20. | Rio dan Chindai?

1481 Words
Bagas lagaknya terkejut di langkah terakhir memasuki ruang tamu rumah Rio, aneh menangkap keakraban Rio dan Chindai yang berlebihan bila menggambarkan partner. Walakin heran, Bagas memilih duduk tepat menghadap sejoli itu. Jujur saja, ada setitik rasa tak suka yang kini menyelimuti Bagas. “Kalian kenapa, Kak, Ndai?” Teguran Fattah sangat mewakilkan, membuat Bagas tersenyum samar. Tak jauh dari tempatnya duduk sebagai senior, sebagian besar anggota ekstrakurikuler musik lain fokus terhadap kegiatan masing-masing—bermain musik, catur, rubik, dan berbagai kesenangan lainnya. “Diskusi masa depan,” ucap Rio sembarang, lalu berkedip. “Serius, Kak.” “Serius juga, Fattah.” Bagas mendengus gondok, mencoba tenang dengan gemeretak gigi bersahutan. Namun, kala Rio mencurigakan karena mendekat ke Chindai, ia sontak berseru, “Bukan ajang bisik-bisik, woi!” “Kak Bagas ganggu,” balas Chindai tanpa terduga. Bibir Rio berdenyut, mengapresiasi kesuksesan telak Chindai dalam menjatuhkan Nathaniel Bagas Saputra yang terkenal keras kepala dan tak mau kalah. “Gas, mending lo absensi anggota angkatan lima belas.” “Ogah.” “Ya sudah.” Rio bersikap masa bodoh setelahnya dan berlanjut memainkan peran abal-abalnya karena tertarik akan reaksi menggelikan yang tanpa sadar ditampilkan Bagas. “Gimana, Ndai?” tanya Bagas pada Chindai yang lantas manggut-manggut. “Deal.” “Jangan bikin gue kepo, Kak.” Fattah menyahut lagi, menginginkan penjelasan. Ia memang tidak menunjukkan junior yang menghormati seniornya. Jika dipikir-pikir, Fattah meniru Bagas. “Chindai terima gue jadi pacar,” balas Rio anteng. “Ya, kan, Ndai?” “Yaps.” “Serius?” Fattah beralih menanyai sahabat pacarnya itu. Namun, ia lebih percaya dengan kata tidak ketimbang Chindai dan Rio betul-betul menjalin hubungan. “Bohong banget, sih. Eh, apa benaran?” “Benar.” Di sisi lain, Chindai cengengesan sambil mulai bangkit karena tak mau menambah kegilaan kakaknya yang haus pengakuan. Terlebih tatapan tajam Bagas yang seolah menelanjanginya membuat Chindai kalut. “Izin gabung sama teman-teman, Kak.” “Mulai besok, Dek!” Pekikan Rio selanjutnya diangguki Chindai sebelum benar-benar berlalu dari tempatnya. Bagas jengkel karena Karel dan Randa masih sering mengirimi Chindai pesan meski sudah diperingatkan untuk berhenti. Dan Sekarang … Rio ikut-ikutan. Rasanya, Bagas ingin memukul ketiga orang yang tak sembarang bisa dilawannya tersebut. “Gue lagi suka sama junior kita.” “Si cantik ekstrakurikuler musik.” “Kalau lo memperhatikan gue pas kumpul, pasti tahu.” “Chindai cantik, kan?” Mendadak Bagas mengeraskan rahang. Jelas sekali siapa yang secara sembunyi disukai seorang Mario Aditya. Ternyata saingan terberat Bagas bukan dua sahabat absurdnya, melainkan Rio. Ia mengepalkan tangan, meratapi nasib … apakah dirinya baru saja ditolak tanpa sempat bertindak? “Kak Bagas … Kak!” Bagas mengerjap, sedangkan pukulan di pundaknya terasa cukup menyakitkan. Ia mengernyit memandang Fattah. “Kenapa?” “Lo yang kenapa?” Menoleh ke sumber suara, Bagas tambah tidak tahu-menahu bagaimana Rio bisa bersedekap—pertanda marah—padahal tidak ada yang salah. Andai rekannya itu tahu gejolak hati Bagas yang mempertanyakan maksud omongannya tempo hari. “Apa?” “Lo dan Chindai sambut Pak Adi di depan.” “Gue? Chindai?” “Buruan!” titah Rio penuh penekanan, sedangkan telunjuknya mengarah ke satu objek. “Tuh, Chindai sudah mau ke luar. Lo susul!” “Iya!” *** Biarpun paham maksudnya, Chindai tetap menuruti perintah Rio. Ia berjalan elegan, tidak repot-repot memanggil Bagas guna mempercepat waktu. Sampai di depan pintu, usaha Chindai berjinjit percuma. Tak satu pun orang seperti yang dikatakannya, Rio kurang ajar menjebak. “Rio bohong. Pak Adi belum datang dari tadi.” Sesaat Bagas menunduk, menatap kegugupan Chindai yang lebih pendek darinya. Ia menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang terlalu atraktif. “Mau masuk dulu?” “Tanggung, Kak. Tunggu aja di sini.” “Enggak serius, kan?” “Apa, Kak?” Chindai senewen. Baginya, ekspetasi tak seindah realita. Ia tidak mau dengan cepat menggarisbawahi pertanyaan Bagas yang begitu ambigu. Namun, melihat respons kakak kelasnya tersebut, dugaan Chindai makin kuat. “Lupakan.” Pandangan Bagas lurus, alih-alih menengok—Chindai menganggap konsentrasi, kontras dengannya yang keblangsakan serta kedinginan. Mereka tidak terlibat masalah, baik-baik saja. Namun, rasanya seperti ada yang mengganjal. Pada akhirnya, deru mobil pribadi memasuki pagar yang dibuka oleh satpam. Pembina ekstrakurikuler musik tiba. Bagas dan Chindai sejenak melupakan apa yang terjadi antara mereka, berupaya tersenyum ramah menyambut kedatangan Pak Adi, serta bergantian menyalami. “Selamat datang, Pak.” Chindai menunduk hormat, mempersilakan Pak Adi yang tak sungkan menepuk pundak Bagas. “Terima kasih. Ayo, kalian juga masuk.” “Baik, Pak.” “Kak Bagas, tunggu dulu!” panggil Chindai, lalu menyentuh kemeja biru dongker itu sebelum Bagas menyusul Pak Adi. Entah mengapa, tekad Chindai melonjak tatkala menyadari raut bad mood Bagas yang tidak berusaha disembunyikan. Yang dipanggil menoleh dengan kening berkerut sengaja. “Ada apa?” “Gue … gue ….” Kemudian, Bagas maju selangkah hingga berhadapan dengan Chindai langsung. Sambil menahan napas, ia merapikan surai yang jatuh membelai wajah seputih s**u itu. Bagaimanapun, ia tidak bisa marah, pun tidak ada kesalahan yang memang dilakukan Chindai sebelum ini. “Ada apa, Inai?” Terbebas dari sentuhan spontan Bagas, Chindai juga refleks menampung banyak oksigen. “Kalau lo tanya gue dan Kak Rio … bercanda, Kak.” Sunyi. Telanjur malu, Chindai bergerak cepat membiarkan Bagas serta angan tingginya. Ia kocar-kacir merapat di belakang Pak Adi tanpa menoleh lagi ke belakang.. Inai-nya yang lugu …. “Chindai!” Bagas mengejar, tak mengizinkan Chindai terbebas pengawasannya. Ia segera menempatkan diri guna duduk berdampingan meski tak bercakap-cakap. Bagas merasa bodoh dan girang bersamaan. Mendominasi Chindai ternyata menyenangkan. “Kak Bagas ….” “Salah lo mempermainkan gue, Inai,” gumam Bagas lambat-lambat, tetapi penuh makna dengan tatapan yang tak kalah intens. “Kak Bagas enggak kumpul OSIS?” Chindai berdeham, sulit mencairkan suasana. Detak jantungnya menjadi backsound penjelasan Pak Adi di depan sana, adapun pipi Chindai yang memerah bak tomat. “Lo ngomong sama siapa?” “Lo. Kan Kakak OSIS sendiri.” “Tatap gue kalau ngomong, tuh.” Senyum Bagas melebar kala Chindai meliriknya walaupun tidak lama. Ia yang gemas memegang bahu Chindai agar menatapnya lagi dan tersenyum menggoda sesaat kembali berkata, “Hem?” “Kak Bagas.” “Hem. Apa?” “Entar gue baper, gimana?” cicit Chindai putus asa. “Bagus. Lanjutkan.” *** “Lo benaran enggak peduli gosip di forum sekolah, Ndai?” Marsha mengerang kesal mengamati antengnya Chindai dengan novel di genggaman, alih-alih mendengar penuturannya yang begitu penting ini. “Woi, Cendol!” “Kurang kerjaan urus kurang beradabnya jurnalis.” “Ini ramai banget bahas lo dan Kak Bagas, Ndai.” “Iya, gue tahu,” jawab Chindai lagi dengan apa adanya. Salma geleng-geleng kepala. “Dan lo enggak akan peduli?” “Enggak sama sekali.” “Gila memang!” Kemudian, Chelsea melempar ponsel Chindai kepada sang pemilik. Ia benar-benar tidak paham dengan pemikiran Chindai dan Bagas yang begitu tak mengacuhkan tanggapan dan berbagai kehebohan yang merajalela disebabkan mereka. “By the way, ini doi lo nelpon.” Salma yang memegang ponsel Chindai, segera menyerahkannya pada sang pemilik agar cepat diambil tindakan. Meskipun ragu, Chindai tetap menguatkan hati untuk mengangkat sambungan telepon tersebut. “Halo, Kak, kenapa?” Terputus. Chindai terperangah melihat alat komunikasinya berubah mati lagi seolah tidak meninggalkan jejak jika ada yang baru saja meneleponnya. Apa Bagas gabut hingga menghubunginya dan dimatikan begitu saja? “Di-chat, Ndai,” sahut Salma sumringah. Chelsea serta Marsha merapat bersamaan, turut membaca apa yang dikirimkan kakak kelas mereka itu. Nathaniel Bagas S. | Lagi di mana? Gloria Pandanayu Chindai Kelas, Kak. | Nathaniel Bagas S. | Ke ruang musik, gih. | Gue tunggu. Gloria Pandanayu Chindai Jangan bercanda, Kak. | Memang boleh? | Nathaniel Bagas S. | Boleh kalau lo sama gue. | Buruan ke sini. Gloria Pandanayu Chindai Serius? | Entar dimarah Pak Adi. | Nathaniel Bagas S. | Serius, Inai. | Gue dapat izin langsung. Gloria Pandanayu Chindai OTW. | Nathaniel Bagas S. | Hem. “Bye, gue kumpul ekstrakurikuler tari!” pamit Salma keki, dengan raut meredam emosi dirinya melenggang ke luar kelas. Chelsea dan Salma yang tidak memiliki alasan pergi, sama-sama menghela napas dan berpelukan beberapa saat. Lihatlah betapa beruntungnya sahabat mereka itu dalam menggamit satu laki-laki setelah bertahun-tahun hidup menjomlo dan anti laki-laki. Chindai geleng-geleng kepala, tidak ambil pusing. Anggap saja Bagas ditempeli setan, atau mungkin sengaja mempermainkannya. “Gue ke Kak Bagas dulu. Gimana penampilan gue?” “Dinner di ruang musik. Awas, orang ketiga disebut hantu!” Marsha menggoda Chindai yang tampangnya acuh tak acuh. “Mau lo sejelek apa pun, kalau Kak Bagas sudah cinta … dia terima apa adanya, sih, Ndai.” “Gue serius, Chels, Sha.” “Bagus, enggak malu-maluin. Awas suara lo fals kalau disuruh Kak Bagas nyanyi.” Chelsea tidak jauh dengan Chelsea, hobi meledek Chindai. “Bodoh amat! Bye!” “Good luck, Cendol Basi!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD