4. The Blonde Man

1158 Words
Bilqis dan Fariz pun mencari barang-barang pesanan sang ibu. Mereka bahkan bisa membeli lebih dari yang diminta. Setelah selesai, Fariz mengajak sang kakak untuk berhenti di sebuah alun-alun kota. Berniat menghibur hati sang kakak yang ia yakini sedang gelisah menerima lamaran dari Bagaskara. "Riz? Kenapa berhenti di alun-alun?" tanya Bilqis bingung. "Kita istirahat di sini sebentar ya, Mbak." "Tapi ini sudah mau maghrib, Riz," ucap Bilqis. "Ya nanti kita sholat di masjid situ. Sekali-sekali Fariz juga pengen nraktir Mbak," ucap laki-laki itu. "Ya sudah deh. Tapi nanti kalau dimarahi Ibuk gimana?" "Bilang saja macet di jalan," balas Fariz santai. Fariz dan Bilqis pun berjalan-jalan di pinggir jalan alun-alun. Hingga Bilqis sudah bosan rasanya dan ingin cepat-cepat pulang. "Ayo kita pulang, Riz!" ajak gadis itu. "Bentar, Mbak! Mbak di sini dulu ya! Fariz mau ke sana," ucap sang adik sembari berjalan meninggalkan sang kakak. "Mau ke mana kamu?" "Fariz beliin jagung bakar buat Mbak. Tunggu di situ, ya!" seru sang adik menoleh menatap sang kakak. "Ya sudah deh. Mbak tunggu di parkiran aja, ya," seru Bilqis dan dibalas persetujuan dari sang adik. Bilqis pun kembali berjalan menuju parkiran. Hendak memeriksa belanjaannya yang ia tinggal. Setelah melihat belanjaannya masih utuh, akhirnya ia duduk di dekat parkiran menunggu sang adik. "Halo, Mbak. Sendirian aja nih?" sapa seorang pria berambut gondrong dan bertato di kedua tangannya. Wajahnya pun sangar dan menyeramkan. Ada dua pria. Yang satunya botak tanpa rambut sehelai pun di kepalanya. "Maaf. Saya sama adik saya kok," jawab Bilqis. Ia takut dengan kehadiran dua preman itu. Apa lagi tempat itu sepi. Bahkan motor yang terparkir hanyalah motornya sendiri. Yang lain sudah pergi entah ke mana. Beginilah kalau tidak segera pulang memasuki waktu maghrib. Pikirnya. "Mana? Jelas-jelas Mbaknya sendirian kok. Kalau boleh tahu namanya siapa, Mbak?" tanya si preman botak sembari mendekati Bilqis dan duduk di sampingnya. Bilqis sontak berdiri menjauhi pria itu. Ia berjalan hendak kembali ke tempat sang adik. Namun, salah satu preman menahan lengannya. "Mau ke mana sih, Mbak? Kita kan cuma pengen ngobrol-ngobrol santuy aja. Iya nggak, Bro?" tanya si preman berambut gondrong yang menahan lengan Bilqis. "Tolong lepasin, Mas! Kita kan bukan mahram," ucap Bilqis mencoba melepaskan diri. "Makanya duduk aja, Mbak. Kami nggak mau macam-macam kok," ucap si preman gondrong. 'Ya Allah. Bagaimana ini? Hamba takut,' batin gadis itu. "Jangan takut dong, Mbak." "Iya, Mbak nggak usah takut." 'Ya Allah. Fariz mana? Kok lama banget sih?' tanya Bilqis sembari mencari keberadaan sang adik yang tak kunjung terlihat. Beberapa saat kemudian, sebuah motor berhenti di dekat motor Bilqis. Seorang pria pun turun dari motor itu. Bilqis mencoba meminta tolong padanya. "Mas. Tolongin saya!" ucap Bilqis yang ketakutan masih berada dalam genggaman salah satu preman. "Nggak usah ikut campur lu, Bro! Kalau lu nggak mau cari gara-gara sama kita. Mending lu sana pergi!" seru si preman botak. Pria yang baru saja turun dari motor itu pun melepaskan helmnya. Rambutnya pirang dengan anting-anting perak pada kedua daun telinganya. Pria itu pun menatap tajam kedua preman yang menantangnya. Kemudian ia menatap gadis berjilbab yang meminta tolong padanya. "Dasar sampah. Masih terang malah cari masalah," ucap pria berambut pirang itu meremehkan. "Cih. Siapa lu? Sok-sokan berani sama kita," ucap si preman gondrong tak terima. Pria berambut pirang itu pun menurunkan maskernya. Menampakkan wajah tampan yang sempat tertutup. Kedua preman itu langsung ciut nyalinya. "M-Mas Beni. Ampun Mas. Ki-kita cuma iseng-iseng aja," cicit si preman botak. Preman berambut gondrong pun melepaskan genggamannya. Pria bernama Beni itu menanggapinya dengan malas. Ia pun mengeluarkan rokok dari dalam saku jaket kulitnya dan langsung mematik api untuk menikmati rokok tersebut. "Sebenarnya siapa yang cari gara-gara?" tanya Beni santai sembari mengembuskan asap rokoknya. Bilqis malah semakin tak tenang. Kini ada tiga preman yang mengepungnya. Kembali ia mencari kemunculan sang adik yang tak kunjung terlihat. "Maaf, Mas Beni. Ka-kami permisi dulu. Maaf, ya," ucap preman itu sembari bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Bilqis diam seribu bahasa. Ia bingung antara mau mengucapkan terima kasih atau harus berteriak minta tolong. Pria di depannya tak ia kenal. Tampilannya sangar meski wajahnya tampan dan menawan. Motor GL yang ia bawa pun menambah kesan 'keren' pada pria itu. "Lu!" panggil Beni mengagetkan gadis di hadapannya. "I-iya ...." cicit Bilqis ketakutan. "Sebaiknya lu jangan sendirian. Apa lagi ini sudah menjelang malam. Lebih baik lu segera pulang. Orang seperti lu nggak sepatutnya berada di tempat sepi seperti ini," ujar Beni sembari berjalan menjauhi parkiran. "Tu-tunggu!" seru Bilqis menghentikan langkah pria itu. Beni menoleh menatap Bilqis. "M-makasih atas pertolongannya," ucap Bilqis sembari sedikit menundukkan kepala. "Hm," balas Beni singkat. Ia kembali melanjutkan langkahnya. "Ya Allah. Ku kira dia mau ngapain. Astaghfirullah aku udah suuzon sama Mas-Mas itu," gumam Bilqis. "Mbak. Ayo pulang!" seru sang adik yang tiba-tiba muncul di dekatnya. Satu kantong kresek jagung bakar telah berada di genggamannya. "Ayo! Tapi kita berhenti buat sholat maghrib dulu, ya, Riz!" ajak Bilqis pada sang adik. "Oke, Mbak," balas Fariz. *** Sekitar pukul sembilan malam, Beni sudah pulang ke rumahnya. Pemuda itu langsung memasukkan motor kesayangannya ke dalam garasi. Kemudian melangkahkan kaki melewati ruang keluarga dengan menenteng jaket dan helmnya. Kedua orang tuanya ternyata sudah menunggu kepulangan putra bungsu mereka. "Beni!" panggil sang ayah. "Hm." Beni menoleh dengan malas. "Papah mau bicara padamu," imbuh sang ayah meski ia tahu putranya tak mengindahkan ucapannya. "Cepatlah ke mari sebentar!" titahnya. Dengan langkah malas, Beni menuruti sang ayah. Ia duduk di sebuah kursi kayu yang tak jauh dari sofa. Menghadap ayah dan ibunya. Ia letakkan helm dan jaket kulit di bawahnya. "Kenapa, Pah?" tanya Beni. "Begini, Ben. Papah sama Mamah punya permintaan buat kamu," ucap sang ayah dengan tatapan serius. Beni menyimak apa yang akan diucapkan sang ayah. "Dan Papah mau kamu menuruti permintaan kami yang satu ini." "Permintaan apa, Pah?" tanya Beni penasaran. "Papah ingin kamu menikah dengan seseorang," ujar sang ayah. Beni terkejut mendengarnya. Pasalnya waktu itu saat ia meminta izin untuk menikah dengan mantan pacarnya, sang ayah menolak. Meski penolakan itu justru menyadarkannya jika mantan pacarnya tak tulus mencintainya. "Apa? Menikah? Nggak salah, Pah?" tanya Beni. "Ya." "Tapi waktu itu Papah nggak ngizinin aku buat nikah sama Nesya. Sekarang Papah memintaku menikah? Padahal aku sudah putus dengannya." Beni menatap kesal pada sang ayah. "Papah memang menyuruhmu menikah. Tapi bukan dengan mantan pacarmu yang matre itu." Sang ayah membalas dengan menatap tajam putranya. "Lalu?" "Papah akan menikahkanmu dengan anak gadis teman Papah," jawab sang ayah. "Apa? Kenapa Papah seenaknya memutuskan pernikahanku?" protes Beni. "Apa kau mau menolak?" "Jika iya kenapa, Pah? Biarkan aku memilih jalan hidupku sendiri." "Memilih jalan hidupmu yang berantakan itu? Ben. Jika kamu menikahi gadis pilihan Papah, maka kamu akan mendapatkan rumah beserta perabotannya. Dan kalau kamu menolak, maka motormu akan Papah jual dan kamu harus pergi dari rumah ini tanpa mendapatkan sepeser pun uang dariku," ancam sang ayah. Beni membalas tatapan ayahnya dengan kesal. Namun, ia memilih diam. "Kau harus berlatih tanggung jawab. Tenang saja, gadis yang akan jadi istrimu ini orang yang baik-baik." "Lalu kenapa kalau dia orang yang baik-baik?" tanya Beni. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD