Hari pernikahan sudah didepan mata tapi Fahri masih tertidur pulas. Kemudian Valen dengan kesal terus mengetuk pintu kamar Fahri sampai anak malas itu terbangun.
Hari ini adalah hari Pernikahan Nadine dan Fahri, Pernikahan mereka akan dilakukan pukul 10 pagi ini.
Fahri bangun dari tidurnya, ia duduk sejenak di pinggir ranjang. Fahri tertawa sendiri selayakya orang gila.
"Ternyata ini benar kenyataan! Perjodohan ini bukan mimpi! Aku akan menikah dan beristri, kemudian aku akan mempunyai anak?"Fahri terus tertawa seperti orang gila, membuat Bima yang kebetulan melewati kamar Fahri pun mendengar ocehan putranya itu.
"Fahri pergi mandi!"Bima memanggil Fahri dari balik pintu kamar untuk segera mandi karena sebentar lagi dia akan menikah.
"Baiklahlah Pa, aku akan mandi dan menemui calon istriku itu."
Fahri terus tertawa dan beranjak bangkit dari ranjang untuk segera mandi.
"Ma, kamu lihat putramu itu! Jam segini dia baru mandi, kalo tidak di bangunkan dia tidak akan bangun!"Ucap Bima sambil menarik nafas panjangnya.
"Pa! Papa kan sudah tau sifat Fahri bagaimana! Mama juga sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi agar Fahri mau berubah."Ucap Valen sambil duduk di atas sofa.
"Tadi Papa juga mendengar Fahri ngoceh-ngoceh tidak jelas! Dan tertawa-tawa sendiri. Sudah gila anak itu!"Ucap Bima sambil memijat pelipisnya.
"Pa, duduk sini. Papa yang tenang, ya."Valen menarik tangan Bima agar segera duduk Valen mengusap punggung Bima agar sedikit tenang.
Mereka menenangkan pikirannya sejenak sambil menunggu Fahri selesai mandi dan bersiap-siap.
Setelah semua sudah siap mereka menuju mobil dan langsung berangkat menuju rumah Nadine. Beni tidak ikut karena sedang kuliah di Amerika dan tidak bisa pulang hari ini.
Selama di perjalanan Fahri terlihat sangat santai. Lain dengan Valen apa lagi Bima. Mereka terlihat sangat cemas dan tegang mereka juga takut Fahri tidak bisa menjaga sikap saat pernikahan nanti, apa lagi keluarga Nadine tidak tau menahu tentang kelakuan Fahri yang sebenarnya.
Sesampainya di sana keluarga Fahri turun dari mobil mereka disambut hangat oleh keluarga Nadine yang sudah sedari tadi menunggu kedatangan calon besannya itu. Mereka mempersilahkan mereka untuk masuk.
Pernikahan akan dimulai penghulu sudah siap di meja akad nikah untuk menikahkan Fahri dan Nadine. Sebentar lagi janji suci akan segera terlaksana untuk pasangan yang menikah karena perjodohan orang tuanya.
Penghulu mulai memanggil nama Fahri.
"Fahri Ardiansyah Wantoro."Penghulu memanggil Fahri untuk segera maju ke meja akad nikah.
Fahri maju dengan penuh rasa percaya diri, tidak ada sedikitpun rasa tegang dari raut wajahnya. Sementara itu Nadine masih belum keluar dari kamarnya, karena akad nikah belum selesai.
"Saudara Fahri sudah siap?"Tanya penghulu.
"Sudah, Pak."Ucap Fahri masih dalam sikap percaya dirinya. Dia tidak sedikitpun merasa gemetar atau canggung menghadapi akad nikah ini.
Dan pernikahan langsung dimulai.
"Sah?"
"Sah."
"Sah, Pak, Sah."
"Sah...."
Teriakan para saksi saat akad nikah begitu nyaring terdengar. Sah, sekarang Fahri sudah Sah menjadi suami Nadine.
Air mata terus menetes di pelupuk mata orang tua Fahri, menyaksikan putranya sudah menikah dan menjadi seorang suami. Ibu Nadine juga tidak bisa menahan air mata yang memaksa keluar dari pelupuk matanya.
Mbok Senah diperintahkan Arimbi memanggil Nadine yang sedang berada di dalam kamar untuk segera turun dan bertemu dengan Fahri.
"Non, kita turun yuk, temui suamimu."Ucap Mbok Senah sambil memegang tangan Nadine.
"Mbok apa semuanya ada kendala?"Tanya Nadine penuh cemas.
"Semuanya lancar Non, ayo turun."Mbok Senah menuntun Nadine untuk turun.
Nadine berjalan memakai gaun pengantin yang sangat indah dan anggun, gaun putih bersih membuat wajah ayunya semakin terpancar merona.
Perlahan Nadine turun meniti tangga sambil menebar senyum manisnya. Fahri yang masih duduk di meja pernikahan seakan terpaku melihat wajah istri yang tidak di inginkan itu terlihat cantik sekali.
Sikap Fahri yang sedari awal percaya diri dan cuek tiba-tiba menjadi berubah, Fahri terus memandangi Nadine yang sedang turun dari tangga dengan tubuh gemetar.
"Cantik sekali dia."Batin Fahri ketika Nadine perlahan mulai mendekati dirinya.
"Mas Fahri."Nadine tersenyum dan duduk disampingnya.
"Kau cantik sekali."Fahri memuji kecantikan Nadine. pujian Fahri mendapat senyuman manis dari Nadine.
"Makasih Mas."
Setelah bersua foto bersama mereka berjabat tangan kepada para tamu undangan. Acara pernikahan mereka berjalan sangat mulus, semua tamu undangan ikut bahagia melihat sepasang pengantin baru yang cantik dan tampan baru saja melepas masa lajangnya.
Untuk penutupan acara hari ini, Sudirman dan Arimbi menghujani para tamu undangan dengan sejumlah uang ratusan, semuanya berebut dan penuh kegembiraan.
********
Setelah acara pernikahan selesai Fahri mengajak Nadine tinggal di rumah orang tuanya. Malam ini adalah malam pertama mereka, sebagai pasangan pengantin baru tentu yang paling ditunggu-tunggu adalah malam pertama.
"Kau mau kemana?"Tanya Fahri saat Nadine beranjak dari ranjangnya.
"Aku mau mandi."Ucap Nadine sambil berjalan ke arah kamar mandi sambil memegang handuknya.
"Mandi? Eh tunggu dulu!"Ucap Fahri sambil mendekati Nadine yang masih berdiri didepan pintu kamar mandi dan memegang pinggul nya.
"Kenapa? Ah...Aku mau mandi Mas?"Pegangan tangan Fahri membuat tubuh Nadine gemetar sampai ke ubun-ubun.
"Ya sudah, mandilah aku akan menunggumu di ranjang?"Fahri melepas pinggul Nadine tanpa melepas pandangan nya.
"I...Iya Mas."Nadine gugup dan segera masuk ke dalam kamar mandi dengan cepat ia menutup pintunya.
Perasaan Nadine begitu gemetar, selama di kamar mandi Nadine selalu memikirkan apa yang akan terjadi malam ini. Apa yang akan dilakukan oleh Fahri padanya.
"Apa yang akan Fahri lakukan malam ini! Apa dia akan langsung mengajakku untuk melakukan hal itu?"Nadine bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Selesai mandi Nadine keluar dari kamar mandi, batapa kagetnya Nadine melihat Fahri sedang berbaring di atas ranjang tanpa memakai sehelai baju pun yang menempel pada tubuhnya. Fahri benar-benar sudah tidak sabar malam itu.
"Mas Fahri! Apa yang kamu lakukan!"Ucap Nadine seraya memegang handuk yang tengah membalut tubuhnya.
"Apa yang aku lakukan? Bukankah ini malam pertama kita! Kita kan sudah menikah?"Ucap Fahri.
Nadine terdiam dan merasa canggung dengan Fahri, Nadine terus memalingkan wajahnya dari hadapan Fahri.
"Kenapa kau memalingkan wajahmu dariku!"Tanya Fahri perlahan sambil mendekati Nadine yang masih terus berdiri memegang handuknya.
"Tidak Mas, aku hanya lupa saja jika malam ini adalah malam pertama kita."Tubuh Nadine mulai gemetar dan terus memalingkan wajahnya.
"Kalau begitu kau tunggu apa lagi?"Fahri mendekati Nadine dan memegang pinggulnya.
"Apa kau tidak mau istirahat Mas untuk malam ini saja. Kau pasti capek."Nadine sedikit mundur dari hadapan Fahri.
"Aku akan tidur jika kita sudah malam pertama!"Fahri lebih dekat lagi dan menahan tubuh Nadine, serta melepas handuk yang menempel pada tubuhnya.
"I....Ya Mas"Nadine tidak bisa berbuat apa-apa sekarang dia sudah sama-sama menempel.
"Tubuhmu indah sekali, aku baru lihat tubuh indah sepertimu ini."Fahri tak tahan melihat tubuh indah Nadine dan langsung memeluknya.
Sisi liar Fahri mulai keluar, Fahri mulai menciumi leher Nadine dari ujung rambut sampai ujung kaki. Nadine terus menggeliat merasakan ciuman panas dari Fahri.
Semakin lama Fahri semakin beringas, Nadine dibopong dan di tidurkan di atas ranjang, Fahri terus mencium Nadine membuat Nadine sangat kenikmatan, Nadine dan Fahri menikmati rasa itu dan mencapai kenikmatan bersama-sama. Merekapun melewati malam pertama ini penuh kenikmatan.