18. | Say Thank You

1402 Words
Ada rasa lega menghinggapi Bagas karena menjadi orang yang berhasil terdepan di saat Chindai sangat membutuhkan. Mereka jarang berkomunikasi via gawai, tetapi sekalinya interaksi … amat bersejarah. Bagas selalu menyukai masa-masa itu kendati sekadar mengobrol hal yang tak manusiawi. Mengajak Chindai ke gramedia bersama Adel merupakan salah satu contohnya, Bagas tidak paham kenapa melakukannya. Maksud dan tujuan yang abstrak mendorong. Jadi, jangan tanya karena Bagas pun tak tahu. “Woi, Gas, Ran, ada si Manis!” Panjang umur. Panggilan keras Karel di ambang pintu bagai angin segar di musim panas. Bagas tersadar dari lamunan panjangnya, lalu dirinya bangkit menyusul Randa yang semangat empat puluh lima setelah selesai merampungkan tugasnya. “Wah, si Manis menggoda iman!” jerit Randa heboh. Bagas menyabarkan diri, tak lucu pagi-pagi mengamuk. Separuh yakin ia percaya, Chindai mencarinya sampai berani ke gedung kelas sebelas yang rawan. Sungguh, kini semua pusat perhatian menyorot Chindai. Menarik kerah Karel agar bergeming di posisi, sementara Bagas melangkah santai nan tegas saat Chindai mulai terlihat ragu karena bisik-bisik para teman seangkatannya yang kurang kerjaan. Bagas pun berdecak tidak suka atas penasaran berlebihan orang-orang. “Stop. Just stay there!” Sontak saja Chindai mematung di posisi, tanggap mencerap perintah Bagas yang langsung tersenyum. Nikmat Tuhan memang indah. “Hi, Ndai.” Selanjutnya, Bagas menyapa akrab, tak lupa melebarkan senyuman kala Chindai menyambut uluran tangannya. “Yeah, I’m here. What happened?” “Kak Bagas.” Hanya teguran balik yang mampu terucap lisan. Pembawaan tenang Bagas menggoyahkan rangkaian kata yang telah Chindai persiapkan. “Kenapa?” “Calon pacar, gue di sini!” Kemarin Bagas kesal bukan kepalang ketika mendengar Alvin menyebut Chindai dengan sebutan sayang, lalu kini Randa terang-terangan menginginkan gadis itu sebagai pacarnya. Apa semenarik itu Chindai di mata para kaum Adam? Si blue addict, terlihat dari bando kain yang mengumpulkan helai rambut Chindai agar rapi walaupun terurai, jam tangan berwarna senada, serta poni menutupi alis. Satu yang utama, yakni pipi chubby Chindai menggoda untuk dicubit. Di balutan seragam SMA pun, gadis itu tetap memukau. Bagas jarang memuji lawan jenis, dan Chindai menyangkut seluruh yang layak didapatkannya. Sudah ia katakan, Inai-nya yang lugu sangat memikat. Eng—astaga! “Ran, tunggu! Eits, bagi dua!” Karel berancang-ancang, serta-merta mengejar Randa yang lari ke hadapan Bagas dan Chindai. “Halo, jodoh orang!” “Hai juga, Kak.” Kali ini, teguran Chindai bak nyanyian phoenix mengelilingi matahari. Randa dan Karel berseru seakan tidak ada hari esok dan bertos ria. Siapa pun yang melihat tidak akan percaya jika keduanya merupakan pemimpin dua organisasi besar di SMA Rajawali. “Manis, apa kabarnya, nih? Sudah lama kita enggak ketemu.” Randa berselebrasi dengan melompat ke udara sebanyak dua kali. Chindai tersenyum hangat. “Baik, Kak.” “Pacaran, yuk, Manis! Bagas menjegil hingga bola matanya nyaris keluar. Ia mengutuk habis-habisan gurauan Randa yang kelewatan, sehingga tangannya tergerak otomatis memukul belikat laki-laki itu. “Lo—” “Kakak bukan tipe Chindai.” Skakmat! Urung menghukum Randa lebih lama, Bagas lantas mengulum senyum tatkala mendengar ungkapan Chindai. Di sisi lain, Karel membungkuk—terbahak-bahak puas. “Kata-kata lo ada yang lebih halus, Manis?” Randa cemberut, dilanda kecewa nan membuatnya nelangsa. Jika diibaratkan, di kepala Randa hadir visualisasi api. Mungkin begini rasanya pas Karel ditolak Chelsea. “Chindai enggak suka Kakak.” “Cekik gue, Gas, cekik sekarang aja! Rel, cepat ambil peti mati!” Nyatanya, obrolan mereka sekadar bercanda. Chindai memang tergolong cukup mudah beradaptasi, terbukti dapat menyesuaikan kegilaan sohib-sohib Bagas yang hobi mencari kesempatan dalam kesempitan. “Lo sudah di-blacklist, Ran. Out sana.” Karel pura-pura bersedih, tetapi bibirnya berdenyut dalam usaha menahan geli. “Turut berduka cita. Ibarat mobile legend, myhtic turun ke warrior,” sambungnya telak. “Lo tolak gue, tolak juga Karel dan Bagas, Ndai.” Chindai menaikkan sebelah alisnya. Meladeni para kakak kelasnya macam Karel dan Randa benar-benar menghibur, sehingga tidak masalah selagi mempersiapkan diri sebelum mengobrol empat mata dengan Bagas sesuai tujuannya kemari. “Kak Karel cuma kakak kelas Chindai.” “s**t!” “Mampus lo, Rel, mampus Anda!” titah Randa mengejek. “Ibarat download game, tinggal satu persen … eh kuota IM3 lo habis!” “Anjir banget!” Karel tergelak nyaring, sementara Bagas dan Chindai sama-sama menahan tawa. “Dipaksa mundur kita, Ran.” “Dicampakkan.” Di lubuk hati terdalam, Bagas menerka-nerka. Tidak, tidak, tidak. Bila Randa dan Karel menanyakan tentang dirinya pada Chindai, apakah mungkin seperti; Kak Bagas, kan, senior Chindai di ekstrakurikuler musik. “Jadi, Chindai ….” Randa mesem elusif, padahal gerak-geriknya mengandung kejailan. Ia tahu Bagas pun menunggu-nunggu. Jadi, tidak salahnya Randa mengambil peran yang akan menentukan ke depannya. “… kalau Kak Bagas lo ini, gimana?” “Kak Bagas?” Selanjutnya, Chindai tampak mewanti-wanti kalimat yang cocok. Ia menatap satu per satu laki-laki di hadapannya. Ketika bersinggungan tatap dengan Bagas, Chindai merasakan panas menjalar ke pipinya yang juga diyakini memerah. “Apa, Ndai?” tanya Karel tak sabar. “Chindai, kan, Inai-nya Kak Bagas.” Seringai Bagas seketika terbit. Tanpa mengatakan apa pun, ia meengaku senang menyimak pengakuan Chindai yang tabu bagi orang awam. Gadis itu sangat tak diduga mengeja istilah spesial dan khusus yang dibubuhkan Bagas meski tampaknya belum juga paham pengertiannya. “Inai?” “Nah, iya. Inai apaan, sih, Manis?” Bagas menjitak para sahabatnya secara bergiliran, sementara kerlingan matanya terlihat puas. “Dengar sendiri, kan, gue enggak ditolak kayak kalian.” “Maksudnya apa, sih? Kita dikerjain atau gimana, Rel?” Randa menyenggol Karel yang mengangkat bahu—tidak tahu. “Go away from here. Don’t bother us.” Bagas tersirat mengusir, tidak repot-repot menghaluskan ucapan yang lantas ditanggapi awal oleh Karel dengan cengirannya. “Sebelum pergi, kita mau pamit. Nice to meet you, Manis!” “Nice to meet you too, Kak Randa, Kak Karel.” “Ke kelas sana!” “Sure.” Karel merespons permintaan Bagas, tidak dengan Randa yang mendengus jengkel. “See you soon, Sugar!” Bagas menurunkan tangan Chindai yang terangkat—hasilnya membalas lambaian Randa. Untunglah dua laki-laki itu telah berlalu. “What happened you came here?” “I just wanna say thank you for yesterday, Kak Bagas” tutur Chindai gamblang, memanfaatkan kemampuannya dalam berbahasa inggris guna menunjang percaya diri. “Maaf gue merepotkan Kakak. Terima kasih untuk makanan dan buah-buahannya.” “Don’t eat late anymore.” Peringatan sederhana. Sekejap Chindai mengangguk. “I promise.” “Inai.” “Iya, Kak?” “Gue antar lo ke kelas, ya.” Bagas mengaitkan jari-jarinya dan Chindai. Tatapan cengo umat manusia dianggap Bagas figuran belaka serta tinggal dilewatkan. Ia tidak pernah peduli pendapat orang lain. “Latihan jadi Inai.” Chindai … tidak memiliki pilihan selain mengikuti saban langkah Bagas yang juga sukses mencuri perhatian segenap siswa-siswi SMA Rajawali. *** Apa yang paling menyakitkan daripada mencintai diam-diam, sementara sang pusat afeksi memiliki tambatan hati lain? Rasa yang hadir sia-sia karena tak terbalaskan! “Lo kenapa, sih, Chell? Ayo, gue temani ke kantin, deh.” Vita mulai kehabisan kesabaran, frustrasi menggoyangkan tubuh Michelle di sampingnya. “Michelle, jawab, dong, lo lo kenapa? Jangan diam aja!” Beberapa saat lalu, Michelle hendak membeli sejumlah makanan untuk mengisi kekosongan perutnya. Belum sampai satu menit, teman sebangku Vita itu kembali di kursinya dan bertenggang tidak mengeluarkan sepatah kata. “Lo dan Rakey punya masalah?” Mari balik ke kejadian barusan, di mana Michelle terpaku diam melihat Bagas dan Chindai begitu mencolok di ramainya koridor dekat tangga. Sejumlah orang berbisik kagum, tidak segan mencocokkan pasangan tersebut. Bertautan, serentak melaksanakan istilah; dunia milik berdua. “Jadi, kenapa?” “Chindai, si beruntung pemenang hati dan perhatian Bagas,” kata Michelle, tak menghilangkan mimik gondoknya. “Tunggu, Chell!” Vita mencabau buku yang dicoret-coret Michelle. Ia luar biasa tidak menyangka fakta yang diungkap Michelle tanpa sadar. “Lo … jangan bilang kalau lo suka Bagas?” “Baper. Gue baper, Vit. Gue pikir selama ini Bagas juga tertarik, sampai berharap dia cemburu gue dan Rakey pacaran. Mungkin hampir, tapi kedatangan Chindai-lah mengubah semuanya. Perlakuan Bagas ke Chindai melebihi apa pun yang orang lihat. Gue … cemburu, Vit.” “Michelle,” ucap Vita lambat-lambat, ragu menyerangnya. Ia memahami betul jika jarang sekali bagi Michelle mengutarakan isi hati. “Cowok lain pengen dekat, tapi gue abaikan dan terus mengharapkan Bagas. Gue bodoh pakai banget, kan?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD