“Gue enggak mau sibuk pas kelas dua belas, Yo. Ada hal yang harus gue kejar, tanpa terlibat apa pun. Dua tahun gue bergilir MPK dan OSIS, tahun terakhir gue enggak berminat sama sekali!” ucap Bagas mereta-reta di setiap kata. Selalu saja rapat seperti ini membuatnya naik darah.
“Masih lama, lho, Bagas. Jadi ketua umum pengganti gue, atau ikut putra-putri sekolah?” tawar Rio sekaligus membujuk.
Memang bukan tanpa alasan. Bagas tahu Rio—yang sekarang terdengar putus asa—hanya berharap ekstrakulikuler yang dipimpinnya selama setahun membaik di tangan orang tepat. Namun, Bagas yakin bukan dirinya, tetapi orang lain. Ia ingin fokus hal lain bila sudah memasuki kelas dua belas nantinya.
“Gila lo. Gue bilang enggak!”
“Pelantikan ekstrakulikuler tiga hari lagi, dan bertepatan putra-putri sekolah buka pendaftaran. Tinggal lo pilih.”
“Enggak, Rio!” kekeh Bagas tegas.
“Wajib, Bagas!”
Seiring perdebatan Bagas dan Rio, Chindai diam di antara Fattah dan Ify yang sama tidak berkutik. Habisnya jam pelajaran di kelas, ketiganya dipanggil di rapat penentuan petinggi baru ekstrakurikuler musik, hadir juga perwakilan setiap angkatan serta beberapa alumni.
Tebakan Chindai benar, Bagas diutus Rio ke ranah yang mengandalkan bakat dan visual. Namun, ia tidak menyangka jika Bagas justru menolak mentah-mentah dan juga melawan perintah yang seharusnya bisa diterima.
“Kelas sepuluh aja ketua umum. Si Fattah, setuju gue, Yo, demi apa pun.” Bagas beropini, mempertahankan diri agar tidak memegang amanah besar setelah lengser anggota OSIS. “Gue cukup anggota aja.”
“Jadi, lo ikut putra-putri sekolah.”
Bagas tahu bagaimana sifat keras kepala Rio dan sadar usahanya menolak tidak akan mudah dikabulkan. Ia diam saja beberapa saat.
“Rio, mending lanjut bahas itu ... hem, sekretaris dan bendahara dulu.” Saran Debo diangguki semua anggota yang terlibat. Ia serta Cakka menepati janji untuk rajin kumpul dalam beberapa bulan ke depan. “Siapa yang berencana ikut organisasi ataupun ada hal ingin disampaikan?”
Akhirnya, Michelle mengangkat tangan dan menunggu Rio mempersilakannya berbicara. “Setelah setahun di ekstrakurikuler musik, Michelle ingin mengundurkan diri dari sekretaris, Kak. Michelle ditawarkan ketua umum oleh jurnalis.”
“Baiklah kalau sudah keputusan Michelle,” ujar Rio mengiakan, sengaja tidak ingin membuat drama dengan menanyakan ini dan itu. “Siapa lagi?”
Tanpa diduga Ify ikut menunjuk ragu, senyum tipisnya juga membantu. “Jika diizinkan, Ify bersedia menjadi bendahara.”
Di posisinya, Chindai melengos jenuh. Ia betul-betul paham, Rio yang menyuruh gadis di sampingnya itu unjuk diri. Dasar, kan!
“Kalau boleh saran, seluruh petinggi dari kelas sepuluh semua aja, Rio. Sekalian belajar organisasi di lingkup ekstrakulikuler. Putra-putri sekolah dan sebagainya, jatah kelas sebelas,” ujar Cakka ikut mengajukan tanggapan.
“Chindai sekretaris baru.” Senyum Michelle tampak lebih bersahabat daripada hari-hari lalu. “Bagaimana?”
Chindai—yang disebut—menyengir tidak enak hati kala semua perhatian tertuju pada dirinya seorang. “E … ji-jika diizinkan, Kak.”
“Terima kasih, Kak Cakka, Kak Debo, atas ide-idenya. Saya rasa sudah mendapat keputusan final,” ucap Rio mutlak setelah Debo menyiratkan kesetujuan. “Ketua umum, Fattah Ardiansyah. Sekretaris, Gloria Pandanayu Chindai. Bendahara, Ify Sabillah.”
“Siap, Kak!”
“By the way, Kakak juga harap Chindai ikut putra-putri sekolah.”
Lagi-lagi Chindai membelalak, hendak menggeleng cepat. Kakak angkatnya itu tidak tanggung-tanggung menyeretnya ke sesuatu yang tak disukai. Chindai benar-benar akan menolak kali ini. Namun, ternyata Bagas terlebih dahulu memotong.
“Begini aja, Yo. Gue bakal terima tawaran lo kalau Chindai juga ikut.”
Netra Chindai makin terlihat ingin lepas akibat penuturan tidak terduga seorang Nathaniel Bagas Saputra. “Kak, lo—”
“You have my pleasure, Inai Sayang,” bisik Bagas rendah, hanya Chindai yang menangkapnya. Ia tanpa pamit melengos keluar ruang musik.
Apa-apaan Kak Bagas?
“Jadi, Chindai, keputusan ada di kamu.”
***
Tiga hari berlalu cepat. Pelantikan petinggi baru seluruh ekstrakurikuler dipimpin langsung oleh kepala SMA Rajawali berjalan lancar dilanjut perwakilan dari ekstrakurikuler musik, yaitu Chindai tanpa latihan diutus Rio tiba-tiba menampilkan instrumen lama dengan violin-nya di hadapan warga sekolah.
“Dek, jangan dulu pergi. Setelah band, kamu duet sama Bagas, ya.” Michelle menghalangi Chindai yang baru saja menuruni tangga. “Gas, lo siap belum?”
Chindai menengok cepat ke belakang, lantas mendapati sosok berwibawa Bagas berbalut seragam sekolah rapi seperti biasanya. Chindai meneguk saliva, kaget bukang kepalang sebelum akhirnya tersenyum dan menyapa ramah, “Kak.”
“Bawa santai aja, Inai.”
Kalimat sederhana yang berdampak besar untuk kepercayaan diri.
“Oke. Kayaknya sebentar lagi giliran kalian. Good luck!”
Michelle berlalu, seketika menambah beban Chindai yang saat ini bergetar luar biasa di posisi, sementara Bagas bersiul sampai suara MC memanggil.
“Lagi-lagi ada persembahan memukau ekstrakurikuler musik sekaligus penutup acara. Mari kita sambut … ini dia, Bagas dan Chindai!”
Tepuk tangan riuh di mana-mana mengiringi keduanya menaiki panggung. Jantung Chindai berdegup kencang dan Bagas menghela napas panjang berkali-kali. Bagaimanapun, ini adalah penampilan perdana berduet di muka umum, tak menutup kemungkinan menjadi bulan-bulanan beberapa hari ke depan.
“Serius, Kak?” Chindai berbisik sembari menerima gitar diberikan padanya itu. Segala yang terjadi tanpa wacana sama sekali, begitu pun arahan duduk di sebelah piano yang dimainkan Bagas. Belum lagi seluruh atensi orang-orang yang tertuju ke arahnya mereka berdua.
“Akhirnya Ku Menemukanmu milik Naff.” Keputusan bulat Bagas mengagetkan Inai-nya lagi. “Trust me. We can do it.”
Chindai menggenggam erat gitar di pangkuannya, menghilangkan rasa penasaran perihal dari mana Bagas tahu dirinya bisa memainkan alat musik itu. Untuk terakhir kali, Chindai menghirup napas seiring Bagas menekan jari-jarinya di atas piano. Mau tidak mau … keduanya harus siap.
Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
Ku berharap engkaulah jawaban segala risau hatiku
Dan biarkan diriku mencintaimu hingga ujung usiaku
Jika nanti kusanding dirimu
Milikku aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih, ‘tuk mencintaiku
“Chindai.” Bagas mengulas senyum saat menghadap Chindai. Giliran gadis itu menyumbangkan suara merdunya.
Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Ku berharap engkaulah jawaban segala risau hatiku
Dan biarkan diriku mencintaimu hingga ujung usiaku
Sepasang tersebut lama-kelamaan mulai menghayati dan bertatapan syahdu, menunggu hingga gilir saat menyanyikan lirik bersamaan.
Jika nanti kusanding dirimu
Milikku aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih, ‘tuk mencintaiku
Jika nanti kusanding dirimu
Milikku aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih, ‘tuk mencintaiku
Akhirnya, ku menemukanmu …
***
“Keren … keren … keren!”
Fattah bertepuk tangan bangga begitu pencuri perhatian telah beriringan turun panggung, lalu bertos ria. Masih terdengar sisa-sisa applause meriah setelah pertunjukan keduanya yang menakjubkan, ada pula binar bangga Rio yang di hari ini lengser jabatan.
“Gas, Ndai, kalian istirahat aja. Acaranya selesai,” sahut Michelle yang dibalas anggukan sopan Chindai.
“Sana-sana!” Rio terkekeh seraya mengibaskan tangan. “Jangan lupa pajak jadian secepatnya. Ditunggu.”
Bibir Bagas berdenyut, menahan senyum. “Ndai, ayo ke kantin.”
“Permisi.” Gadis berponi panjang itu setengah menyengir sebagai bentuk pamit yang sebenarnya tidak sopan.
“Good luck, Kak Bagas, Ndai!” ujar Fattah lagi.
Bagas dan Chindai berdampingan seolah tak terlepaskan. Beberapa teguran hanya dihadiahi senyuman ramah, terkhusus Chindai tengah malu ditatap banyak pasang mata. Belum terbiasa. Tentu saja gebrakan forum sekolah terkini tak ketinggalan.
“Maaf, ya, soal kemarin.”
Tidak butuh waktu lama untuk Chindai mengerti arah pembahasan Bagas dan jangan lupa genggaman Bagas yang mengerat. “Santai aja, Kak. Kan sudah terbayarkan oleh penampilan kita barusan. Kece abis!”
“Lo keren.”
“Keren apa keren, nih?” Detik berikutnya, kekehan Chindai ditimpa tawa Bagas sampai keduanya tergelak sama-sama, padahal tanpa sebab yang jelas. “Oke, fix. Kak Bagas yang traktir. Hore!”
“Jangan enggak gemuk aja, Inai.” Bagas menarik Chindai berlari sambil tetap tertawa, memecah kerumunan yang terlihat syok mengamati. Anggap saja dunia milik berdua.
“Enggak boleh body shaming, Kak Bagas!”