bagian 1 (sayembara yang membagongkan)

1500 Words
Menjadi desainer, dan meninggalkan pekerjaan buruk. Itu adalah salah satu usaha Kayla saat ini. Berusaha focus dengan karirnya, dan menjalani kehidupannya yang baru. Selain menjadi desainer, ia juga memiliki butik yang cukup terkenal. Ia juga mempunyai WO, dan MUA yang berbakat. Gadis itu sekarang sudah tumbuh dewasa. Kehidupan, dan kepribadiannya jauh lebih baik saat ini. Namun, ada satu yang belum bisa membaik … yaitu hatinya. Siapa yang tak sakit hati ketika gagal dalam berumah tangga. Setelah sekian lama menantikan pernikahan yang ia idamkan, dalam sekejap hancur berantakan. Selama 3 tahun ia terpuruk karena sakit hati. Ditinggalkan seseorang yang amat berarti di hidup kita memanglah sangat berat. Ia sudah menaruh harapan besar kepada seseorang, yang ia yakini bisa membuat hidupnya bahagia. Tapi ternyata harapan itu salah. Yang ada hanya bayangan semu. Yang terpatri di otak Kayla saat ini adalah semua laki-laki sama, hanya menginginkan tubuhnya, dan saat ini ia hanya focus untuk memikirkan masa depannya agar lebih baik. Masalah jodoh belakangan, ia percaya Tuhan tak tidur, dan sudah mempersiapkan takdir hidupnya seindah mungkin. Mesikpun nanti ia tak memiliki suami, itu tak akan menjadi masalah untuk dirinya. Karena yang ia butuhkan saat ini sudah tercukupi tanpa campur tangan laki-laki. Gadis itu sedang menikmati suasana pagi hari di balkon kamarnya. Sambil menikmati secangkir kopi hitam. Kayla memandang lalu lalang kendaraan dari atas, gadis itu mengembuskann napasnya perlahan. Ia teringkat akan masalalunya ketika bahagia dengan Alfa, tapi juga merasa sedih, hatinya menjadi sesak. Ia selalu berpikir kenapa masalah percintaanya sungguh rumit. Namun, ia juga berpikir bahwa dia mampu hidup tanpa rangkulan lelaki. Hal itu yang membuatnya selalu merasa sombong, jika ia bisa melanjutkan hidup, dan bisa memiliki segalanya. “Darimu aku belajar, bahwa yang selalu ada tak mesti bisa bersama,” batin Kayla. ****** “Fit, Za, pokoknya nanti rencana kita harus berhasil,” kata seorang perempuan dengan mengelus perutnya yang membuncit. “Iya, Han. Kalem aja, sih. Pasti berhasil,” jawab Fitri. “Udah! Lu gak usah khawatir. Serahin aja ke kita,” jawab Riza. Ngomong-ngomong soal Fitri, ia adalah teman Hana, dan Kayla semasa SMA dulu. ia bekerja pada Kayla sebagai piñata busana, dan MUA. Sedangkan Riza adalah seorang WO yang dipercaya Kayla, untuk menjalankan bisnisnya. Hana tersenyum, dan berharap rencananya tak akan gagal lagi. Ia selalu berdoa, agar sahabatnya itu bahagia, dan bisa move on dari patah hatinya. Hana jelas tahu, apa saja yang sudah terjadi pada hidup Kayla. Sebagai sahabat yang baik, ia ingin selalu ada saat Kayla butuh. Seperti Kayla yang selalu ada untuknya. Hana melihat gawainya, ia mendelik dan langsung gerogi, tapi juga senang. “Fit! Cepet panggil Kayla. Udah otw nih orangnya,” kata Hana. Fitri dengan sigap langsung memanggil Kayla yang sedang berkutat pada laptopnya. Sedangkan Riza, bersiap-siap untuk menyambut tamu itu. Tok tok tok, Fitri mengetuk pintu. “Masuk!” “Apaan?” tanya Kayla, tanpa melihat ke arah Fitri. “Kay, ada tamu! Buruan turun,” kata Fitri. “Ogah, ah. Males.” “Plis, Kay! Kali ini pasti lu gak akan kecewa,” ujar Fitri. Kayla menatap Fitri kesal. “Kalau bukan karena sahabat gue, gue gak akan nurutin sayembara gak jelas itu. Yang penting intinya, kalau gue gak sreg, gue gak mau!” ujar Kayla. “Gue yakin, kali ini lu gak akan nolak,” jawa Fitri percaya diri. Akhirnya, Kayla, dan Fitri bergegas turun dari kantor Kayla, dan akan segera menemui lelaki itu. Seperti apa wujudnya sekarang? Kayla berharap semoga tidak seperti yang dulu-dulu ketika Fitri, Hana, dan Riza mencoba menjodohkan dirinya dengan seorang laki-laki pengusaha, namun sudah beristri. Ia juga tak ingin pasangan yang terlalu tampan jika ternyata sifat aslinya pelit, dan menye, bukan tipe dia banget. Kalau kata Kayla.”ganteng doang jajanin kaga.” Ketika sampai di ruang tamu, Hana, dan juga tamu itu langsung berdiri menyambut Kayla. “Kay, kenalin ini Gino, dia ini bekerja sebagai arsitek,” kata Hana, Kayla hanya tersenyum kikuk. Sedangkan Gino, menatap Kayla ada kemesuman di mata lelaki itu. Dalam sekejap mampu membuat Kayla enek, dan begidik. Hana menyuruh Kayla untuk duduk di samping Gino, tapi perempuan itu menolak. Malah duduk di tengah-tengah Fitri, dan Riza. “Terus mau ngapain lagi?” tanya Kayla bingung. Hana memutarkan bola matanya. Pertanda kesal dengan sahabatnya satu ini. Sifat tak pekanya masih saja melekat dari dulu. “Ya kalian ngobrol, lah. Gue mau jajan cilok dulu, si utun kayaknya pengen cilok,” ujar Hana sambil mengelus perutnya. “What? Yang bener aja?” tanya Kayla terkejut. Perempuan itu menatap Fitri, dan Riza. Seolah meminta tolong agar tetap menemani dirinya. “Em … sorry, bos. Gue sama Riza masih ada pekerjaan. Bentar lagi ada tamu, kita udah janjian tadi. Good luck ya,” kata Fitri kemudian pergi. Kayla sangat kesal, dan gak mood. Setelah semua orang pergi, tersisa Gino, dan Kayla. Laki-laki itu mendekat ke Kayla, hal itu membuat Kayla mulai risih. “Ngomong-ngomong, hobby kamu apa?” tanya Gino basa-basi. Tangan laki-laki itu mulai merambat ke tangan Kayla, kemudian merambat ke paha. “Yang sopan! m***m banget sih jadi cowok,” kata Kayla sambil menepis kasar tangan laki-laki itu. Gino tersenyum, dan semakin dekat duduk di samping Kayla. Kemudian laki-laki itu mengelus rambut Kayla. “Kurang ajar banget nih cowok m***m. Pengeng gue gibeng rasanya,” batin Kayla. Ketika ingin memarahi Gino, tiba-tiba gawainya berbunyi, perempuan itu memegang gawainya, dan melihat nomor asing yang menelponnya. “Siapa, nih?” Tanpa berpikir panjang Kayla langsung mengangkat telepon itu. “Halo, mbak?” panggil suara laki-laki di sebrang sana. “Halo, ini siapa, ya?” tanya Kayla penasaran. “Satria, Mbak. Yang beberapa hari lalu ke butik.” “Oh … kamu? Ada apa?” tanya Kayla ramah, sambil melirik sinis Gino yang sejak tadi mencoba untuk menggoda Kayla, namun sangat disayangkan, gadis itu sama sekali tak tergoda, malah ilfil. “Oh … kamu mau minta bantuan aku? Bisa-bisa, mau ketemuan di mana?” tanya Kayla antusia, karena ini adalah salah satu cara untuk menghindar dari laki-laki hidung belang itu. “Sorry, nih. Saya harus pergi ada urusan mendadak.” “Ta—tapi, kan … kita lagi pdkt,” kata Gino sambil menarik tangan Kayla. “PDKT aja sono sama Riza. Gue mau pergi,” kata Kayla sambil menepis tangan Gino. Akhirnya, ia bisa bernapas lega, karena bisa menghindar dari lelaki m***m itu. Mungkin, nanti malam ia akan mengamuk ke Hana, Riza, dan juga Fitri karena sudah menghadirkan makhluk m***m tulang lunak seperti Gino. ***** Kayla celingak-celinguk, melirik ke sana ke mari mencari sosok Satria. Mereka janjian untuk bertemu di cafe. Di lain sisi, Satri melihat Kayla dari jauh. Pemuda itu langsung memanggil Kayla, dan melambaikan tangan. “Mbak,” panggil Satria. Kayla tersenyum, ketika menemukan Satria yang duduk bersebelahan dengan dua perempuan yang ternyata adalah ibu, dan anak yang kemarin mengamuk di butiknya. Tanpa berpikir panjang, perempuan itu langsung menghampiri Satria. “Halo,” sapa Kayla ramah. Namun, ibu, dan anak itu terdiam, hanya memasang wajah judes “Langsung saja ya tante. Saya gak mau basa-basi. Jadi, kali ini saya mau mengintrogasi anak tante,” kata Kayla. “Loh … maksudnya apa ini? Kenapa anak saya diinterogasi? Oh … saya paham. Kamu meragukan kehamilan anak saya ya?” tanya Ibu itu ke Satria, sambil melotot. “Jelas saya ragu. Karena saya gak melakukannya. Saya memang ada pas malam itu, tapi saya gak sedikitpun nyentuh anak ibu,” kata Satria membela diri. “Maka dari itu, Bu. Tanya langsung ke anaknya. Dia beneran hamil sama Satria apa nggak,” timpal Kayla. Terlihat perempuan yang bernama Yanti itu menunduk, tak berani mengangkat kepalanya. Sang ibu mulai curiga. “Kamu hamil sama siapa, Yan. Jujur!” kata Ibu itu, namun Yanti tak mau menjawab, masih diam. “Kamu mau ibu jambak? Cepet bilang siapa yang udah hamilin kamu?” tanya Ibu sekali lagi, namun Yanti masih bungkam. “Ayo jujur, Yan! Biar semuanya tahu, kalau gue gak salah,” ujar Satria ikut geregetan. Kayla menyenggol tangan Satria, seolah mengisyaratkan agar dirinya saja yang bertanya. “Yanti, saya mau tanya. Kamu harus jawab jujur, ya?” ujar Kayla dengan nada lembut. Ia tersenyum ketika melihat Yanti mengangguk. “Jadi, pas malam kejadia itu, kamu tidur sama siapa?” tanya Kayla lagi. “Se—sebenernya, aku dihamili sama Eko, teman Satria,” jawab Yanti gugup, dengan nada bergetar. Sang Ibu berkaca-kaca menahan emosi. “Kenapa kamu bohong, hah? Anak setan!” Meledak akhirnya amarah sang ibu. Bukannya meminta maaf, malah langsung pergi dengan menggeret Yanti kasar. Kayla, dan Satria melongo melihatnya. Meskipun begitu, Satria merasa lega, karena sudah terbebas dari masalah yang membagongkan ini. Tak lupa ia juga berterimakasih kepada Kayla, karena sudah mau membantu dirinya menyelesaikan masalah ini. “Makasih, Mbak cantik.” “Gak sama-sama. Lu harus teraktir gue,” ujar Kayla. Satria terkejut ketika mendengar Kayla berkata tak formal. “Kayaknya lebih enakan aku kamu deh mbak, hehe,” ujar Satria, kemudian mereka tertawa bersama. Ya ampun, ini mbak-mbak cantik bener yak. Mana gue gemeter lagi jadinya. Bisa gak ya, gue jadiin gebetan? Hahaha, batin Satria.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD