Mangkuk Sembilan

1789 Words
Jarak dari polsek ke Uchiha tidak bisa dibilang dekat, dan karena Centong Nasi Siaalan aku harus berjalan menyusuri trotoar untuk pulang ke Uchiha. Sebenarnya jika bawa ponsel bisa saja naik ojol, ongkosnya bisa dibayar nanti ketika sampai. Sayangnya tanganku kosong, daritadi mencoba merogoh kantong celana kali aja ada uang yang nyempil bisa dipakai buat ongkos angkot. Sedangkan untuk naik ojek pangkalan aku tidak menemukan satu pun di sini. Kalau dingingat-ingat, jalan kaki jauh seperti ini bukanlah hal yang aneh. Keterbatasan uang pada zaman dahulu sering memaksaku untuk berjalan kaki sepulang sekolah. Kecuali ketika masih berteman dengan Raka. Dia yang menemani agar perjalananku menyenangkan atau dia yang bayarin ongkos angkot ketika terik matahari sudah tak bersahabat. Sebenarnya sekarang matahari juga sedang tidak bersahabat, padahal jam sudah menunjukkan lebih dari pukul dua siang. Penjual minuman kekinian di pinggir jalan membuatku menelan ludah berkali-kali. Sungguh dahaga ini menyiksaku. Sempat kepikiran untuk pinjam ponsel orang dan menelpon Simi, tetapi zaman adakah yang akan percaya? Tiga puluh menit berjalan rasanya aku berjalan di situ-situ saja. Namun, kaki rasanya sudah sakit sekali karena lecet, betis pun pegal dan peluh membasahi kepala hingga punggungku. Sejenak aku berhenti dan duduk di bawah pohon persis depan Alun-alun Tarogong. Dipikir-pikir aku berjalan jauh sekali dari jalan Rancabango hingga alun-alun. Uchiha memang tidak jauh lagi dari sini, sayangnya aku sudah tidak sanggup lagi berjalan. Pandanganku memburam karena air mata, tanpa rasa malu aku menangis sesegukan, mengundang orang-orang untuk menatapku dengan iba. “Teteh kecopetan?” tanya seorang Ibu. Dia menyerahkan satu gelas air mineral yang langsung aku teguk tanpa rasa malu. Lantas aku menggeleng, berusaha menghapus air mata dan ingus dengan punggung tangan. Mungkin jika aku tidak menangis orang-orang ini tidak berkerumun. Memalukan, tetapi apakah menangis sebuah kesalahan? “Tenang dulu, Teh, jangan nangis. Itu ada pos polisi, bisa datang ke sana kalau butuh bantuan apa-apa.” Kuucapkan banyak terima kasih, dengan kaki lecet kuseret langkah menuju pos polisi depan alun alun. Tugu Adipura yang dikelilingi replika kemasan dodol Garut terlihat indah dengan bunga-bunga dan air mancur. Sayang suasana hatiku tidak seindah itu. “Buruan naik!” ketus pengendara sepeda motor. Dari suara dan aromanya sudah bisa menebak siapa orangnya. Tidak sudi! Lebih baik kaki bengkak seperti kaki gajah daripada harus boncengan lagi sama Centong Nasi! Lagian ngapain coba, jelas-jelas tadi dia sendiri yang ninggalin, kenapa berubah pikiran? “Elah lama banget, buruan naik!” “Bukannya lo gak sudi bonceng gue? Lo juga harus ingat gue ogah satu motor sama manusia berhati kotor kayak lo!” “Gue juga gak mau, Ayah yang nyuruh, ayah yang ngancam gue. Lo sih bisanya ngadu sama orangtua. Buruan, sat, ah!” Aku masih ingin umur panjang, aku gak mau mati sia-sia naik motor bareng manusia gila macam si centong nasi ini. Dia yang selalu ngebut kalau ngambek, pernah suatu hari pas SMA, Raka ngambek karena Pak Ari tidak menepati janjinya untuk pergi ke Bandung saat liburan. Saat itu Raka yang belum punya SIM dan tidak diizinkan mengendarai sepeda motor mengendap membawa motor dan pergi keliling Garut. Untung aja aku berhasil ikut dan mual-mual karena mabok. “Kebanyakan bengong lo, buang waktu gue aja.” “Ya udah sana balik aja, gue bisa pulang sendiri.” “Lo pulang pake apa? Jalan kaki?” “Lo peduli?” “Gak! Gue gak peduli!” “Ya udah pulang, gue bisa jalan sendiri!” “Tapi bokap gue bisa ngamuk kalau liat lo jalan kaki, ngarti gak sih lo. Heran gue bisa-bisanya lo jadi juara umum tapi oon begini.” Otakku mendidih, Astaga Raka ini sudah gak bisa dimaafkan, selain kelakuannya yang menyakitkan omongannya juga bener-bener melukai hatiku. Air mata tanpa komando kembali membasahi pipi. Aku mundur dan memilih pergi menjauh dari orang yang tidak punya hati macam dia. Sekali lagi Simi benar, aku sudah harus melupakan Raka. Menghapus satu teman dalam hidupku, mengubur selaksa rasa yang selalu aku pelihara sejak dulu. Satu hal yang aku pelajari dari kejadian antara aku dan Raka adalah pentingnya ketulusan. Selama ini Raka tidak pernah tulus jika begini akhirnya. Padahal aku sudah mengorbankan banyak hal untuk menjadi sahabatnya, terutama hatiku. Aku salah telah menjatuhka hati kepadanya. Perih. Rasanya sangat perih. “Tari tolong, pulang bareng gue,” pinta Raka, kali ini lelaki itu sudah mengejar dan mensejajarkan diri denganku. Ibu-ibu yang tadi memberiku air tersenyum, dia kira kami pasangan yang sedang saling merajuk. “Sori, gue udah gak mau dekat-dekat sama lo lagi, Ka. Lo udah nyakitin banget. Bilang sama bokap lo gue udah pulang dengan selamat.” “Jalan, Bang!” Aku menepuk punggung lelaki muda yang dari tadi menyaksikan perseteruan antara aku dan Raka. Dia sempat bingung, mungkin karena aku menganggapnya tukang ojek. “Ke mana, Mbak?” “Jalan pembangunan, Bang. Abang bukan ojek kan? Maaf ya, Bang, nanti uang bensin aku ganti di sana.” Abang berjaket kulit khas kota Garut ini menepi sejenak lalu mengeluarkan ponselnya, ternyata dia menghubungi anaknya yang sudah menunggu di alun-alun Tarogong. Tadi ketika hendak menjemput Abang ini keburu melihat perkelahian aku dan si Centong Nasi. Aku keburu naik tanpa pikir panjang. Karena belas kasihan Abang ini mau mengantarkanku hingga jalan Pembangunan. Ke kantor Simi. “Abang tunggu di sini, nanti aku minta uang dulu buat pengganti bensin.” “Gak usah, Mbak. Saya nggak ngojek, saya anterin Mbak karena kasihan, dulu saya sering nyakitin cewek kayak gitu tadi. Jadi melihat masnya tadi rasa bersalah juga ada, Mbak. Pasangan emang begitu, ada psang surutnya seperti roda yang berputar. Jangan pernah ragu untuk memaafkan laki-laki karena bagaimanapun kami memiliki penyesalan yang besar kalau sudah nyakitin cewek.” Astaga. Sungguhkah aku seperti pasangan dengan Raka? “Saya pamit, anak saya sudah nunggu di alun-alun. Kalian cocok, punya chemistry yang kuat. Insya Allah jodoh.” “Terima kasih, Abang. Sudah ngantar ke sini, untuk doanya enggak aku aamiinkan.” Sebelum mengenakan kembali helmnya lelaki itu tertawa sebentar. Adem rasanya. Lantas sepeda motor berwarna merah itu menyebrang ke jalur berlawanan dan menjauh dari lokasi. Angin yang berembus membuat luka yang berasal dari kuku di pergelangan tanganku sedikit perih. Raka sudah sangat keterlaluan sampai membuatku terluka begini. Mengingatnya aku kembali menangis sambil berjongkok di depan kantor sekaligus workshop Simi. Aku aman, aku aman, aku sudah aman. “Astaga Teh Tari!” pekik Rania. Pegawai Simi. Aku yang butuh pelukan dan sandaran segera menghambur dan memeluk gadis mungil di hadapanku, menangis sebisanya. Entah menangisi apa, luka, duka, atau kecewa? Dua jam kemudian Simi tiba di kantor, dia yang sedang berada di lapangan buru-buru pulang setelah mendengar aku ada di kantornya, dia terlihat panik melihatku yang nyaris seperti gembel meringkuk di sofa ruang tamu. Dalam keadaan normal Simi pasti marah mengingat kecintaannya pada kebersihan. Mungkin dia tidak tega, yang dilakukan hanya duduk disampingku dan mengelus rambut persis seperti majikan yang mengelus kepala hewan peliharaannya. “Apa yang terjadi? Dari tadi nyokap lo telponin gue nyari lo, Andra juga. Ada apa Tari?” “Raka, hiks ....” Aku tak dapat melanjutkan cerita. Mungkin air mata akan segera habis, bodo amat, kepalaku sudah teramat pusing juga. “Ran, tolong hangatkan s**u yang ada di lemari es. Sambil terus diaduk ya.” Simi minta tolong pada Rania. Hingga Rania menyajikan s**u hangat itu di meja aku masih terus sibuk membasahi tisu dengan air mata. Tak apalah, hanya Simi yang bisa melihatku menangis seperti ini. Dering ponsel memecah keheningan antara kami. Simi menunjukkan bahwa yang nelpon adalah mama. “Jangan bilang gue di sini, Sim. Gue pengen tenang dulu. Gue capek, takut mati.” “Sembarangan aja kalau ngomong!” * Hari sudah larut, Simi tidak lelah berbohong mengenai keberadaanku. Kini semua orang sedang panik mencari keberadaanku. Biarin aja, biar tau rasa si Centong Nasi kena getahnya. Aku di sini sudah segar membersihkan diri dan kenyang dengan makanan-makanan yang Simi sediakan. Kuceritakan kejadian tadi siang dari awal sampai akhir, Simi yang tadinya tidak setuju aku menyembunyikan keberadaanku malah balik dukung setelah tahu apa yang terjadi. Apalagi begitu tahu luka dan memar di pergelangan tangan ulah si Centong Nasi. Ini bukan akhir dari kisah cintaku karena tidak pernah ada yang memulai kisah. Aku hanya memendam perasaan yang sebetulnya masih membingungkan apa itu cinta atau hanya sekadar obsesi saja. “Lo mau pulang atau mau ikut ke rumah?” tanya Simi. “Pulang aja, Sim. Meski gue pengen banget nginep, tapi gue takut bokap sama nyokap khawatir. Gue dosa udah bikin mereka cemas sekarang. Pinjam duit aja buat ojol,” pintaku seraya menadahkan tangan. Telapak tangan Simi yang lembut terasa saat dia menepuk telapak tanganku. Dia tersenyum dan berjanji akan mengantarkanku hingga selamat sampai rumah. Meski sudah kutolak mana bisa aku mengelak kala Simi bersikukuh. Akhirnya aku mengalah, lelah juga seharian beradu argumen dengan orang-orang. Kusandarkan kepala pada jendela mobil. Mata terpejam bukan berarti tidak mendengar senandung Simi. Dia sedang dalam mode baik sehingga tidak mengomel. Potongan demi potongan kejadian tidak henti-hentinya mengganggu pikiranku. Tadi sore aku memutuskan untuk enyahkan Raka dari hidupku, meski rasanya akan semakin sulit, tetapi mungkin dengan bertemu dengan orang-orang baru akan membuat aku melupakan masa lalu. Tuhan terlalu baik karena memfilter teman-temanku. Mereka yang baik akan bertahan dan yang tidak baik terhempas dengan sendirinya. Tinggal sekarang aku tata hati agar bisa legowo sepenuhnya bahwa Raka dan Mentari tidak akan pernah bisa bersama dan RAMEN tidak akan pernah ada. “Sudah nyampe, Tari. Lo mau sampai kapan melamun, kasihan tante udah nungguin.” “Eh, makasih banyak, Sim. Lo gak mampir dulu?” “Sudah malam, besok gue harus ke Lembang ketemu klien. Jangan nangis terus, besok gue bawain s**u kesukaan lo langsung dari Lembang.” “Kalau gak ada Lo gue gak tau bakal gimana, Sim.” “Jangan bilang gitu, dah sana, gue ngantuk mau bobo.” Aku gelisah mencari jawaban jika Mama dan Papa bertanya habis dari mana. Mereka tidak akan marah, tetapi aku tak mampu untuk berdusta. Lampu depan masih menyala itu artinya mereka masih menunggu. Banyak sandal juga di teras rumah. “Aku pulang,” bisikku lemas. Mama buru-buru menghambur ke pelukan, disusul bu Yulia dan Pak Ari. Raka di sudut ruangan dengan wajahnya yang tertekuk. “Alhamdulillah kamu gak apa-apa, kamu dari mana saja, Tari sayang?” tanya Mama. “Maaf, Tari capek, bolehkah ceritanya besok saja?” Semua mengerti lalu Mama menyuruhku untuk masuk ke kamar. “Tunggu Tari,” cegah Pak Ari. “Iya.” “Raka mau minta maaf sama kamu.” Kulihat lelaki itu tercekat mendengar pernyataan Ayahnya. Aku paham dia gak mau dengan mudah merendahkan diri untuk minta maaf. “Tidak ada yang perlu dimaafkan, Pak. Tari tidak apa-apa. Justru Tari yang minta maaf karena sudah bikin kalian semua cemas. Permisi.” Kulangkahkan kaki menuju kamar. Terdengar obrolan-obrolan di belakang. Mereka semua mengkhawatirkanku. Kecuali mungkin Raka. Dia terlihat biasa saja. Ayolah Tari, apa yang kau harapkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD