Bab 4

1083 Words
Satu bulan setelah menikah Nadine masih tinggal di rumah orang tua Fahri. Pagi ini untuk yang pertama kalinya, Nadine akan membuat sarapan untuk Fahri. Sepertinya Nadine merasa sangat kesulitan karena Nadine tidak pernah dan tidak bisa memasak sama sekali. Urusan rumah selalu ia serahkan kepada mbok Senah. Nadine yang berada di dapur tidak sengaja menyenggol peralatan dapur sampai jatuh dan berantakan, suara itu membuat Fahri yang sedang menunggu sarapan di meja makan merasa penasaran dan langsung menghampirinya. "Ada apa ini?"Tanya Fahri sedikit kaget melihat dapur berantakan. "Aku tidak sengaja, semua ini jatuh karena tak sengaja kesenggol tanganku Mas."Ucap Nadine sambil memungut barang yang berjatuhan. "Terus mana sarapan pagi ku? Bukankah dari tadi kau sudah memasaknya! Sudah jam berapa ini, aku akan berangkat ke Kantor!!"Fahri sedikit kesal dengan Nadine yang begitu lama meladeni dirinya. "Mas, kamu tunggu di depan ya. Lima menit lagi aku akan ke depan membawa sarapan pagi untukmu."Nadine semakin gugup, memasak pun belum dilakukannya sama sekali. "Cepat, nanti aku kesiangan!" Nadine berusaha memasak dalam waktu lima menit, tapi apa yang akan dia masak secepat itu? Untuk mengejar waktu lima menit, Nadine bergegas mengambil dua butir telur, menurutnya masakan paling gampang adalah telur ceplok. Tatapi bayangan tak semanis kenyataan ternyata telur ceplok miliknya asin dan sedikit gosong. Nadine semakin bingung apa lagi, Fahri sudah memanggil dirinya dan tidak mungkin dia mengulangi memasak telur untuk yang kedua kalinya. "Apa yang akan aku lakukan jika mas Fahri marah dengan telur gosong ini?"Ucap Nadine sambil memegang sepiring nasi dan telur ceplok gosong miliknya. Tidak ada lauk yang lain hanya nasi dan telur ceplok gosong yang akan disajikan Nadine pagi ini. Perlahan Nadine berjalan ke depan dengan rasa ketar-ketir. Gugup sangat terasa bagaimana tidak, dirinya saja tidak selera melihat telur ceplok buatannya sendiri apa lagi suaminya. Sesampainya dimeja Nadine memberikan sarapan untuk Fahri. "Mas, sarapan dulu. Maaf telurnya sedikit gosong?"Dengan gugup Nadine menaruh piring tersebut di depan Fahri yang sudah kelaparan menunggu lama. Wajah Fahri langsung berubah melihat sarapan pagi yang disajikan Nadine. Fahri melihat tajam sarapan yang tidak enak dipandang sampai pandangan itu naik ke mata Nadine. Nadine tidak bisa berkata apapun dia merasa Fahri sangat marah padanya. "Kau yakin ini sarapan untukku!!"Tanya Fahri sambil beranjak dari meja makan dan memandang Nadine penuh kesal. "Maafkan aku, Mas. A..aku sudah berusaha memasak, karena aku tidak bisa masak jadi telur itu goso....."Belum selesai bicara Fahri menggebrak meja makan begitu keras, membuat ciut nyali Nadine, pagi itu Fahri marah untuk pertama kalinya. "Kau pikir aku siapa!! Makan saja makanan gosong ini untukmu!!"Fahri beranjak pergi dari meja makan untuk berangkat kerja dan meninggalkan sarapan paginya. Nadine masih berdiri dan terus menatapi sepiring nasi yang sudah berserakan karena Fahri menggebrak meja sangat keras membuat piring itu hampir terbang. Air mata mulai menetes, keluar dari pelupuk mata gadis yang masih polos itu. Perlahan Nadine membersihkan nasi dan telur gosong yang berserakan di atas meja. "Aku sudah berusaha tapi usahaku sia-sia!"Ucap Nadine bercucuran air mata. Tak lama kemudian, Valen datang menghampiri dirinya karena mendengar ada keributan dari dalam kamarnya. "Nadine, ada apa denganmu? Matamu basah apa kamu menangis?"Tanya Valen ketika melihat mata bulat, Nadine berkaca-kaca. "Aku tidak apa-apa Ma, mataku hanya terasa perih saat mengiris bawang tadi."Ucap Nadine. Ia menyembunyikan sarapan gosong yang dipegangnya di belakang badan. "Itu apa Nadine?"Valen curiga Nadine sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Dengan kepolosan sikapnya, Nadine memperlihatkan sarapan gosong yang dipegangnya, sampai membuat sang mertua kaget. "Apa ini Nadine! Telur gosong?"Ucap Valen sambil memegang telur tersebut. "Ma, aku minta maaf aku memang tidak bisa memasak sama sekali dan, Mas Fahri tidak mau memakannya."Nadine menangis dan memegang tangan Valen, ia meminta maaf atas kesalahannya. "Nadine! Ini kan telur gosong bagaimana Fahri mau memakannya!"Valen sedikit menyentak Nadine karena sikapnya. Nadine kembali meminta maaf kepada sang mertua, dia benar-benar belum bisa menjadi istri yang baik untuk Fahri. Maafin aku, Ma."Rintih Nadine. "Ya sudah, Mama maafin tapi lain kali yang lebih baik dari ini? Oh, ya, Mama kesini hanya mau bilang padamu, Mama sudah membelikan rumah tinggal untuk kalian berdua," "Mulai besok kamu dan Fahri akan tinggal berdua di rumah baru yang sudah Mama sama Papa siapkan, ya?"Valen menyuruh Nadine tinggal berdua dengan Fahri, karena memang mereka adalah pengantin baru. "Ma, jika begitu apa aku boleh membawa Mbok Senah? Karena jika ada Mbok Senah aku tidak kesulitan lagi membuat sarapan untuk, Mas Fahri?"Ucap Nadine. "Mbok Senah siapa?"Tanya Valen karena belum kenal dengan Mbok Senah. "Pengasuh aku Ma, Mbok Senah bekerja di rumahku sudah lebih dari 25 tahun, aku sudah menganggapnya seperti nenekku sendiri."Nadine berharap Valen mau menyetujuinya. "Oh boleh saja, lebih bagus malah. Supaya kamu ada yang masakin dan beres-beres rumah."Ucap Valen sambil tersenyum. "Makasih, Ma." Valen begitu baik kepada Nadine, Nadine benar-benar beruntung mempunyai mertua seperti, Valen. ****** Malam hari. Nadine berbaring sambil menunggu Fahri pulang dari kantor, karena tubuh yang sudah sangat lelah dan mengantuk membuat matanya perlahan terpejam begitu saja. Nadine tidak menyadari Fahri sudah tiba di rumah, dan mulai membuka pintu kamarnya. Melihat Nadine sudah tertidur pulas Fahri perlahan menaruh tas, sepatu, dan melepas jas yang masih dipakainya. Nadine tidur dengan posisi berbaring dan sedikit terbuka di bagian bawah, seketika menggoda Fahri yang baru saja pulang dari kantornya. "Aku memang tidak bisa lari dari wanita, apa lagi wanita yang cantik dan mulus sepertimu!"Ucap Fahri sambil merangkak naik ke atas ranjang. Fahri perlahan mendekati Nadine yang masih lelap dalam mimpinya, Nadine terbangun karena merasa ada sesuatu yang mengusap tubuh mulusnya. "Mas Fahri, kamu sudah pulang Mas."Ujar Nadine. "Oh ya, besok kalo aku pulang malam kamu tidak perlu tidur memakai baju!"Ucap Fahri. "Mas aku minta maaf soal tadi pagi, aku benar-benar tidak bisa memasak?"Ucap Nadine beranjak duduk. "Lupakan saja. Buka bajumu aku sudah tidak tahan lagi!" Nadine langsung membuka bajunya, dan malam ini menjadi malam yang sangat hangat untuk mereka berdua. ***** Pagi harinya... Fahri datang menghampiri Nadine."Apa mama sudah bilang padamu kita akan pindah ke rumah baru?"Tanya Fahri. "Sudah Mas, Mama bilang hari ini kita akan pindah ke rumah baru."Ucap Nadine kepada Fahri. "Yes, akhirnya keinginanku terwujud!"Fahri begitu sangat kegirangan akan tinggal tidak serumah dengan orang tuanya lagi. "Kamu senang sekali Mas?"Nadine berfikir, Fahri senang karena akan tinggal hanya berdua dengannya. Padahal sebaliknya, dia akan merasa bebas jauh dari tekanan orang tuanya. "Tentu saja aku sangat senang Nadine."Ucap Fahri sambil tersenyum-senyum sendiri. Namun Nadine lupa memberi tahu Fahri jika nanti, Mbok Senah akan ikut tinggal bersamanya atas izin Mama Valen. Fahri begitu sangat senang bukan karena akan hidup berdua dengan Nadine, melainkan dirinya akan terbebas dari aturan Mama dan Papanya, dia akan bisa melakukan apa saja yang dia mau.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD