“Mag kronis Chindai kambuh, Nak. Kalian perlu memperhatikan pola makannya,” ujar Bu Beti selesainya memeriksa kondisi Chindai.
“Chindai memang sering telat makan akhir-akhir ini, Bu.” Salma mengutarakan fakta sesuai yang dilihatnya.
“Nah, itu penyebab utamanya. Mulai sekarang, kalian harus selalu mengingatkan Chindai buat makan tepat waktu.” Bu Beti meletakkan stestoskopnya ke tempat semula. “Saya permisi dulu. Beri Chindai asupan bila sudah sadarkan diri.”
“Terima kasih, Buk,” ucap Marsha menyulih sebelum Bu Beti meninggalkan UKS diikuti Chelsea dan Salma yang juga mengatakan hal serupa.
Ketiga remaja itu kompak mengelilingi brankar tempat Chindai berbaring dengan wajah pucat khas orang sakit. Hari ini jam pelajaran berlangsung hingga sore, tetapi baik Salma, Marsha, serta Salma memutuskan tidak mengikutinya ketimbang dilanda khawatir oleh keadaan Chindai.
“Harusnya lo ngomong!” titah Chelsea yang menahan nafsu untuk tidak menjitak Chindai. “Sahabat gue bodoh!”
“Namanya juga Chindai,” Salma sama jengkelnya meski lebih ke gamang yang menyelimuti. “Gue enggak mau merepotkan kalian, Guys,” sambungnya meniru gaya khas Chindai saat bicara.
“Ini yang namanya merepotkan, Cendol!” decak Marsha bertepatan pintu terbuka, serta-merta menampilkan visual Bagas yang tampak tidak kalah meredam kekhawatiran selagi Chindai belum menunjukkan tanda-tanda akan membuka mata.
“Belum sadar juga?” Setelah itu, Bagas berdeham agar tak canggung. “Sori. Apa kata Bu Beti tadi?”
“Mag Chindai kambuh, Kak, karena keseringan telat makan. Kebiasaan buruk Chindai banget. Istirahat tadi aja dia beralasan bawa bekal dan ngotot hapalan materi ulangan Fisika besok,” seru Chelsea menerangkan.
Gloria Pandanayu Chindai, si gadis keras kepala.
Bagas menghela napas, dilanjut mengoceh di dalam hati. Jika ia tak peka gelagat aneh di lapangan, tidak terbayangkan Chindai yang akan benar-benar tergeletak tidak berdaya tanpa ada yang menyadari. Begini saja Bagas sudah cemas bukan main. “Gue boleh di samping dia?”
Marsha bergeser, begitu pun Chelsea dan Salma. Ketiganya ikhlas memberi Bagas kebebasan melimpahkan perhatian pada Chindai. Laki-laki itu juga menunjuk kantong plastik berisi segala macam makanan hasil nekat ke luar sekolah tanpa izin guru.
“Sebelumnya, terima kasih banyak, ya, Kak. Kalau bukan Kakak yang bantu, kita enggak tahu gimana jadinya,” ucap Marsha lagi-lagi mewakilkan.
“Sama-sama.. Itu ada makanan, minuman, dan buah-buahan dimakan pas Chindai sadar, ya. Disuruh harus isi tenaga, kan, sama Bu Beti?”
“Iya, Kak.”
Beberapa saat dihabiskan Bagas untuk meratapi Chindai yang terlelap nyenyak dan entah tengah memimpikan apa. Sunyi terasa syahdu, membuatnya tergerak refleks mengusap kening Chindai yang berkeringat dingin. Helaan napas gadis itu yang teratur, tanpa sadar memicu sudut bibir bagas terangkat.
Namun, semua tak berjalan lama. Keheningan yang menenangkan hancur tatkala Alvin muncul meneriaki nama Chindai. Lantas Bagas mengepal kuat, berupaya tenang sebab mengingat area yang sangat tidak memungkinkan untuk berkelahi. Bagas hanya ingin memprioritaskan Inai-nya.
Alvin—sang pelaku—betul-betul seakan tidak bersalah. Ia kembali menjerit tak kalah kencang dari sebelumnya. “Chindai-ku, sayang!”
“Jangan berisik bisa enggak, sih?” seru Bagas menyinggung. Namun, Alvin yang kebal malah mengisi sisi lain kasur yang ditempati Chindai. Nyali besar menantang berdiri di seberangnya, Bagas mengacungi jempol terkhusus Alvin.
Chelsea berdeham merasakan aura panas, adapun gelagat Bagas bersitegang tidak melakukan sesuatu yang meresahkan mampu menggelitiknya. Selanjutnya, Chelsea berserta lainnya cengo, di mana Alvin berulah menggenggam Chindai dan melontarkan harapan semoga cepat sadar.
Alvin sungguh mencari mati!
“Jodoh orang haram dipegang.”
“Cemburu tanda cinta.”
Bagas mendelik, menghakimi balasan Alvin yang menyenggol egonya sebagai laki-laki. “Melawan lo?”
“Kenapa enggak?”
“Lo—”
“Kak, bentar lagi bel masuk jam KBM. Kakak masuk kelas aja. Enggak apa-apa, biar kami aja yang jaga Chindai di sini.” Salma yang tertua kebagian melerai perdebatan sebelum tambah menegangkan. “Vin, lo juga.”
“Eng—”
“Yang diam di sini, berarti cewek,” balas Bagas ganar, sedangkan Alvin berdecak dan terus meminta keringanan pada Chelsea cs. Bagas sendiri menyentuh pipi tembam Chindai, dan mengucapkan pamit yang tanpa sadar dapat didengar semua orang, “Gue masuk kelas dulu. Cepat bangun, Inai.”
“Mampus, Vin, kalah telak!” Salma menertawakan Alvin yang menggeram—jika perlu menendang b****g Bagas yang baru saja meninggalkan ruang UKS.
“Kakak kelas sialan!”
***
Chindai membuka mata perlahan, masih terbilang lemah kendati nyeri di sekujur tubuhnya tak separah di jam pelajaran Olahraga. Belum berkata apa-apa, tetapi Chindai tahu dirinya berdiam di unit kesehatan siswa. Pertama-tama, ia membiasakan netranya dari sinar lampu yang menyilaukan.
Selanjutnya, Chindai mendengkus dan kenyir menonjok satu per satu sahabatnya yang baru saja berteriak. Ia tidak memiliki tenaga lebih untuk berbicara, sehingga tetap mengatup. Hal yang disyukuri Chindai sementara adalah pijatan Marsha di keningnya.
“Kita panik, Cendol!”
“Hem.”
“Enggak bisa telat makan, jangan dilakukan!” kata Salma tegas.
Chindai kembali sekadar mengangguk, tepatnya malas berdebat karena mengiakan kesalahannya sendiri. Akan tetapi, ia menjadi curiga meratapi keadaannya melenceng dari ekspetasi. “Bukannya gue pingsan, ya?”
“Sha, lo suap si manja satu ini, ya.” Chelsea berujar sambil memotong beberapa bagian buah apel di tangannya. “Lo juga, Ndai. Makan dulu, biar kita cerita.”
Karena rasa lapar yang menyiksa perutnya, Chindai betul-betul patuh mengunyah apa pun yang disodorkan Marsha dan dengan sabar menunggu penjelasan selanjutnya “So, gue kenapa … hem, kesannya baik-baik aja?”
“Inti dari ceritanya … di detik-detik sebelum lo pingsan tadi, entah dari mana Kak Bagas lari and I thought it was a hug.” Salma menjelaskan secara garis besar. “Bisa dibilang, sih, hari ini lo trending topic sekolah. Semua orang lihat Kak Bagas bagaikan pahlawan kesiangan pas nolong lo.”
“Kalian bohong, kan?” Chindai mengatup mulut senyampang menolak suapan. Ia tidak bisa menerima begitu saja penjelasan yang diutarakan Salma karena menurutnya amat sangat mustahil.
“Enggak butuh kamera CCTV, lo tanya aja ke anak SMA Rajawali sekitar lapangan basket. Tontonan gratis lihat Kak Bagas heroik,” kata Marsha menambahkan.
Menyingkirkan pikiran yang mulai mengarah ke mana-mana tanpa dapat dicegah, Chindai melongok nasi, buah, serta air mineral yang diulurkan Chelsea. “Kalian habis berapa beli ini semua?”
“Kak Bagas,” ungkap Salma kalem.
Chindai terperangah lagi. Saking lelahnya, ia kembali menutup rapat netranya dan beristirahat sejenak. Nyatanya, otak Chindai belum siap diajak berkhayal tinggi.
Hanya saja, tidak satu pun tahu jika di balik pintu … ada Bagas yang menengok dari sela-sela, menyempatkan waktu memastikan keadaan Chindai lebih baik. Arkian, laki-laki itu melaksanakan salat zuhur yang tertunda di musala.