Mangkuk Delapan

1768 Words
Duduk gelisah di depanku, Andra berkali-kali menyeka keringatnya. Sungguh keberadaanku seperti seorang eksekutor, apa yang membuat Andra begitu ketakutan? Teh lemon yang sengaja aku buat dibiarkan begitu saja, aku tahu dia haus, buktinya beberapa kali menelan ludah dan menyentuh leher. Huh! Menyebalkan karena tidak ada bosnya yang arogan dia menciut di hadapanku. “Boleh bicara sebentar?” begitu katanya ketika datang, sekarang aku sudah menghabiskan sepuluh menit duduk di hadapannya, belum ada sedikit pun kata yang dia ucap. “Jadi bicaranya?” tanyaku. Andra mengangkat wajahnya, menempelkan kembali sapu tangan yang dia pegang ke dahi. Aku tahu, tanpa Raka, dia tidak punya nyali. “Tari.” Raut wajahnya terlihat lebih serius, mungkin Andra sedang pilih-pilih kata yang akan disampaikan kepadaku. Dia kan tidak seperti Raka yang kalau bicara seenaknya tanpa mikirin perasaan lawan bicaranya. “Maaf sudah mengganggu waktunya, kedatangan gue ke sini memang ada hubungannya dengan Raka, tetapi jujur gue datang atas keinginan sendiri. Tari, gue tahu lo dan Raka itu bukan setahun dua tahun. Gue tahu di balik perseteruan kalian ada ....” “Ada apa?” potongku cepat-cepat. Andra terlihat kaget, lantas dia kembali menunduk dan mengelap keringatnya. “Apa kalian tidak bisa berhenti saja?” tanya Andra, suaranya memelan, tetapi dengan jelas aku dapat mendengarnya. Ada harapan di setiap ucapannya, aku tahu dia peduli. Aku tahu Andra sudah bosan melihat sahabatnya seperti ini. Namun, jika aku sendiri yang disuruh berhenti, mana bisa. Sama saja artinya aku di suruh mengalah. Kenapa Andra tidak menyuruh Raka saja yang berhenti, mengapa bela-belain berpeluh-peluh datang ke sini untuk membujukku. Hih! Tunggu dulu! “Maksud kamu bagaimana?” tanyaku berusaha mencerna maksud dari ucapan Andra. “Dua hari ini Raka terlihat stress karena pengunjung Senju berkurang drastis, Tari. Kenapa kalian tidak bersatu saja buka restoran jepang bareng-bareng?” Andai semudah yang diucapkan Andra. Mungkin sudah dari dulu aku dan Raka membangun mimpi ini bersama. Menuliskan kata RAMEN, Raka dan Mentari di papan iklan depan restoran kami. Jika saja Raka tidak memiliki ego yang tinggi. Jika saja dia dengan senang hati menyambut keberhasilanku meraih beasiswa. Mimpi yang kami bangun bersama sejak muda akhirnya memang harus berakhir karena Raka memelihara dendam hingga lupa bahwa bumi itu berputar. Yang aku inginkan dia cukup memberikan dukungan karena aku berhasil kuliah tanpa biaya. Harusnya dia juga mengerti mengingat keuangan mama dan papa tidak bergelimang seperti keluarganya. Bukankah dia yang sering memberikan traktiran karena aku kadang tidak punya uang untuk jajan? “Tari.” Andra mengagetkanku, tatapan lelaki itu sudah seperti es campur saja. Segala ada. Bedanya isi di dalamnya lain, khawatir, bingung, canggung, resah entah apalagi. Kuahnya mungkin peluh dia yang terus membawahi wajah. Iuuuh Astaga. “Tidak mudah. Semua sumber masalah ada pada lo harusnya bisa nilai mana yang baik dan mana yang enggak.” Andra bergeming, mungkin dia membenarkan ucapanku, atau justru malah membela sahabatnya. Entah apa tujuannya datang ke sini, tidak mungkin jika hanya ingin bahas hal ini saja. “Tari lo gak capek?” tanya Andra lugas. Kulihat sekeliling menu baru membuat Uchiha didatangi banyak pengunjung. Mas Dinan dan Mas Retno pasti sibuk di dapur. Nanda dan Naila serta para pramusaji bergerak cepat sementara aku mendengarkan omong kosong di sini. “Dra, sori banget, gue sebenernya terlalu sibuk hanya buat dengar omong kosong lo, kalau tujuan lo ke sini Cuma mau ngomongin itu sebaiknya lo ngomong dulu sama Raka. Sebelum sama gue. Lo tahu, kan? Raka adalah sumber masalahnya. Dia yang punya penyakit hati, dia yang iri sama pencapaian dan kesuksesan gue. Tapi kalau tujuan lo ternyata ... gini, maksud gue kalau ternyata ada tujuan lain yang menyeret lo hingga dateng ke sini, lo gak bakalan dapat apa-apa. Inilah gue, ini restoran gue, gak ada istimewa, gak ada yang perlu dilaporkan kepada Raka.” Andra berusaha menggeleng untuk menyangkal. Sudahlah bener-bener buang waktu, lebih baik aku membantu Naila dan Nanda yang mulai kewalahan. “Tari tunggu!” Jari tangan Andra yang montok-montok menggenggam lenganku, mencegah agar aku tidak berlalu meninggalkannya. “Dra, gak ada lagi yang harus kita bicarakan.” “Maafkan gue Tari, beneran gue gak ada maksud. Gue tadinya Cuma pengen kalian bisa damai aja. Kalau gitu gue pamit ya. Sekali lagi maaf.” Andra menunduk-nunduk, kentara dengan jelas lelaki ini menyesal. Aku mendesah, dipikir-pikir sama egoisnya dengan Raka jika aku tidak menganggap kedatangan Andra ini adalah salah satu niat baik. Aku perhatikan wajahnya sekali lagi, gurat ketakutan itu masih ada, dan perlahan memudar kala aku tersenyum dan menepuk pundaknya. “Sama-sama Dra, maaf ya, gue bukan gak menghargai kedatangan lo. Terima kasih niat baiknya.” Sebagai rasa hormatku kepada Andra kuantarkan dia ke depan pintu, meski berkali-kali Andra menolak diantarkan aku bersikukuh tetap membersamainya keluar dari Uchiha. Tisu kisut yang tadi aku pegang dan remas-remas kini berpindah ke tempat sampah. Seraya berjalan kami berbincang kecil, seperti teman lama yang sudah lama tidak bertemu sedang bersenda gurau. Aku tidak enak karena sempat berpikiran negatif terhadap Andra. “Semoga sukses ya, Tari. Semoga hubungan persahabatan lo dan Raka bisa kembali seperti dulu.” “Gue gak berharap banyak, Dra. Thanks, ya.” Aku berdusta, karena pada kenyataannya aku mengaminkan ucapan Andra. Dia keluar dari Uchiha, sayangnya langkahnya terhenti. Tubuhnya tersentak kaget. Pucat seperti melihat hantu. Jauh di ujung jalan, tepat di depan salon Muslimah berdiri dengan murka sosok yang sedari tadi aku dan Andra bicarakan. Raka. Entah sedang apa di sana. Andra terlihat begitu ketakutan menyaksikan bagaimana sahabatnya sendiri berwajah merah penuh dengan emosi. Sudah bisa dibayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Raka meninggalkan sepeda motornya hingga terjungkal, dia berjalan cepat dan buru-buru meraih kerah baju Andra. Bogem diterima Andra mentah-mentah. Tanpa belas kasihan pukulan bertubi-tubi itu mendarat di pipi kiri dan kanan Andra. Tidak ada yang bisa kulakukan selama beberapa detik saking kagetnya. Sampai kekuatan yang entah datangnya dari mana merasukiku. Tubuh tinggi yang kini menindih Andra berhasil kudorong. Namanya orang sedang kesurupan, dia berhasil bangkit dan kembali menghajar Andra. “Pengkhianat, lo!” hardik Raka. Tidak ada perlawanan. Orang-orang di sekitar mulai berkerumun. Bahkan para pengunjung Uchiha melihat kejadian memalukan itu dari kaca. “Lo sebenarnya ada di pihak siapa? Lo jadi mata-mata, Hah? Lo mau pindah kerja, rasakan ini!!” Umpatan dan hujanan pukulan diterima dengan pasrah tanpa perlawan. Nurani memaksaku untuk memisahkan perkelahian itu. Bukan perkelahian, tetapi penyiksaan. “Heh, Centong Nasi! Lepasin!” Dorongan kuat untuk menyelamatkan Andra semakin bertambah, tubuhku menjadi seringan kapas, etah bagaimana jadinya baku hantam itu kini beralih antara aku dan Raka. Membabi buta kupukul d**a lelaki itu. Raka tidak melawan, hanya saja dia berusaha mencengkram tanganku agar tidak memukulnya bertubi-tubi. Kutumpahkan kekesalan yang sudah menumpuk dalam beberapa tahun ini. Kutendang tulang keringnya, tidak kupedulikan rintihannya. “Tari, suatu saat nanti kita akan membuat Restoran Ramen bareng.” “Tari, jangan pernah tinggalin gue, ya. Hanya lo yang bisa bikin hari-hari gue berwarna.” “Tari, jika nanti ada cowok yang mau sama lo, bawa dulu ke gue, biar gue tatar dulu. Harus orang bener yang jagain lo. Biar gue tenang.” “Emang lo siapa?” “Gue adalah orang yang akan berada di barisan paling depan yang melindungi lo.” Pandanganku memburam karena air mata, kilasan-kilasan ucapan Raka dahulu kala sungguh sangat menyakitkan. Semua hanyalah dusta, tidak pernah Raka tepati. Raka tidak pernah benar-benar menyayangiku selayaknya aku sayang pada lelaki itu. Tangan kokoh memegang kedua tanganku membawaku ke pinggir dan memberikan jarak antara aku dan Raka. Alangkah kagetnya aku ketika tersadar, aku dan Raka seperti berada di arena tinju. Orang-orang mengelilingi. Andra sendiri duduk memegangi hidungnya yang berdarah. Raka berdiri persis di hadapanku, tangannya dipegang oleh pria berseragam polisi. Tunggu! Polisi? Kupalingkan wajah kepada orang yang memegang tanganku juga. Pria dengan aroma pinus ini ternyata juga polisi. Habis sudah nasibku, terlebih kini aku dan Raka digiring untuk naik ke mobil patroli seperti penjahat yang terciduk oleh pihak berwenang. * Bertahun-tahun jadi tetangganya Bu Yulia dan Bapak Ari, untuk pertama kalinya aku melihat mereka marah pada anak lelakinya. Sesekali Bu Yulia mengelus pergelangan tanganku yang memar karena cengkraman Raka. Mama tidak bisa berkata-kata sedangkan papa yang sedang tidak enak badan tidak bisa datang saat polisi meminta untuk datang karena kejadian yang menimpaku juga Raka. “Kamu ini kayak anak kecil Raka, ini ternyata jawabannya mengapa kalian tidak pernah bersama lagi.” Aku menunduk dan menangis, saking sakitnya hati ini rasanya bernapas pun susah. Aku yang tidak berani menatap wajah Raka memberanikan diri untuk mengintip sedikit. Luka cakar memanjang di tangannya, juga pipinya. Sepadan dengan apa yang dia lakukan kepada Andra. “Kamu ini sudah melukai dua orang sekaligus, kekerasan dan harusnya dihukum. Beruntung Andra dan Tari memaafkan kalau tidak, habislah sudah kamu nginap di sel.” Pak Ari ikut menegur Raka. Polisi-polisi di hadapan kami membantu menyelesaikan masalah ini. Hingga pada akhirnya Raka mengulurkan tangan untuk meminta maaf kepadaku. Aku mengulurkan tangan juga, menyambutnya. Terlihat enggan, Raka buru-buru melepas tanpa memandang wajahku. Kulihat terus pergerakannya. Dia merangkul Andra yang penuh luka karena ulah Raka. Semua yang ada di ruangan itu memberikan petuah demi petuah. Raka seperti bunglon, dia mengangguk dan terkesan patuh. Aku yakin dalam hatinya lelaki itu membantah. Bisa aku lihat dari sudut bibirnya, seperti itulah ekspresinya kala tidak menyukai sesuatu. Mama berterima kasih dan meminta maaf kepada pihak kepolisian disusul Pak Ari dan Bu Yulia. Andra dan ibunya juga menyusul pamit setelahnya. “Ibu sama Ayah pulang naik taksi, kasihan Bu Puspa pulang sendirian. Sebagai hukuman, kamu harus antarkan Tari ke Restorannya. Ayah bawa motor Mas Surya tadi.” “Apa?” teriak Raka. “Gak usah, Bu.” Aku menolaknya. Yang benar saja? aku harus bareng Centong Nasi? Lebih baik pulang jalan kaki. “Gak ada penolakan kalau gak kamu tahu akibatnya, dan Tari, gak usah nolak juga, semakin kamu tolak semakin ibu akan paksa kamu. Kalau tidak Ibu marah, nih.” Raka cemberut, dia tidak senang. Punggungnya terlihat jauh lebih kokoh dari tahun-tahun yang lalu, satu hal yang sama dari Raka adalah wanginya. Aku sedikit senang karena dulu aku yang memilih parfum ini untuk Raka. Hati rasanya sakit, teramat sakit dengan keadaan kami yang berantakan ini. Motor berhenti beberapa meter setelah keluar dari gerbang polsek. Setelah taksi online membawa orangtua kami pulang. “Turun lo, gak sudi gue bawa lo!” Suaranya parau dan tercekat. “Siapa juga yang mau dibonceng? Lebih baik jalan kaki, dasar centong nasi!” Setelah turun dari motor matic yang Raka bawa, aku berjalan menjauh berlawanan arah dengannya. Segalanya terasa begitu menyakitkan, aku yang kini tanpa ponsel dan dompet harus benar-benar jalan kaki untuk kembali ke Uchiha. Aku berbalik untuk kembali melihatnya, lelaki itu mengabur dari pandanganku, menghilang ditelan padatnya kendaraan bermotor di jalan raya. Sampai kapan keadaan akan terus begini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD