun duduk pada kursi ruang tamu. Beni menatap ruangan itu. Desain rumah yang sederhana tapi tertata dengan rapi. Ada sebuah foto wisuda sekolah menengah atas seorang gadis cantik yang terpajang pada dinding ruang tamu. Sekilas Beni tahu jika itu adalah foto gadis yang akan menjadi istrinya. Gadis yang pernah ia temui tempo hari. Ternyata selain cantik, gadis itu juga anak yang berprestasi. Terbukti dari foto wisudanya dengan selempang lulusan terbaik. Beberapa menit kemudian, seorang gadis cantik yang sama persis dengan yang berada di dalam foto keluar dari balik tirai. Ia membawa beberapa cangkir untuk para tamu dan kedua orang tuanya. Bilqis melihat seorang pemuda yang tampak familiar. Ternyata ia salah mengira. Bukan Pak Bagaskara yang akan menjadi suaminya. Melainkan anaknya. "Silakan, Pak, Bu, Mas," tawar Bilqis dengan sopan. Gadis itu pun hendak mengembalikan nampan ke dalam ruangan. "Sudah. Kamu duduk di sini aja!" ucap Komarudin menghentikan langkah kaki putrinya. "Nggih, Pak," balas sang putri sembari duduk di samping ayahnya. Meletakkan nampan di bawah kursi kayu. "Oh. Jadi ini yang namanya Bilqis. Beneran cantik ya, Ben?" tanya Lina pada sang anak. Beni melirik ibunya. Sepertinya wanita itu memang sengaja memberikan pertanyaan itu. "Iya, Mah," jawab Beni sembari memasang senyuman palsu. Gadis yang dipuji hanya diam. Ia ingat sekarang. Laki-laki yang akan menjadi suaminya adalah orang yang menolongnya tempo hari dari dua preman kurang ajar. Hanya saja tampilannya berbeda dari sebelumnya. "Baiklah. Saya mulai saja mengutarakan tujuan kami datang ke sini. Jadi, pertama-tama tujuan kami adalah untuk mengeratkan tali silaturahmi dengan keluarga Pak Komar. Kemudian tujuan kedua kami tak lain adalah mau melamar putri pertama Pak Komar dengan anak kami, Beni," tutur Bagaskara. "Alhamdulillah. Terima kasih atas i'tikad baik dari keluarga Pak Bagas. Saya menerima i'tikad baiknya dengan senang hati. Kami juga sudah membicarakan perihal lamaran ini pada putri kami dan alhamdulillah Bilqis mau menerima pernikahan ini," balas Komarudin. "Alhamdulillah kalau begitu. Berarti tidak ada halangan untuk lamaran malam ini." Bagas tersenyum senang. "Alhamdulillah," ucap Komarudin, Minarti, dan Lina bersamaan. Kedua calon pengantin hanya diam dengan pikiran mereka masing-masing. Tak tahu lagi harus merespon apa pada pembicaraan kedua orang tua mereka. "Kalau begitu, sekarang langsung saja kita bicarakan akad nikahnya. Bagaimana kalau minggu depan?" ujar Bagas membuat kedua calon pegantin membulatkan kedua mata mereka karena kaget dengan keputusan yang tiba-tiba. "Seminggu lagi, Pah?" tanya Beni. "Iya. Lagi pula pernikahan kalian tidak boleh dilaksanakan dengan resepsi yang ramai. Makanya lebih cepat lebih baik. Kita hanya akan melakukan ijab qobul dan syukuran saja," jelas Bagaskara pada putranya. Beni melirik calon istrinya yang hanya diam saja. "Lalu gimana dengan keluarga Bilqis?" tanya Beni. Bilqis hendak menjawab. Akan tetapi Komarudin sudah memotong ucapannya dulu. "Kami setuju saja. Yang terpenting pernikahan anak-anak kita sah secara hukum dan agama." "Wah. Alhamdulillah kalau begitu. Bagus itu. Berarti siap-siap saja untuk acara ijabnya. Mulai besok Pak Komar ngurus surat-surat nikahnya dengan saya," ucap Bagas. "Siap, Pak Bagas." Kedua calon pengantin itu tak berkutik dengan keputusan kedua orang tua mereka. Setelah terdengar kata sepakat, yang dapat mereka lakukan adalah mengikuti alurnya saja. Setelah pembicaraan itu selesai, sang pemilik rumah pun mengajak tamu mereka untuk makan malam. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD