19. | Special Part for FatMa

1152 Words
“Aku mau bicara, Tah.” Salma menghela napas berat. Memiliki pacar super dingin adalah beban tersendiri, tak jarang batinnya tersiksa. “Tah—” “Apa, Sa?” Fattah menoleh sesaat, lalu kembali fokus ke laptop yang terangnya seperti cahaya Ilahi. “Tinggal ngomong aja.” Kemarin, Fattah diberi petuah oleh Rio perihal menjadi pemimpin, khususnya di ranah ekstrakurikuler musik. Memang masih lama, tetapi calon mantan ketua umum tersebut tak main-main dalam menentukan penggantinya. Namun, Fattah sudah mulai mempersiapkan semuanya dari jauh-jauh hari. “Chat aku semalam kenapa enggak dibalas, padahal kamu online?” “Pertanyaan kamu enggak penting.” Salma meringis lesu, setengah tidak percaya juga akan jawaban Fattah. Benar instingnya jika Chelsea sama sekali tidak berhasil, melainkan hanya memperkeruh situasi. Salma mesti bagaimana? Kemudian, Fattah membalik tubuh sampai Salma yang bergeming lantas menjadi terduduk tegak. “Aku lebih suka kamu laporan seperti ... aku sudah makan. Ketimbang buang waktu sia-sia kayak semalam.” “Tapi, kan, aku cuma tanya ... kamu sudah makan atau belum.” “Tapi kamu aja enggak?” “Eng—” “Kamu habis dari rumah Chelsea dan belum makan apa-apa sampai pulang. Terus kamu bisa-bisanya nanya aku,” ujar Fattah koersif. “Aku peduli sama kamu, Tah.” Salma dengan keras kepala merasa benar. “Kalau kamu mau peduli sama aku, pedulikan dulu diri kamu, Sal.” “Setidaknya, pesanku dibalas.” “Kamu chat lewat dari tengah malam, nanya hal yang enggak penting. Kalau aku balas, otomatis kamu makin enggak tutup mata. Ketimbang itu, lebih baik kamu tidur.” Fattah bersandar di dinding dan tetap menghadap Salma. “Besok-besok, perhatikan dulu diri kamu. Kalau sakit, sendirinya yang susah.” “Iya.” “Oke.” Bernama lengkap Salma Chitara dan Fattah Ardiansyah, sepasang yang disatukan tak sengaja oleh tantangan ulang tahun Chindai beberapa bulan lalu. Entah magnet apa sehingga keisengan keempat sekawan itu membuahkan hasil—di mana besoknya Fattah menyatakan cinta. Singkat cerita, mereka berpacaran. Sampai sekarang. “Aku masih mau tanya.” Melihat Fattah mulai geram, nyali Salma turun drastis. “Enggak … enggak jadi.” “Apa lagi?” “Kamu online sampai jam segitu ngapain?” “Diskusi sama Kak Rio semalaman,” ungkap Fattah jujur. Muka tidak terkontrol Salma membuatnya tahu apa yang sedang gadis itu pikirkan. “Jangan melantur sampai tuduh aku chatting sama cewek lain.” “I-iya.” “Kamu pulang sama siapa hari ini?” “Marsha, maybe.” Perasaan Salma berubah tidak enak, apalagi saat Fattah kembali bertaut dengan laptop. “Kenapa?” “Zaskia mau nebeng nanti.” Salma tahu, Fattah hanya laporan seperti yang dikatakannya, bukan meminta izin atau membutuhkan larangan. Maka dari itu, Salma mengangguk kecil tanpa ekspresi yang berlebihan. “Hati-hati.” “Bilang ke Marsha, jangan bawa motor kayak Marquez, nyawa orang enggak bisa dibeli. Awas aja ketahuan ngebut.” “Kamu besok pergi pagi-pagi, kan? Jangan lupa bekal buat sarapan, entar kamu lapar. Kamu, tuh, kalau ada kerjaan … itu aja yang dipikir, tapi perut enggak.” “Aku berangkat sama Zaskia lagi, besok pagi,” ucap Fattah, entah apa maksudnya. Zaskia Nadesha adalah teman sekelas keduanya, dan kebetulan partner Fattah di OSIS sewaktu SMP. Salma pun sadar atau Fattah yang memang tidak paham jikalau Zaskia sengaja mencari perhatian lebih, alih-alih menyukainya. Dan pula ... santainya Fattah menerima semua ajakan Zaskia perlu dipertanyakan. Tentu saja balasan tanpa sadar Fattah tersebut merupakan angin segar bagi Zaskia. Selain kepercayaan diri melambung, posisi Salma sebagai pacar resmi terancam. Ia tidak bisa berbuat banyak selain mempercayai Fattah seratus persen. “Sal?” “A-aku besok berangkat bareng Kak Rio.” Salma mengulas senyum. Pura-pura tidak sakit hati termasuk kepandaiannya. “Ingat, ya, hati-hati. Jangan lupa sarapan dulu biar enggak sakit.” “Kak Rio?” “Tadi dia ajak aku, Chindai, Chelsea, dan Marsha.” Fattah manggut-manggut seakan tidak peduli. “Kalian begitu terus, bikin salah paham. Kak Bagas aja sudah mikir ke mana-mana tentang Kak Rio dan Chindai. Kalian pun begitu bisa jadi omongan orang.” “Kak Bagas aja yang enggak peka hubungan mereka.” Salma berkata pelan. “Aku dan yang lain sudah kenal Kak Rio dari orok, sebelum kami tahu kalau di dunia ini ada kamu ataupun Kak Bagas.” “Karena terkadang kedekatan kalian semua memang berlebihan.” “Berlebihan kamu dan Zaskia,” gumam Salma lebih daripada spontan, memicu Fattah meliriknya tajam. “Apa kamu bilang?” “Enggak.” “Sal—” “Salma, ada rombongan putra sekolah! Rugi lo enggak lihat!” “Tunggu, Guys! Bagi-bagi cogan-nya, woi!” Salma sudah tak peduli. Ia beranjak menyusul Marsha dan Chelsea yang berteriak, bahkan sepatah suku kata yang ingin Fattah ucapkan diabaikan begitu saja. Fattah mengurungkan niatnya untuk lanjut mengerjakan tugas pemberian Rio. Ia memandang sendu Salma yang berseri-seri melihat para ikon SMA Rajawali di luar sana. Sebenarnya, banyak yang hendak Fattah utarakan, tetapi tertahan di tenggorokan dan memilih diam. Arkian, sebuah tepukan cukup kuat di bahunya menyebabkan Fattah tersadar, lalu dirinya mengalihkan pandangan. “Lho ... Chindai?” “Apa pun itu, I don’t care. Tapi gue pastikan, enggak ada satu pun yang sesabar Salma dalam menghadapi cuek bebek lo,” ucap Chindai telak sebelum berjalan elegan menuruti kegilaan rombongan. Well, ia pula sejenak melupakan Kak Bagas-nya. Fattah bergeming, lidahnya kelu menyetujui ucapan Chindai di dalam hati. Apa selama ini ia terlalu jahat? *** “Kak Rio, maaf gu—” Salma mencengkeram erat kenop pintu, sementara matanya membelalak kaget melihat sosok yang melihat tangan di depan d**a tepat berada di hadapannya. Kehadiran Fattah sama sekali tidak terduga. “Kamu ....” “Sudah siang. Ayo, berangkat!” Salma konstan mematung di posisi, menganggap halusinasi sedang menggerogoti pikirannya yang terlalu lama diajak berpikir positif. Sungguh, seingatnya Rio yang berjanji menjemput, bukan malah sang pacar. “Salma,” ujar Fattah lembut, disentuhnya jemari dingin Salma agar bergegas. “Ayo, ke sekolah. Aku ada rapat.” “Katanya kamu bareng—” “Enggak usah banyak omong, Sal. Entar sudah bel masuk.” Salma benar-benar tak mengucapkan sepatah kata saat Fattah bersikap romantis memasangkan helmnya, ditambah senyum sehangat matahari itu—yang bahkan jarang diberikan laki-laki itu di hari-hari biasa. “Aku memang pergi subuh tadi,” jelas Fattah tanpa diminta ketika motornya keluar dari pekarangan rumah Salma. “Terus?” tanya Salma ragu-ragu. “Izin ke guru piket dengan alasan ada yang ketinggalan. Terus aku jemput kamu.” Namun, tiba-tiba Salma menangkap sosok Zaskia menaiki blue bird di pengkolan. Ia tak tahu ternyata mereka satu komplek. Tentu saja Salma terkejut, apalagi Zaskia tampak menyadari dirinya dan Fattah berboncengan. “Tah, itu—” “Enggak usah dilihat,” gumam Fattah tegas. Salma bungkam setelahnya, hati-hati mengeluarkan ponsel dari saku celana saat benda itu bergetar. Pesan Rio membuat Salma tak berkutik sebelum meratapi punggung Fattah di depannya. Mario Aditya | Pacar lo sendiri yang minta jangan jemput lo.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD