Prolog—Dia yang Mengerti
Warning! In this story there is a switch POV for the characters.
RAVEL
Ini bukan pertama kalinya gue melihat dia nangis dalam diam, sementara gue hanya melihat dia dari jauh. Ya dia, mantan tersingkat gue. Bukan terindah ya, garis bawahi. Bagaimana menjadi yang terindah ketika gue sama dia hanya pacaran dua hari, kurang singkat gimana coba. Cewek yang sudah dua tahun ini jadi temen gue, temen di kampus, di luar kampus, temen curhat, temen deket pokonya deket banget sampai gue nggak yakin apakah pertemanan kita ini masih bisa dianggap wajar atau nggak.
Dia—Aneysha Chalondra—cewek cantik yang lebih kerap disapa Neysha, sementara gue lebih milih buat manggil dia Anes. Bukan karena panggilan kesayangan atau apa, gue hanya merasa susah aja manggil dia Neysha. Lagipula si cantik juga nggak pernah protes mau gue panggil apa.
Anes mahasiswa semester lima, adik tingkat sefakultas sama gue, cuma bedanya dia ngambil jurusan akuntansi sementara gue ngambil manajemen bisnis. Cukup terkenal di antara anak-anak cowok fakultas ekonomi sejak mahasiswa baru karena kecantikannya, tapi semakin ke sini dia lebih dikenal sebagai cewek judes dan songong. Irit banget kalau ngomong sama orang yang nggak dikenal, sekali ngomong kadang nyelekit banget. Padahal nih ya kalau sudah kenal, asyik banget anaknya. Buktinya gue betah aja tuh dua tahun temenan sama dia, malah rasanya gue nggak ingin berpisah sama dia.
Seperti siang ini, seharusnya kita bertemu di depan gedung fakultas ekonomi karena setiap selasa, jadwal kita sama. Hanya satu mata kuliah di jam 09.00 WIB dan berakhir di jam 10.50 WIB. Biasanya setelah kelas kita bakal nongkrong di gazebo perpus kalo nggak ke kantin teknik buat ngerjain tugas masing-masing atau ngobrol omong kosong sampai sore. Alasannya sederhana, Anes males dengerin ucapan unfaedah beberapa teman sejurusannya.
“Vell, pindah tempat aja yuk. Males gue dengerin orang nggak tahu bedanya ghibah sama nyindir, keras banget. Mending langsung adu mulut aja sama gue sini, paling juga kicep.”
“Lagian suka-suka gue dong mau nongkrong sama siapa, mau ngerjain tugas sama siapa, mau nyebur ke kolam ikan sama orang gila pun juga bukan urusan mereka. Lagian nih ya nongkrong sama mereka nggak ada faedahnya, tiap hari gunjingin orang, trus kalo absen, otomatis lo yang bakal jadi bahan gunjingan. Toxic banget.”
Lucu banget deh apalagi kalau dia sambil bersungut-sungut. Ingin banget mengacak-acak rambutnya. Tapi gue tahu, Anes itu nggak pernah bener-bener nggak suka atau kesal sama orang. Ngambek paling lama hanya setengah jam doang, habis itu selesai kayak nggak ada yang terjadi.
Gue lihat arloji sudah jam 11.40 WIB. Panggilan gue nggak diangkat padahal lagi online. Ada apa ya? Jangan-jangan sudah balik? Nggak mungkin. Gue kan tadi keluar kelas lebih awal. Gue jadi khawatir berlebihan. Kebetulan ada Ivanka—temen sekosan dan sekelas Anes—terjadi.
“Iv, lo lihat Anes nggak?”
“Eh, ada kak Ravel. Tadi sih di kelas. Belum ke luar ya? Tega banget sih bikin cogan nunggu.”
Kalau biasanya gue ladenin basa-basinya, kali ini gue langsung kabur gitu aja tanpa bilang terimakasih. Hutang dulu ya, Iv. Hehe.
Gue langsung lari ke ruang kelasnya. Begitu sampai depan kelas, yang ada kelas sudah rame diisi kelas anak lain. Sudah hampir lebih lima belas menit buat ngecek satu per satu ruangan di lantai itu. Celingak-celinguk nggak jelas sambil nahan malu juga karena pas buka pintu ternyata sudah ada dosennya. Bodo amat lah dikira kurang ajar.
Ketemu.
Anes, dia di sana, sendiri di kelas paling pojok. Nangis, tanpa suara. Kebiasaan dia kalau lagi ada masalah dan satu-satunya alasan yang bisa buat dia nangis hanya satu, her family.
Ini bukan pertama kali lihat dia seperti itu. Jadi, setidaknya gue lebih tahu apa yang harus gue lakuin. Menjaga jarak dan memberinya waktu sesaat, setidaknya sampai selesai menangis. Anes tidak suka diganggu, dia butuh ruangannya sendiri. Pernah di suatu kondisi ketika dia dalam keadaan yang sama tetapi di tempat yang berbeda, gue mencoba menawarkan pelukan karena gue benar-benar nggak tega, she look so desperate and i cant handle my self to make her better tapi bukannya dia tenang justru gue dapat hadiah tendangan di tulang kering ditambah nggak diajak ngobrol seminggu. Gue nggak mau mengulangi kesalahan lagi. Tanpa kabar sehari saja gue sudah kelabakan apalagi seminggu.
Gue hanya diam di sini. Dari balik pintu. Gue yakin dia tahu gue ada di sini. Setidaknya dia tahu dia nggak sendiri. Gue bakal kasih dia waktu sebanyak yang ia mau dan gue akan datang di saat yang tepat. Make her smile again.
ANEYSHA
Sudah hampir satu jam gue di sini, awalnya memang hanya berdiam diri, merenung dan memikirkan hal yang sebenarnya nggak ingin gue pikirkan, hingga terbawa suasana dan berakhir dengan menangis dalam diam.
Ponsel gue sejak tadi berbunyi—Ravello Faresta—Yes he is. Kakak tingkat gue yang mendapat label the most wanted guy. Tampan, pinter, dan kaya. Paket komplit. Ramah sekali apalagi jika sudah berurusan dengan cewek. Tapi buruknya, ketika ‘that cewek’ sudah terlalu mendekat, Ravel akan menjauh dan memberi batas yang pasti untuk tidak melangkah lebih jauh. Selalu seperti itu, nggak pernah berhasil atau memang berniat nggak berhasil sejak awal tetapi hebatnya cewek-cewek di sekitarnya masih setia mengekor atau sekadar mencari perhatian. Termasuk gue, mungkin.
“Anak fakultas sastra kemarin nyariin lo sampai neror gue, Vel. Gak tahu deh dapat nomor gue darimana. Lo apain sih sampe jadi kayak gitu? Gue males ya, tolong itu diurusin peliharaannya.”
Sementara Ravel hanya akan tertawa mendengar celotehan gue.
“Sialan lo, Nes. Udah blokir aja blokir.”
Gue hanya bisa menghela nafas panjang, sebenarnya gue sangat nggak suka sifatnya yang seperti itu. “Kalau gitu kenapa lo deketin sih, Vel? Buang-buang tenaga aja toh akhirnya lo tolak juga kan.”
“Gini ya Anes sayang, gue nggak deketin siapa-siapa. Emang dasarnya gue ganteng dan templokable banget, makanya banyak yang nyamperin. Nah berhubung kadar kebaikan gue berlimpah, ya gue respon satu-satu lah,” jawab Ravel sambil nyengir.
“Basi lo.”
Gue mendengar suara langkah kaki mendekat dan tanpa menoleh pun, gue tahu siapa dia. Ravel. Gue sangat membenci situasi seperti ini. Situasi ketika Ravel selalu melihat gue yang berada di titik di mana gue terlihat sangat menyedihkan. Mungkin bagi orang, menangis bukan suatu masalah. Sebenarnya, bukan menangisnya yang gue permasalahkan, tapi cerita di dalamnya, alasan di baliknya, gue nggak ingin ditanya. Gue nggak terbiasa berbagi dengan siapapun. Gue cuma ingin menyimpannya sendiri. Itu alasan kenapa gue selalu mencari tempat sendiri untuk meluapkannya.
Tapi Ravel, entah bagaimana ceritanya, setiap waktu ketika gue seperti ini, dia selalu di sana. Berdiri memperhatikan gue dari jauh. Ravel nggak pernah bertanya kenapa. Dia hanya diam tapi seakan-akan dia berbicara, “Nes, gue di sini, nggak apa-apa nangis aja, gue tungguin ya. Lo gak sendiri kok,” dan anehnya, hanya melihat dia di sana, bahkan terhalang oleh pintu. Semuanya terasa lebih ringan. Hal-hal yang tadinya membuat gue sesak dan sakit hati rasanya meluber begitu saja. Kenapa bisa semudah ini?
“Sudah selesai?” tanya Ravel ketika gue ke luar kelas dan menghampirinya.
Gue menatapnya sebentar dan hanya manggut-manggut untuk menjawab pertanyaannya karena gue sendiri nggak tahu harus merespon seperti apa. Bagaimanapun juga gue malu, karena dia melihat gue menangis, tapi dia tampak nggak keberatan atau mungkin sudah terbiasa.
Dia mengacak-ngacak rambut gue—kebiasaan dia kalau ketemu gue dan gue sangat nggak suka karena ngerusak tatanan. “Senyum dong, Nes. Cemberut mulu, entar kayak pinokio lho bibirnya jontor.”
“Diem deh.” Meskipun sepertinya percuma gue bicara seperti itu karena Ravel dan mulut lemasnya nggak akan bisa diam.
“Ye abis manyun-manyun gitu, lama-lama bisa mancung tuh mulut. Lumayan sih buat gantungan tas.”
“Duh filternya rusak banget deh ini mulutnya.” Gue reflek menepuk punggungnya. Seperti biasa, dia hanya akan pura-pura mengaduh sambil nyengir-nyengir nggak jelas.
“Nes nyeblak yuk, enak nih makan yang pedes-pedes.” Gue menghela nafas kasar. Ravel sangat tidak toleran makan pedas tapi hobinya makan yang tidak-tidak. Cari mati memang.
“Perut masih belum diupgrade gitu mau makan yang pedes-pedes. Mau diare seminggu lo?”
“Tuh kan tuh tuh mulut lo tuh pedes banget, Nes, kalah mah seblaknya, lewat,” jawab Ravel sambil menunjukkan wajah memelasnya. Kelakuannya mirip seperti bocah yang minta mainan tapi nggak diturutin.
“Ayolah Nes, sekali aja.”
“Nggak usah ngaco! Kalau lo yang sakit, pasti ngerepotin gue. Ogah, males.” Terakhir kali dia sakit perut dan absen, gue harus bantuin ngerjain tugasnya yang jelas-jelas berbeda, secara dia kakak tingkat gue dan beda jurusan. Nyusahin.
“Nes!” Gue memutar bola malas. Ravel ini pengidap keras kepala kronis.
Gue melirik Ravel yang sepertinya masih terobsesi dengan seblaknya. “Kalau bakso aja gimana? Eh, apa mie ayam di kantin sastra aja ya, Vel? Kan enak deh, hehe.”
“Bakso apa mie ayam? Random banget kan, Terus endingnya makan rawon, kebiasaan deh lo.”
“Sama kali, masih keluarga makanan berkuah.”
Ravel ketawa gemas sambil pura-pura nyentil dahi gue.
“Fix ini makan gado-gado paling cocok,” ucap gue lagi.
Ravel menghentikan langkahnya, mengamati gue dengan intens, mungkin muak atau mungkin ingin menukar tambah diri gue dengan rombong gado-gado, lalu melanjutkan jalannya.
“Okelah, yuk!”
Giliran gue yang menatap punggungnya lama. Terkadang gue masih nggak menyangka Ravel yang sekeras kepala itu bisa mengalah secepat kilat jika itu berhubungan dengan gue. Bukannya gue kegeeran, tapi memang seperti kenyataannya. Dia nggak pernah protes atau memaksakan keinginannya pada gue. Tapi bukan berarti gue bisa memonopoli dia. Kita tahu bagaimana porsi kita masing-masing dalam menempatkan diri.
“Seblaknya nggak jadi?”
“Boleh nih makan seblak?” Ravel menggoda.
“Nggak, gado-gado aja.” Terkadang Ravel dengan segala keinginannya perlu dihentikan.
“Duh protektif banget sih. Jadi sayang deh.”
“Makan tuh sayang.”
Gue berjalan mendahului Ravel yang masih cengengesan sambil ketawa absurd di belakang. Hidup itu selucu ini ya. Baru beberapa waktu yang lalu gue menangis hebat dan beberapa menit kemudian gue sudah senyum sepuas ini. Gue nggak tahu, semisal karakter Ravel dirubah sama orang lain, mungkin nggak sih gue masih bisa bahagia setulus ini?