47. | Bella, Bagas, Michelle

1341 Words
Seumpama bayangan, menjejaki langkahmu adalah detik-detik di mana alunan musik yang terdengar menggugurkan segala tanya. Tentang kau yang mengizinkan harap tertanam subur dalam kalbu. *** “Ya, kita kedatangan perwakilan dari ekstrakurikuler musik SMA Garuda. Kabar bahagia, yakni akan adanya kolaborasi untuk memeriahkan perpisahan kelas dua belas.” Fattah mesem sumringah menghadap seluruh anggota, lalu kembali berkata lugas nan berwibawa, “Dipersilakan teman-teman memperkenalkan diri.” “Halo, saya Bella Cendana. Ketua umum ekstrakurikuler musik SMA Garuda—ah beberapa hari ke depan segera kadaluwarsa.” Gurauan khas Bella menghebohkan situasi dengan sorakan dan siulan di mana-mana. Selalu. “Enggak ada yang tanya, Bell,” sahut Bagas sinis, tetapi tak lama tersimpul. Tidak memikirkan apa pun—selain tidak buruk mempunyai rekan baru kembali, apalagi teman kecilnya. “Lanjut. Bella bawa siapa?” “Saya Evan, calon ketua umum baru.” “Saya Nadia.” “Senang bertemu kalian. Penuh hormat, SMA Garuda mengucapkan terima kasih banyak atas undangan SMA Rajawali.” Bella mengakhiri sesi perkenalan perwakilan yang dibawanya jauh-jauh. Ia balik mempersilakan Fattah mengambil alih pembicaraan hingga keduanya berjabat tangan. “Saya Fattah Ardiansyah, ketua umum ekstrakurikuler musik SMA Rajawali, juga sangat berterima kasih sudah menyempatkan sedikit waktunya membantu kami. Semoga kita dapat bekerja sama dengan baik.” “Aamiin.” Di lain tempat—tepat di pojok belakang ruangan—Chelsea, Marsha, dan Chindai anteng mengamati keseruan di depan sana. Ketiganya cuek bergilir melihat perubahan signifikan ruang musik yang memanjakan penglihatan, mulai dari dekorasi, bentuk, dan alat musik yang tertata lebih indah dipandang. “Kak Bella lebih cantik ketimbang foto ternyata, ya,” gumam Chelsea pelan, takut terdengar sekitar. Sekali lagi, gadis bule itu berdecak kagum. “Mustahil banget kalau Kak Bagas enggak kepincut.” Salma mengangguk setuju, sekaligus mengerling jenaka begitu mendapati dengkus kekesalan Chindai yang amat kentara. “Ini another level. Lihat, ya, Kak Bella sama Kak Michelle sampingan, bedanya jauh banget!” “Jangan kayak begitu, enggak baik.” “Cemburu lo, ya?” Chindai, yang disinggung tepat sasaran, hanya mampu melengos jengah. Meski enggan, sesekali netranya tertarik sendiri memperhatikan gerak-gerik keakraban Bagas dan Bella. Laki-laki itu memang tak akan peka situasi apa pun. “Enggaklah. Untuk apa juga, kan, gue, cemburu?” “Jangan-jangan mereka pacaran?” Kemudian, Marsha membungkam mulut Chelsea yang asal ceplos. Ini keterlaluan, sehingga berbahaya jika Chindai sampai di tahap memikirkan betul-betul. “Enggak usah dimasukkan ke hati. Seingat gue pas doi post foto lo, Kak Bella komen. Responsnya baik, malah kayak ejek Kak Bagas.” Chindai berdecak kesal, malas menanggapi. “Iya, enggak apa-apa.” “Ndai, lo belum memperkenalkan diri!” Sekretaris yang baik menuruti perintah ketua. Walaupun ogah-ogahan, Chindai tetap bangkit sambil berpikir apa saja yang akan diutarakannya nanti. Perlahan gadis itu melangkah, berupaya tidak mengacuhkan pandangan Bagas yang secara keseluruhan tak berpaling darinya. “Come here, Ndai!” Sungguh di luar prediksi dan Chindai sama sekali tak mampu menolak ataupun berontak ketika tiba-tiba saja Bagas mencekalnya agar mendekat—serta menempel. Ia memejam sebelum bergumam geregetan. Ini terjadi tiba-tiba, hanya Bagas tampak tidak peduli alias sudah merencanakannya. “Kalau lo begini, gimana gue mau perkenalan, Kak?” Pelan-pelan Bagas merendahkan tubuh sampai bibirnya sejajar dengan telinga Inai kesayangannya tersebut. Dalam hati, ia benar-benar menahan gemas dengan gadis itu hingga hendak membawanya pergi. “Memang lo mau perkenalan gimana?” “Nama gue dan jabatan pastinya.” “Kurang satu, Ndai.” “A-apa?” Chindai memberanikan diri menatap lawan bicara di jarak dekat dengan posisi Bagas mengelus lembut punggung tangannya. Ia kian melemas menangkap bibir tipis Bagas yang setia mengulum senyum khusus untuknya. “Jadi, yang di samping Kak Bagas itu, namanya Chindai dan menjabat sekretaris kami. Sekian, terima kasih.” Rasanya, Chindai kenyir menangis sebab malu luar biasa. Pendengarannya sontak berdengung oleh seruan Fattah yang terdengar lebih daripada meledeknya. Kemudian, ia berusaha menyalurkan emosi dengan mencubit lengan Bagas yang nahasnya ditanggapi kekehan sang empu. “Pulang entar, kemari dulu. Jangan coba-coba kabur.” Kak Rio, gue enggak kuat! *** Kolaborasi antara ekstrakurikuler musik SMA Rajawali dan SMA Garuda diawali dua belah pihak memutuskan rapat sebelum fokus latihan. Di mana kini Chindai berada di tengah-tengah Bagas dan Michelle, serta Fattah didaulat pemimpin berlangsungnya kegiatan. Suasana cukup panas terasa. Iya, katakanlah Chindai kelewat bucin hingga menuruti titah Bagas tadi meskipun pada awalnya enggan. Rengekan Ify saja masih dapat ditolaknya, apalagi perintah tegas Fattah yang tidak main-main. Hanya Bagas yang tidak bisa sedikit pun dilawan. “Gue request duet sama Bagas.” Bagas berdecak jengkel, paham sekali akan bujuk rayuan Bella. Ia mengetuk meja sekali sebelum berujar santai, “Malas gue, Bell. Yang lain aja, oke?” “Ya elah, lo. Sudah kenal lama juga.” “Karena sudah lama itu, makanya gue malas sama lo.” Di sisi lain, Chindai kesal akibat Rio justru membawa kabur Ify, padahal gadis itu salah satu perangkat yang juga baru dilantik. Mau tak mau, ia menenangkan diri sendiri perdebatan Bella, Bagas, dan Michelle berlanjut memenuhi seisi ruang musik. Chindai tidak memiliki keberanian untuk ikut campur. “Lo, kan, tahu gue sungkan nyanyi sendiri, apalagi sama orang asing.” “Suara lo tinggi, coba duet sama Michelle.” “Jangan seenak jidat atur ini itu, Gas,” sahut Michelle terdengar tak suka. “Kalau enggak mau …, ya, bilang enggak aja. “Gue cuma kasih saran, Chell.” Bagas menjawab jutek sembari fokus mengetik di alat komunikasi. Jujur, ia sebal sekali dengan reaksi aman Chindai yang tak membantu apa-apa. “Lagi pula, gue memegang peran penting di orkes simfoni.” “Alasan lo itu terus. Dari kemarin lo selalu enggak mau diajak duet.” “Harus banget duet bareng gue?” “Bukan begitu, Gas. Setidaknya, lo tahu posisi. Kita anak musik, duet bukan hal tabu, bahkan bagus untuk menunjang nama. Penolakan lo enggak etis kedengarannya!” balas Michelle, rupanya terbawa emosi. Pertengkaran dua insan di hadapannya sukses membuat Bella menggaruk kulit kepala, padahal maksudnya hanya menjaili Bagas dan bentuk introduksi pada Chindai yang tampak keblangsakan di tempat. Ini di luar ekspetasi Bella, terlebih sahutan Bagas yang dengan berani meladeni Michelle. “Gue enggak pernah mau duet!” “Bukan enggak mau, tapi lo pilih-pilih teman duet!” Bagas menggeser kuat kursi yang didudukinya. Tidak kalah berang, ia tergabas menarik pergelangan kanan Chindai dan memaksanya berdiri dalam satu tarik. Kali ini, Bagas tidak ingin tinggal diam. “Inai, ayo keluar!” Chindai membelalak. Banyak yang sedang melirik dengan minat, dan ia tak siap Bagas mengajaknya—penuh paksaan tidak berkesudahan, apalagi di depan orang baru yang tidak kenal. Chindai mendadak putus asa tatkala Bagas menatapnya tajam seolah-olah siap menghakimi. “Lo mau protes juga? Kita disuruh menghadap Bu Fany. Jadi, lo ikut gue!” “Untuk apa, Kak?” “Fitting baju pe—” “Ceritanya fitting baju pengantin, nih? Wah!” Semua menoleh, di mana Rio berdiri tenang di ambang pintu ruang musik, begitu pun menggandeng erat Ify yang tertunduk. Tidak ayal keadaan berubah total, sementara berganti seruan godaan yang menggemparkan seisi ruangan. “Mantap, mantan ketua umum!” sahut Fattah berdecak kagum. “Go public?” cibir Chindai berani, lain hal dengan matanya berbinar merasakan kebahagiaan kakak angkatnya. “Maaf, Pak Bagas dan Bu Chindai. Katanya mau fitting baju pengantin. Nih, kami persilakan dan beri restu lahir batin,” Rio menyengir lebar sembari menutun lembut Ify supaya tidak menutupi jalan. “Silakan keluar, pintu sebelah sini.” “Bacod pakai d, Yo!” Selanjutnya, Bagas melirik sejenak Chindai. Melaksanakan ide gilanya, tanpa permisi ia merengkuh gadis itu. Terpatri senyum kemenangan Bagas ditunjukkan tepat melewati Rio. “Gue dan Chindai permisi.” Fattah berdeham memecah situasi awkward begitu kepergian Bagas dan Chindai. Pertama kali memimpin rapat semenjak resmi menjadi ketua umum, Fattah sendirian. Sekretaris dibawa Bagas, dan bendaharanya enggan beranjak di samping Rio. Michelle cukup sering melihat perlakuan berbeda Bagas ke Chindai, dan tadi amat sangat ekstrim. Tak jauh berbeda, Bella yang mengenal Bagas sedari kecil juga tak menyangka Bagas mempunyai sisi romantis. “Tah, lanjut aja rapatnya,” ucap Rio memecah kesunyian. “Siap, Kak!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD