Dari luar aku melihat Mas Retno dan Mas Dinan, sedang berbincang dengan seorang pria tampan. Dari gestur tubuh ketiganya, mereka bukanlah teman lama bisa saja baru kenal. Mas Dinan terlihat canggung meski mas Retno bisa menguasai keadaan dengan baik.
Begitu aku mendekat, Mas Retno seperti menunjukkan bahwa aku sudah datang, lelaki tadi berdiri dan menyambutku mengulurkan tangannya seraya tersenyum manis sekali. Ugh ternyata di dunia ini orang ganteng banyak sekali, Simi benar lagi.
“Selamat pagi, Mbak Mentari, saya Bima!” Suara Bima berat-berat seksi, gerakannya bukan lamban, tetapi seperti penuh dengan perhitungan. Tubuhnya lebih tinggi dari Raka, puncak kepalaku hanya sebatas dadaa dia saja.
Balutan kemeja slimfit warna biru berpadu dengan celana chino warna putih, sumpah Bima cerah banget, aku kira juragan sapi itu ya kayak Mas Fajar, pakai topi koboy dengan perut buncit, kadang-kadang bau rumah potong.
“Pagi, Mas Bima, terima kasih sepagi ini sudah berkunjung,” jawabku. Lantas duduk setelah mempersilakan lelaki itu untuk kembali duduk. Mas Retno dan Mas Dinan pamit menuju dapur.
“Kebetulan saya baru pulang dari Australia, ini ada sedikit oleh-oleh.” Sejenak aku mematung sebelum menerima pemberian dari Bima, orang ini benar-benar sangat tidak asing, rasanya aku pernah melihat dia tapi entah di mana.
“Mas Bima pake repot-repot segala, oh iya ngobrol di dalam yuk, biar lebih nyaman, di sini sebentar lagi pengunjung bakalan pada dateng.”
“Saya gak lama, Cuma mau mengambil dokumen yang tempo hari dibawa oleh karyawan saya.”
Ingatanku terlempar pada dokumen perjanjian antara Uchiha dengan perusahaan rumah potong milik Bima. Lalu dengan patuh lelaki itu mengikutiku hingga masuk ruangan.
Kulirik sekilas Bima, matanya tampak sedang menyusuri seluruh ruangan. Sudut bibirnya terangkat, sesekali lelaki itu memperbaiki rambut dengan menyisirnya menggunakan jari-jemarinya yang indah. Benar-benar indah dan bikin insecure.
Dokumen yang dimaksud akhirnya ketemu. Salinan surat perjanjian kerjasama yang sudah aku bubuhi tandatangan.
"Mas, sebenarnya gak perlu repot-repot datang ke sini, loh. Aku bisa antarkan dokumen ini."
Gerakannya memeriksa dokumen berhenti sejenak.
"Saat membaca surat perjanjian kerja sama saya baca Nama Mbak Mentari," ucapnya dengan raut wajah serius.
Sumpah, kenapa aku tiba-tiba gugup. Dua ekor ikan cupang dalam wadah berbeda jadi objek pandanganku. Mereka meliuk-liuk dengan gerakan indah di bawah sinar lampu yang sengaja dipasang dekat toples keduanya.
Gerakan indah seperti tarian pemanggil arwah dalam film horor yang aku tonton belakangan ini.
"Mentari Putri Dwijani itu nama adik kelas saya di SMA, anaknya ceria, ke mana mana selalu berdua sama kembarannya. Dia anak IPA 3, kalau istirahat makan siang, suka barengan sama kembarannya."
Aku kicep, yang dibicarakan Mas Bima benar semua, kecuali bagian saudara kembar, aku tidak punya saudara kembar.
"Semua yang Mas kataka hampir benar kecuali saudara kembar, saya gak kembar."
Bima tersenyum lalu memejamkan matanya, setiap kali menonton drama baik itu Korea, China ataupun Thailand kadang aku bertanya kepada diri sendiri bagaimana bisa ada cowok yang keren dan ganteng maksimal seperti tokoh protagonis dan antagonis dalam drama tersebut.
Nyatanya sekarang tak perlu nonton series. Sosok tampan seperti itu duduk di hadapanku.
"Anak cowok, saya ngiranya pacar. Namun, salah satu teman saya bilang kalau kalian kembar. Enggak tahu benar atau tidaknya."
Kenapa ini ingatanku menjurus pada di Cantong Nasi?
Jika memang dia kakak kelas, masuk akal jika aku masih ngintilin Raka ke mana - mana. Tapi ngomong-ngomong berarti bener kecurigaanku dan Simi kalau Bima Lucas ini adalah orang yang sama seperti yang kami duga.
“Bentar-bentar Mas, ini Bima yang nolak jadi ketua OSIS itu bukan sih? Yang dulu jadi bahan gosip?”
Tawa indah itu kudengar lagi, ampun dah jika dihitung sudah berapa banyak pujian yang kulontarkan untuk makhluk Tuhan paling seksi di hadapanku ini. Namun, wajar Kok, jika benar di Bima yang itu, maka luar biasa aku bisa kenal dia sekarang ini. Dulu mana bisa aku kenal laki-laki selain Raka.
“Gosipnya gitu, ya?” tanya Bima.
“Iya, sok cakep katanya nolak dicalonkan jadi ketua OSIS.” Aku jawab dengan jujur.
Awalnya Bima yang ngakunya gak akan lama malah ngobrol sampai sore denganku. Dulu memang ada kasak kusuk tentang lelaki ini karena jelas-jelas dia nolak buat dijadikan ketua OSIS, dia memenuhi kriteria untuk menjabat, tetapi dengan tegas menolak.
Bima tidak pernah aktif di kegiatan apa pun kecuali kewirausahaan dan sisanya hanya tekun belajar di Sekolah. Bibit unggul pengusaha sudah bisa dilihat sejak dini. Suamiable banget Bima nih. Perusahaan dan rumah potongnya sudah berdiri dan sukses jauh sebelum Bima selesai kuliah.
Dan keberuntungan buatku karena Bima sudah lama tidak mendistribusikan daging sapi ke Restoran skala kecil seperti Uchiha. Berhubung Mas Fajar yang minta akhirnya Mas Bima mengiyakan.
Kini aku dan lelaki bertubuh jangkung ini berbicang selayaknya teman lama yang baru bertemu lagi, nostalgia banyak hal tentang masa sekolah dulu, masa di mana aku dan dia sama-sama tidak saling mengenal.
“Saya dulu sempet naksir loh, Tari,” ungkapnya, bukannya kaget, aku malah tertawa. Bisa-bisanya Bima berkata seperti itu, untung enggak baper. Walaupun habis-habisan aku memujinya, tetap saja hanya Raka yang bisa bikin baper. Terlepas dari perlakuannya kepadaku selama ini.
Move on itu susah sodara, coba sebutkan gimana caranya aku bisa move on dari makhluk yang wujudnya mirip dengan centong nasi?
“Rakanya di mana sekarang?” celetuk Bima saat kami berjalan berdampingan menuju keluar Uchiha.
“Raka ada buka Resto ujung jalan sana, Mas. Senju!”
“Kalian benar-benar kembar,” komentar Bima. Beuh kalau saja Bima tahu bagaimana kelakuan Raka, tak akan lagi berkata kalau kami kembar.
“Hati-hati di jalan, Mas, salam sama calon istrinya,” ucapku kala Bima mulai meninggalkan Uchiha. Mas Bima sudah tunangan, konon mereka akan menikah enam bulan lagi karena sang calon istri masih harus menyelesaikan studinya di luar negeri. Kebetulan saja sekarang sedang di Indonesia mengunjungi orangtuanya bersama Bima.
Mobil yang dikendarai Bima meninggalkan Uchiha dan menghilang di tikungan dekat salon muslimah. Jaadi ingat kejadian tempo hari saat Raka membabi buta menghajar Andra.
Sejak kejadian malam itu tidak ada bahasan lagi, mama dan papa hanya bertanya kemana aku pergi setelahnya, aku jawab jujur sedang menenangkan diri bersama Simi dan meminta untuk tidak memberitahukan di mana aku saat itu. Sudah, mama papa mengerti dan bahasan ditutup.
Karena mungkin Mama dan papa mengerti bagaimana aku dan Raka saat ini bagaimana, tidak ada harapan untuk kami menjadi Ramen, Raka dan Mentari.
*
Saat ini aku suka dengan malam, karena malam memberikan pencapaian untukku. Karena malam memberikan seberapa banyak hasil kerja kerasku dan Tim UCHIHA selama satu hari. Laci yang penuh dan kulkas yang kosong adalah pemandangan paling indah yang pernah aku lihat dalam hidupku.
Senyuman Mama dan Papa setiap bulannya juga menjadi satu kebanggaan bagiku. Awal berniat membuka usaha Papa sempat menentang. Beliau masih berpikiran kalau orang sukses itu adalah orang yang bekerja di kantoran.
Orangtua mana, sih yang kepengen anaknya terus-terusan jadi orang susah? Gak ada kan? Sayangnya mindset mereka memang perlu diluruskan. Akhirnya setelah aku mengatakan kalau ingin membuka lapangan kerja untuk orang lain Papa baru memberi restu.
Bahkan Papa memberikan uang pesangonnya untuk aku kelola dan dijadikan modal, gak kebayang jadi resto, awalnya aku hanya mikir bikin warung lesehan dengan kontrak kios yang harga terjangkau sesuai tabunganku.
“Teh, ada waktu sebentar, bolehkah bicara?” Mas Retno menghampiriku, lelaki yang selalu irit bicara ini pasti memiliki hal yang penting sampai meninggalkan dapur wilayah kekuasaannya untuk bicara denganku.
Setiap kali Mas Retno ngajak ngobrol serius, aku selalu deg degan, bukan takut diseriusin, melainkan takut tiba-tiba Mas Retno pamit untuk meninggalkan Uchiha.
“Di sini mau di dalam?”
Mas Retno terlihat rikuh, lantas dia melirik sekilas Nanda dan Naila yang sedang ngerumpi di belakang meja kassa.
“Nai, Nan, pulang, gih,” perintahku, jam pulang mereka hampir tiba, pada akhirnya mereka manut dan izin untuk duluan pulang.
“Ini, Teh, silakan baca dulu.” Mas Rento menyerahkan selembar brosur, gambar Ramen dan aksara kanji menjadi pemandangan pertama yang aku lihat di lembaran tersebut.
FESTIVAL MASAKAN JEPANG.
“Saya mau ikut tapi .... “ Mas Rento diam sejenak, terlihat ragu dan sedikit ada rasa tak enak yang tidak dapat aku baca.
“Kenapa, Mas?”
“Teteh jangan marah, ya,” ucapnya penuh permohonan, aku masih mencerna, dari sisi mana aku harus marah. Maas Retno ingin ikut Festival makanan Jepang kenapa aku harus marah?
“Gak akan, aku justru marah kalau Mas Retno malah gak jadi ngomong.”
“Saya mau ikut, tetapi tidak menjadi wakil Uchiha, saya ikut sebagai chef independen, boleh?”
Beginilah rasanya punya, rekan kerja yang loyal. Hal begini saja Mas Retno sudah merasa tidak enak. Aku tersenyum dan memberikan dukungan penuh. Uchiha sebenarnya tidak perlu ikut hal-hal yang seperti itu, sudah menghasilkan uang untuk kehidupan Mama dan Papa pun aku sangat bahagia dan bersyukur.
“Terika kasih, Teh.” Mas Retno pamit untuk kembali ke dapur, dia meninggalkan brosur tadi di hadapanku. Banyak sekali kegiatan dalam festifal ini, salah satunya adalah lomba antar resto.
Selang setengah jam kemudian, Mas Retno dan Mas Dinan pulang bersama, disusul anak-anak bagian dapur yang membantu mereka. Aku di kantor sendirian menyelesaikan segala laporan hari ini serta menyusun rincian gaji karyawan yang akan diberikan dalam waktu kurang seminggu.
Lembur ini namanya, karena tidak terasa akhirnya aku harus meinggalkan restoran nyaris tengah malam. Untung saja masih ada taksi online yang mengantarku hingga rumah.
Dalam perjalanan aku tak henti bersyukur, meski raga sudah teramat lelah, tetapi bahagia rasanya diri ini.
Taksi berhenti tepat di depan rumah, seperti biasa Mama akan menunggu dengan setia di kursi depan rumah. Dia terlihat semringah menyambutku pulang, katanya aku pulang dengan selamat merupakan kelegaan luar biasa yang membahagiakan untuknya.
Tapi tunggu, astaga dari tadi mama ditemani si centong nasi ternyata, katanya dia sudah tinggal di indekos dekat dengan resto, ngapain sekarang nongol di sini?
Kulangkahkan kaki menuju rumah, takut emosi.
Sayangnya tangannya meraih pergelangan tanganku. Kutatap mama minta pertolongan, reaksinya hanya senyum dan malah membiarkanku dan Raka kini duduk bersisian.
Jantung berpacu, entah karena marah, entah karena kesal, entah karena apalagi. Yang pasti aku di sini pun rasanya gak senang-senang amat.
“Tari,” ucapnya.
Aku tak mau menatap Raka.
“Jangan geer dulu, gue ke sini mau nantangin lo. Gue belum puas!”
“Gue gak ada waktu,” hardikku sambil berdiri, langhkahku kembali tertahan. Dia meraih tas selempangku kali ini.
“Jangan jadi pengecut deh, Tari. Terima tantangan gue, kalau lo menang gue janji gak akan ganggu hidup lo lagi.”
“Untungnya apa gue ikut tantangan lo, karena gue yakin nerima tantangan lo atau enggak lo bakal jadi bayang banyang yang ngikutin gue ke mana pun gue pergi.”
“Percaya diri sekali Anda!”
“Gue gak ada waktu, maaf kerjaan gue banyak, Restoran gue gak sesantai restoran lo yang sepi pengunjung.”
“Astaga, lo yang bener kalo ngomong.” Emosi Raka terpancing. Dia terlihat sangat geram.
“Heh, centong nasi, tomat busuk, lo jangan pernah ganggu hidup gue lagi. Jauh-jauh lo atau gue semprot pake pestisida punya mama, tuh!” kucoba untuk mengancam dia.
Dia menyerahkan selebaran berwarna merah, selebaran yang sama seperti yang mas Retno beri.
“Kita adu prestasi dalam festival ini. Saatnya Senju dan Uchiha bertarung dengan cara yang benar.”
Dia pergi, gak berkata apa-apa lagi. Jadi gimana ini, terima tantangannya atau jangan?