13. | Special Part for DifChels

1049 Words
“Cemburu?” Chelsea berdesis rendah, menyinggung Karel yang berkedip genit ke arahnya setelah mengamati kepergian Bagas dan Chindai. Ia tidak menyangka Karel—yang mesti berwibawa—mengingat jabatannya, justru agak gila. “Cemburu banget, sih. Andai Bagas, tuh, gue …, pasti bahagia lahir dan batin gue nantinya.” Karel mengambil jeda sebelum lanjut berkata saklek, “Tapi gue juga ada lo, Chels. Itu aja kalau lo mau, kan, ya.” Randa, yang biasa memuja Chindai, berbelok membantu Marsha menghabiskan gorengan di meja. Satu yang pasti bagi Randa, memiliki gebetan ... urusannya ribet! “Gombal melulu, Kak, tapi masih jomlo.” Mendengar ejekan lugas Chelsea, sontak Karel tidak terima dan melotot. Namun, ia tetap tahan bercandaan sebentar lagi untuk meladeni perlawanan gadis bule tersebut. “Nunggu kepastian dari lo, kan?” “Lo lagi bagi sembako, Kak? Lihat Chindai, tebar pesona. Di depan gue, tarik gas pula. Besok Grizella juga lo terkam kayaknya.” “Entar gue beneran sama Zella, lo cemburu.” “Dih. Lo mah semua cewek juga diembat,” ucap Chelsea sangsi. “Bening dikit aja, auto lo sikat berasa kejar setoran.” Karel tergelak mendengar hal tersebut. Ia menggeleng pelan, serta-merta mencari posisi duduk yang nyaman. “Nah. Sekarang siapa yang cemburu?” “Lo!” “Gue enggak bisa, enggak bisa!” Randa menjerit, mereta-reta mengamati adegan yang menyakitkan mata bagi jomlo sepertinya. “Lo kenapa, sih, Kak?” protes Marsha sebab terkejut, bahkan menepuk pundak Randa dengan berani. Atas suruhan Karel dan Randa sendiri, ia tak perlu bersikap sopan—terpenting menghargai. Jika Bagas, jangan ditanya. Akan tetapi, seruan dari berbagai penjuru akhirnya disadari yang lain. Bagaimana tidak, gerakan perlahan Bagas mencondongkan wajahnya ke Chindai sukses membuat semua orang menahan napas, sementara Randa mengepalkan jemarinya gemas. “Anjir, sejak kapan Kak Bagas bisa begitu, Kak?!” Chelsea memekik tertahan agar umpatannya tak keluar bebas karena masih memedulikan image. Detik berikutnya, ia meringis karena Karel menyentil keningnya. “Sakit, Kak!” “Lo mau kayak mereka?” tanya Karel ditemani senyuman manisnya yang lebih mirip godaan terselubung. Kali ini, ia tidak berniat bergurau, apalagi Randa dan kedua sahabat Chelsea telah bungkam. “Ha?” “Jadi doi gue, yuk, Chels!” “Hayuk, ma—” “Chelsea Agatha.” Abaikan kantin yang heboh sebab dua primadona—Bagas dan Chindai—sedang memadu tawa di ujung sana. Mari fokus sejenak ke suara pelan nan menggetarkan yang baru saja merasuki telinga, menyebabkan sang pemilik nama menengok dengan cepat. Chelsea termenung beberapa saat, apalagi mata Marsha dan Salma seolah berujar dengan penuh penekanan, “Mampus!” Sekarang Chelsea bisa apa? “Dif, gue—” “Gue?” Difa Giordano, teman ... tidak, lebih dari itu. Difa adalah laki-laki yang sudah lama di lingkungan Salma cs setelah Rio. Pawang Chelsea, disebutnya. Sosok yang tak pernah absen melindungi empat sekawan itu. Chelsea menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, antara salah tingkah dan gugup. Kemampuan bicaranya melayang, terkesan memalukan. Chelsea lupa, Difa tidak suka memakai bahasa sapaan gaul ketika mengobrol berdua. “Ekhem. A-aku ... eh, ulangan harian di kelas kamu selesai?” Difa mengangguk, tetapi netranya menelaah situasi terkini. “Iya.” Karel senyampang diam bersama Randa. Ia tahu sosok yang menatap Chelsea lekat itu tidak bukan adalah saingan terberatnya. Sungguh, Karel memilih mengganggu Bagas dan Chindai ketimbang terjebak di tengah-tengah pasangan yang dari wajah saja terbilang mirip serta cocok.. “Duduk dulu, Dif,” sahut Marsha, yang diam-diam tanpa diminta bertos ria di bawah meja dengan Salma. Bagaimanapun, mereka masih berada di tim Difa karena paling tahu betul bagaimana Chelsea hanya akan menurut pada laki-laki itu. Posisi yang strategis; Marsha, Salma, dan Randa mengisi penuh bangku panjang yang langsung berhadapan dengan Karel, Chelsea, serta bertambah lagi Difa. “Chindai mana?” “Si cendol sama Kak Bagas di sana, Dif.” Salma menunjuk ke arah sejoli yang benar-benar tak peduli sekitar. Ah, ia jadi kasihan pada kisah cinta segitiga yang ada di depannya. Miris sekali. Difa tidak bodoh. Ia sengaja memperkirakan waktu yang tepat untuk menyamperi gadisnya. Difa melihat sendiri bahwa Chelsea dekat dengan laki-laki bernama Karel, ketua OSIS SMA Rajawali—dipastikan bukan lawan sembarang. Dari berbagai sisi, kesimpulan Difa tak salah Karel menyukai Chelsea, sedangkan sebaliknya .... “Ran, kayaknya makin banyak setan di meja Bagas sama Chindai. Yuk, ganggu mereka!” Karel tak tahan, makanya beranjak dan mengode Randa. “Yuk. Hati gue juga panas banget lihat Chindai salah tingkah karena Bagas. Kita enggak boleh kalah.” “Kak, minuman lo belum habis.” Salma bertindak lebih dewasa. Ia mencegah kepergiaan Karel yang justru menjadi gamblang menampakkan perasaan laki-laki itu pada Chelsea. Terlebih instingnya yang bermain, Salma menangkap jelas gemericik api mengelilingi Karel dan Difa. “Buat Chelsea aja.” Karel mengulurkan tangannya, spontan mengacak rambut Chelsea yang balas terkekeh. “Terima kasih, Kak.” Di sisi lain, Difa tersimpul kecut. Ia tak menyalahkan siapa pun. Toh, Karel sangat baik, tidak menunjukkan peran antagonis di novel atau drama yang berisi orang ketiga. Di sini, hanya perlu seorang pemenang. Saat Karel dan Randa berlalu, Salma berdeham—sekonyong-konyong mengutuk Chelsea yang belum juga tersadar dari kekanak-kanakannya. “Dif, kemaren lo nolak anak IPS yang mau nebeng, ya?” “Hem.” Selanjutnya, sangat tidak terduga Marsha dan Salma membelalak kala Chelsea terang-terangan membuka aplikasi chatting hingga muncul kontak bernama Karel. Sekuat hati Difa bertahan, bukan gayanya mengamuk disebabkan hal kecil. Chelsea benar-benar menjalankan keinginannya. Chelsea Agatha Kak, pulang bareng yuk. | “Chelsea!” bentak Marsha, terselip kekecewaan. “Difa, lo—” “Kamu memang bebas kenal siapa aja, Chels. Kita enggak ada hubungan apa pun yang bisa jadi pegangan aku untuk larang kamu, kan?” Alih-alih Difa berbisik pelan. Namun, senyum pilu jelas menghalang binar matanya. Chelsea memutar tubuhnya. Ia mendadak melankolis dan sensitif. Telanjur emosi, Chelsea menunjuk wajah Difa. “Up to you!” “Chels!” Difa menggeleng, melarang Salma yang tak segan memarahi sahabatnya. “Sha, di jam begini ... Kak Michelle di ruang jurnalis atau ruang musik?” Chelsea menegang, dadanya bergemuruh hebat. Difa seharusnya tahu ia tak suka Michelle, bukan hanya karena penghalang Bagas dan Chindai. Mendengar Difa sendiri yang mencari Michelle, Chelsea meledak. “Aku pulang bareng Kak Karel, titik!” “Iya, silakan. Itu, kan, kepengen kamu, Chels.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD