Mangkuk Sebelas

1658 Words

"Kami pamit, Teh," ucap Mas Retno diikuti Mas Dinan. Dipikir-pikir mereka sudah seperti sepasang kembar saja, selain kompak, pakaian mereka kan selalu kembar. Apalagi jika ditambah dengan apron uchiha. "Sebentar, Mas. Ada waktu buat ngeteh sebentar? Tapi gak di sini, di cafe Jiwa Muda." Simi sedang dalam perjalanan untuk menjemputku. Kami mau ngeteh bersama, nah sekalian aja aku ajak Mas Retno dan Mas Dinan. Ada yang ingin aku bicarakan dengan keduanya. Mas Dinan merogoh kantong celananya mengeluarkan ponsel. Diliriknya jam, lalu saling pandang dengan Mas Retno. "Saya nggak bisa, Teh. Saya harus mempersiapkan banyak hal untuk festival nanti. Lain kali ndak papa kan?" Melihatku mendesah kecewa, Mas Dinan tidak tinggal diam. Sepasang sahabat itu akhirnya berbagi tugas, Mas Retno tetap p

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD