45. | Kantin dan Hiruk-piruknya

1550 Words
“Di mana?” Pertanyaan Bagas di seberang sana membuat Chindai terdiam beberapa saat. Ia tidak tahu ingin menjawab apa, sementara jantungnya sudah berdegup kencang. “Gu-gue … lagi mau on the way kantin, Kak.” “Mau flashback ditembak kemaren, Inai?” Astaga, bisa-bisanya si Bagas! “Apaan, sih, Kak? Suuzan terus!” Terdengar kekehan merdu Bagas yang nyatanya memicu pipi Chindai merona tanpa sebab jelas. “Tunggu. Entar gue ke sana juga.” “Bodoh, ah. Dilarang juga bakal tetap dilakukan.” “Takut lo, ya?” tanya Bagas di sisa-sisa tawanya. Ada pun ia tampaknya mengusir Karel dan Randa untuk keluar kelas lebih dahulu sebelum balik menanggapi Chindai kembali. “Tenang, gue enggak senekat Alvin nembak lo sekarang.” Benar saja. Mendengar hal itu, justru netra Chindai melotot sempurna. Sungguh, sedikit pun ia tidak pernah membayangkan Bagas akan menyatakan cinta dalam waktu dekat … itu pun rasanya tidak mungkin. “Dah, Kak, bye!” “Inai ….” Rupanya Bagas masih berusaha memanggil.” “Nomor yang ada tuju sedang tidak Ingin Anda hubungi. Silakan coba beberapa saat lagi. Sekian dan terima kasih.” Dalam sekejap, sambungan telepon Chindai matikan. Ia tak mau jantungnya akan lepas jika dilanjutkan mengobrol bersama Bagas. Laki-laki itu terkadang begitu blak-blakan, sehingga terkesan berbahaya. “Blush on lo ketebalan kayaknya, Ndai,” singgung Marsha meledek, disusul gelak Chelsea dan Marsha yang sedari tadi mencibir kelakuan bak anak kecil Chindai. “Serius ini, belum apa-apa sudah bucin berdua!” “Betul, tuh. Enggak lo, enggak Kak Bagas. Najis banget!” Chindai mendesah ditarik Chelsea menduduki kursi yang tempo hari menjadi saksi bisu pernyataan cinta Alvin. Teman sekelasnya itu masih di fase menjauhkan diri meski telah saling meleburkan masalah semalam, beruntung Marsha cs pun tak banyak tanya. Chindai berharap Alvin cepat move on. “Kalian juga kenapa ajak gue makan di meja ini?” “Gimana latihan persiapan perpisahan kelas dua belas kalian, Guys?” Salma tidak mengacuhkan protes Chindai, justru membahas hal yang menurutnya berfaedah. “Gue enggak tidur. Kak Michelle kayak tukang bangun orang sahur, tiap muncul di grup langsung bahas latihan ini dan itu. Berasa robot pawang musik tahu.” Marsha memelankan suara, mengingat berada di kantin yang lumayan ramai. “Kak Michelle neror terus, ya, Sha.” Chelsea menunjukkan isi chat-nya bersama Michelle pada teman-temannya yang lantas tertawa. “Tengah malam, Guys, pas enak-enaknya video call sama doi. Dimarah, dong, karena gue enggak muncul di grup.” “Ekstrakurikuler tari mulai santai, dong. Minggu depan gladi bersih,” ucap Salma bangga. “Kalau lo, Ndai?” Chindai anteng menghirup es teh pesanan, mengisyaratkan apa yang dialaminya sama saja dengan Marsha dan Chelsea. “Ngomong-ngomong penampilan, lo baca grup enggak?” “Sengaja enggak buka sampai sekarang, pasti isinya itu-itu aja. Kuota gue semalam habis, dan wifi rumah kebetulan mati.” “Berarti lo belum lihat kiriman cowoknya Salma.” Marsha langsung saja bergerak cepat mengambil ponsel di saku rok dan memberikannya pada Chindai. “Gue aja kaget. Keren, sih, asli. Gue enggak terbayang hari H nanti.” “Untuk pergelaran?” Mata bulat Chindai melebar melihat banyaknya foto gaun dan jas formal di group chat ekstrakurikuler musik. “Ini kok beda?” tanyanya menunjuk sesuatu yang terlihat menonjol. “Punya lo dan doi. Yours. Gue curi start. Fattah kasih tahu gue foto-foto ini, dan keren!” kata Salma tak kalah antusias. “Kalian serius?” “Serius, Ndai. Lo dan Kak Ba—” “Chindai.” Panjang umur. Suara Chelsea tertahan di tenggorokan ketika Bagas terdengar mendekat dari arah belakang. Ia tidak tahan untuk mengagumi makhluk ciptaan Tuhan, begitu pun ketiga temannya yang bertatapan satu sama lain. “Eh, benaran ke sini?” Chindai mendongak kaget, sementara dalam hati mengutuk Bagas yang selalu saja membutakan diri terhadap pendapat orang lain. Ia meringis kecil bertepatan jemari laki-laki itu mampir di puncak kepalanya, disusul pekikan sejumlah makhluk hidup di sekitar. “Gue mana pernah bohong kayak lo.” “Jangan bahas kemaren-kemaren!” Bagas terkekeh. “Enggak, Inai. Sensi amat, sih, lo dari di-chat tadi.” “Makanya cari gue, tuh, ingat situasi kondisi. Enggak bosan tiap hari nama sendiri dipajang di forum?” Chindai mendengkus sebal tatkala melongok Bagas yang makin terpingkal-pingkal. “Gue, kan, sudah bilang, Inai Sayang. Asal sama lo, gue fine-fine aja, kok,” balas Bagas enteng. “Ya, kan, Chels?” Chelsea mengerjap lucu sebelum akhirnya menyeringai lebar. “Betul, Kak. Dasar Chindai lebay, padahal senang banget saban hari digosipin sama Kakak. Chindai, tuh, harus dikodein sampai ke akar-akarnya, Kak.” “Bukan gosip lagi, ya, Kak? Real!” tambah Marsha tanpa diminta. “Besok ada berita Kakak sama Chindai pacaran, langsung konfirmasi dengan kata iya, Kak.” Salma yang biasanya tidak terlalu meladeni kisah cinta temannya, kini paling semangat menggoda. “Kita, sih, nunggu pajak jadiannya aja!” Chindai menenggelamkan wajah sambil menggeram putus asa. Tidak ada gunanya memiliki teman-teman berjibun jika tidak satu pun yang ingin membantu. “Jangan bikin malu, dong, ah!” “Dekat sama gue bikin lo malu, Ndai?” “Iya!” Jawaban spontan Chindai membuat Bagas ke sekian kali menyemburkan tawa. “Mau di sini aja atau ikut gue?” “Ke mana?” “Ke mana aja lo mau.” Perlahan Chindai mendongak. “Boleh request?” “Iya, Chindai.” “Ruang musik?” Bagas tersenyum, sedangkan tangannya tergerak mencubit pipi Chindai sembari mengangguk. Tak lupa ia menggenggam tangan Chindai erat dan menuntunnya berdiri dalam satu tarikan. “Ayo, gue ada lagu bagus khusus untuk lo!” Nasib Chelsea, Marsha, dan Salma tak jauh berbeda dengan suasana kantin yang berubah hening, yaitu menahan napas masing-masing melihat kepergian dua remaja yang sedang dimabuk asmara. Bagas dan Chindai. *** Kegugupan menyebabkan Chindai lupa berpamitan. Sumpah, ia tak sadar keberadaan para sahabatnya, sehingga menurut saja saat Bagas menggeretnya lembut. Bukannya terbebas, detik-detik berlalu diiringi berbagai pandangan orang-orang. Chindai hanya bisa menunduk serta memperlambat langkah agar tidak kentara beriringan dengan Bagas. “Aw!” Refleks Chindai mencoba tegak, serta-merta membelalak mendapati Bagas berbalik menghadapnya. “Kak, ma—” “Lo kangen jadi penunggu UKS kayaknya.” “Eh ... maaf, Kak.” “Lo lihat ini, kan?” Chindai membasahi bibirnya. Tiang bendera berdiri kokoh, siap sedia mengantar ke UKS—seperti yang dikatakan Bagas. “Mata dipakai buat lihat, kaki dipakai jalan yang benar,” omel Bagas sambil lanjut berjalan. “Jangan iya-iya aja.” Chindai mengalah daripada berdebat di tengah lapangan. Takut terulang, kaki Bagas dijadikan petunjuk jalan. Chindai konstan enggan mengangkat wajahnya. “Inai, lo enggak cocok jalan di belakang gue.” “Tapi, Kak—” Chindai menegang bertepatan Bagas merangkulnya. Pekikan gadis-gadis di sekeliling justru dianggap Bagas makhluk tak kasat mata. “Kak, malu dilihat orang,” gumam Chindai, menahan napas. “Salah lo sendiri kenapa malu.” “Jantungan anak orang, Gas!” Karel tiba-tiba datang dan memandang takjub ramainya lapangan utama SMA Rajawali. “Serasa hari Senin pagi, upacara bendera.” “Enggak main gue, Gas, cara lo. Kalah gue ini namanya.” Tidak tertinggal Randa turut hadir, tergelak geli di samping Karel. “Halo, Manis, bertemu lagi kita!” Chindai bergerak gelisah karena Bagas tak melepas rengkuhannya. “Hai, Kak!” “Kenapa lo pilih Bagas, sih, Ndai?” “Lo kurang tekad, Ran,” jawab Karel menyulih. “Kak Karel dan Kak Randa mau ke mana? Tumben jauh-jauh ke sini?” “Manis, lo terkontaminasi Bagas. Lo tanya ke orang-orang di sini, pasti jawabannya sama.” “Kenapa memangnya, Kak?” Randa mengacungkan jempolnya. “Nanti lo tahu sendiri.” “Minggir, gue enggak punya waktu buat kalian. Ganggu aja!” Bagas berucap tegas, lalu raut jengkelnya di per sekian detik berubah kala menunduk bertepatan Chindai mendongak. Bagas tahu jarak mereka sangat dekat dan intim, tetapi mengundang nyaman sampai dirinya malas memisahkan diri. “Sebelumnya, gue minta maaf.” Karel mengubah nada bicaranya sedikit serius. “Tapi silakan dulu, siapa tahu keburu. Ayo, Ran, entar kita diterjang!” Randa tertawa geli, menyusul Karel yang sudah terbirit-b***t. “Bye, Manis sayang!” “Bye, Kak!” Kemudian, Bagas melonggarkan rangkulan, berganti menggenggam jemari Chindai beriringan ke gedung ekstrakurikuler. “Gue lega mereka enggak benaran suka sama lo,” ujarnya tak menutupi rasa senang. “Cemburu, Kak?” “Enggak lagi sekarang. Setidaknya, Mama lo setuju sama gue.” Chindai cengengesan. Niat menggoda Bagas, berbalik ia yang sesaat kehilangan pembalasan. “Panggilan semua anggota OSIS dan ketua umum masing-masing ekstrakurikuler, segera berkumpul di ruang rapat!” Langkah kedua sejoli itu terhenti tepat saat Chindai menaiki tangga. Di lain pihak, u*****n kekesalan dan wajah menanggung geram Bagas menumpuk sampai ke ubun-ubun. Seingatnya, keputusan kemarin rapat dilaksanakan sepulang sekolah. “Karel enggak berperikemanusiaan!” pekik Bagas berapi-api. “Kak,” tegur Chindai, tersenyum menenangkan membalas pandangan penuh permintaan maaf Bagas. “Enggak apa-apa, kok, Kak. Bisa di lain waktu.” “Gue enggak mau ke ruang rapat, Ndai. Ayo, lanjut rencana kita!” “Enggak boleh begitu. Yang namanya amanah, wajib dilakukan.” Bagas mendesah frustrasi. “Maaf banget, Inai.” “Sana, kerjakan apa yang menjadi kewajiban lo.” Chindai mengangguk meyakinkan. “Semangat, Kak Bagas!” Di ruang OSIS, Karel dan Randa terbahak-bahak di atas penderitaan sahabat mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD