16. | Penyelamatan

1280 Words
“Lo pakai pelet, ya, Ndai?” tanya Marsha ngawur setelah menyambut kedatangan Chindai di kamar Chelsea. Ia masih tidak percaya, di mana menyaksikan langsung saat- Bagas menjemput dan mengantar Chindai sehabis bersenang-senang hingga sahabatnya bisa bersikap gila seperti sekarang. Betul saja. Chindai bak orang tak waras yang seolah bisa kenyang hanya dengan tersenyum sepanjang hari. Di genggaman gadis itu terdapat novel-novel yang dibelinya tadi, lalu kini direbut oleh Salma. Bibir Chindai terus berdenyut, yang dilanjut memekik cukup kencang—pertanda bahagia “Woi, Cendol basi!” Chelsea balas berteriak di depan wajah Chindai. Arkian, ia menunjuk beberapa judul buku yang tengah dipegang Salma. “Lo mau dimarah Mama Ayu beli tiga novel sekaligus?” “Belinya bukan pakai duit gue.” “Ngadi-ngadi, lo, Ndai. Terus siapa?” Salma menyipitkan matanya dengan curiga. “Jangan bilang, doi traktir?” “Enggak salah,” jawab Chindai santai, bahkan menyeringai. “Bisa-bisanya lo, Cendol!” “Kak Bagas yang paksa, kok.” “Dan lo enggak tolak.” “Jelas. Novel.” Chelsea menggeleng. Namun, tak ayal segenap kemungkinan di kepalanya begitu gatal ingin diungkapkan, tetapi jengkel jika nanti akan menaikkan kepercayaan diri Chindai, padahal Rio menginginkan sebaliknya. “Artinya, hubungan lo sama doi sudah terlampau jauh, dong?” “Gimana?” “Lo diistimewakan Kak Bagas,” tutur Marsha beropini. “Kayaknya doi punya rasa sama lo, Ndai. Beruntung banget. Siapa lagi coba pengagum rahasia seberuntung ini?” “Please, gue ogah banget berharap banyak,” sanggah Chindai cepat. Ia hanya tak mau melangkahi takdir, lalu berakhir percuma. Kendati Rio mengungkap kebenaran jika Bagas tak pernah terdengar dekat dengan gadis mana pun, tetapi siapa yang tahu, kan? “Sadar atau enggak, doi memang beda memperlakukan lo, Ndai.” Salma berujar geregetan. Ia tidak habis pikir oleh positifnya pikiran Chindai di saat gadis lain mungkin akan mengadakan syukuran besar-besaran selama tujuh hari tujuh malam. “Mana ada junior-senior, tapi diajak jalan.” “Kan, sa—” “Sama adeknya dengan alasan sehobi?” potong Salma, berdecak kesal. “Enggak gitu konsepnya. Sikap Kak Bagas, tuh, bisa dibilang berlebihan.” “Gue bingung,” gumam Chindai pada akhirnya. Adapun Chelsea berulah jingkrak-jingkrak di kasur, serta menggoyangkan ponsel di tangannya. Chindai yang sadar betul maksud kegilaan Chelsea, dengan cepat bangkit dan merampas benda tersebut semampunya. Kemudian, hening berselang selama lima detik berbarengan centang biru yang dilihat oleh mata. Chindai nyaris menangis sejadi-jadinya, tetapi yang diutarakannya hanya lirihan putus asa. Bagaimana tidak … Chelsea mengunggah foto semua pembelian Bagas di media sosial Chindai. Target membalas, tanpa diduga berlanjut obrolan tidak penting—terkesan absurd ala Chindai dan Bagas. Nathaniel Bagas S. | Sama-sama, Inai. | Bye the way, :* maksudnya apa, nih? Gloria Pandanayu Chindai Titik dua dan bintang. | Nathaniel Bagas S. | Gue tanya maksud, bukan pengertian. Gloria Pandanayu Chindai Jangan pancing, Kak. | Nathaniel Bagas S. | Peka, Ndai? | Wkwkwk. Gloria Pandanayu Chindai Xoxo. | Nathaniel Bagas S. Sama. | Gloria Pandanayu Chindai Apa yang sama? | Nathaniel Bagas S. | Sayang juga. Gloria Pandanayu Chindai | Sama siapa? Nathaniel Bagas S. | Lo, Chindai. | :* “Cekik Adek, Bang!” Chelsea memparodikan mencak-mencak Karel yang khas. “Bohong kalau lo enggak baper, Ndai!” Chindai gemetar luar biasa sekejap membanting alat komunikasinya ke atas nakas. Akal sehatnya hilang, serta-merta sulit mengembalikan kewarasan. Bagaimana Chindai memaksakan diri move on bila Bagas mengurungnya di pusaran berlabel nyaman? “Gimana kalau ternyata perasaan lo selama ini benaran terbalaskan alias doi juga suka sama lo, Ndai?” Salma terdiam setelahnya demi menunggu jawaban Chindai. “Mustahil.” “Enggak ada yang mustahil di dunia ini, Ndai.” “Tapi, kan—” Ucapan Chindai tergantung bertepatan ponsel keluaran terbarunya kembali berkedip sebelum notifikasi berasal dari pesan yang dikirim Bagas tampak di bagian atas sehingga mudah terbaca. Nathaniel Bagas S. | Inai. | Xoxo juga. *** “Gas meledak!” “Hem.” “Itu si Manis, kan?” Bagas membenarkan kacamata yang hari ini mood dipakainya, ikhlas mengikuti arah telunjuk tegas Karel. Ia mengangguk, lalu mesem tipis melihat Chindai menikmati kegiatannya berolahraga di bawah terik sinar matahari. Gadis itu tampak berlari guna pemanasan di lapangan. Bagas konstan mempertahankan senyumnya. Semanis kenangan, sekejap bayang-bayang kemarin kembali berputar di ingatan dan sayang untuk dilupakan. Akan tetapi, gumaman kekaguman dari Karel berhasil membuat Bagas mendelik gondok. “Enggak usah lo pantengin, kerjaan kita banyak.” Selain menjadi ketua OSIS, Karel merangkap wakil ketua kelas. Dengan kurang ajar, ia menyeret Bagas menemui guru yang harus mengajar selama dua jam ke depan. Kemudian, menangkap sosok Chindai merupakan hal yang paling menyenangkan di sekolah. Andai Randa tidak asyik bermain game. “Entar dulu, Gas. Rezeki, nih, lihat si Manis dari kejauhan.” Karel menghentikan langkah sambil mencekal Bagas. “Eh, enggak apa-apa, deng. Lo duluan aja enggak apa-apa, gua mau bucin dulu.” “Bacod pakai d!” “Cemburu lo, ya?” Kali ini, Karel menjeling jenaka. Diyakini, sebentar lagi hanya sanggahan yang diterimanya. “Enggak. Buruan, Karel, kita masih punya kerjaan lain. Lo mau lihat dua jam juga enggak bakal bikin Chindai suka sama lo.” Benar, kan. “Kayak lo bakal disukai Chindai aja.” Bagas mengangkat bahunya tak acuh, sementara kepercayaan dirinya melambung tanpa dikira Karel. Ia dengan gaya angkuh, menjawab cepat, “Kita buktikan.” “Manis, semangat!” Arkian, Bagas melotot kaget dan spontan memaki-maki Karel yang melambai ke arah Chindai. Terlihat gadis itu diam sejenak, lalu tersenyum sebelum melanjutkan lari. Sebelum kembali mengomeli Karel, tiba-tiba perasaan Bagas menjadi tak enak, apalagi ekspresi Chindai tertangkap agak aneh. “Cantik banget,” gumam Karel lagi, sengaja agar kian meyakinkan dirinya bahwa sebenarnya Bagas sungguh-sungguh menyukai Chindai. Bagas berdecak, kupingnya selalu saja tidak siap dengan segala pujian itu. Tak lama, ia mengernyit mengamati Chindai seperti kelelahan dan langkahnya melambat drastis di per sekian detik. Tahu ada sesuatu tidak beres akan terjadi, Bagas tergabas berlari meninggalkan Karel yang tak ayal meneriakinya. “Gas, lo mau ke mana?!” “Menyelamatkan calon pacar gue!” “Woi, lo gila!” Bagas tidak peduli sama sekali. Otaknya berpikir kritis, menimbang-nimbang jarak dan detik sampai ke hadapan Chindai. Dengan jantung berdetak kencang, Bagas terus melebarkan jangkauan yang dilewatinya. Ia sangat berharap tepat waktu. Sedikit lagi. Hap! *** Sang surya tepat berada di atas hulu, menandakan siang hari yang panas siap mamanggang siapa pun di bawahnya. Perut Chindai perih, serta kepalanya berdenyut. Pemanasan mengelilingi lapangan basket terasa panjang, tersisa lima putaran. Kelalaian fatal Chindai berani tidak makan seharian. Lagi pula, pelajaran olahraga di siang bolong sama sekali tidak etis. “Pasti bisa, Ndai.” Chindai memijat kening walau tidak berpengaruh, bersamaan menekan pinggulnya yang mulai ikut keram. Gadis itu berjuang susah payah di sepuluh menit pertama, padahal mual dan penderitaannya makin menyakitkan. “Manis, semangat!” Sebenarnya, Chindai ingin sekali mengumpat sementara keadaannya sudah tidak terkondisi. Namun, ia tetap mencari sumber suara. Rasanya Chindai mendapat kekuatan karena—semoga tak salah—Karel yang menjerit memanggil, sedangkan Bagas terlihat mengerutkan keningnya. Sudut bibir Chindai terangkat tipis. Sejujurnya, ia tak memiliki power lagi untuk sekadar membalas sapaan Karel. Detik berikutnya, penglihatan Chindai kabur sekali. Ia berhenti di tempat, memilih pasrah sebab tidak sanggup menahan berat badannya sendiri. Sebelum hilang kesadaran total, Chindai mendengar gerabak-gerubuk sekeliling dan berbagai seruan menyebut namanya. Salah satunya, begitu akrab. “Inai!” “Ndai!” “Astaga, Chindai!” “Panggil anak PMR!” “Iya, Kak!” Tubuh lunglai tak bertenaga Chindai masuk di rengkuhan Bagas. Mulai terdengar orang memekik dan mengerumuni. Kali ini tak banyak berdebat pribadi, Bagas bergegas membopong Chindai ke unit kesehatan siswa, meneriaki siapa pun yang menghalangi jalannya, termasuk mengabaikan pertanyaan sejumlah pengajar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD