Mangkuk Tujuh

1685 Words
Aku membiarkan Simi menikmati Gyu butter gohan dengan elegan, setelah itu, barulah aku ceritakan apa yang sudah Simi lewatkan beberapa hari ini. Mulai dari pertemuanku dengan Mas Fajar, meeting bareng Mas Retno dan Mas Dinan, juga kerja sama dengan bos besar sekelas Bima Lucas. “Bima Lucas rasanya nama dia gak asing deh, Tari. Ingat gak?” tanya Simi, dia tidak bisa diam habis makan bukannya duduk langsung minum malah ribut bersihin meja. “Gue juga merasa begitu, rasanya dia begitu dekat, tapi bodo lah yang penting gue bisa melesat bareng Uchiha.” Kupandangi sebuah buku yang kini ada dalam genggaman, catatan kecil mirip-mirip organizer-ku. Ada banyak hal yang tertulis di dalamnya termasuk apa arti dari Uchiha. Aku bukanlah pecinta Manga, tetapi dulu Raka pernah memberikan nama Uchiha. Katanya ini adalah nama sebuah klan terbesar. Mungkin sekarang si Raka juga kaget aku tetap menggunakan nama ini meski peperangan di antara kami belum juga bertemu dengan yang namanya genjatan senjata. “Gue kok gak suka ya sama kipas itu,” ucap Simi, aku yang sedang mengelus gambar kipas kertas berwarna merah dengan gagang putih berhenti sejenak untuk menatapnya. Kututup buku yang sifatnya agak rahasia ini, rahasia karena isinya selain organizer ada beberapa bait puisi yang menggambarkan perasaanku yang tidak pernah pudar. Perasaan kepada si Centong Nasi alias Raka. “Ini kan Uchiha, kipas yang digunakan selayaknya kipas tangan atau kipas untuk membesarkan api. Uchiha bisa berarti api juga. Raka seharusnya tahu, api itu kalau kecil bisa jadi temen tapi kalau besar bisa bunuh orang bahkan ngancurin rumah.” Tidak sampai sepuluh detik aku menutup cerita, tahu-tahu Simi ngakak. Sudah bisa dipastikan selama satu jam penuh aku dapat ceramah dari gadis ini. Dia selalu menginginkan agar aku melupakan Raka. Dia selalu meminta agar tidak usah mengingat-ingat lagi Raka Si Centong nasi. Ya mana bisa. Coba deh bayangin, udah sama-sama dari orok terus harus tiba-tiba berjauhan. Jauh karena saingan. Rasanya lebih sakit ketimbang di ghosting cowok. Simi terlanjur benci sama Raka sedangkan aku terlanjur dibenci Raka. Kalau ada yang bertanya ada cowok nyebelin tapi kitanya sayang enaknya ya disayang aja itu cowok, sampai kita merasa sakit. Dan rasa sakit itu terus kita nikmati sampai ... sampai kapan? Lima tahun? Tujuh tahun? Atau sepuluh tahun? Entahlah. Kuakhiri pertemuan karena malam sudah menyapa, kapan Simi akan berhenti menyuruhku melupakan Raka tak ditemukan jawabannya. Biarlah dia terus berusaha dan biarlah aku terus memelihara perasaan ini sendirian. Jika ditanya bagaimana perasaanku kepada Raka maka aku sendiri bingung jawabnya, berdekatan dengan lelaki itu malah membuatku jatung berdetak lebih kencang. Mungkin karena peningkatan adrenalin yang sama sekali tidak bisa aku kelola dengan baik. Ada banyak hal yang memicunya, pertama karena aku ingin sekali berdamai dengannya, yang kedua entah apakah aku mencintainya atau hanyalah sekadar obsesi karena itu tadi, aku tidak bisa melupakan dia dan perseteruan kami. * Esok harinya aku terbangun karena mimpi buruk, kejadian Raka yang sengaja ngatain aku curang kemarin memang menyisakan perasaan takut. Dalam mimpi aku dikejar begal, lantas begalnya berubah jadi monster mirip Raka. Astaga, mimpinya memang gak jelas, tetapi lagi-lagi perkataan dia kalau aku curang karena menggunakan jasa Koki itu sungguh tidak beradab. Usai mandi dan membasuh tubuh serta dosa, akhirnya Tuhan memberikan bongkahan ide yang mungkin bisa, yah sedikit membungkam mulut Raka yang kebanyakan makan bangku sekolah, saking banyaknya dia gak rela orang lain nyalip prestasinya. Jadi penasaran pas di universitas bagaimana. Dengar-dengar dia tidak secemerlang waktu SMA. Mas Retno dan Mas Dinan mungkin akan dengan senang hati mengajariku meracik ramen dari nol. Dari proses pembuatan mie hingga bumbu. Aku bukanlah perempuan yang anti sama Dapur, toh awal-awal Uchiha dibuka aku pun ikut terjun di dapur meski Cuma bagian ngasih topping, periksa bahan atau sekadar potong daun bawang. Pagi itu juga aku langsung menuju Uchiha, meski jam buka kedai masih dua jam lagi. Kan Mas Dinan dan Mas Retno sudah ada sedang membuat Mie udon atau Ramen di dapur Uchiha. Pintu depan tidak terkunci, kursi-kursi kayu masih berada di atas meja dan lantai keramik Uchiha terlihat masih basah habis di pel. Aku berjinjit karena tak enak dengan Wardi yang sudah membuat lantai kinclong, dia tersenyum kikuk saat aku minta maaf karena tidak tahu kalau lantai masih basah. “Pagi, Mas Dinan!” “Loh, Teh, tumben banget?” Mas Retno dengan sigap membawakan kursi plastik yang di atasanya terdapat bakul berisi sayuran. “Pagi, Teh Tari. Mau ngontrol Wagyu ya, wah tau aja kalau daging mahal segala di kontrol.” “Loh, udah dikirim kah wagyunya?” Dalam perjanjian tertulis tanggal sepuluh daging akan dikirim sedangkan sekarang masih tanggal delapan. “Loh pihak sana gak ada telepon, Teh? Katanya tanggal 10 operasional tutup jadi semua pengiriman dimajukan ke tanggal delapan ini. Gimana? Mau eksekusi sekarang atau sesuai jadwal?” Aku tercenung sejenak, mungkin memang sekarang saatnya menjalankan misi. “Okay Mas, kita eksekusi sekarang saja. Beritahu Nanda untuk mengubah menu utama hari ini di papan depan. Dan Mas Dinan boleh saya bicara sebentar?” tanyaku. Apron hitam membuat lelaki di depanku terlihat tampan. Astaga, buru-buru kutepis suara-suara gila dalam kepala. Dengan gugup kulangkahkan kaki menuju ruanganku, lelaki itu mengikuti. Pintu dibiarkan terbuka, ini bukan pembicaraan rahasia, hanya saja perlu konsentrasi sampai aku putuskan untuk berbincang di sini saja. “Saya mau belajar masak, Mas. Mas Dinan apa ada waktu buat ajarin saya?” Momen paling gila yang mungkin akan membuat Mas Dinan tertawa. Sayangnya enggak, Mas Dinan pun tidak mengiyakan akan secara khusus mengajariku memasak. Dia hanya meminta aku memerhatikan Mas Dinan dan Mas Retno saat sedang memasak. “Saya bingung kenapa tiba-tiba dan kesannya tergesa-gesa, Teh? Kayak mau lomba masak aja,” komentar mas Dinan. “Mas pasti tahu alasannya,” jawabku. Sungguh saat ini keberanianku untuk menatap wajahnya menguap begitu saja. Pastilah aku bakal dikatain kekanakan mengingat tujuanku menambah menu dengan bahan Wagyu pun tujuannya sama. Mengalahkan Raka. “Hati-hati loh, sekarang kalian bersaing gini lama-lama bakalan saling jatuh cinta,” pesan Mas Dinan. “Amit-amit, Mas!” “Jangan bilang amit-amit, kejadian nanti repot sendiri, loh. Gini aja, Teh, nanti bilang aja mau masak apa, kalau luang sore ini kami buatkan. Teh Tari cukup lihat saja prosesnya, aku sama Mas Retno nanti yang jelasin prosesnya. Memangnya mau bikin apa?” “Onigiri,” jawabku lantang, Onigiri merupakan nasi kepal yang diberi garam. Biasanya di dalamnya dimasukkan sesuatu atau diluarnya dilapisi sesuatu yang gurih. Selain onigiri dengan rasa garam yang biasa, ada juga onigiri yang dibuat dari nasi yang berasa atau nasi campur. Permintaanku malah dibalas dengan jitakan halus di kening. Dih, memangnya salah, ya? “Gak usah belajar kalau mau bikin itu, aku kira mau bikin semacam 10. Abura ramen, Teh Tari tahu?” Gelengan ringan menjadi jawaban untuk pertanyaan Mas Dinan, sejak dia datang ke sini variant Ramen setiap hari semakin bertambah. Pengetahuan semakin luas. Dulu aku tahunya Ramen itu mie yang tebal dengan kuah merah dan topping pedas. “Dry ramen yang paling terkenal di Jepang. Bahan-bahan yang digunakan berupa mie, telur mentah, daging, daun bawang, kapan-kapan saya buatin itu. Penasaran deh, memangnya kenapa lagi sampai tiba-tiba pengen masak onigiri?” “Dia bilang aku curang, Mas.” “Dia? Ownernya Senju?” “Iya,” jawabku lemas. “Kalau gak dilarang kamu, saya udah labrak dia dari kemarin, Teh. Curang kenapa emang?” “Katanya saya curang karena pakai jasa koki.” Jika kalian bertanya apa yang aku suka dari mas Dinan maka jawabannya adalah suara saat dia tertawa. Seperti sekarang ini lelaki bercambang tipis ini tertawa. Saking kencangnya tertawa, Naila dan Mas Retno penasaran dan melongok sebentar. “Bilangin sama dia, Sory, kita bukan koki, kita ini chef. Biar dah sekalian itu orang kebakaran jenggot.” “Memangnya koki dan Chef beda, ya, Mas?” “Chef itu bersekolah kuliner minimal dua tahun bahkan lebih. Kami Magang kepada Chef ternama. Aku magang di restoran Ramen terkenal di Tokyo. Maaf-maaf ya Teh, pekerjaanku di Uchiha itu amatlah ringan jika dibandingkan bekerja di hotel atau restoran lama.” “Nah, bilang sama siapa ?” “Raka,” jawabku. “Nah iya, Raka mungkin dialah seorang koki yang hanya memasak di rumah atau di tingkat bawah jenjang karier restoran. Dan Koki biasanya masih dalam taraf belajar, beda dengan chef yang juga ngambil peran managemen di dapur.” “Baru tahu aku, Mas. Jujur aku gak tahu banyak soal dunia kuliner ini, kesukaanku sama ramenlah yang membuatku memutuskan untuk membuka restoran ini. Kebetulan dimodalin uang pesangon orang tua.” “Teh, maaf, Nih. Bukan ikut campur atau apa, sebaiknya kita fokus dengan tujuan utama kita, dengan restoran kita. Ngeladenin orang yang punya penyakit hati bisa-bisa kita ketularan punya penyakit hati.” “Udah ngobrolnya?” Mas Retno menginterupsi, kepalanya menyembul di ambang pintu. Sebelum meninggalkanku, Mas Dinan kembali berpesan. Rasanya seperti aku memiliki sosok kakak yang telah lama hilang. * Jadi pengusaha tidak sepenuhnya enak. Memang benar kerja hanya di balik meja, sayangnya, kekurangan karyawan terkadang membuatku harus ikut membantu. Naila dan Nanda yang biasa berjaga di kassa kini membantu para pramusaji karena membludaknya pengunjung. Dan karena alasan itu pula lah yang membuatku ganti profesi jadi kasir. Jam istirahat karyawan adalah jam yang paling menyita perhatian, menyita waktu, nyita tenaga juga. Tapi its okay, semua akan indah pada waktunya. Uchiha akan benar-benar mengalahkan Senju. Dan Raka akan sadar bahwa di dunia ini tidak selamanya pemenang jadi pemenang. Tidak selamanya yang kalah itu memalukan. Banyak hal yang aku inginkan di dunia ini sekarang, salah satunya berdamai dengan Raka, itu pun jika si centong nasi emang mau berdamai. Jika dia terus menyerang maka keinginan terbesarku adalah menang. Bersamaan dengan keputusan barusan, denyutan rasa sakit terbit di dadaaku. Sakit dan panas, sama persis seperti kakiku yang digigit semut api waktu camping dengan Raka. Bertahun-tahun silam saat lelaki itu tulus menjagaku. Simi benar, ketulusan dalam diri Raka sudah hilang dimakan keserakahan. Kasihan Bu Yulia dan Bapak Ari karena telah melahirkan makhluk seperti Raka. Eh Astaga aku makin ngelantur. Untung saja buru-buru sadar saat ada pengunjung yang datang untuk order makanan. Sayangnya gerakan tangan dan senyumku berhenti kala melihat lelaki tambun berdiri dengan senyum kaku yang dipaksakan. Ingin rasanya mengumpat, sayangnya kemampuan untuk itu seketika sirna, apalagi, sih, maunya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD