Mangkuk Duabelas

1713 Words

Aku membuka mata karena tenggorokan rasanya kering, tanpa beranjak dari tempat tidur, kugapai nakas untuk mengambil segelas air putih. Ah, parah, ternyata sudah kosong. Mau nggak mau aku akhirnya bangkit. Kuraih sandal bulu di bawah tempat tidur dan terpaksa menyeret langkah untuk ambil minum ke dapur. Ingatkan aku untuk membeli dispenser buat di kamar. Akhir-akhir ini udara kota Garut panas, hal itu membuatku berkali kali bangun hanya untuk sekadar minum. "Tumben bangun subuh?" tegur Mama. "Haus," jawabku serak. Baru pukul 04.00 azan subuh pun belum berkumandang. Biasanya Mama memang sudah bagun sepagi ini. Dulu waktu aku masih kuliah, Mama bahkan bangun pukul 02.00 hanya untuk ngadon roti yang akan dijajakan pada pagi harinya. "Sekalian ambil wudu, kita salat jamaah, udah lama k

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD